Gio melangkah mendekati Alana, kemudian membantu Alana untuk bangun.
“Masuklah!” titah Gio. Alana mengangguk kecil lalu melangkah masuk meninggalkan Gio dan Selly.
“Gio!” Selly berdecak kesal, lalu bangun.
Alih-alih ingin mendapatkan perhatian dari Gio, namun tidak sedikitpun Gio melirik keberadaan Selly.
“Apa yang kau lakukan disini!” seru Gio dengan suara dinginnya.
Selly memasang wajah memelas.” Tadi aku mencarimu kemari. Tapi wanita itu! Dia! Dia malah marah-marah lalu mendorongku.” jelas Selly.
Gio menatap Selly dengan tatapan kemarahan.” Pergi!” bentak Gio.
Selly terlonjak kaget, mendengar bentakan Gio. Dia pikir Gio akan percaya padanya namun, Selly salah!
Selly menatap Gio, dengan air mata yang sudah menetes.” Kamu mengusirku Gio? Demi wanita itu! Ck! Aku tidak menyangka, pantasan saja kau selalu menolakku. Ternyata seleramu sudah berubah, lebih suka cewek rendahan, dari pada wanita berkelas!”
Gio memajukan wajahnya, lebih dekat dengan Selly.
“ Dia lebih berkelas daripada kau! Dia masih perawan, tidak sepertimu wanita salome!” bisik Gio di telinga Selly.
“Bajingan! Awas saja kau akan tahu akibatnya Gio! Sudah mempermainkan ku!” ancam Selly.
“Silahkan lakukan apa yang kau inginkan Selly. Aku tidak peduli!” ucap Gio.
Setelah itu Gio melangkah kaki masuk kedalam apartemennya.
Sementara Selly.
“Ah! Sial! Kenapa selalu gagal! Awas saja, Aku pastikan wanita itu tidak akan bisa hidup dengan tenang selagi masih bersamamu Gio! Kau milikku! Sampai kapan pun! Kau adalah milikku!”
Selly berteriak di depan pintu apartemen Gio, seperti orang gila.
“Akh! Awas saja kalian!” jeritnya lagi.
Dengan perasaan yang kesal luar biasa, Selly berjalan dengan menghentakan kaki kelantai, sehingga menimbulkan suara yang cukup mengganggu, apalagi suasana di lorong itu sangat sepi.
Di dalam apartemen.
Gio berjalan mencari keberadaan Alana.
“Alana kau dimana?” panggil Gio.
Gio sudah mencari Alana ke dalam dapur bahkan di kamar namun tidak dapat menemukan Alana.
‘Kamana dia? Bukankah, tadi dia masuk kesini? Lalu dimana dia sekarang’ batin Gio.
Gio berbalik hendak berjalan keluar dari kamar, namun suara orang memanggilnya membuat Gio menghentikan langkah.
“Mr.G!” panggilnya dengan pelan. Malah terkesan seperti orang sedang bisik.
Gio menoleh, mencari sumber suara.
“Alana kau dimana?”
“Aku disini tuan.” sahut Alana.
Reflex Gio, berjongkok lalu membuka sprei ya terjuntai ke lantai.
“Astaga! Alana!” seru Gio. Yang terkejut melihat Alana sedang meringkuk dibawah ranjang.
“Kau sedang apa? Keluarlah!” titah Gio. Alana mengangguk kecil, lalu menggeser tubuhnya, Gio beringsut mundur agar Alana dapat keluar.
Alana langsung berdiri ketika dirinya sudah keluar dari persembunyian. Gio pun ikut berdiri, kini mereka saling berhadapan.
“Kau sedang apa disana?”
“Aku sedang bersembunyi tuan! Pacarmu sangat garang sekali, aku mau menjadi sasarannya lagi. Ya sudah aku sembunyi saja disana.” Alana menunjuk tempat tidur.
“Dulu waktu rentenir itu mencariku, aku bersembunyi di bawah ranjang, dan gak ketahuan. Jadi menurut aku itu tempat persembunyian paling aman.” jelas Alana. Lalu tersenyum manis pada Gio.
Gio geleng-geleng kepala mendengar cerita Alana, menurutnya itu hal terkonyol yang pernah dia dengar.
Bagaimana jika waktu itu Alana ketahuan? Akankah kolong ranjang menjadi tempat persembunyian teraman?
Gio rasa tidak!
“Dasar cewek aneh! Kelakuanmu random sekali.” ucap Gio sambil terkekeh kecil.
Alana hanya mencebikan bibir mendengar ucapan Gio.
