THE LOST BOY
By : Leon Hart
“Tinggalkan dia di dalam sekarang!”
Perintah yang keluar dari anak berusia belasan dan bertubuh tambun, pada beberapa teman seumurannya.
“Pastikan pintunya tidak bisa di buka dari dalam. Paling tidak, sampai besok kita mendapati wajahnya sudah dalam keadaan pucat!”
Tawa meledak setelah ucapan itu meluncur dari anak berusia 13 tahun, di depan seorang anak laki-laki dengan jeda umur tak jauh berbeda dengannya, namun dalam posisi berbeda.
Anak tambun bernama Bobby itu lantas membungkuk, mendekatkan wajahnya pada temannya yang mengalami kekalahan dalam taruhan.
Sebuah permainan kartu, lalu terjadi kesepakatan, dimana yang kalah akan mengikiti permainan uji nyali.
“Sorry Pete . Kamu harus kalah, dan berakhir di sini. Tapi tenang saja, kami sediakan cutter di depanmu ini buatmu lari,” jelas Bobby.
“Seperti kesepakatan awal, kami akan beri waktu menunggu selama satu jam di ujung jalan, dan kalau kamu belum juga muncul…sorry to say, kamu harus cari cara sendiri buat kembali ke rumah kakekmu, dan kita bertemu esok pagi di basecamp,” lanjut Bobby.
Tak ada jawaban berupa kata-kata dari anak bernama Peter ini untuk menanggapi, karena mulutnya di tutup dengan lakban, sedangkan kedua tangan dan kakinya terikat tali, yang berasal dari peternakan milik keluarga Daniel, salah satu anak yang lain.
“Guys. Apa permainan kita nggak terlalu berlebihan? Sebaiknya, kita tunggu Peter sampai dia benar-benar bisa meloloskan diri,” ujar Daniel menyela dominasi Bobby, anak bertubuh paling tambun dan tinggi besar, sekaligus di jadikan pemimpin geng yang berisi 7 anak laki-laki berusia tanggung ini.
“Bukankah itu sudah kesepakatan?” sahut Bobby atau Bob. “Kecuali kalau kamu mau nungguin dia?” tawarnya kemudian. “Kalau aku tidak mau. Lebih baik aku cepat pulang. Hari sudah gelap, dan kita menunggu dia besok pagi saja.”
“Yeah. Aku setuju dengan Bob,” sahut salah seorang yang lain, bernama Joe Charming atau biasa di panggil JC. “Sudah waktunya kita pulang. Untung saja yang kalah taruhan Peter. Kakeknya tentu tak akan mencarinya. Dia anak bebas. Sudah biasa nggak pulang ke rumah,” perjelasnya.
Baru saja akan berucap balasan, tapi bagian belakang kerah kemeja Daniel ini terseret oleh tangan Bobby, lalu membawanya keluar dari kamar.
“Ayo cepat kita pergi dari sini. Bulu kudukku sudah merinding. Aku seperti rasakan ada orang di rumah ini,” ucap Bobby memaksa.
Meski menuruti, tapi tatapan Daniel tidak bisa lepas dari wajah Peter. Sorot Peter dengan kedua mata berkaca-kacanya, kulit memerah karena menahan takutnya, hanya usaha Peter seperti gumaman dari balik lakban hitam itu saja yang menimbulkan bunyi, sedangkan kedua tangan dan kaki terikatnya berusaha menjangkau cutter, lalu mencoba di arahkan ke bagian belakang, dimana kedua tangannya terikat berada.
Brakk!!
Kedua bahu Daniel berjingkat, ketika suara pintu kamar yang di jadikan tempat uji nyali ini di tutup keras oleh Bobby.
“Well, kita pergi sekarang,” perintah Bobby pada ke 5 temannya yang lain, termasuk Daniel.
Rumah berukuran besar dan berada di ujung jalan kota kecil bernama Nortshort, jauh dari pemukiman penduduk lain itu kini mereka tinggalkan jauh sambil berlari.
Sesuai rencana, selama satu jam, 6 anak ini akan menunggu Peter di tempat mereka kumpulkan sepeda mereka, yaitu di bawah pohon daerah hutan kecil di samping jalan yang relatif sepi.
“Sudah satu jam. Kita harus pulang,” ucap Bobby, setelah sepersekian detiknya berakhirnya waktu satu jam menunggu, menjadi sebuah perintah.
