Si Mobil Tua Velmot
Pada suatu hari, kota Carsen akan mengadakan balap mobil yang pertama kali untuk seluruh penduduknya. Penduduk kota Carsen sangat antusias menyambut acara tersebut. Setiap jalan yang dijadikan jalur balapan, dihiasi dengan berbagai macam dekorasi dan hiasan.
Koko si mobil kecil mini Cooper: “Ayah, apakah kau akan ikut balapan mobil?”
Tuan Cooper: “Tentu, Ayah akan ikut balapan. Ini adalah balapan pertama di kota Carsen dan semua mobil antusias mengikutinya!”
Koko senang ayahnya akan mengikuti balapan mobil, dan dia pun berkumpul bersama dengan teman-temannya membicarakan persiapan balapan. Spanduk-spanduk, lampu-lampu, merchandise, dan lainnya menghiasi kota Carsen.
Vivi si mobil kecil VW: “Ayahku akan ikut balap mobil tahun ini, apakah ayahmu ikut Koko?”
Koko: “Tentu saja! Mobil ayahku, kecil dan gesit! Pasti akan menang.”
Tracky si mobil kecil truck: “Oh yang pasti menang, adalah mobil ayahku. Dia punya ban yang besar! Sekali jalan beberapa meter sudah terlewati.”
Ketika mereka sedang membicarakan siapa yang akan menang dari ayah-ayah mereka yang ikutan balapan, lewatlah Tuan Damkar dihadapan mereka.
Vivi: “Bagaimana kita bertanya dengan tuan Damkar? Apakah dia ikut balap mobil?”
Koko dan Tracky: “Ayo kita tanya.”
Koko: “Tuan Damkar, apakah tuan akan mengikuti balap mobil?”
Tuan Damkar: “Hohoho, tidak nak, aku hanya berjaga-jaga saja. Jika terjadi kecelakaan, maka aku yang akan membantu.”
Vivi: “Ternyata, tidak semua ikut balapan. Ayo kita tanya yang lain!!”
Mereka berjalan dan melihat Nyonya Lince si mobil Ambulance berada di parkiran rumah sakit.
Tracky: “Nyonya Lince, apakah kau akan ikut balapan mobil?”
Nyonya Lince: “tidak sayang, aku hanya berjaga-jaga saja jika terjadi kecelakaan, aku yang akan mengantarnya ke rumah sakit.”
Koko: “Coba kita tanya lagi!! Lihat itu ada tuan Towing!”
Mereka dengan antusias berjalan menuju tuan Towing si mobil derek. Dia sedang melajukan mobilnya menuju ke bengkel.
Vivi: “Tuan Towing! Tuan Towing!”
Tuan Towing memperlambat laju mobilnya dan melihat kepada anak-anak yang sedang memanggilnya.
Tuan Towing: “Ada apa anak-anak? Kalian mengagetkan aku.”
Koko: “Tuan Towing, apa kau ikutan balapan?”
Towing: “Tidak anak-anak, aku bertugas pada saat balapan. Jika ada yang terluka, maka aku akan mendereknya, dan membawanya ke bengkel.”
Tuan Towing pun melanjutkan perjalanannya.
Tracky: “Teman-teman, ternyata tidak semua mobil ikut balapan. Jangan-jangan tuan Velmot pun tidak ikutan balapan. Dia kan sudah tua! Hahaha!”
Vivi: “Tracky! Jaga sikapmu. Kita tidak tahu apakah tuan Velmot akan ikut balapan atau tidak jika kita tidak menanyakannya!”
Koko: “Bagaimana jika kita ke rumah tuan Velmot?”
Tracky dan Vivi: “Ayo kita ke rumah tuan Velmot!”
Koko, Tracky dan Vivi pun berjalan mengitari jalanan menuju arah perbukitan. Rumah tuan Velmot agak jauh dari rumah pemukiman penduduk. Tuan Velmot adalah mobil tua, terkadang jika ditanya cepat marah dan tersinggung, sehingga tuan Velmot lebih senang tinggal sendiri dan jauh dari rumah penduduk.
Vivi: “Apakah kalian melihat tuan Velmot? Aku tidak melihatnya.”
Koko: “Akan aku coba cari disebelah bagian ini dan kau Tracky, cobalah mencari di sebelah sana!”
Tracky: “Baiklah, aku akan mencari dibagian sana.”
Mereka bertiga mencari tuan Velmot, namun mereka tidak dapat menemuinya.
Tracky: “Aku tidak menemuinya.”
Koko: “Aku pun tidak menemuinya.”
