“Sabtu ini aku sendiri yang akan datang menjemputmu, Gregory Abel Romanov!”
Kata-kata sang mama masih terngiang jelas di telinga Abel hingga berdenging. Tak habis pikir di usianya yang menginjak kepala 4, perlakuan sang mama padanya seperti anak kecil. “Sepertinya aku harus melakukan sesuatu!” Abel menghubungi Hugo dan menceritakan apa yang baru saja terjadi.
“Jadi bagaimana sekarang, tuan?” tanyanya di ujung telepon.
[Datanglah ke griya tawangku, ada yang harus kita lakukan, SEKARANG!]
Abel menutup ponselnya. Melihat beberapa buku serta artikel mengenai cara mengontrol emosi dan rasa gugup terhadap orang lain. Berbekal buku-buku yang telah Abel baca dan pelajari, semoga ia bisa mengatasi rasa gugupnya di depan Zivanna nanti. Karena ia tak mau membuat kesalahan yang sama seperti hubungannya dengan Darya, karena itu kali ini Abel sangat berhati-hati.
Tak lama, suara bel dari pintu griya tawang milik Abel berdenting beberapa kali. Melihat dari laptopnya yang terhubung dengan CCTV griya tawang miliknya, Hugo telah sampai di tempatnya.
“Masuklah.” Abel membukakan pintu untuk tangan kanannya ini.
“Ada apa Tuan Abel memanggilku ke sini?” Hugo duduk di sofa coklat dekat jendela besar di belakangnya.
“Ini.”
Hugo mengernyitkan keningnya. Ia terkejut atasannya membeli beberapa buku tentang kepribadian yang menurutnya bukan ciri khas seorang Gregory Abel.
Ada apa dengan tuan Abel sebenarnya? Hugo membaca ikhtisar buku-buku tersebut dan hanya menelan getir salivanya. Memikirkan apa yang akan dilakukan Abel dan kenapa sampai begini, apakah karena rencananya pada Zivanna?
“Tuan, bolehkah saya bertanya?” tanya Abel meletakkan kembali buku-buku itu.
“Ya, tanyalah.” Abel yang sedang menuang scotch dingin memberikannya pada Hugo.
“Sebenarnya, apa yang terjadi? Kenapa saya lihat Anda sangat berubah beberapa minggu terakhir, terutama setelah kedatangan nona Zivanna. Apakah ada…sesuatu?” Hugo sangat hati-hati bicara.
“Menurutmu?” Senyum Abel melirik pria paruh baya di sebelahnya.
“Menurut saya ada, Tuan. Tapi Anda tak harus sampai seperti ini. Bukankah nona Darya telah kembali dan-”
“Jangan sebut nama perempuan itu di depanku, Hugo!” Abel tampak kesal menatap tajam tangan kanannya.
“M-maaf, Tuan. Tapi saya sangat khawatir pada Anda. Apakah ini tak berlebihan?”
“Berlebihan bagaimana? Justru aku menikmatinya, Hugo. Sewaktu dengan Darya, aku hanya tahu tentang kesenangan, kemewahan, dan kenikmatan. Tapi, ketika nona arsitek datang, aku merasakan banyak hal. Sesuatu yang tak bisa aku ungkapkan, meski aku tahu ia telah menikah. Dan justru karena aku juga ingin membantunya melupakan sejenak permasalahan rumah tangganya-”
“Tuan Abel! Tuan jangan main-main dengan wanita yang telah menikah! Mereka terikat janji suci dan jika suami nona Zivanna datang ke sini, dan madam tahu, bagaimana reputasi keluarga, saham perusahaan, dan yang paling penting kesehatan madam?” Hugo tanpa takut memotong ucapan Abel.
“Karena itulah aku memintamu ke sini, Hugo. Aku ingin menguji hasil dari pemahamanku berdasarkan buku-buku yang telah kubaca. Kau juga tahu bagaimana kondisiku jika harus berhadapan dengan wanita pilihan hatiku?” jelas Abel menikmati scotch dinginnya.
“Seperti nona Darya?” Hugo mengatakan nama Dia-Yang-Terlarang untuk disebut.
“Tidak! Darya dan Zivanna, dua wanita dengan karakter dan kepribadian yang berbeda, meski kuakui dari penampilan dan fisik, mereka hampir serupa,” jelas Abel.
“Saya mengerti, Tuan. Lalu, apa yang harus saya lakukan sekarang?”
Abel tersenyum tipis ke arah Hugo, membuat laki-laki paruh baya ini tak nyaman. “Ikuti saja apa yang kuperintahkan, Tuan Hugo!” titah Abel.