“Tapi Peter belum juga keluar?” sahut Daniel panik. Ucapannya bergetar, selain karena akibat hawa dingin, tapi juga rasa bersalah Daniel bilamana harus meninggalkan salah satu teman terdekatnya di kelompok yang di pimpin Bobby ini. “Rumah itu di kenal angker. Bagaimana bisa kita meninggalkan dia? Bisa saja hantu pembunuh itu datang dan–“
Tarikan di bagian belakang kerah baju dapat dia rasakan lagi dari Bobby.
“Kita pergi sekarang. Besok pagi kita kembali ke sini buat jemput Peter.”
“Tapi…tapi–” paksa Daniel. “Peter…hantu itu…orang-orang bilang, arwah pembunuh itu ada di sana….please kalian–“
Tidak sampai Daniel selesai dengan hibahannya, ke enam anak laki-laki itu terdiam terpaku, saat suara teriakan nyaring berkumandang di heningnya malam.
Suara yang terdengar sekali namun sangat nyaring itu sampai terdengar beberapa meter dari asal teriakan.
Enam anak laki-laki itu hanga bisa terdiam membeku, namun tangan dan kaki mereka bergetar ketakutan, bahkan untuk mengeluarkan satu ucapanpun tak mampu.
Ketakutan itu lalu berganti dengan kengerian. Hanya satu kata perintah dari Bobby yang mampu membuat mereka berenam beranjak.
“Lariiii!”
***
Lima tahun kemudian.
“Kamu gila, Daniel!”
Umpatan itu bukan tanpa alasan. Anak remaja menjelang masuk ke jenjang perkuliahan, bernama Daniel itu punya alasan kuat saat memutuskan kembali ke daerah tempat tinggalnya semasa ayahnya mendapat tugas memimpin institusi kepolisian di sana, pada lima tahun yang lalu.
“Jelas-jelas hilangnya Peter karena anak itu terlalu ceroboh, jadi bisa di bilang, kayak bunuh diri. Apa yang ingin kamu lakukan?” ujar Bobby mengingatkan. “Pihak kepolisian memperkirakan, dia terjun ke sumur lama yang ada di belakang rumah. Kemungkinan besar, setelah tangannya berdarah karena cutter, dia coba mencari air, tapi naas, justru terjatuh ke dalam sumur,” tambah Bobby.
“Tapi tubuhnya tidak pernah di temukan. Tidak ada yang berani masuk ke dalam sumur itu. Jadi, kita harus slidiki ulang dan mencari tahu,” sahut Daniel.
“Polisi sudah menutup kasus itu sejak kamu dan ayahmu pindah esok harinya. Ukuran sumur itu terlalu kecil, tubuh kita sekarang nggak akan muat, bila harus masuk ke sana. Sudah jelas-jelas teriakan nyaring Peter itu nyaring sekali, pasti benar dia terjatuh di sana. Kebenaran apa yang kamu inginkan?” sahut Bobby ngotot.
“Tapi kamu juga nggak bisa pungkiri. Rasa bersalah itu sudah menghantui kita selama 5 tahun terakhir?”
“Dan itu bukan saja menimpamu, Bob, tapi kami semua,” tambah JC menimpali. “Aku kira Daniel ada benarnya. Kita berkumpul di sini, bukan karena permasalahkan hasil penyelidikan kepolisian, tapi ini lebih pada tanggung jawab kita pada Peter.”
“Setuju,” sahutan hampir bersamaan dari 4 anak lain, yaitu Daniel, Pedro, Sony, dan Kenzo.
“Kalau bisa, kita lalukan sesuatu. Paling tidak, kita sudah yakin, kalau Peter benar-benar meninggal jatuh ke dalam sumur, bukan karena ulah hantu perampok itu,” timpal Kenzo, menguatkan argumen Daniel.
Lalu, ke lima anak laki-laki yang kini beranjak dewasa itu, bersamaan menatap Bobby, yang masih mereka jadikan sang dominan sebagai penghormatan akan memory masa kecil mereka.
“Kami akan ke rumah itu. Kamu berhak menunggu di sini, atau pulang. Tapi jangan harap kamu bisa lupakan kami dan apa yang akan terjadi pada kami, seperti kamu melakukannya pada Peter,” ucap Daniel, kemudian mengajak temannya yang lain keluar dari cafe yang ada di kota.
“Tunggu,” cegah Bobby. “Aku akan ikut kalian,” putusnya. “Seperti yang sudah kita bicarakan. Kita akan mencari kebenaran soal hilangnya Peter, malam ini juga!”
***
Jumat malam, 25 Desember, pukul 21.00.
