Di sebuah sudut club malam yang dipenuhi dengan lampu gemerlap dan dentuman musik yang memekakkan telinga, seorang gadis muda bernama Anggun Maharani, duduk di kursi bar. Rambutnya tergerai rapi, wajahnya cantik dengan riasan tebal yang tampak sempurna di bawah cahaya lampu warna-warni. Pakaian seksi yang dikenakannya membuatnya tampak menonjol di antara pengunjung lain, tetapi ekspresinya jauh dari suasana riuh di sekitarnya.
Dengan sebuah gelas cocktail di tangan, dia menatap kosong ke arah lantai dansa, tempat beberapa orang menari dengan tawa dan senyum ceria. Namun, di balik tatapan matanya yang hampa, seakan tersimpan cerita yang sulit diungkapkan. Gelas di tangannya hanya setengah diminum, tapi dia tidak terlihat menikmati rasa atau suasana di sekelilingnya. Sesekali dia menghela napas pelan, seakan mencoba menahan sesuatu yang tidak ingin terlihat oleh orang lain.
Suasana malam yang semestinya penuh euforia justru menjadi kontras dengan aura kesendirian yang menyelimutinya.
“Hayo, Ngelamunin apa, sih?” tanya seorang wanita bernama Mila sambil menepuk pundak Anggun dengan pelan.
“Mila?” ujar Anggun sambil mengatur napasnya.
Mila tersenyum lebar, mengenakan gaun hitam pas badan yang memancarkan aura percaya diri. “Santai dong, Gun. Udah kayak ketahuan lagi sembunyi,” candanya sambil mengambil kursi kosong di sebelah Anggun.
Anggun menghela napas pelan, lalu tersenyum tipis. “Kamu bikin kaget aja.”
Mila tertawa kecil, lalu melirik gelas di tangan Anggun yang isinya tinggal setengah. “Kamu lagi ngapain? Ngilang dari lantai dansa, terus duduk sendirian di sini. Lagi ada masalah?” tanyanya, nada suaranya berubah lebih serius.
Anggun menggeleng perlahan. “Nggak apa-apa, cuma … lagi nggak mood aja,” jawabnya sambil memutar gelas di tangannya.
Mila menatap Anggun dengan tatapan penuh selidik. “Jangan bohong sama aku, Gun. Aku kenal kamu lebih lama dari siapapun. Cerita, yuk.”
Anggun terdiam sejenak, menatap gelasnya sebelum akhirnya mendesah pelan. “Kadang capek, Mil. Semua ini… bikin aku ngerasa kosong.”
Mila menggenggam tangan Anggun dengan lembut. “Kamu nggak sendiri, Gun. Tetapi nggak ada yang bisa kita lakuin selain menerima nasib menjadi kupu-kupu malam.”
“Kira-kira … suatu saat kita bisa nggak keluar dari dunia malam ini?” tanya Anggun sambil langsung menoleh ke arah Mila yang masih duduk di sampingnya.
Sambil tersenyum dan memegang tangan Anggun. “Semoga saja. Aku yakin suatu saat kita pasti bisa keluar dari dunia kotor ini, kamu harus yakin kalau suatu hari nanti kamu bisa meninggalkan tempat ini.”
Anggun tersenyum tipis, meski matanya terlihat berkaca-kaca. “Makasih, Mil. Kamu emang sahabat terbaik.”
Mila tersenyum lembut. “Selalu, Gun. Sekarang, gimana kalau kita balik ke lantai dansa? Buang semua pikiran itu, meski cuma sebentar.”
Anggun mengangguk pelan, lalu bangkit dari kursinya. “Oke, Mil. Let’s dance.”
Keduanya berjalan beriringan, meninggalkan suasana berat di kursi bar menuju lantai dansa yang penuh gemerlap.