Davi membawa langkah Ara menuju ruangan kosong, ditahannya tubuh gadis itu pada tembok. Degup jantung sang gadis berdetak kencang. Impiannya mendapatkan laki-laki yang sudah lama di sukanya dari awal masuk sekolah mulai terlihat.
Davi mendekatkan wajahnya pada gadis di depannya kini.
Gadis berkacamata dan berkepang dua tersebut memejamkan mata bersiap menyambut sesuatu yang baru dia rasakan nantinya.
Lama Ara memejamkan kelopak mataya, namun benda kenyal yang dia harapkan tidak kunjung dirasakan.
“Ha ha ha ha ha.”
Tawa banyak orang melihat gadis itu memajukan bibirnya, berharap ciuman tersebut diberikan pertama kalinya oleh orang yang dia sayangi.
Kelopak mata Ara terbuka, banyak orang yang melihatnya berada di gudang kosong bersama pemuda tampan yang penuh dengan karisma tersebut, tetapi pemuda itu malah bersidekap dada mengulum senyumnya di hadapan banyak pasang mata.
“Heh cupu, kamu pikir gue bakalan cium lo,” ejek Davi pada gadis yang kini sudah menjatuhkan kristal bening di pipinya.
“Lo kira, diri lo sudah cantik. Penampilan yang kayak lo itu banyak tapi bukan lo selera Davi,” imbuh Marko pada Ara yang sudah malu dipermainkan oleh pemuda yang di sukanya sejak lama.
“Tinggalkan saja dia sendiri, biar gadis ini paham menghayal mendapatkan pangeran sekolah.”
Geng anak orang kaya dan juga tampan tersebut senang melihat Ara yang menangis karena malu. Gadis yang mereka tinggalkan mulai melemah. Merosotkan tubuh mungilnya dan memeluk lututnya seraya menangis.
Dia tidak lagi peduli dengan baju sekolahnya yang kotor karena debu.
Kekuatan yang dia miliki hilang bersama dengan retaknya hati karena merasa bodoh sudah percaya kata manis dari pangeran sekolah yang selalu di puja oleh seluruh siswi perempuan.
Ara sudah tidak lagi ingin belajar, dia pergi ke petugas piket untuk izin pulang dengan alasan tidak enak badan.
Langkah kakinya terseok-seok meratapi nasib hidupnya yang kurang beruntung.
Belum sampai di ruang petugas piket, banyak orang yang menghina dan mengejek Ara. Foto-foto gadis itu di gudang tadi sudah menyebar ke seluruh penjuru sekolah.
Ara hanya mampu menangis dan terus berjalan menuju ruang piket guru.
Sesampainya di ruang piket tubuh gadis itu ambruk. Petugas piket waktu itu adalah tante dari Ara sendiri.
Tante Mika menghubungi sopir pribadi gadis itu dengan cepat.
Melalui pesan singkat dari ponsel pintar miliknya.
[Pak Tono, tolong jemput Non Ara di sekolah. Tiba-tiba dia pingsan.]
[Baik Bu.]
Tante Mika membawa tubuh Ara ke ruang UKS, di sana gadis itu mendapat sedikit perawatan dari dokter yang bertugas.
“Kelihatannya dia syok berat, apakah ada yang membuatnya seperti ini?” tanya dokter Ira pada tante Mika.
“Saya sendiri belum tahu apa pun, nanti setelah dia siuman akan saya kasih tahu.”
Dering ponsel dari saku baju milik tante Mika membuyarkan semuanya. Pak Tono-sopir pribadi Ara sudah berada di gerbang untuk menjemput Nona Mudanya.
“Maaf Bu. Saya sudah berada di luar gerbang sekolah,” ucap Pak Tono dari seberang sana.
“Bilang saja kamu saya suruh untuk menjemput Nona Muda pulang karena sakit,” sahut tante Mika pada pak Tono.
“Baik Bu.”
Sementara Pak Tono izin pada security, tante Mika berjalan menuju kelas Ara untuk mengambil tas dan buku-buku miliknya.