***
Di tempat lain, Zevannya yang saat ini masih tinggal di asrama kampusnya tengah mencari informasi mengenai apartemen yang ditempati oleh Zivanna. Manik coklatnya terus berselancar tanpa lelah memilah dan memilih unit mana yang akan diambil.
“Pokoknya, punyaku harus lebih dari Zivanna! Tak peduli berapapun harganya!” Setelah beberapa lama mencari informasi, akhirnya Zevanna menemukan unit yang tepat dan cocok untuknya. Ia segera menghubungi nomor yang tertera di informasi tersebut dan segeralah dimulai rencana Zevannya selanjutnya.
Beres! Tinggal menunggu kapan kepindahanku. Kakak, apa kau tak mau memberi selamat pada tetangga barumu ini? batinnya gembira.
Hugo dan Abel sedang mempraktikkan hasil pelajaran yang telah dipelajari Abel. Ia terkejut karena Abel dalam sekejap mampu menyembunyikan rasa gugup dan kikuknya bertemu dengan wanita yang menurutnya cocok dengannya. Meski dalam hati Hugo senang, namun ia juga khawatir jika Abel terlalu obsesif terhadap Zivanna dan akan menghancurkan perusahaan.
“Bagaimana? Apa menurutmu aku berhasil, Tuan Hugo?” Abel menyudahi “gladi bersih” mereka.
“Sempurna, Tuan. Seperti bukan Anda,” puji Hugo.
Abel merasa sangat puas mendengar ucapan pria yang telah lama bekerja di Yukoi Grup ini. “Jadi, pertemukan aku dengan nona arsitek,” lanjut Abel.
“Maaf, Tuan?” Abel terperangah.
“Kau tak dengar? Kubilang pertemukan aku dengan nona arsitek, Zivanna Yahya,” Abel kembali mengulang perkataan yang sama.
Jadi, Tuan Abel benar-benar akan membawa nona Zivanna bertemu dengan madam dan nona Darya? Hugo kini panik, cemas, dan gelisah. Harusnya ia tak perlu repot-repot memikirkan masalah ini, tapi kali ini ia tak bisa cuci tangan. Karena bagaimanapun juga, Zivanna adalah pekerja yang ia bawa dan ada di bawah tangannya.
“Kenapa diam? Kapan?” desak Abel.
“Tuan, apa tidak sebaiknya dipikirkan dulu masak-masak? Karena ini menyangkut banyak kepentingan,” jelas Hugo hati-hati bicara.
“Kepentingan apa? Siapa? Mama? Darya? Atau kau?” Abel memelototi Hugo.
“K-kenapa saya diikutkan, Tuan?” tanya Hugo bingung.
“Karena aku iri denganmu! Kau bisa setiap hari bertemu, bicara, bahkan bertukar pikiran dengan leluasa, sementara aku, hanya bisa melihat melalui benda itu!” Abel menunjuk laptop yang terbuka di meja kerjanya.
Jangan bilang Tuan Abel cemburu pada pria tua sepertiku? Hugo menggelengkan kepalanya.
“Kenapa? Apa yang sedang kau pikirkan?” Lirik Abel tak senang.
“Tidak ada, Tuan. Baik, saya akan coba bertanya pada nona Zivanna, apakah dia mau bertemu dengan Anda.”
“Pasti dia mau!” sahut Abel percaya diri.
Hugo tersenyum, melihat atasan yang biasanya cuek dan masa bodoh soal wanita, kali ini sangat terbuka, bahkan terlalu ekstrem.
“Baiklah, aku mau besok sudah dapat jawabannya!” perintah Abel.
“Baik, Tuan. Ada lagi yang Anda butuhkan?”
“Tidak, terima kasih sudah datang dan menjadi partner ‘gladi resik ku’, Tuan Hugo.” Abel mengantarkan Hugo ke ambang pintu.
Setelah kepulangan Hugo, Abel menghubungi sang mama dengan penuh percaya diri.
“Ada apa? Sebaiknya bukan alasanmu yang tak masuk akal lagi, Abel!” tegas suara Audia, sang mama di ujung telepon.
[Tidak, Ma. Justru sebaliknya. Aku akan datang Sabtu ini, hanya saja jika aku yang menentukan tempatnya, boleh?]
“Kenapa memangnya jika di rumah?” masih dengan suara tegas Audia.
[Aku mulai asing dengan tempat yang mama bilang ‘rumah’. Alamatnya akan segera kukirim via WA]
“Kau! Jangan coba-coba kabur kali Abel, karena Mama tak akan segan-segan menyeretmu keluar dari tempat nyamanmu dan membawamu kembali ke sini!”
