Hari itu mentari datang menyapa. Memberikan sebuah senyum dan sapa manja. Dia datang seolah menawanku dengan sejuta pesona. Aku kira Itu adalah sebuah teguran bahagia, namun ternyata itu pembawa pesan duka. Duka yang bekas menjadi sebuah luka, dan membuat raga menjadi tak lagi berdaya.
Masih jelas teringat saat kemarin kau masih menggenggam tangan ini. Memberi janji untuk hati yang tak akan pernah pergi. Untuk putihnya cinta yang kau semat di jari ini, ku lafazkan cinta suci yang tak akan pernah mati.
Tapi kini, sang waktu telah membawamu pergi dalam naungan cinta yang lain, dan saat ini hatiku menunjukkan pada sebuah luka yang menusuk di dalam batin.
Tiada lagi aksara yang dapat terangkai menjadi sebuah kata. Tiada lagi tawa yang menggema di cakrawala. Andai saja aku tahu jika waktu itu adalah saat terakhir untuk kita bisa bersama.
Apakah kau tahu, ada yang diam-diam kusimpan dalam senyum. Terlukis di balik garis bibir yang melengkung indah tiap melihatmu. Kutahan sekuat tenaga agar ia tetap berada di balik tanya, meski kau takkan bisa bayangkan betapa hebatnya ia bergema.
Mungkinkah kau tahu, ada yang sengaja kukurung di dalam hati. Terpenjara di antara detak, tergugu di balik degup. Bersenandung indah dalam irama yang paling teduh, terasa hangat menenangkan meski rapuh.
Pernahkah kau tahu, ada yang terpaksa kukubur di dasar hati. Kubunuh agar ia tak mengakar, kuhancurkan agar ia tak jauh menjalar. Karena meskipun ia hangat, ia bisa tiba-tiba panas terbakar cemburu. Meskipun ia menenangkan, ia bisa tiba-tiba menjadi gelisah dan berderu.
Tak ada satupun yang kau tahu, ada kata, ada rasa, ada tanya, tentang hal-hal yang masih dipeluk oleh waktu.
Sedikitpun kau tak mau tahu, jika selama ini, di antara doa-doa yang melangit untukmu, ada aku.
Yasmin_imaji 🦋