Dari dalam kelas banyak suara yang membuat darah tante Mika mendidih, namun dia hanya bisa menahannya saja. Wanita itu tidak punya wewenang untuk menghukum siswa siswi layaknya guru BK.
Setelah selesai dengan membawa tas Ara, tante Mika melihat pak Tono mencari ruang UKS.
Wanita cantik itu menghampiri pak Tono dan memberi tahu keadaan Ara saat ini.
Setelah mereka berdua berada di ruang UKS, tampak Ara masih juga pingsan seperti awal tante Mika tinggal untuk mengambil tas milik gadis itu.
“Pak Tono tolong angkat Ara ya? Bawa dia ke Rumah Sakit keluarga, setelah sampai di sana bilang sama dokter untuk cepat menangani Nona Muda-anak pemilik Rumah Sakit Sehat Ceria.”
“Baik Bu Mika.”
Pak Tono dan tante Mika membantu gadis yang masih belum juga sadar. Sang sopir mengangkat tubuh Nona Mudanya, dan tantenya sendiri membawakan tas serta buku milik keponakan tersayangnya.
“Tolong ya Pak, bawa Ara hati-hati,” pinta tante Mika setelah memasangkan sabuk pengaman di tubuh gadis itu.
Tante Mika mulai mencari sumber masalah yang terjadi di sekolah, hingga Ara-keponakan tercintanya menjadi syok dan juga lemah seperti tadi.
Tidak sengaja tante Mika mendengar ucapan dari siswa siswi yang sedari tadi fokus dengan ponsel pintar milik mereka masing-masing.
“Dasar cupu, dia tidak tahu saja kriteria yang di inginkan Davi untuk menjadi pacarnya. Tentunya bukan gadis cupu macam Ara.”
“Iya. Kamu benar. Ara terlalu percaya diri saat Davi mengawalnya ke ruangan kosong.”
Tawa mereka pecah. Mereka tidak tahu siapa sebenarnya Ara.
Tante Mika menahan emosi, menjaga nama baiknya sebagai guru dan juga menjaga rahasia Ara sebagai Putri konglomerat terkenal.
Dengan langkah pasti, tante Mika kembali ke ruangannya sebagai petugas piket. Dalam hatinya dia masih tidak terima jika keponakan tercintanya di bully, hanya karena penampilan Ara yang tidak terlihat seperti Putri konglomerat.
Tante Mika akhirnya menghubungi kedua orang tua Ara. Meski keduanya sibuk tetapi selalu ada untuk Putri satu-satunya.
Tut.. Tut.. Tut..
Tidak menunggu beberapa lama, akhirnya telephon dari tente Mika terhubung.
“Halo Mas, Ara ada di rumah sakit keluarga.”
Tante Mika berkata langsung pada intinya.
“Kenapa dengan Ara? Dia sakit apa?”
Suara yang terdengar panik dari seberang sana.
“Saya kurang tahu, yang pasti Mas sama Mbak harus kesana lebih dulu. Agar saat dia siuman nanti bisa berbicara sama Mas dan juga Mbak.”
Usul tante Mika pada ayah Ara.
“Baik aku sama Mama Ara akan ke rumah sakit sekarang.”
Komunikasi mereka terputus. Kini tante Mika berusaha untuk mencari sumber masalah yang terjadi pada Ara.
Tidak menunggu waktu lama tante Mika berhasil mendapatkan sebuah bukti, hingga keponakan tersayangnya syok dan belum juga sadarkan diri.
Senyum smirk tampak dari bibir wanita cantik tersebut.
Di taman dekat kantin, Davi dan teman se gengnya tertawa melihat ekspresi kesedihan di wajah Ara saat mereka poto di dalam gudang.
“Culun sekali gadis ini. Pasti tidak ada yang bakalan suka dengan dia. Wajah saja pas-pasan,” terang Libra dengan mudahnya.
“Bahkan gue yang tadi hampir menciumnya saja udah jijik lebih dulu.”
Davi menjawab dengan enteng dan juga tanpa rasa bersalah.
“Lalu kalian tidak takut kena karma, setelah apa yang kalian lakukan pada gadis itu?