Ke enam anak muda itu kemudian memarkirkan dua mobil mereka di halaman rumah, dimana mereka dulu pernah meninggalkan kawan yang kalah dalam permainan taruhan, dan sesuai kesepakatan, yang kalah akan di kurung di dalam kamar pada rumah yang telah kosong selama belasan tahun.
Rumah tersebut di tinggalkan pemiliknya karena di saat malam natal, lebih dari 10 tahun yang lalu, dimana seorang perampok sadis telah membunuh semua anggota keluarga yang terdiri dari pasangan suami istri dan dua anaknya yang masih kecil.
Kasus pembunuhan itu menjadi terkenal dan meninggalkan misteri, karena ke empat penghuni rumah telah di bunuh dan jasadnya di biarkan tergeletak bersimbah darah, di bawah pohon natal yang ada di ruang tengah.
Perampok sekaligus terduga pembunuhnya, di temukan di dalam salah satu kamar di lantai dua, dalam keadaan gantung diri, dengan pisau yang di gunakan untuk membunuh tepat di bawah kakinya.
Kasus pembunuhan di sertai perampokan itu menjadi perbincangan dan misteri, karena di temukan adanya kejanggalan.
Hasil penyelidikan setelah pemakaman, pihak kepolisian tidak menemukan sidik jari sang perampok di pisau yang sudah terbukti jadi senjata pembunuh satu keluarga tersebut.
****
“Sialan. Bau!” pekik Sony, spontan menutup hidungnya, setelah pintu kamar dimana lima tahun dulu pernah mereka masuki, terbuka.
“Rumah ini benar-benar di tinggalkan,” ucap Pedro. “Sampai barang-barang, bahkan pohon natal di ruang keluarga di bawah sana, masih juga belum ada yang menjamah,” lanjutnya.
Pintu kamar, tempat di temukannya sang perampok gantung diri dan dimana Peter juga mereka biarkan di sana sebagai akibat hukuman uji nyali, kemudian di buka lebih lebar oleh Daniel.
Daniel berharap, bau menyengat, campuran dari bau anyir sekaligus ruangan yang sangat lembab itu akan sedikit berkurang.
Rumah yang sudah di labeli sebagai rumah angker itu, semakin bertambah kengeriannya, setelah peristiwa kematian yang menimpa Peter itu terjadi.
Suasana mistis semakin terasa, saat ke enam anak remaja itu berkumpul di karpet dimana di sanalah bekas tetesan darah milik sang perampok yang gantung diri, dan juga darah Peter bercampur di satu tempat.
BRAKKK!!!
Seketika, ke enam anak remaja itu berjingkat kaget, sampai-sampai senter yang di pegang oleh JC terjatuh.
Pintu kamar itu telah tertutup sendiri, sehingga ke enamnya sontak panik dengan sendirinya.
“Senterku? Dimana senterku!” teriak JC kalut.
Ruangan yang sudah minim penerangan itu, mendadak jadi semakin suram, ketika tak ada suara atau pertanda apapun yang mengisyaratkan orang ataukah angin yang menutupnya.
“Itu. Menggelinding ke sana!” pekik Bobby, lalu mengikuti sinar senter milik JC yang berlari ke arah bawah kolong tempat tidur berukuran single.
Baru saja Bobby akan menjangkaunya, tapi senter tersebut justru semakin masuk ke dalam kolong.
Awalnya, Bobby berniat bersimpuh untuk menjangkau bagian bawah, tapi suara ponsel berdering, jadikannya refleks bergerak naik, hingga terbenturlah bagian belakang kepalanya pada bagian bawah kasur yang terbuat dari kayu ini.
“Sialan!” umpat Bobby, seraya memegang kepalanya dan mengusapnya.
Daniel meraih ponsel yang ada di tas ranselnya, kemudian menerima panggilan yang ternyata dari sepupunya.
“Jeremy. Bagaimana?” tanya Daniel to the poin. Daniel juga sengaja membuat panggilan ini jadi loudspeaker, agar kelima temannya yang lain bisa mendengarkan.
“Daniel. Barusan aku sudah bersama kakeknya Peter di rumah sakit jiwa,” pemberitahuan Jeremy.
“Lalu, apa yang dia katakan?” tanya Daniel.
Kelima teman Daniel segera mendekat membentuk lingkaran di sekelilingnya, agar bisa lebih jelas mendengarkan.
“Dia masih pada keterangannya selama ini, kalau Peter sesekali menemuinya. Mungkin karena itu orang lain menganggapnya sudah gila dan mengirim ke rumah sakit ini,” jelas Jeremy di ujung telpon.