Vivi: “Kalau begitu, bagaimana besok kita kembali lagi?”
Koko: “Baiklah, besok kita akan kembali lagi.”
Tracky: “Mungkin tuan Velmot takut balapan karena sudah tua, teman! Hehehe.”
Vivi: “Tracky! Tidak baik kau mengejek tuan Velmot seperti itu!”
Tracky: “Baiklah nyonya Vivi yang baik.”
Mereka bertiga kembali ke perjalanan pulang, dan pada saat hendak pulang, mereka berpapasan dengan tuan Velmot.
Vivi: “Tuan Velmot!”
Tuan Velmot: “Hei kalian anak-anak! Sedang apa kalian disana! Jalan disana licin!”
Tracky: “Lihat! Tuan Velmot tidak suka kita berada disini.”
Koko: “Diamlah Tracky, tuan Velmot tidak seperti yang kau pikirkan!”
Tracky: “Kau tidak tahu apa yang orang lain bicarakan tentang tuan– argh!”
Tuan Velmot: “Awas!!!”
Tracky tergelincir pada jalan berbatu di bukit yang cukup licin.
Brugg!!
Tracky menabrak sebatang pohon yang berada di depannya.
Vivi: “Kau tidak apa-apa Tracky?”
Tracky: “Aku hanya sedikit pusing, mataku berkunang-kunang dan bamperku sepertinya … copot.”
Tuan Velmot: “Kau harus ke rumahku, akan aku perbaiki bampermu.”
Tracky: “Baiklah tuan Velmot.”
Tracky, Koko dan Vivi mengikuti tuan Velmot kembali ke rumahnya.
Tuan Velmot, membawa mereka ke garasi di samping rumahnya. Lampunya dinyalakan dan tampak garasi itu lebih mirip dengan sebuah gudang. Tampaknya segala macam barang berada disana.
Sementara tuan Velmot memperbaiki bamper milik Tracky yang lepas, Koko melihat ke sekeliling dalam garasi milik tuan Velmot.
Matanya tertuju pada foto tua hitam putih dan berdebu. Didekatinya agar lebih jelas, foto apakah itu.
Tuan Velmot: “Hei nak!! Jangan kesana!!”
Koko kaget karena tiba-tiba saja tuan Velmot berteriak. Foto yang hendak dilihatnya, tersenggol dan pecah.
Prang!
Koko: “Maafkan aku, tuan Velmot, aku kaget mendengar kau berteriak. Dan pigura foto ini pecah.”
Koko ketakutan melihat pigura foto yang pecah itu, namun segera saja tuan Velmot mengambil sapu dan menyapu pecahan kacanya agar tidak terinjak.
Tuan Velmot: “Hati-hati dengan ban-mu agar tidak terinjak pecahan kaca ini. Maafkan aku karena mengagetkanmu.”
Vivi mengambil kertas foto dari lantai dan melihat yang ada di foto itu, tampak tuan Velmot yang masih muda, dan diatas kapp mobilnya terdapat piala yang besar dengan tulisan juara 1 balap mobil.
Vivi: “Tuan Velmot, apakah kau sering ikut lomba balap mobil?”
Tuan Velmot tanpa berkata apapun ,kemudian megambil foto yang sedang dilihat oleh Vivi.
Tuan Velmot: “Pergilah kalian sebelum turun hujan.”
Satu persatu mereka pun keluar dari garasi milik tuan Velmot, kemudian meninggalkannya sendirian.
Tracky: “Betul kan apa yang aku katakan, tuan Velmot sungguh aneh.”
Vivi: “Stt!! Pelankan suaramu Tracky!”
Tuan Velmot masih mendengar apa yang dikatakan oleh Tracky. Dia melihat foto lamanya itu. Foto ketika dia menjuarai balapan di kota lain. Betapa orang-orang mengaguminya hingga membuatnya menjadi sombong. Dia tidak mau berteman dengan siapapun, hingga akhirnya ketika sudah menjadi mobil tua, tuan Velmot sendirian di rumahnya di atas bukit.
Dia ingin berteman dengan penduduk kota Carsen, tapi mobil-mobil disana sudah mencapnya sebagai mobil tua yang aneh, pemarah dan cepat tersinggung.
Tuan Velmot ingin sekali ikut dalam balapan di kotanya. Tapi dia sadar, tuan Velmot sudah cukup tua.
Dalam perjalanan pulang ke rumah, Tracky, Vivi dan Koko kembali bertanya kepada setiap mobil yang lewat, apakah mereka akan ikut dalam balapan atau tidak.
