The Thief

Ivy Dan Milli

Suara ketukan pintu mengejutkan Milli. Gadis itu bergegas membuka pintu rumahnya.

“Kau?” Sosok yang berdiri di depan pintu membuatnya terkejut setengah mati. Seorang wanita yang selalu ingin dihindarinya sebisa mungkin.

“Di mana Harry Si?” Wanita itu bertanya tanpa ekspresi, menatapnya tajam.

“Ivy, apa kabarmu?” Milli tersenyum canggung. Berharap wanita itu akan sedikit melunak dengan keramahannya.

“Tidak perlu berbasa-basi padaku Milli. Hubungan kita tidak sebaik itu.” Ivy bersedekap tangan dan dan menatap sinis padanya.

“Kau beruntung kakakmu sudah tiada, jika dia masih hidup dan tahu bagaimana dirimu sebenarnya kau pasti akan mati di tangannya.” Ivy mendorongnya dan memaksa untuk masuk ke dalam rumah.

“Apa maumu sekarang? Kau mau membalas dendam?” Milli tersenyum mengejek. Meski sedikit merasa takut pada Ivy tetapi dia tidak akan menunjukkannya di hadapan gadis cantik itu. Cukup sudah tadi dia mencoba untuk bersikap ramah padanya.

“Kau tahu itu! Aku kembali ke sini untuk mencari Harry Si dan untuk membuat hidupmu menderita! Tunggu saja giliranmu, saat ini aku harus bertemu Harry Si dahulu.” Ivy tersenyum manis yang justru tampak mengerikan di mata Milli.

“Si maling dogol itu sudah pergi setelah menipuku!” Milli menyahut ucapannya dan memalingkan wajahnya.

“Menipumu?” Ivy terkekeh dan mendekati gadis itu. Perlahan dicoleknya dagu Milli.

“Bukankah kau adik kesayangan Anthony? Bagaimana bisa sahabat karibnya menipumu Milli?” Ivy terkekeh mengejeknya.

“Lepaskan!” Milli mendorong Ivy untuk menjauh darinya. Ivy hanya tertawa melihat sikapnya yang canggung.

“Milli, sebenarnya kau gadis yang beruntung. Anthony sangat menyayangi dan melindungimu, sayangnya kau sungguh tidak tahu diri.” Ivi berbicara dengan serius. Jelas terlihat kalau wanita cantik itu membenci sekaligus mengasihani Milli.

“Jadi Harry Si sudah tidak lagi di sini?” Ivy bergumam dan mengedarkan tatapan matanya ke seluruh ruangan.

“Baiklah! Aku pergi! Oh ya ingat satu hal, kau punya hutang padaku dan bersiaplah untuk membayarnya sekaligus dengan bunganya!” Ivy tersenyum, menepuk bahu Milli dan melambaikan tangannya dengan gaya santai kemudian meninggalkannya sendirian.

Milli berteriak kencang dan melemparkan apa saja yang ada di dekatnya.

“Brengsek! Kenapa wanita itu kembali ke sini! Bukankah seharusnya dia berada di Macau?” Milli berteriak penuh amarah, dadanya nampak naik turun pertanda emosi membuncah di hatinya.

Sementara itu Ivy kembali menelusuri gang sempit yang dahulu sangat dikenalnya. Dengan penampilannya sekarang, dia seperti salah satu penghuni gang ini.

Celana jean lusuh, t-shirt putih dan hoodie hitam yang tudungnya menyembunyikan wajah cantiknya. Dia berjalan terus tanpa menghiraukan orang yang berlalu-lalang di sekitarnya. Hingga dia tak menyadari seseorang yang berpapasan dengannya.

“Ivy? Apa yang dilakukannya di sini?” gumam orang itu saat berpapasan dengan Ivy. Seorang pria dengan penampilan yang tak jauh beda dengan Ivy.

“Eh kemana dia?” Pria itu terkejut saat Ivy tiba-tiba tidak nampak lagi.

“Ah sudahlah, aku bisa mencarinya nanti. Toh aku tahu di mana harus mencarinya.” Pria itu bergumam pelan dan kembali melanjutkan langkahnya menelusuri gang sempit itu.

Langkah kakinya terhenti di depan rumah yang sangat akrab dengannya. Sebuah rumah mungil yang tidak dapat dikatakan bagus malah bisa dikatakan sebaliknya, kumuh dan lusuh.

“Pintunya terbuka?” gumamnya saat melangkah menuju teras dan menemukan pintu rumah itu terbuka lebar.

Tiba-tiba saja sebuah asbak melayang dan jatuh pecah berserakan di ujung sepatunya. Seseorang yang tengah dilanda amarah berdiri di hadapannya.

“Harry Si?” Seru orang itu tertahan.

“Hai Milli, apa kabarmu?” Pria itu membuka tudung hoodienya.