[Tenang saja, Ma. Aku tak akan kabur kali ini. Bye, Ma]
“Abel! A-”
Namun, sang CEO telah memutus pembicaraannya dan menonaktifkan ponselnya. Menghela napas panjang, Abel berujar, “Mari kita bertemu, nona arsitek.”
***
Hugo menghubungi Zivanna dan memintanya menemui dirinya di depan apartemennya. Awalnya, Ziva tak percaya, tapi setelah atasannya mengambil foto dirinya dengan latar belakang apartemennya, Zivanna segera keluar dan menemui Hugo.
“Tuan Hugo, selamat malam. Apa yang Anda lakukan di sini?” Zivanna terengah-engah, tak sadar masih mengenakan setelan piyama warna putih-pink bergambar Teddy Bear.
Hugo tersenyum kecil. “Tidak ada apa-apa, Nona Zivanna. Saya sekalian lewat,” paparnya.
Zivanna membalasnya dengan senyum tipis, sambil menoleh kanan-kiri, khawatir Zevannya muncul tiba-tiba dan membuat keributan lagi.
“Kita bicara di kafe itu, bisa?” tunjuk Hugo pada sebuah kafe yang ada di ujung apartemen.
“Boleh, Tuan.” Zeva dan Hugo akhirnya pergi ke kafe yang lumayan ramai itu.
“Ada yang bisa saya bantu, Tuan Hugo?” Zivanna sangat penasaran.
“Ya, ada. Nona Zivanna,” sahut Hugo.
“Boleh saya tahu, Tuan?” balas Ziva.
“Apakah besok ada waktu, setelah jam pulang kantor?”
“Memangnya kenapa, ya, Tuan?” Ziva semakin penasaran.
“Keponakan saya ingin bertemu dengan Anda, Nona.”
Keponakan Tuan Hugo? Apakah maksudnya si kurator itu? Gregory Abel? batin Zivanna.
“Bagaimana, Nona Zivanna? Anda bersedia?” tanya Hugo lagi.
“T-tapi untuk apa, Tuan keponakan Anda ingin bertemu dengan saya?”
“Dia bilang ingin memiliki teman luar negeri.”
Hah? Alasan apa itu? batin Zivanna lagi.
“B-bisa, Tuan. Mau ketemu di mana?”
“Museum Hermitage. Nanti aku antar.” Senyum Hugo.
Zivanna mengangguk, tak lama keduanya memesan minuman dan kembali ke rumah masing-masing. Dalam perjalanan, Hugo menghubungi Abel, namun ponselnya tak aktif. Ia akhirnya mengirimkan sebuah pesan pada Abel.
Me : Saya baru saja menemui nona Zivanna dan dia setuju bertemu dengan Anda di Hermitage, tuan.
Selesai mengirim pesan, Hugo menyandarkan tubuhnya di kursi penumpang belakang memejamkan mata sambil berucap, “Aku sangat iri pada tuan Abel. Dia memiliki segalanya yang tak dimiliki laki-laki lain, tapi aku juga kasihan padanya, karena harus hidup di bawah bayang-bayang madam,” ucapnya menghela napas panjang.
***
Keesokan paginya, Zivanna seperti biasa berangkat lebih awal untuk menghindari pertemuan dengan sang adik. Cepat-cepat masuk gedung dan meja kerjanya, Zivanna melihat dari balik jendela mejanya satu per satu para karyawan Yukoi Art&Gallery berdatangan, namun tak melihat Zevannya.
Aneh, kenapa aku nggak melihat Zevannya? Manik coklat almond Zivanna terus mengedar di antara para karyawan yang sedang berjalan. Sampai waktu menunjukkan pukul 07.00 pun, tak tampak batang hidung Zevannya.
Apa dia nggak masuk, ya? Zivanna mulai tak tenang. Pikirannya resah terutama setelah sang adik mengirimkan foto-foto dirinya dengan Hugo, tapi yang lebih mengherankan, kenapa suaminya sama sekali tak mencari tahu, marah, atau menghubunginya?
“Ah, tidak…tidak! Aku tak boleh berpikiran seperti itu! Kenapa aku harus memikirkan suami yang sudah tega menusukku dari belakang? Pokoknya, Rio harus tahu akibatnya karena telah mengkhianatiku!”
Di tempat lain, Zevannya ternyata sedang berada di kantor marketing apartemen yang ditempati oleh Zivanna. Ia sangat penasaran dengan sosok dibalik Zivanna hingga mampu menempati unit mewah di tempat ini. Setelah mengisi beberapa lembar formulir pembelian satu unit apartemen beserta informasi pribadi mengenai dirinya, sang marketer terkejut karena nama belakang Zevannya sama dengan Zivanna.
