“Selamat ulang tahun, Keyla Faradina!” seru Dyana salah satu sahabat karib Keyla yang berjumlah tiga orang.
Keyla sempat terkejut, karena lupa kalau hari ini adalah hari ulang tahunnya yang ke tujuh belas. Namun, dia juga sangat terharu dengan perhatian sahabatnya yang masih mengingat hari kelahirannya, sedangkan dia sendiri malah lupa dengan hari bersejarahnya.
“Terima kasih, Dy!” ucap Keyla penuh rasa haru.
Setelah itu datang menyusul dua teman yang lain, yaitu Reina dan Desy. Salah satu dari mereka kemudian mengedipkan matanya.
“Satu … dua … tiga …!”
“Surprise!”
Byur …!
Ketiga sahabat Keyla bekerja sama untuk mengangkat tubuhnya dan melemparkan ke dalam kolam renang yang kedalamannya sekitar dua meter.
“Ach …! Tolong …! Aku tak bisa berenang …!” teriak Keyla ketakutan.
Teriakan Keyla hanya disambut dengan tawa yang membahana. Ketiga sahabat Keyla, tidak pernah tahu kalau Keyla sebenarnya punya trauma di masa lalu jika harus berada di kolam renang yang dalam.
Keyla yang mendapatkan kejutan ulang tahun, benar-benar merasa syok. Saat mendapatkan kejutan yang sangat tidak disukainya.
“Tolong … tolong …!” teriak Keyla tiada henti.
Namun, teriakan Keyla dianggap lelucon oleh ketiga temannya. Mereka hanya tertawa di pinggir kolam renang yang ada di rumah Dyana. Menganggap kalau kejutan yang diberikan sukses besar hingga membuat Keyla ketakutan. Sampai tak terdengar lagi suara teriakan Keyla yang meminta pertolongan.
Keyla merasa berada dalam keadaan hidup dan mati. Kedua tangannya menggapai ke atas air. Sebentar terapung, kemudian tenggelam hingga ke dasar kolam renang. Keyla berusaha untuk kembali ke permukaan, tetapi usahanya sia-sia. Kini banyak air yang mengisi lambungnya. Dia pasrah. Apapun nanti yang terjadi, terjadilah. Mungkin hari ini adalah hari terakhirnya menghirup udara di dunia ini.
Ketiga sahabatnya masih tertawa terbahak-bahak saat mendengar teriakan Keyla. Mereka menganggap kalau Keyla hanya bermain peran saja. Selama ini, Keyla juga sering menggoda sahabat-sahabatnya dengan aneka perannya yang seakan nyata. Dia memang suka dengan dunia teater. Seringkali ketiga sahabatnya dijadikan kelinci percobaan, ketika Keyla mendapatkan sebuah peran dalam klub teater di sekolahnya sehingga dia merasa lebih menjiwai peran yang akan dimainkannya.
Dyana, Reina, dan Desy hanya tertawa di pinggir kolam renang yang ada di rumah Dyana. Mereka menganggap kalau kejutan yang diberikan sukses besar. Sampai tak terdengar lagi suara teriakan Keyla.
“Lho …, Key …! Jangan becanda kamu! Ayo, segera naik ke atas kolam!” ucap Dyana si jago renang sambil kepalanya menunduk ke arah dasar kolam, berusaha mencari keberadaan Keyla.
“Key …! Kami percaya peran kamu sangat bagus, tapi jangan menyelam terlalu lama seperti itu. Nanti perutmu kemasukan banyak air!” seru Desy mulai ketakutan.
“Kamu sih, Dy! Kasih surprise yang bikin hati kita dag, dig, dug begini,” protes Reyna.
“Kalian senang juga ‘kan? Kejutan kita di hari ulang tahun Keyla berjalan sukses dan lancar! Ha … ha …! Lihat saja, sahabat kita Keyla sampai tidak mau keluar dari dasar kolam,” ucap Dyana sambil tertawa.
“Perasaanku tidak enak, Dy. Ayo, kamu segera nyebur ke kolam! Siapa tahu Keyla benar-benar butuh pertolongan. Kita tidak tahu, Keyla itu bisa berenang sungguhan atau tidak. Selama ini, dia selalu menghindar kalau kita ajak berenang. Ada saja alasannya,” tutur Reina khawatir.
Ketiga sahabat Keyla memang jago dalam bidang olahraga. Nilainya juga di atas rata-rata. Sedangkan Keyla berbanding terbalik dengan mereka. Nilai olahraga Keyla biasa saja, tapi jangan tanyakan nilai Matematika dan Fisikanya yang melambung tinggi. Keyla selalu berperan sebagai guru jika mereka berempat mendapatkan tugas sekolah.
“Dy, tolong segera kamu cari Keyla di dasar kolam. Aku takut terjadi hal buruk padanya.” Suara Desy mulai gemetaran.
“Iya, iya!” sahut Dyana.
Secepat kilat, Dyana terjun ke kolam renang. Rasa khawatir menyelimuti hati dan jiwanya. Dia akan menyalahkan dirinya sendiri kalau terjadi hal yang tak diinginkan pada Keyla sahabatnya.
Setelah mengitari dasar kolam renang, akhirnya Dyana melihat tubuh Keyla. Kemudian Dyana meluncur ke arahnya dan segera mengangkat tubuh sahabatnya itu ke permukaan air.
