Merajut Sayap Patah

Bab 4

Setibanya di rumah sakit, Sonya langsung menuju ruang administrasi sebagai seseorang yang bertanggung jawab atas Ethan. Semua berkas ditandatangani dengan nama asli Sonya. Tidak ada keraguan bagi Sonya untuk membongkar identitas aslinya. Toh, dia sudah bertekad untuk membuka dirinya pada Ethan. Tanpa tahu yang terjadi kedepannya bagaimana.

“Terima kasih Bu Sonya. Silakan menunggu di ruang tunggu UGD, kami akan memanggil melalui pengeras suara jika memerlukan tanda tangan kembali!” ujar salah satu perawat UGD pada Sonya.

“Tapi … tapi Ethan tidak apa-apa kan Bu?” tanya Sonya dengan cemas. Dia tidak habis pikir jika pertemuan ini bisa jadi akan menjadi pertemuan terakhirnya.

“Kami akan berusaha yang terbaik, Bu.”

“Tolong … saya akan bayar berapa pun … yang penting selamatkan Ethan. Dia … dia dokter. Dia dokter dan anda harus menolongnya. Anda harus menyelamatkannya!” desak Sonya setengah teriak dengan suara bergetar, mencoba menahan tangisnya yang siap membanjir kapan saja.

“Kami akan melakukan yang terbaik. Anda tenang saja, sekarang yang penting itu, anda membersihkan diri terlebih dulu lalu makan. Setelah itu anda bisa menunggu di ruang tunggu!” jawab perawat sambil menepuk punggung Sonya, mencoba menenangkan kepanikannya.

Sonya mundur teratur ketika pintu UGD di tutup oleh perawat, dia bersandar lemah pada dinding putih dan dinginnya udara malam. Berharap sebuah keajaiban Tuhan sekali lagi bagi hidupnya yang hina. Sonya terpekur dalam heningnya malam.

Malam ini benar-benar menjadi malam yang tak terlupakan baginya. Sonya menahan kepedihan hatinya dengan mengeratkan kepalan tangan itu pada baju yang sudah basah dengan darah Ethan. Menatap sendu setiap kepingan ingatan yang baru saja dia lalui. 

Tuhan, jangan ambil Ethan. Aku mohon!

Patah … dia patah sepatah patahnya saat melihat lelaki yang sangat dicintainya itu tak sadarkan diri. Mendadak semua ini menjadi kesalahannya, seharusnya dia menahan Ethan pergi, seharusnya dia ikut saja kemana pun lelaki itu akan pergi, seharusnya dia tidak mudah percaya begitu saja.

Seharusnya…

Seharusnya…

Seharusnya dia mengatakan nama aslinya saat Ethan bertanya malam itu.

Penyesalan demi penyesalan mengiringi langkahnya menuju toilet. Dia berusaha menuruti perkataan perawat. Sonya akhirnya membersihkan dirinya, membasuh seadanya baju yang terkena percikan darah Ethan. Lalu termenung menatap cermin yang memantulkan wajah kusut miliknya. 

Sonya menatap ponselnya yang berdering, ada nama Drew di sana. Ada keengganan untuk menjawab panggilan Drew. Lebih tepatnya dia belum sanggup menjelaskan siapa Ethan sebenarnya.

Namun, akhirnya Sonya menjawab panggilan ke 20 Drew malam ini.

“Ya, Drew.”

“Kau tidak apa apa?” tanya Drew dengan napas lega. Akhirnya wanita yang dia cintai itu menjawab panggilan teleponnya.

“Ya.Aku tidak apa apa.”

“Kau gila Sonya … kau meninggalkan aku begitu saja?”

“Maaf, Drew!”

“Siapa dia? Kau mengenalnya?”

“Ya. Dia temanku,” jawab Sonya sedikit terbata. Tentu saja dia tidak akan menjelaskan siapa Ethan bagi hidupnya. Tidak ada kepentingan Drew sama sekali atas masalah ini.

“Dia kekasihmu?” tanya Drew dengan nada tidak senang.

“Aku tidak mau menjawab pertanyaanmu!” tidak baik jika Drew tahu siapa Ethan, manusia keras kepala itu, hanya bisa membuat onar, dan Sonya tidak akan mau mengorbankan kepentingan Ethan hanya untuk mengisi ego Drew.

“Jangan bohong, Sonya!”

“Siapa dia bukan urusanmu, Drew. Kumohon tidak usah pedulikan aku!”

“Tidak bisa. Kau pacarku! Kau dimana? Biar aku jemput!”

“Terserah, Drew. Aku lelah. Dan tak usah menjemputku. Aku sudah pulang!”

Sonya langsung menutup panggilan itu dan kembali membasuh wajahnya dengan air. Menghadapi Drew memang penuh kesabaran extra, lelaki itu tidak mudah untuk diberi pengertian. Meski akhirnya dia harus mengelabui lelaki itu untuk membuatnya diam. Sonya tahu Drew tidak akan pernah mau menyusul Sonya jika sudah berada di rumah.

