Amanda menghentikan langkahnya ketika Yuda memanggil, meski harus menjaga jarak dengan pria itu, tetapi dia tak bisa karena pria itu adalah sahabatnya sejak lama.
Yuda melangkah mendekat, meminta waktu supaya bisa berbincang dengannya. Amanda diam sejenak, melihat arloji di tangan karena memiliki janji dengan sang suami.
“Bicara di mana?”
“Di sini juga nggak pa-pa. Kita cari tempat yang nyaman.”
Amanda melihat sekitar, sedikit ragu karena keduanya berada di lorong yang sudah sepi. Namun, meyakinkan hati bila Yuda takakan berbuat macam-macam.
Yuda memulainya, menanyakan perihal hubungan Amanda dengan Angga. Pria itu seolah yakin kalau mereka ada hubungan, mengatakan kalau berkali-kali melihat Amanda berjalan dengan Angga. Bahkan, setiap makan siang mereka selalu berdua.
“Kita hanya sebatas atasan dan bawahan, Yuda. Dugaan kamu itu salah,” sahut Amanda ketika pria itu menuduhnya memiliki hubungan khusus dengan sang atasan.
Yuda terus mendesak supaya Amanda bersedia mengakui hubungannya dengan Angga, tetapi Amanda terus mengelak sehingga dia dibuat tak percaya dengan tindakan yang tiba-tiba Yuda lakukan.
***
Diperlakukan seolah kita tak ada itu menyakitkan, tetapi itu sudah biasa bagi Amanda. Namun, kali ini dia bersedih. Sejak dua hari yang lalu Angga telah berubah tak lagi hangat dan perhatian seperti biasanya, pria itu kembali bersikap dingin dan kasar. Entah karena apa.
“Angga, makan malamnya ….”
“Aku sudah makan. Mau istirahat dulu,” potong Angga cepat tanpa mau menunggu Amanda melanjutkan kalimatnya.
Amanda diam, menatap tubuh Angga yang mulai menghilang dari penglihatan. Kini kembali menyerah, bahwa sampai kapan pun tak akan mampu menggantikan posisi Nessa di hati sang suami.
Hari-hari kembali terlewati seperti dulu, tiada canda di pagi hari atau suara manja dari Angga. Pria itu telah berubah tanpa Amanda tahu sebabnya. Dia pun memberanikan diri bertanya, berharap mampu memperbaiki segalanya dan tahu penyebab Angga berubah. Amanda menghampirinya yang hampir setiap malam berada di taman belakang, entah sedang memikirkan apa.
“Angga.”
Angga menoleh sebentar sebelum akhirnya mengalihkan wajah, rasa marah itu semakin membuncah ketika mengingat kejadian hari itu.
***
Setelah menunggu Amanda cukup lama di dalam mobil, terpaksa membuat Angga menyusul sang istri, dia hanya takut bila keinginan Amanda untuk bunuh diri kembali muncul. Dengan hati cemas dan bertanya-tanya dia menghampiri kubikel milik sang istri. Perasaan takut itu semakin meningkat setelah tak menemukan si empunya.
“Loh, Pak Angga cari siapa?” tanya Lina bingung karena melihat Direktur utama berkunjung ke ruangannya di jam makan siang.
“Saya cari Amanda, ada keperluan.”
Lina mengangguk paham, mengatakan kalau tadi tak sengaja bertemu dengan Amanda dan Yuda yang berjalan menuju lantai bawah.
“Baiklah, maaf menganggu.”
Angga mendesah kasar setelah tahu sang istri bersama lelaki yang mencintainya itu, untuk apa mereka pergi berdua. Apakah Amanda lupa dengan janjinya bersama Angga?
“Angkat, Amanda!” geramnya karena yang dihubungi sama sekali tak merespons.
Angga mempercepat langkahnya dengan emosi yang mulai tak terkendali, dia tahu benar pegawai keuangan itu amat menginginkan istrinya. Dia lelaki jadi bisa melihat semua dari gerak-gerik Yuda.
Ayunan langkahnya terhenti ketika melihat sesuatu yang membuat emosinya kian meluap. Tanpa berkata lagi Angga berbalik arah dan membatalkan makan siang mereka.
***
“Angga, kamu kenapa? Kok, jadi gini lagi?” tanya Amanda berharap masalah tanpa sebab ini segera berlalu.