Ada tuan Dakkar dari Pajero, tuan Camaro dari Chevrolet, tuan Zenix dari Innova, dan masih banyak lagi yang ikut.
Koko: “Aku tidak menyangka ternyata, banyak sekali yang ikut dalam balapan, aku harap, ayahku yang akan menang.”
Tracky: “Aku yakin sekali, ayahkulah yang akan menang!”
Vivi: “Sudahlah, kalian jangan ribut terus! Kita lihat saja pada saat balapan siapa yang akan menang nanti.”
Setelah mengakhiri berdebatan mengenai siapa yang menang, Koko, Tracky dan Vivi kembali pulang ke rumahnya masing-masing.
Keesokan harinya, Vivi penasaran dengan foto tuan Velmot. Dia ingin menjumpai tuan Velmot sendirian tanpa kedua temannya.
Pagi-pagi, setelah berpamitan kepada ibunya, Vivi berjalan ke atas bukit tempat tuan Velmot.
Vivi: “Tuan Velmot!”
Tuan Velmot mendengar seseorang memanggilnya, kemudian dia keluar dari pintu rumahnya.
Tuan Velmot: “Kau? Kenapa kau datang lagi kemari? Apakah ada sesuatu yang tertinggal?”
Vivi: “Tuan Velmot, apakah tuan akan ikut balapan?”
Tuan Velmot: “Hahaha, aku sudah tua nak, lagian bukankah aku ini mobil yang aneh, si pemarah dan cepat tersinggung?”
Vivi: “Aku tidak merasa dirimu aneh tuan Velmot. Semua orang sangat antusias dalam menyambut acara balapan nanti. Dan aku melihat foto juara 1 balapan milikmu.”
Tuan Velmot: “Itu adalah masa lalu nak.”
Vivi: “Jadi, apakah kau akan ikut?”
Tuan Velmot: “Tidak. Pulanglah!”
Vivi: “Ikutlah tuan Velmot! Aku percaya, orang-orang pasti tidak akan menganggap dirimu aneh lagi.”
Vivi pun pulang ke rumahnya meninggalkan tuan Velmot yang sedang berpikir.
Tuan Velmot: “Apakah aku bisa balapan lagi?”
Ditatap fotonya lama-lama kemudian memutuskan untuk ikut dalam balapan yang akan dilangsungkan di kotanya, Carsen.
Untuk itu, dikeluarkannya perlengkapan bengkelnya. Dicek mesinnya, aki, rem dan olie di ganti agar performanya semakin bagus.
Setelah itu tuan Velmot berlatih di sepanjang bukit untuk balapan tanpa mengenal lelah. Dari waktu ke waktu tuan Velmot berlatih, tempo balapan semakin cepat, hingga akhirnya balapan akan berlangsung 1 hari lagi.
Tracky: “Ayah, apakah lomba balap ini ayah tidak berlatih?”
Tuan Trucking : “Apakah harus berlatih lagi? Lihat badan ayah! Badan ayah kekar, besar, sekali berjalan maka yang lain akan terlewati.
Tracky: Ayah hebat!!
Tuan Trucking: “Kau harus bangga dengan ayahmu ini, dan tunggulah ayah di garis finish!”
Hari perlombaan pun tiba. Sepanjang jalan kota Carsen dipenuhi dengan mobil-mobil. Di samping garis finish, sudah tersedia podium dengan piala besar menanti.
Semua yang mengikuti balapan dari berbagai jenis kendaraan, besar kecil, semua ikut meramaikan.
Tracking: “lihat!! Ayahku terlihat dari sini, dia besar!”
Tracking menunjukkan posisi ayahnya pada kedua temannya.
Koko: “Itu ayahku ada di tengah! Dia sangat gesit. Pasti dia akan lebih cepat sampai ke garis finish.”
Vivi: “Dimana tuan Velmot?”
Tracking: “Untuk apa kau mencari tuan Velmot? Tentu saja dia tidak akan datang! Dia sudah tua, pasti dia menonton diatas bukit rumahnya.”
Koko: “Kau harus pikirkan dimana ayahmu Vivi bukan tuan Velmot.”
Balapan akan segera dimulai. Peserta lomba sudah memasuki arena balapan dan mengambil posisi masing-masing.
Peserta kali ini yang ikut ada 10 mobil, tuan Dakar dari jenis Pajero sport. tuan Combi dari jenis VW, tuan Cooper dari jenis mini cooper, tuan Trucking dari jenis Truk, tuan Camaro dari jenis Chevrolet, tuan Zenix dari jenis Innova, Seltos dari jenis Kia, Jazzy dari jenis Honda, Rocky dari jenis Daihatsu, tinggal satu tempat sisa yang belum terisi.
