Ulat Bulu Pembawa Cinta

Ulat Bulu Pembawa Cinta

Pagi itu, Almair membereskan buku yang berada di dalam kardus untuk dipindahkan ke rak buku, sesekali curi-curi pandang, melirik wajah cantik istrinya dari balik tirai, maklum mereka baru seminggu menikah dari jalur perjodohan jadi, belum begitu dekat dan saling mengenal satu sama lain.

 

Semalam mereka pindah ke rumah ini, hunian yang tampak mungil, sederhana, tetapi terlihat mewah. Jaraknya tidak terlalu jauh dari kampus tempat Almair mengajar.

 

Tiba-tiba suara barang pecah bela terdengar dari arah dapur yang berada di depan ruang kerja Almair.

 

Almair mengintip istrinya di balik tirai ruang kerjanya. Terlihat gadis cantik itu melakukan aktivitas duduk, berdiri, duduk lagi, berdiri. Almair dibuat penasaran dengan tingkah istrinya.

 

“Ish. Itu Arumi lagi apa, sih?” gerutu Almair.

 

“Susah amat, sih, minta bantuan. Tinggal minta tolong saja, kok,” gumam Almair pada dirinya sendiri.

 

Tiba-tiba terdengar suara pekikan seseorang dari arah dapur, penasaran apa yang terjadi, Almair berusaha meninggalkan rasa egonya. Akhirnya, Almair menghampiri istrinya yang berjongkok memunguti pecahan gelas.

 

“Kamu baik-baik saja, ‘kan? Kamu enggak luka, ‘kan?” tanya seorang pria tiga puluh tahunan itu antusias.

 

“Aku minta maaf. Aku … enggak sengaja,” jawab wanita berumur dua puluh tahunan itu sambil menyembunyikan tangannya di balik hijab, urung memunguti pecahan gelas lagi.

Almair sekilas melihat setetes noda merah di lantai, seketika Almair menarik tangan Arumi seraya berkata, “jarimu berdarah, Rum. Sini, biar aku bantu obati lukamu.”

 

“Ah! Enggak usah, Mas, eh, Pak,” ucap Arumi lirih terkesan bingung dan terbata-bata berhadapan dengan dosen sekaligus suaminya.

 

“Kenapa kamu terlihat canggung begitu, bukankah kita pasangan suami istri,” jelas Almair sedikit menggoda istrinya yang jarang bicara itu.

 

“Maaf, Mas.” Wanita mungil berhijab merah muda itu menunduk, tiba-tiba rasa panas menjalar ke seluruh tubuh, wajahnya seakan merona saat jemarinya disesap oleh sang suami, lalu dibersihkan dengan air wastafel, tak lupa dibalut dengan plester.

 

“Selesai.” Almair menunjukkan jemari yang sudah cantik berbalut plester gambar kelinci. Seketika senyum wanita berparas ayu itu mengembang sempurna sehingga menampilkan lubang kecil di kedua pipinya.

 

Namanya Arumi Ahwarumi. Terpaksa menerima perjodohan dengan Almair Ahmad, atas permintaan ayahnya sebelum menghembuskan napas untuk terakhir kalinya.

 

“Ayo, kita sarapan dulu setelah itu bantu aku rapikan taman depan rumah,” ajak Almair seraya menggandeng tangan Arumi menuju meja makan.

 

Di atas meja itu, sudah tersedia nasi, sayur bayam, dadar jagung, telur dadar dan sambal terasi. Menu rumahan yang sederhana, tetapi menggugah selera siapa saja yang melihatnya.

 

“Enak … aku suka,” ungkap Almair sambil mengunyah makanannya, Arumi tersenyum malu mendengar pujian untuk pertama kalinya dari bibir sang suami.

 

Usai sarapan, gegas Almair memanjat pohon jambu untuk merapikan, sedikit memangkas ranting yang lebat dan kering.

 

Almair menjatuhkan ranting-ranting yang sudah dipangkas, seketika daun-daun beterbangan dan berserakan. segera Arumi memunguti ranting untuk dikumpulkan di tong sampah, setelah itu menyapu daun-daun yang berjatuhan.

 

Arumi menunggu di bawah pohon sambil memegangi tangga milik Almair. Namun, Arumi merasakan sesuatu jatuh tepat di atas kepala tanpa curiga Arumi mengambilnya dengan tangan.

 

Deg!

 

Seketika sesuatu yang ada di tangannya tadi dihempaskan begitu saja, Arumi menjerit histeris, tak henti berteriak-teriak, lompat-lompat ke sana kemari sambil berlari menuju bangku di pojok taman, mengangkat kedua kakinya dan langsung naik ke atas bangku tersebut.

