Setelah menyerahkan Tasya pada Farida, kini saatnya Adam pulang kembali ke rumah.
Sepanjang perjalanan Adam terus menciumi tangannya yang terlah bersentuhan dengan Farida.
Dengan perlahan, Adam menekan kenop pintu dan mendorong pintu untuk masuk ke dalam rumah.
Betapa terkejutnya ia karena melihat Nadia yang tengah duduk di atas sofa sembari memainkan ujung jarinya.
“Duh, Mama udah pulang, lagi. Aku harus jawab apa ya kalau sampai dia bertanya tentang Tasya,” batin Adam bingung.
Adam pun memberanikan dirinya untuk melangkahkan kakinya masuk dan mendekati Nadia yang masih bungkam tak bersuara.
“M-mama sudah pulang?” tanya Adam basa basi.
“Mana Tasya?” tanya Nadia tanpa ekspresi.
“Oh emmm T-tasya ….”
“Kamu memberikan Tasya pada wanita itu?” tanya Nadia lagi dengan nada suara datar.
“Duh gimana ini. Kayaknya Mama marah banget deh sama aku,” batin Adam melirik ke arah Nadia yang masih menekuk wajahnya.
“Jawab aku, Adam!” Teriak Nadia tiba-tiba.
Adam pun terkejut mendengar teriak Nadia yang tiba-tiba. Adam pun segera tersadar dari lamunannya saat itu.
“I-iya, Ma. Aku mengantarkannya ke rumah Farida karena Tasya terus merengek minta untuk bertemu dengan Farida,” jelas Adam berbohong.
“Kenapa kamu ini lemah sekali, sih! Kamu kan tahu kalau kita menahan tasya disini agar wanita itu tidak bisa bertemu dengannya, tapi sekarang kamu malah menyerahkannya begitu saja.” Nadia mendengus kesal.
“A-aku terpaksa, Ma. Dia terus saja merengek jadi aku mengantarnya bertemu dengan Farida. Lagipula sekarang kita kewalahan untuk menjaga Tasya karena tidak ada orang di rumah. Mama kan tahu kalau kita sibuk bekerja,” ucap Adam berdalih.
“Maksud kamu apa?” Nadia menyeringai.
“Maksud ku, kalau taysa tinggal dengan Farida maka dia akan terurus sama Farida tapi kalau Tasya di sini dia akan terlantar seperti tadi. Bukankah Mama bilang akan membawakan Tasya makanan untuk sarapan tapi nyatanya apa sampai siang Mama belum juga pulang,” jawab Adam.
“Emmmm i-itu, Mama lupa kalau Mama harus pulang untuk membawakannya makanan,” jawab Nadia tersendat.
“Nah, kan. Itu dia alasanku membawa Tasya ke rumah Farida agar Tasya bisa lebih terurus daripada di sini,” jawab Adam.
“Sekalian biar aku bisa punya alasan buat menemui Farida setiap hati,” lanjut Adam dalam hatinya.
Nadia tampak terdiam dengan tangan bersedekap di dada. Bola matanya tampak memutar beberapa kali seperti tengah memikirkan sesuatu.
“T-tapi tetap saja tidak bisa begitu, Dam. Aku tidak mau berjauhan dengan cucuku. Pokoknya sekarang juga kamu jemput Tasya,” pinta Nadia.
Adam pun menaikkan kedua alisnya dengan mata membulat. “A-apa, Ma? Bawa pulang Tasya lagi? Kalau nanti di sini dia tidak terurus bagaimana, Ma?” tanya Adam ragu-ragu.
“Aku yang akan mengurusnya! Pokoknya kamu bawa pulang saja Tasya sekarang juga!” Teriak Nadia sekali lagi.
Adam pun menjadi dilema. Ia bingung bagaimana caranya mengambil Tasya kembali padahal tadi ia sudah bilang pada Farida akan membiarkan Tasya bersama dengannya.
“Duh gimana ya. Kalau gini caranya, bisa-bisanya nanti Farida nggak percaya lagi sama aku dan semakin nggak mau aku ajak rujuk. Aku juga jadi nggak punya alasan buat ketemu sama dia setiap hari,” batin Adam mengeluh.
“Kenapa kamu malah diam! Cepat bawa Tasya pulang,” bentak Nadia.
“I-iya, Ma,” jawab Adam terbata.
Mau tak mau akhirnya Adam pun kembali mendatangi rumah Farida untuk mengambil Tasya.
Adam tak bisa membayangkan bagaimana nanti reaksi Farida saat ia datang kembali untuk mengambil Tasya.
***
Cukup lama Adam berdiri memandangi pintu rumah Farida yang masih tertutup rapat. Adam pun menggaruk kepalanya yang tak gatal dengan sedikit kasar.