“Eh! Tuan. Anda kenapa sudah kembali?” tanya Alana heran. Alana melirik jam baru jam dua siang, setahu Alana jam pulang kantor adalah jam empat sore.
“Kenapa? Aku bosnya! Aku bebas datang dan pulang kapanpun!”
Penjelasan Gio, membuat Alana tercengang. Alana sampai mundur beberapa langkah dengan mulut menganga dan mata melotot, akibat terkejut.
“A..anda bos?” tanya Alana dengan terbata.
Gio menaikan alisnya.” Iya. Kenapa? Ada masalah?” tanya Gio.
Gio melangkah maju mendekati Alana sedangkan Alana terus melangkah mundur.
Bagaimana bisa Alana tidak tahu bahwa pria ini bos di tempatnya bekerja?
Ah! Bodohnya Alana! Kenapa tidak pernah bertanya? Ataupun mencari tahu siapa pemilik perusahaan di tempatnya bekerja.
Alana merasa di jebak! Atau ini cara pria ini balas dendam dengan pada Alana atas kesalahannya di hotel tempo lalu?
Bugh!
Alana terjatuh di tempat tidur, akibat kakinya menabrak tempat tidur.
“Aaa…!” Alana menjerit kaget.
Alana berusaha untuk bangun, namun tubuh Gio yang sudah ada di atasnya dengan kedua tangan bertumpu pada sisi kanan dan kiri tubuh Alana, membuat Alana terpaku.
Bagaimana tidak!
Wajah mereka hanya berjarak beberapa senti saja, bahkan Alana dapat mendengar deru nafas Gio.
Gio menatap Alana tanpa berkedip sedikitpun, mata Gio terfokus pada bibir ranum milik Alana. Terbayang kembali dengan adegan beberapa waktu lalu, yang membuatnya begitu kecanduan.
Gio semakin mendekatkan wajahnya pada Alana, semakin dekat! Semakin dekat…
Brak!
“Tuan! Anda…..” ucapan Bas menggantung melihat adegan di hadapannya.
‘Mampus! Matilah aku’ batin Bas..
Alana yang terkejut, reflek mendorong tubuh Gio dengan keras, hingga membuat Gio terhuyung ke belakang dan jatuh tersungkur di lantai.
“Aw!”
“Tuan!” teriak Bas, lalu langsung berlari menghampiri Gio,yang sedang meringis kesakitan sambil mengusap-usap bokongnya.
“Tuan maaf! Aku..aku tidak sengaja, tadi aku hanya reflek.” jelas Alana.
“Ah! Bodoh kau Bas!” seru Gio.
“Maaf tuan.” Bas membantu Gio untuk berdiri. Lalu membawanya duduk di tepi ranjang.
“Apa yang kau lakukan! Masuk kamar orang tidak ketuk pintu!” gerutu Gio dengan kesal.
Haha…Bagaimana tidak kesal? Baru akan menikmati madu!
Ah! Bas merusak segalanya!
Bas menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.”.Maaf tuan, saya lupa kalau ada nona Alana disini. Tadi setelah dikabari petugas keamanan kalau ada kerusuhan disini , aku langsung pergi kemari” ucap Bas sambil nyengir kuda.
“Bodoh! Mengganggu saja!” gerutu Gio.
Gio mengangkat wajah menatap Bas.
“Kau membawa surat perjanjian itu?” tanya Gio dengan serius.
Bas mengangguk.” Aku membawanya tuan.”
Kemudian Bas berjalan menuju meja tempat tadi Bas menyimpan tas kerjanya, tidak lama Bas sudah kembali di hadapan Gio dengan memegang map di tangannya.
“Ini tuan.” Bas memberikan berkas itu pada Gio.
Gio mengambil map itu lalu membukanya, membaca setiap isi dari perjanjian yang di buatkan Bas. Gio tersenyum penuh kemenangan, karena sebagian besar dari isi perjanjian ini menguntungkan dirinya.
Gio mendongak, menatap Alana.
“Kemarilah! Duduk disini. Apa kau tidak lelah terus berdiri di sana?”
Alana mengangguk, lalu duduk di sisi ranjang yang bersebelahan dengan Gio.
“Bacalah, setelah itu tanda tangani surat perjanjian ini. Maka besok kita akan menemui bos rentenir untuk melunasi hutang ayahmu.”
“Atau bila perlu malam nanti!” ucap Gio.
Alana menoleh, lalu menatap map yang ada di tangan Gio. Dengan tangan gemetaran Alana mengambil map dari tangan Gio.
Hanya sebuah kertas! Nanum dapat menentukan nasib Alana.
Alana menjulukinya dengan ‘selembar kertas penentu nasib!’