Pemandu acara: “Selamat datang! Selamat datang di acara termegah tahun ini! Kota Carsen, persiapkan diri kalian untuk menyaksikan balap mobil terakbar! Acara akan segera kami mulai 5 menit lagi!”
Koko: “Siapakah yang datang terlambat?”
Tracky: “Tentu saja mobil yang tiba-tiba ciut nyalinya!”
Vivi: “Lihat! Itu tuan Velmot?!”
Vivi menunjuk sebuah mobil yang memasuki arena balapan sebuah mobil dari jenis Volvo tua. Semua mata memandang kepada mobil Volvo yang baru datang.
Vivi: “Itu tuan Velmot! Dia mengecat ulang badannya! Dia tampak lebih muda dari yang kita lihat kemarin!”
Tracky: “Tapi tetap saja, dia hanyalah mobil tua!”
Koko: “Kalian diamlah, acara akan segera dimulai!”
Pemandu acara: “Saudara-saudara! Peserta kita sudah lengkap! Mari kita semua saksikan balapan terakbar di kota Carsen! Untuk semua mobil! Bersiap! 1 … 2 … 3!!
Dor!!!
Sebuah tembakan diarahkan ke langit menandakan balapan dimulai. Semua mobil melaju dengan cepat.
Pemandu acara: “Untuk putaran pertama ini, tuan Trucking berada pada garis depan. Disusul dengan tuan Dakkar…”
Tracky: “Lihat! Betul kan ayahku paling depan?”
Pemandu Acara: “Tuan Cooper dengan gesit dan lincahnya kemudian menyusul tuan Dakkar dan tuan Trucking dan berada posisi paling depan.”
Koko: “Betul kan? Ayahku yang gesit dia cepat mengalahkan ayahmu!”
Semua mobil bersorak-sorai menyemangati mobil-mobil yang ikut balapan.
Pemandu Acara: “Dari arah belakang, Tuan Velmot tiba-tiba melajukan kecepatannya hingga pada posisi ke delapan, kemudian melesat melewati tuan Jazzy, tuan Combi, tuan Rocky dan tuan Seltos hingga sekarang berada di posisi keempat. Siapakah yang akan terlebih dahulu sampai ke garis finish??”
Pemandu Acara: “Kembali lagi, tuan Velmot menggeser kedudukan tuan Trucking dan hampir menyamai posisinya dengan Tuan Cooper.
Ahhh!! Semua mobil yang menonton menarik nafas karena posisi paling depan adalah tuan Dakkar, tetapi lambat laun posisinya mulai sejajar dengan tuan Velmot. Garis finish sudah di depan mata. Mereka melihat tanpa berkedip.
Pembawa Acara: “Dan yang memasuki garis finish untuk pertama kali adalah … Tuan Velmot!!!
Semua mobil terkesima memandang tuan Velmot yang menjadi juaranya.
Vivi: “Lihat! Kalian terlalu meremehkan Tuan Velmot! Aku yakin dia akan menang!”
Tracky: “Bagaimana kau bisa yakin kalau tuan Velmot menjadi pemenang? Dia hanya mobil tua!”
Vivi: “Aku melihat foto tuan Velmot ketika Koko menjatuhkan pigura fotonya. Tuan Velmot pada masa mudanya menjadi juara 1 balapan.”
Tuan Velmot naik ke atas podium. Pialanya ditaruh di kepalanya. Lampu-lampu Blitz menyala untuk mengabadikan moment kemenangan.
Reporter: “Tuan Velmot apa yang membuatmu menjadi pemenang kali ini?”
Velmot: “Seorang mobil kecil yang mengingatkan aku ketika masa mudaku yang terkenal sombong. Aku ingin berteman dengan semua penduduk Carsen disini. Dan inilah momentnya, aku mengecat ulang mobilku, kuperbaharui mesinku, dan aku berlatih setiap hari agar aku bisa menang.
Seluruh mobil bersorak sorai mendengar perkataan tuan Volmet. Klakson-klakson sahut menyahut memberikan selamat.
Reporter: “Jadi, apa saran tuan Volmet untuk acara balapan tahun depan?”
Volmet: “Jika ingin menjadi pembalap, harus selalu berlatih, belajar mengenai hal-hal yang baru, jangan sombong, dan selalu memperbaiki diri menjadi yang lebih baik.”
Tamat