“Punya otak, ‘kan ? Pikir aja sendiri!” ketus Angga tanpa mau melihat wajah Amanda, dia sudah terlanjur marah dan kesal.
Amanda terkejut, setelah cukup lama tak pernah mendengar perkataan sekasar itu kini mendengarnya kembali. Dia mulai sadar, sejak kejadian makan siang gagal hari itu Angga mulai berubah, tak lagi bersikap manis seperti biasanya.
“Aku minta maaf soal makan siang hari itu,” tutur Amanda dan berharap sang suami merespons permintaan maafnya dan tak lagi abai seperti hari-hari yang lalu. Namun, Angga tetap bungkam dan memalingkan wajah.
“Aku, ‘kan, udah minta maaf, Angga. Nggak bermaksud juga batalin makan siang atau pun lupa. Aku ingat, cuma ….” Amanda menggantung kalimatnya, tak yakin untuk mengatakan semua yang telah terjadi hari itu.
“Cuma apa?” Angga menoleh, menatap Amanda dengan tatapan seperti dulu, dingin dan tajam.
Amanda bungkam, rasa takut untuk jujur pun dirasakan. Tak mungkin juga berbohong, tetapi dia bingung sekarang.
“Cuma apa, Amanda?” tanya Angga lagi dengan nada suara yang meninggi.
Amanda menunduk dalam, meremas tangannya kuat sebagai pelampiasan melepas rasa takut. “Aku ….”
Angga melangkah mendekati Amanda yang berdiri di bibir pintu, lalu berhenti tepat di depan wanita itu dan memegang kedua bahunya meminta penjelasan. “Aku apa, Amanda?” Meski tahu yang telah terjadi Angga tetap ingin mendengarnya langsung dari yang mengalami.
“Aku ….” Amanda benar-benar takut untuk berkata jujur, dia terus menunduk dan mengulang kata yang sama.
“Ayo, katakan! Aku apa?” Angga mencengkeram bahu Amanda yang beberapa menit lalu sudah dia pegang membuat si empunya meringis menahan sakit.
“Angga sakit,” keluh Amanda ketika cengkeraman di bahunya makin terasa menyakitkan.
“Ayo jawab! Aku apa maksud kamu,” tuntut Angga supaya Amanda segera berkata yang sebenarnya.
Amanda masih saja menunduk. Bahkan, untuk melirik ke atas saja dia takut apalagi kalau sampai matanya bersitatap dengan mata elang milik Angga. Dia yakin tak akan mampu.
“Siang itu aku ….”
Angga diam dan mulai menyimak, menahan rasa kesal dan marah yang muncul secara bersamaan.
“Siang itu aku ….” Amanda menghentikan ucapannya karena jujur saja masih ada perasaan takut untuk berkata jujur.
“Ciuman sama Yuda di lorong kantor yang sepi.”
Amanda mendongak, lalu melebarkan mata karena terkejut. Angga mengetahui kejadian itu, apa mungkin karena hal itu dia mendiamkannya selama berhari-hari. Amanda menggeleng dan membantahnya karena kejadian itu bukan atas keinginan Amanda.
“Kita nggak ciuman, dia yang udah ci … Aduh! Angga, sakit.” Amanda kembali merintih ketika cengkeraman di bahunya semakin kuat. Wajah Angga pun terlihat semakin menakutkan karena marah.
“Sakit kamu bilang. Aku lebih sakit dari kamu, Amanda!” seru Angga, lalu melepaskan cengkeramannya. Ingatannya kembali pada saat Amanda berciuman dengan Yuda.
“Angga dengerin penjelasanku. Dia yang cium aku lebih dulu, aku udah coba nolak tapi tenagaku nggak cukup kuat buat ngelawan dia,” jelas Amanda supaya Angga tak lagi salah paham.
“Aku udah sering bilang, ‘kan, jauhi dia tapi kamu abai sama laranganku.” Angga seolah mengingatkan Amanda tentang larangannya saat itu, ketika dia menyetujui untuk menjauhi Yuda. “Apa penjelasan dari aku kurang? Kamu itu istri aku Amanda,” lanjutnya menekan kata ‘istri’ supaya Amanda sadar akan posisi dia dalam hidupnya.
“Maaf! Aku ….”
Angga memutar tubuhnya dan membelakangi Amanda yang masih menahan sakit akibat ulahnya. “Kalau kamu lebih bahagia sama dia nggak papa. Aku sadar kalau selama ini hanya bisa buat kamu terluka, kita bisa akhiri ini semua dari sekarang. Kita bisa ce ….”