 

Almair yang berada di atas pohon terkejut melihat tingkah sang istri, yang biasanya kalem dan pendiam.

 

Gegas Almair turun dari pohon, menghampirinya dan mengulurkan tangan untuk menuntunnya turun. Akan tetapi, Arumi menggeleng cepat, bibirnya bergetar terlihat memutih, matanya berkaca-kaca dengan napas yang masih terengah-engah.

 

“Ada apa, Sayang?”

 

Bluss!

 

Arumi melongo, berkedip beberapa kali, speechless dengan apa yang barusan ia dengar, suami yang biasa cuek, irit bicara, memanggilnya dengan panggilan ‘sayang’. Ampun! Demi apa pun Arumi ingin menghilang di muka bumi agar bisa menari di atas awan.

 

“I-itu …,” ucap Arumi terbata-bata.

 

“Iya. Itu apa?” tanya Almair dengan intonasi yang masih lembut.

 

“I-itu … itu, Mas,” adu Arumi masih setia dengan aktivitasnya yang lompat-lompat di atas bangku sambil menutup wajah.

 

Almair yang penasaran dengan tingkah pola Arumi tanpa sengaja meninggikan suaranya seraya berkata, “ D-i-a-m!?!”

Hening!

Almair menyadari kesalahannya, tak seharusnya membentak Arumi, menghampiri tubuh istri kecilnya, sedikit menurunkan suaranya.

 

“Ada apa? Mana? Haah?” tanya Almair lembut sambil menjawil dagu Arumi.

 

“I-itu ….” Arumi menahan tangis sambil menunjuk beberapa ulat bulu hijau, kecil tak lebih besar dari batang korek api yang menggeliat di atas tanah seakan menari menertawakan tingkah heboh Arumi.

 

Almair melotot sempurna seraya berteriak, “Arumiiiii!?!”

 

Seketika bayangan masa lalu muncul kembali di benak Almair, ketika teman sekelas Almair ingin merayakan hari ulang tahun Almair ke-6, alih-alih merayakan hari ulang tahun, sekujur tubuh Almair disiram dengan hewan maggot, sejak saat itu Almair takut dan merasa geli tiap melihat hewan semacam ulat bulu itu.

 

Almair tersadar dari lamunannya, bergegas Almair ikut naik ke atas bangku sambil membelit pinggang Arumi, refleks Arumi terkejut, turut mengalungkan tangan ke leher Almair.

 

Untuk pertama kalinya melakukan kontak fisik bersama suami seperti ini, tiba-tiba rasa nyaman, tenang, dan damai dirasakan oleh pasangan suami istri itu, wajah Arumi mendongak menatap wajah sang suami, begitu juga sebaliknya.

 

Untuk beberapa detik Arumi terhipnotis, menikmati wajah tampan suami, rahang yang tegas, ditumbuhi beberapa bulu-bulu halus, bibir tebal terbelah dua menambah kesan seksi di mata Arumi.

 

“Apa kita akan seperti ini sepanjang hari?” tanya Arumi sambil memainkan bibirnya ke kanan dan ke kiri. Terlihat menggemaskan.

 

Almair sekilas terpesona dengan bibir Arumi, gadis kecil yang menjabat sebagai istrinya ternyata mahasiswinya yang Almair kagumi dalam diam.

 

Almair memejamkan mata sebentar, menenangkan gejolak dalam dada, rasa panik, rasa geli, rasa jijik ditekan sedemikian rupa. Mencoba membayangkan sesuatu yang lucu, gemas, manis, eh, malah bayangan bibir tipis Arumi yang hadir di pelupuk mata.

 

Saat Almair sudah menguasai diri, sedikit demi sedikit turun dari bangku, mengambil batang ranting yang panjang. Dengan tangan gemetaran ia mengambil ulat bulu menggunakan ranting tersebut, lalu membuang ke luar pagar rumah.

 

Almair tersenyum tipis saat ia menyadari sanggup menguasai fobia terhadap ulat bulu yang enggak ada akhlak itu. Akan tetapi, Almair tak pernah menyangka jika istri kecilnya juga memiliki fobia terhadap hewan mungil itu.

 

“Kamu mau seharian di sana,” celetuk Almair sambil menahan senyum melihat Arumi yang masih betah berdiri di atas bangku.

 

Tanpa mereka sadari keduanya saling mengulum senyum, ulat bulu yang biasa mereka takuti dan hindari. Faktanya, tanpa sengaja ulat bulu itu yang menanamkan benih-benih cinta untuk keduanya. Ya, ulat bulu pembawa cinta.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

error: Content is protected !!