“Duh, gimana ini. Aku bingung harus bilang apa sama Farida. Tapi kalau aku nggak nurutin perintah Mama, bisa-bisanya nanti aku diusir dari rumah dan nggak dikasih jatah bulanan dari Mama lagi,” gerutu Adam bimbang.
Dengan menarik napas dalam-dalam akhirnya Adam memberanikan diri mengetuk pintu rumah Farida dan tak lama keluarlah Farida membukakan pintu untuknya.
Kening Farida seketika mengerenyit menatap Adam yang berdiri di depan pintu rumahnya.
“M-mas, kamu ngapain ke sini lagi?” tanya Farida menyipitkan kedua matanya.
“Emmm b-begini Farida. Aku datang ke sini untuk mengambil Tasya,” jawab Adam ragu-ragu.
“Apa! Mengambil Tasya? Bukankah tadi kamu bilang Tasya akan menginap di sini denganku?” tanya Farida merasa terkejut dengan perkataan Adam yang tak terduga.
“I-iya aku tahu, tapi sepertinya tidak bisa hari ini, Farida. Mungkin lain kali aku bisa meninggalkan Tasya di sini untuk tinggal denganmu, tapi tidak hari ini,” ucap Adam.
“Apa ini semua karena Mama Nadia?” tanya Farida menebak.
Adam pun mengangguk pelan. Ia tak dapat berbohong pada Farida karena ia tahu jika Farida pun pasti bisa tahu jika ia berbohong.
“Nggak bisa, Mas! Kamu udah bilang Tasya akan tinggal di sini bersamaku jadi kamu bagus menepati itu. Kamu nggak bisa bawa tasya pergi dari sini,” ucap Farida tegas.
Farida pun sedikit menyipitkan daun pintu yang setengah terbuka saat itu. Namun dengan cepat Adam menahan dengan tangannya yang kekar.
“Aku minta maaf, Farida. Untuk kali ini saja, aku minta kamu mengerti,” ucap Adam.
“Mengerti? Kamu minta aku mengerti, Mas? Apa aku nggak salah dengar? Seharusnya kamu yang mengerti aku, Mas. Jelas-jelas kamu sudah memberikan Tasya padaku masa mau kamu ambil lagi,” ucap Farida.
“Tapi aku melakukan semua ini juga bukan atas kemauan ku, Farida. Ini semua kemauan Mama.”
“Dan kamu menurutinya?” Sela Farida dengan mata membulat.
Ditengah-tengah pertengkaran keduanya, tiba-tiba Tasya datang menghampiri mereka yang sama-sama tengah mempertahankan daun pintu di tangan mereka.
“Ayah,” ucap atau dengan senyum yang mulai merekah di bibirnya.
“Tasya, cepat masuk, Tasya,” teriak Farida menoleh ke arah Tasya.
“Kemari, Nak. Kemari.” Adam memanggil tasya sembari melambaikan tangan padanya.
Tasya pun menjadi bingung mendengar perintah dari kedua orang tuanya yang berbeda hingga membuatnya tertegun sejenak.
“Pergi Tasya, masuk!” teriak Farida makin kencang.
Baru saja Tasya akan melangkahkan kakinya masuk kembali ke dalam, tiba-tiba Adam memanggilnya hingga membuatnya kembali terhenti.
“Masuk saja Tasya, jangan dengarkan ayah. Cepat masuk,” titah Farida lagi.
Dengan sekuat tenaga akhirnya asma mendorong kuat pintu yang menghalangi tubuhnya dengan Tasya saat itu.
Seketika tubuh Farida pun terhempas hingga ke lantai dan Adam pun bisa menerobos masuk hingga ke dalam rumah.
“Ibu!” Teriak Tasya saat melihat Farida yang terjatuh ke lantai.
Nani yang tengah berada di dalam rumah pun ikut keluar karena mendengar suara teriakan Farida yang cukup keras.
Tubuh mungil Tasya pun hendak berlari menghampiri Farida yang sudah terduduk di lantai namun dengan cepat tangan Adam menyambar tubuh Tasya dan menangkapnya.
“Jangan, Mas. Jangan bawa Tasya!” Teriak Farida sambil terisak. Ia ingin bangkit tapi kakinya keseleo hingga membuatnya tak mampu berdiri.
“Farida, ada apa ini, Nak?” tanya Nani sembari menghampiri Farida yang telah terduduk di lantai.
Nani pun dengan cepat menoleh ke arah Adam yang telah memegangi Tasya.
“Ini semua pasti gara-gara kamu, kan!” tuduh Nani dengan sorot mata tajam.
Adam tak menjawab namun dengan cepat Farida menyuruh Nani agar menghentikan Adam yang akan membawa pergi Tasya.
“Bu, tahan mas Adam, Bu. Jangan biarkan dia pergi membawa Tasya,” ucap Farida dengan terisak dan jari menunjuk ke arah Adam yang telah menggendong Tasya.