Berita dari Jeremy ini sontak membuat Daniel menatap satu persatu temannya, sebelum akhirnya menanyakan apa yang juga jadi pemikiran teman-temannya.
“Jadi, ada kemungkinan Peter masih hidup?” asumsi Daniel.
“Aku juga menanyakan, dan dia langsung berteriak.”
“Berteriak seperti apa?”
“Iblis. Peter seorang iblis!”
BUKKK!!!
Suara kencang kedua setelah pintu tertutup dan berupa debuman itu, bersambut dengan teriakan dari Sony.
“BOBBY…BOBYY MATIII!”
Ucapan Sony, ketika jadi pertama kali melihat tubuh Bobby jatuh ke depan dengan pisau menancap tepat di bagian belakang kepalanya, nyaris di area Bobby mengusapnya setelah tadi sempat terantuk ranjang kayu.
Tubuh kelimanya bergetar, raut dan sorot ketakutan jadi pemandangan di wajah masing-masing. Pedro berinisiatif memeriksa tubuh Bobby, dengan menyentuh bagian pundaknya, tapi bunyi di luar mengagetkan mereka lagi.
“Daniel. Ada apa? Apa yang terjadi?” tanya Jeremy di ujung telpon, panik.
Suara dari luar itu berupa langkah kaki bersepatu, cepat menaiki anak tangga, tapi kemudian berhenti setelah beberapa detik.
“KITA HARUS KELUAR DARI SINI! LARIII!!” teriak Sony yang kemudian berlari ke arah pintu dan membukanya.
“Sony! Tunggu!” cegah Daniel, tak kalah frustasi. Baru saja akan menjawab pertanyaan dari Jeremy, ponselnya terjatuh karena lemparan sebuah batu yang berasal entah darimana.
Ponsel milik Daniel itu terjatuh beberapa meter dari pemiliknya. Bagian kacanya pecah, sehingga berakibat hubungan telpon dengan Jeremy terputus, setelah layarnya menjadi gelap.
“Kita harus segera pergi, Dan. Jangan pedulikan ponselmu!” perintah Kenzo seraya menarik tangan Daniel.
Kini ke lima anak remaja laki-laki itu sudah berlari keluar dari kamar maut tersebut. Namun saat akan menuju ke arah tangga, suara langkah orang menaiki tangga kembali terdengar, sontak kelimanya segera berbalik panik.
“Ke kamar sebelah!” perintah Daniel, mengambil alih tugas yang biasa di lakukan Bobby.
Mereka tak tahu bagaimana keadaan dan nasib Bobby saat ini. Selain itu, dari dua kejadian barusan, sudah dapat di pastikan, keadaan di sekitar mereka memang tidak aman.
Dalam hitungan detik saja, kelimanya telah memasuki kamar yang berada di sebelah kamar maut.
Pintu telah mereka tutup, lalu dengan gerakan cepat mencari benda yang dapat di gunakan untuk mengganjal pintu, berupa meja belajar yang terbuat kayu, agar tidak bisa dengan mudah di buka dari luar.
Napas kelimanya tersengal-sengal, akibat kencangnya mereka berlari, bercampur ketakutan besar, sehingga detak jantung jadi tak beraturan.
“Kita harus keluar lewat jendela, lalu menghubungi seseorang,” cetus Kenzo. Mengikuti juga apa yang di lakukan ke tiga temannya, yaitu JC, Sony, dan Pedro untuk melepaskan tas ransel mereka, guna mengambil ponsel masing-masing.
Senter yang terus terpegang, terpaksa mereka apit di antara lengan, agar tidak sampai terjadi hal yang tidak di inginkan.
Pencahayaan dari senter inilah satu-satunya yang mereka harapkan.
“Kita harus segera mencari bantuan,” ucap Pedro dengan getaran. Bukan hanya bibirnya saja, tapi juga tangan yang sudah memegang tas ransel.
Hanya Daniel yang tak bergerak, karena ponselnya sudah tak di genggaman. Daniel jugalah yang kemudian berbalik setelah merasakan ada suatu gerakan, di sertai suara lirih berupa rintihan dari arah belakang punggungnya.
Di saat ke empat temannya sibuk untuk mengambil ponsel, Daniel mengarahkan sorot lampu senternya ini pada sesuatu yang mengusiknya barusan.
“Guys…lihatlah…”
Siapa atau apakah yang di lihat Daniel??
**************** END **********************