“Tolong bantu aku ke atas!” teriak Dyana pada Reina dan Desy yang menunggunya di pinggir kolam.
Benar saja, perut Keyla mulai membesar akibat kemasukan banyak air. Dyana segera melakukan pertolongan pertama pada Keyla. Tak berapa lama Keyla menyemburkan air dari mulutnya dan terbatuk-batuk. Kemudian dia mulai membuka matanya.
“Alhamdulillah,” ucap ketiga sahabat Keyla serentak. Pandangan mata Keyla mengelilingi ketiga sahabatnya bergantian.
“Aku di mana?” tanya Keyla. Dia merasa kedinginan karena baju yang dikenakannya basah kuyup.
“Kamu ada di rumahku sekarang. Maafkan aku, Key. Tak menyangka kalau ternyata kamu tidak bisa berenang,” ucap Dyana penuh penyesalan.
Dyana dan kedua sahabatnya yang lain bekerja sama mengangkat tubuh Keyla ke dalam kamar. Mereka segera memberikan baju ganti untuk Keyla dan membuatkan minuman hangat. Rasa syukur mereka panjatkan kepada Allah, karena nyawa Keyla masih terselamatkan.
“Maafkan kami juga, Key. Ternyata kejutan yang kami berikan membahayakan nyawamu,” sesal Reina.
“Kami bertiga sayang kamu, Key. Untuk selanjutnya kami akan lebih hati-hati lagi dalam memberikan kejutan. Supaya akibatnya tidak membahayakan nyawa seseorang,” sambung Desy.
Keyla hanya tersenyum. Tubuhnya masih terasa lemah, akibat telah menelan banyak air di kolam renang tadi. Keyla tidak sepenuhnya menyalahkan ketiga sahabatnya. Salahnya tidak memberitahu kalau dia punya ketakutan tersendiri jika berhadapan dengan kolam renang yang dalam.
“Kalian tidak bersalah. Aku juga minta maaf, karena tidak berterus terang pada kalian tentang rasa ketakutanku pada kolam renang yang dalam,” lirih Keyla.
“Memangnya kamu pernah tenggelam sebelum peristiwa barusan?” tanya Reina.
“Benar,” jawab Keyla singkat.
“Kapan itu terjadi?” desak Dyana.
“Sebenarnya kejadian itu sudah lama terjadi. Tepatnya setelah lulusan kelas 6 SD. Waktu itu, aku pergi ke kolam renang dengan tiga teman sekelasku. Awalnya kami berenang di kolam renang dangkal. Selanjutnya temanku yang bernama Sasa mengajakku berenang ke kolam yang dalam. Awalnya aku menolak, tapi temanku itu terus mendesak sekaligus meyakinkan agar aku mau mengikutinya di kolam renang dalam.”
Keyla terdiam sejenak. Sebenarnya dia tak ingin mengingat kembali kejadian yang membuatnya trauma sampai saat ini. Mungkin dengan bercerita pada sahabat-sahabatnya, Keyla bisa terbebas dari rasa takut yang membayanginya hingga saat ini.
“Key, percayalah pada kami. Lanjutkan ceritanya, kami akan berusaha membantumu sembuh dari rasa takut yang membelenggumu.” Dyana berusaha meyakinkan sahabatnya itu.
“Baiklah. Setelah aku mempercayai temanku itu, aku mengikutinya ke kolam dalam. Aku hanya berdiri di pinggir kolam. Rencananya mau pinjam pelampung, tapi sudah kehabisan. Saat aku akan naik ke atas, Sasa mengulurkan tangannya. Namun, ketika badanku hampir ke atas, tiba-tiba tangan Sasa dilepaskan. Hal itu membuat tubuhku terjatuh kembali hingga lantai dasar kolam renang. Bukannya menolongku, Sasa malah tertawa terbahak-bahak di atas kolam renang. Menganggap kejadian itu adalah sebuah lelucon. Esoknya setelah kejadian itu, aku dirawat di rumah sakit, karena badanku demam tinggi dan terus mengigau. Aku mengatakan pengalaman menyedihkan itu hanya kepada keluargaku saja, sedangkan orang lain tak ada yang tahu termasuk kalian.” Keyla mengakhiri ceritanya.
“Sekali lagi aku minta maaf, karena telah membuka traumamu di masa lalu, Key.” Keempat sahabat itu saling berpelukan.
“Kami janji akan membantumu untuk melawan rasa takut yang membelenggumu, Key. Bagaimana teman-teman, kalau kita bantu Keyla belajar berenang hingga mahir?” tanya Dyana pada kedua sahabatnya yang lain. Reina dan Desy mengangguk mantap.
“Terima kasih. Kalian memang sahabat terbaikku,” ucap Keyla penuh rasa haru. Tak terasa air mata menetes dari pelupuk matanya.
Keyla tak menyangka, kalau ketiga sahabatnya bukannya mengejek, mereka dengan senang hati membantu mendampinginya agar terbebas dari rasa trauma di masa lalu. Keyla merasa sangat bersyukur atas apa yang menimpanya. Dia jadi semakin paham, mana teman yang benar-benar tulus dan yang hanya memanfaatkan kebaikannya saja.
“Terima kasih, ya Allah. Kau telah mempertemukanku dengan sahabat-sahabat terbaik seperti mereka,” lirih Keyla.
Tamat.