Dia tersenyum tipis. Dia adalah Harry Si, si maling dogol yang kabur setelah menukar lukisan antik di balai lelang dan membuat kekacauan hingga menjadi kasus tak terpecahkan.

“Brengsek kau!” Milli yang tengah dilanda amarah segera menerjangnya, menyerangnya membabi buta.

Harry Si hanya tertawa terkekeh dan menghindarinya. Gadis itu hampir saja terjerembab ke lantai karenanya. Harry Si tidak menyia-nyiakan kelengahan gadis itu dan menangkap lengannya.

Memutar lengan Milli dan memitingnya hingga gadis itu tidak bisa bergerak lagi. Harry mendorongnya dan mendudukkannya di sebuah kursi dan dengan santai mengikatnya dengan tali yang disimpannya dalam saku celana jeans-nya.

“Lepaskan aku Harry! Brengsek!” Milli berteriak marah dan menghentakkan kakinya dan membuat kursi tempatnya terikat berguncang keras.

“Hei! Hei! Tenangkan dirimu Milli!” Harry tertawa dan menyeret sebuah kursi dan meletakkannya di depan kursi tempat Milli terikat. Kemudian dia duduk di kursi itu dengan santai.

“Bersikaplah manis dan mari kita berbincang-bincang saling melepaskan rindu.” Harry menundukkan tubuhnya hingga posisinya dekat Milli begitu dekat.

“Bukankah ada sesuatu yang ingin kau tanyakan padaku?” Harry tersenyum manis dan senyuman manisnya tidak membuat Milli terpesona.

“Apa yang kau lakukan pada lukisan itu?” Milli berteriak dan tiba-tiba menendang perut Harry.

Sayang gerakannya tertangkap insting Harry, sehingga sebelum benar-benar menendang perutnya, dia telah menangkap kaki Milli. Harry tertawa terkekeh.

“Lukisan ya? Itu membuatmu kesal?” Harry kembali bertanya dengan gaya santai.

“Harry apa maumu sebenarnya?” Milli mulai merasa sedikit takut pada sahabat karib mendiang kakaknya itu.

“Kau benar-benar tidak mengerti apa mauku Milli?” Harry bertanya dan menggelengkan kepalanya.

Perlahan dia duduk kembali di kursinya. Duduk berselonjor kaki dan meregangkan kedua tangannya dengan kemudian menguap dengan santai.

“Semalam aku tidak bisa tidur nyenyak. Jujur saja aku merindukan Anthony.” Harry menatap Milli lekat-lekat.

“Di mana dirimu waktu itu Milli? Dan sebenarnya apa yang kau lakukan hingga Anthony dan Ivy bertengkar hebat waktu itu?” Harry masih menatapnya dengan matanya yang tajam bak elang.

Milli tertegun. Tak pernah diduganya, Harri Si, di maling dogol nan konyol itu mengetahui semuanya. Dia benar-benar meremehkan pria itu hingga akhirnya dia pun tertipu olehnya.

“Anthony sangat menyayangimu bahkan hingga di akhir hayatnya. Dia memintaku untuk membawamu pergi dari tempat ini untuk memulai kehidupan baru. Anthony tidak pernah tahu bahwa adik tercintanya ini yang telah mengantarkan nyawanya pada musuhnya.” Harry tersenyum manis lagi.

“Jangan sembarangan menuduhku!” Milli berteriak kembali. Dia tidak ingin hal ini diketahui oleh orang-orang di tempat ini.

Anthony, kakaknya adalah orang yang paling dihormati sekaligus ditakuti di tempat ini. Tidak akan ada yang memaafkannya jika mereka tahu penyebab kematian Anthony.

“Kau tidak tahu apa-apa mengenai ku dan Anthony! Jangan beromong kosong seakan-akan kau dan dia adalah korban. Di sini aku, ibuku dan adikku korban sebenarnya!” Milli berteriak histeris dan mulai kehilangan kendali.

“Aku tahu semua. Bagaimana ibumu merusak kehidupan keluarga Anthony. Kalian bertiga diberi kesempatan oleh kakek Anthony untuk menjauh tetapi kau selalu datang dan memintanya untuk menolongnya bukan?” Harry berdiri dan mengambil rokok serta koreknya dari dalam saku celana jeans-nya.

“Satu-satunya kesalahan Anthony adalah memelihara ular di sisinya. Benar kata orang, like mother like daughter. Kau sama seperti ibumu, mematuk hingga mati orang-orang yang memberi kalian perlindungan.” Harry menyalakan rokoknya dan memainkan korek gasnya seakan-akan siap untuk membakar tempat itu kapan saja.