Sonya keluar dari toilet dengan perasaan yang campur aduk, dia berharap perawat akan memberi kabar baik untuknya, sehingga membuat Sonya terburu-buru kembali ke ruang tunggu IGD.

Namun, saat di ruang IGD, Sonya melihat seseorang tengah berbicara pada perawat dan nama Ethan tersebut di sela pembicaraan itu. Sonya yang penasaran langsung mendekat dan bersembunyi di balik dinding untuk mendengar percakapan mereka.

“Suster, saya orang tua Ethan. Bagaimana keadaan anak saya?”

“Oh, anda keluarga Tuan Ethan? Tapi tadi ada seorang wanita yang mengaku juga sebagai keluarganya,” ucap sang perawat sambil melihat ke dokumennya.

“Siapa Bu?” tanya ibu Ethan penasaran.

“Sonya. Di dokumen kami nama itu yang tertera!”

“Kami tidak mengenal nama itu tetapi kami berterima kasih, tapi lebih baik kita tidak fokus masalah itu sekarang. Yang terpenting adalah anak kami Ethan sedang berjuang di balik pintu ini, dan kami sebagai orang tuanya akan menunggu kabar Ethan,” jelas ayah Ethan menimpali lalu mengeluarkan sebuah kartu nama yang Sonya sangat yakin bertuliskan Dokter professor Indira Wijaya.

Melihat percakapan itu, membuat Sonya menarik diri. Mendadak dia takut menampakan diri sebagai Sonya. Sadar bahwa kasta keluarga Ethan sangat jauh di atasnya. Lalu apa yang akan dia katakan nanti? Sebagai apa? Kekasih bayaran? Teman tidur sang anak? Atau pelacur binal yang berharap adanya romantisme? Ah, rasanya Sonya jauh dari semua itu.

Perlahan dia mundur lalu membelakangi ruang IGD menuju lift. Perasaannya berkecamuk saat ini, tetapi dia yakin orang tua Ethan pasti akan memastikan kesembuhan buat lelaki itu. Entah mengapa, semangat Sonya yang tadinya menggebu untuk jujur pada Ethan menjadi surut.

Ethan sungguh memiliki keluarga yang jauh di atas gue.

Sonya langsung masuk ke dalam lift dan setibanya di lantai dasar, mendadak matanya buram dan kepalanya pusing bukan main. Sonya tetap memaksakan langkahnya untuk keluar dari lobi rumah sakit, jangan sampai dia pingsan di rumah sakit ini dan akhirnya menguak identitasnya sebagai Sonya yang menandatangani dokumen Ethan.

“Apartemen Amartha, Pak!” perintahnya pada supir taksi yang menunggu di luar pintu rumah sakit.

Sonya memutuskan ke rumah sahabatnya Vania, atau lebih tepatnya Dilan. Wanita yang merasa terperangkap dalam tubuh lelaki. Meski begitu hanya Vania satu satunya sahabat Sonya yang tidak pernah menjudge dirinya yang penuh kegilaan itu. Vania yang seorang desainer hanya mengatakan Sonya harus berhenti suatu hari nanti.

“Van … gue nginep di sini malam ini!” pinta Sonya yang langsung terhuyung di ruang tamu Vania.

“Nyaaa…!” teriaknya lalu membopong Sonya ke tempat tidur. Bagaimanapun Vania tetaplah lelaki, yang memiliki kekuatan melebihi wanita normal.

Vania langsung menghubungi kekasihnya yang seorang dokter untuk segera memeriksa Sonya yang tiba-tiba tidak sadarkan diri.

“Ya Tuhan … lu kenapa sih, Nyaaa?”

“Roby, sayang cepet kemari! Sonya pingsan. Aku ga tahu kenapa sayang!” ujar Vania dengan suara super kemanyu.

“Loh, ada Sonya?”

“Iya. Aku juga ga tau, dia ga kabari mao dateng!”

“Ya udah aku segera kesana, tadinnya mau agak maleman dikit ke rumah kamu, Sayang,” kata Roby yang sudah menjalin cinta dengan Vania selama tiga tahun.

“Iya deh. Ke sini cepetan, aku takut nih!”

Selang beberapa menit, Roby datang dan langsung bergegas menuju kamar Vania. Tangannya sampai ditarik setelah memberikan ciuman pada Vania yang hari ini tampak santai dengan kaos oblong tanpa lengan.

“Udah lama Sonya datang?” tanya Roby sambil mengeluarkan stetoskop dan senter miliknya.

“Ya ga lama setelah aku telepon kamu.”

Roby menganggukkan kepalanya dan langsung memeriksa denyut jantung di punggung Sonya, mata, dan dada Sonya.

“Ada dua detak jantung. Ini stetoskop aku ga salah, kan?” ucapnya sendiri. Sedang Vania yang ada di sebelah Roby hanya bisa menutup bibirnya untuk meredakan panik. Dia tidak mengerti apa yang dimaksud Roby saat ini.

“Aku periksa ulang,” kata Roby sekali lagi.