“Yahya?” tanya marketer tersebut setelah Zevannya selesai menandatangani perjanjian pembelian unit tersebut.
“Iya, nama belakang saya Yahya, apakah ada masalah, Nona?” tanya Zevannya dengan senyum tipis.
“Sepertinya, saya pernah menemukan nama belakang yang sama seperti Anda,” jelasnya.
“Oh, ya? Boleh saya tahu siapa namanya?” pancing Zevannya.
“Maaf, saya tak bisa memberitahu Anda, Nona,” papar sang Marketer.
“Tidak apa, karena nama sama bukan berarti satu keluarga, kan?” ucap Zevannya mengartikan sesuatu.
“Baiklah, akan saya antar Anda ke apartemen.” Zevannya dan Marketer tersebut pergi menuju apartemen yang akan ditempatinya mulai sekarang. Dengan semangat, Zevannya membuka pintu apartemen bernomor 1818, tepat berada di depan kamar Zivanna.
“Silakan, ini kunci Anda, Nona. Selamat datang dan semoga Anda betah.”
Zevannya hanya mengangguk. Ia tak mau membuang waktu dan masuk ke apartemen yang kini bertetangga dengan sang kakak. Zevannya puas karena setelah ini ia bisa dengan bebas mengawasi sang kakak dan siap menjadi penghancur dari dalam.
“Bersiaplah menerima kehancuranmu, Zivanna Yahya.” Seringai Zevannya menatap keluar dari jendela apartemennya.
***
Di kantor, Zivanna benar-benar tak melihat kehadiran Zevannya. Ia turun ke lantai satu menuju pantry dan melihat meja kerja sang adik juga kosong.
“Ke mana dia?” gumam Zivanna tak sengaja menabrak Andre dari belakang saat Manajer HRD itu keluar ruangannya.
“Ouch!” rintih Zivanna mengusap hidung mancungnya.
“Oh, No-Nona Zivanna, Anda baik-baik saja?” Andre terkejut Zivanna berdiri di belakang dan menolongnya. “Mari kubantu.” Para karyawan yang mendengar teriakan Zivanna segera melihat ada apa sebenarnya, termasuk Monica yang terkejut melihat Andre memegang tangan Zivanna. Buru-buru wanita berambut pirang ini menghampiri keduanya dan melirik tajam Andre, melepaskan kasar tangan laki-laki itu dari Zivanna.
“Kenapa ini?” tanya Monica sinis.
“Saya tak sengaja menabrak Tuan Andre, Nona Monica,” jelas Zivanna.
“Anda benar tidak apa-apa, Nona Zivanna?” tanya Andre sekali lagi.
Zivanna mengangguk. Monica sangat tahu apa yang ada di pikiran Andre
Tak masalah jika kau tak melihatku sebagai wanita yang mencintaimu, Andre. Tapi kenapa mesti Zivanna sekarang? batin Monica menahan kesal.
“Semuanya, BUBAR! Apa yang kalian lihat? Kembali bekerja!” teriakan Monica membuat semuanya terkejut. “Anda juga, Nona Zivanna! Jangan karena ada orang di balik punggung Anda, pekerjaan menjadi terlantar!” sindir Monica.
Zivanna yang merasa kata-kata yang diucapkan Monica mengandung makna tersembunyi. Namun, Zivanna tak memedulikan ucapan Monica. Wanita dengan rambut pirang tersebut balik badan kembali ke mejanya, sedangkan Zivanna dan Andre masih di depan ruangan sang Manajer HRD.
“Mau ke mana, Nona Zivanna?” tanya Andre memberikan plester coklat bergambar karakter lucu.
“Saya ingin ke pantry, Tuan Andre,” balas Zivanna.
Andre mempersilakan Zivanna ke tempat yang dia maksud, sementara diam-diam Manajer HRD tersebut memperhatikan Zivanna. Sambil tersenyum lebar, pria berkacamata ini bergumam, Aku pastikan Zivanna Yahya akan jatuh pada diriku!
Sementara itu, Zivanna yang tengah membuat kopi mendengar deringan ponselnya bunyi dan getar. Jari panjang Zivanna merogoh kantong celana jeans-nya dan melihat Zevannya mengirimkan foto. Tanpa ragu, Zivanna membuka foto kiriman sang adik dan membuat kedua matanya terbelalak.
“Apa ini?” ucapnya hingga mulutnya terbuka lebar.