Lates Chapters

Berakhir

"Wah! Mirip istana di negeri dongeng!" Cecilia berseru saat motor besar Harry berhenti di depan sebuah bangunan megah bak istana. "Rumah keluarga Wong kurang lebih…

Sahabat Masa Kecil

"Pak Wang silakan!" Sebastian mempersilakan Darren Wang untuk duduk. Mereka kini berada di kafe yang dikelola anak buah mendiang Anthony. Di sudut kafe yang sepi…

Di Pelabuhan

Sebastian menatap ke sekeliling yacht. Sepi, seperti tidak ada yang menjaga. Perlahan dia menelusuri geladak dan mengetuk pintu yang diyakininya sebagai sebuah ruangan pribadi. Itu…

Mengejar Penyusup

Cecilia terbangun saat smartphone yang diletakkannya di bawah bantalnya bergetar dengan keras. Masih setengah terpejam diambilnya benda itu dan menerima panggilan video yang masuk. "Ceci…

Bukan Buku Harian Biasa

"Ini kotak musiknya?" Jonathan menatap kotak musik di atas meja. "Lihat, perhatikan dengan seksama. Mirip bukan?" Sebastian membuka sebuah album foto yang diambilnya dari tas…

Catatan Dalam Kotak Musik

Cecilia berganti pakaian dan membersihkan lantai mezanin. Ada beberapa serpihan kaca yang masih tertinggal. Dia memiliki praduga itu serpihan kaca dari bola kaca saljunya yang…

Pencuri

"Kau yakin dengan informasi itu?" Wanita cantik itu menatap pria yang berdiri menunduk di hadapannya. "Benar Nona!" Pria itu menganggukkan kepalanya. "Baiklah! Kalian harus bisa…

Kotak Musik Sang Balerina

"Kotak musik?" Harry menatap Jonathan dengan kening berkerut. "Benar Tuan. Nyonya Liliana kehilangan kotak musiknya beberapa hari yang lalu. Sepertinya Nona Anna, cucunya telah membersihkan…

Cecilia Dan Anthony

"Kau bisa memperbaikinya bukan?" Cecilia berjongkok di depan pemuda yang tengah mengamati kotak musiknya. "Aku rasa bisa, ini hanya tuasnya saja yang bermasalah. Sebentar aku…

Bertemu Tuan Tua Wong

Bunyi bel membuat Sebastian segera melompat dari tempat tidurnya. Sepagi ini dia masih bermalas-malasan di atas tempat tidurnya. Dia bergegas mengenakan kaosnya dan turun dari…

Toko Loak

"Setelah ini kalian mau kemana?" Alex bertanya setelah menghabiskan dimsumnya. "Aku mau jalan-jalan di sekitar sini. Aku mau mencari kotak musik. Sayangnya masih hujan," keluh…

Street Food

Lau pa sat festival paviliun di malam hari sungguh ramai dan menggoda siapa saja untuk mampir ke salah satu pusat kuliner di Teluk Ayer ini.…

Kisah Di Balik Berlian

"Berlian yang indah," gumam Ve menatap Karen Yu yang berputar di depannya, memamerkan gaun yang membalut tubuh semampainya. "Ini berlian hadiah dari ayahku. Menurut beliau…

Penyesalan

"Pak, tumben sekali Anda mengajak kemari?" Kai, pemuda blasteran Melayu-China itu bertanya pada Darren Wang seraya menatap ke sekeliling kafe. Hanya sebuah kafe biasa seperti…

Anthony Wong

"Kau baik-baik saja?" Harry berjongkok di depan Milli. Gadis berambut ikal itu menatapnya ketakutan. Dia memeluk kedua lututnya erat-erat.   "Milli kenapa kau takut padaku?…

Kaulah Cinderella-ku

Suasana di butik Depeche malam ini sangat meriah. Peluncuran produk baru mereka dihadiri tamu undangan dari berbagai kalangan. "Aku penasaran dengan sepatu mereka kali ini,"…

Fotografer Yang Mencurigakan

"Hanya sebuah kecerobohan kecil saja!" Darren Wang bergumam menatap lembaran laporan di tangannya. "Benar Pak! Menurut keterangan, sepertinya Nona Jill sendiri yang lupa mematikan puntung…

Kebakaran

"Tuan Xie, hari ini terakhir pemotretan bukan?" Salah seorang karyawan butik bertanya pada Sebastian. "Iya, Nona!" Sahut Sebastian tanpa mengalihkan perhatiannya dari sepasang sepatu yang…

Bahagia Hidup Bersamamu

"Tempat yang sangat sulit untuk ditembus. Dengan sistem pengamanan yang canggih dan kamera pengawas di mana-mana." Harry tersenyum menatap butik di depannya dengan seksama. Tengah…

Depeche

Butik itu baru saja dibuka. Sebastian berdiri di depan pintu kaca dan mendongak menatap papan nama yang terpampang di atasnya. "Depeche," gumamnya pelan. Sebuah kata…
error: Content is protected !!