“Nggak mau! Sampai kapan pun aku nggak mau pisah dari kamu,” potong Amanda, kemudian memeluk tubuh Angga dari belakang menghentikan kata ‘cerai’ yang hampir lelaki itu ucapkan.
“Aku mohon! Jangan pernah kamu ucapkan kata seperti itu. Aku udah terbiasa ada kamu di sini kalau seandainya kamu pergi, aku nggak akan yakin bisa bahagia. Aku cinta sama kamu, Angga.” Amanda semakin mengeratkan pelukannya di tubuh sang suami dengan deraian air mata. Membayangkan tanpa pria itu saja sudah sangat membuatnya terluka, dia telah terbiasa dengan Angga dan kini tak akan yakin bila terbiasa tanpa pria itu lagi.
Angga melepaskan dekapan Amanda, memutar tubuh dan menatap sang istri yang menunduk sambil menangis. Kini dia merasa bersalah telah membuat wanita itu kembali bersedih.
“Maaf, udah nyakitin kamu,” ujar Angga sambil mengusap pelan kedua bahu Amanda yang telah dia cengkeram begitu erat.
“Aku nggak mau pisah dari kamu. Waktu itu udah biasa tanpa kamu tapi kamu malah datang dan buat aku nyaman. Sekarang nggak akan sanggup kalau hidup sendirian lagi,” racau Amanda disertai isak tangisnya.
“Jangan nangis, Amanda.” Angga menganjurkan satu tangannya dan mengusap pipi Amanda yang basah oleh airmata secara bergantian.
“Aku nggak ciuman sama Yuda, dia yang cium aku lebih dulu dan aku nggak bisa lakuin apa-apa lagi. Maaf, Angga. Aku benar-benar minta maaf.” Amanda terus berkata meski dengan suara parau.
Angga bergeming, menarik tubuh Amanda untuk dia dekap, mengucapkan maaf karena telah menyakitinya. Tanpa disadari dia telah mengingkari janjinya sendiri, membuat Amanda kembali menangis karenanya.
“Kamu percaya, ‘kan, sama aku?” tanya Amanda memastikan, takut kalau Angga masih tak mempercayai dirinya.
Angga hanya bergumam tanpa berkata membuat Amanda masih dirundung sedih.
“Asal kamu tahu, aku juga marah waktu dia lakuin itu. Aku nggak suka sama sikap dia, Angga. Cintaku cuma buat kamu, kamu tahu benar itu,” beber Amanda meyakinkan Angga yang masih memeluknya dan sesekali mengusap punggung wanita itu menguatkan.
“Aku percaya. Jangan nangis lagi, kumohon!”
Amanda diam meski dia masih menangis tanpa suara. Membalas pelukan Angga cukup erat dan memaki perlakuan Yuda dalam hati.
Angga melepas pelukan mereka, menatap wajah sendu Amanda cukup lekat dan mengusap sisa airmata yang masih tersisa di pipi wanita itu dengan kedua ibu jarinya membuat Amanda mendongak dan netra mereka saling menatap.
“Maaf, buat kamu nangis lagi. Aku cuma marah, karena dia ….”
Amanda mengangguk tanpa senyuman meski hatinya sedikit bahagia, karena kepercayaan sang suami. Angga tersenyum, meminta Amanda mengucapkan kata cinta yang tadi diucapkan Amanda. Dia ingin mendengarnya dengan jelas sambil menatap wajah yang mengatakan. Namun, Amanda menolak beralasan bahwa dia malu.
“Kenapa malu, ‘kan, di sini cuma ada kita berdua,” bujuk Angga supaya Amanda bersedia mengatakannya lagi. Namun, wanita itu tetap menggeleng. Angga terus merayu hingga akhirnya Amanda mengulanginya, mengungkapkan bahwa dia sangat mencintai Angga.
“Terimakasih Amanda atas semua cinta yang udah kamu berikan. Walaupun aku belum membalasnya. Kamu mau, ‘kan, bantu aku untuk bisa mencintai kamu?” pinta Angga yang kini sudah memeluk pinggang Amanda menghilangkan jarak di antara keduanya.
Amanda mengangguk dengan senyuman, hati sang suami telah terbuka untuk dia dan tugasnya sekarang adalah menghapus nama Nessa.