Roby lalu mengambil alat ultrasound untuk mendengar lebih jelas dua detak nadi yang ditemukan sebelumnya. Dengan hati-hati Roby menurunkan celana dalam Sonya untuk memberikan gel di perut lalu menempatkan alat itu dua jengkal di atas vagina Sonya.

“Iya dua jantung. Sonya lagi hamil, perkiraan aku dua bulan,” ucap Roby yang membuat Vania shock bukan main.

 

Hamil?

Lates Chapters

Bab 22

“Kenapa kamu gugup sekali?” tanya Ethan dengan tatapan menelisik.  Sonya melihat ke arah kanan dan kiri, dia tidak ingin siapapun mengetahui Ethan sedang bicara dengannya.…

Bab 21

“Briefing pagi ini dengan dokter Ethan. Sumpah Demi apa, dia tuh ganteng banget!” kata Shanti, perawat yang masih memusuhi Sonya. Bagi Sonya, Shanti adalah titisan…

Bab 20

Drew Penthouse “Uncle … are you mommy boyfriend?” tanya Benji sambil bermain puzzle di ruangan bermain. “I hope so.” “Why? Have you been rejected?” celoteh…

Bab 19

“Lepas… lepasin aku!” Teriak Sonya yang masih dalam gendongan Ethan. Namun, bukannya menuruti kemauan Sonya, Ethan malah mengganti posisi gendongannya selayaknya mengangkat karung beras.  Tak…

Bab 18

Ethan melihat ke arah Sonya, seakan menyamakan apa yang sebelumnya mereka dengar. “Ibu kenal sama Sonya. Kasih anggukan!” perintah Ethan yang membuat wajah Sonya merah…

Bab 17

“Nyaa, ada dokter Ethan… !!” Bagai suara gledek di siang hari. “Ngapain juga Ethan kemari?” Benak Sonya.  “Mari masuk, Dok!” ajak Drew lalu mempersilakan Ethan…

Bab 16

“Elu baik-baik aja, Nyaa?” tanya Drew saat melihat kemunculan Sonya dari arah dalam rumah. “I’m oke. Ga ada masalah ko. Cuman goresan kecil,” jawab Sonya…

Bab 15

Tiga puluh menit sebelum insiden pecahan gelas kaca. “Angela? Kamu pulang?” tanya Ethan sambil memeluk mesra pinggang wanita yang berstatus tunangannya itu. “Surprise! Mami yang…

Bab 14

“Kamu cantik.” “Terima kasih, kamu juga tampan.” Drew tersenyum, pujian yang membuat dirinya melayang sebenarnya. Hanya Sonya yang bisa membuat hatinya tidak karuan seperti ini.…

Bab 13

Sonya menatap Benjamin yang tertidur pulas di atas karpet sambil memegang mainan truknya. Dia menatap anaknya dengan perasaan campur aduk. Roby benar, Vania juga benar…

Bab 12

Sonya gelagapan saat mendengar suara Benjamin yang semakin dekat. Terus terang, semua hal yang berkaitan dengan Ethan membuatnya gelisah.  Sonya langsung keluar dari mobil Ethan…

Bab 11

“Sonya. Saya tahu kamu di dalam!”  Sonya diam saja dan mencoba tidak menggubris Ethan yang masih mengetuk pintu ruangannya. Baginya, mencari mati jika membuka pintu…

Bab 10

Mata Sonya masih membulat saat dia dihimpit tubuh tinggi Ethan begitu saja. Dingin yang menjalar dari punggungnya saat bertabrakan dengan dinding keramik itu membuat semua…

Bab 9

“Ethan…”lirih Sonya. Sangat terkejut, dan entah kenapa dia menjadi kikuk? Seharusnya tidak, bukan? Namun, selalu saja tatapan lelaki itu melumpuhkan akal Sonya.  “Maaf, Suster. Saya…

Bab 8

Drew terdiam, dia hanya menyimak gadis putih dengan body aduhai itu bergerak ke sana ke mari. Terus terang dia sama sekali tidak mengira akan bertemu…

Bab 7

Sonya menunduk sejadi jadinya saat mendengar kata Ethan Wijaya dikumandangkan oleh Direktur Rumah Sakit mereka. Rasanya dia ingin menceburkan dirinya ke dalam sumur asal tak…

Bab 6

Gugup, lemah, dan semua persendiannya terasa lunglai saat melihat sosok Ethan berdiri tegak di hadapannya. Demi apa pun juga, tidak ada satu pun khayalan Sonya…

Bab 5

Mommy … aku mau ice cream!” ucap seorang anak lelaki dengan rambut keriting dan wajah bule. “Not now Benjamin.” “But, I’ve been sweet and polite…

Bab 3. Menyesal

3 jam sebelum kejadian,  Amethyst, adalah sosok fantasi liar para lelaki yang bisa mereka beli dengan tarif VVIP. Sebagai seorang solo player dalam dunia malam…

Bab 2. Kecelakaan

“Aku akan menghubungimu lagi.” Sonya hanya mengambil napas dalam sebelum tersenyum. Dia ingin berkata, sebaiknya tidak usah, tapi rasanya aneh saat dia membutuhkan uang yang…
error: Content is protected !!