Gadis Tawanan Mr. G

Kertas penentu nasib.

Gio melangkah mendekati Alana, kemudian membantu Alana untuk bangun.

 

“Masuklah!” titah Gio. Alana mengangguk kecil lalu melangkah masuk meninggalkan Gio dan Selly.

 

“Gio!” Selly berdecak kesal, lalu bangun.

 

Alih-alih ingin mendapatkan perhatian dari Gio, namun tidak sedikitpun Gio melirik keberadaan Selly. 

 

“Apa yang kau lakukan disini!” seru Gio dengan suara dinginnya.

 

Selly memasang wajah memelas.” Tadi aku mencarimu kemari. Tapi wanita itu! Dia! Dia malah marah-marah lalu mendorongku.” jelas Selly.

 

Gio menatap Selly dengan tatapan kemarahan.” Pergi!” bentak Gio.

 

Selly terlonjak kaget, mendengar bentakan Gio. Dia pikir Gio akan percaya padanya namun, Selly salah!

 

Selly menatap Gio, dengan air mata yang sudah menetes.” Kamu mengusirku Gio? Demi wanita itu! Ck! Aku tidak menyangka, pantasan saja kau selalu menolakku. Ternyata seleramu sudah berubah, lebih suka cewek rendahan, dari pada wanita berkelas!” 

 

Gio memajukan wajahnya, lebih dekat dengan Selly.

 

“ Dia lebih berkelas daripada kau! Dia masih perawan, tidak sepertimu wanita salome!” bisik Gio di telinga Selly.

 

“Bajingan! Awas saja kau akan tahu akibatnya Gio! Sudah mempermainkan ku!” ancam Selly.

 

“Silahkan lakukan apa yang kau inginkan Selly. Aku tidak peduli!” ucap Gio. 

 

Setelah itu Gio melangkah kaki masuk kedalam apartemennya.

 

Sementara Selly. 

 

“Ah! Sial! Kenapa selalu gagal! Awas saja, Aku pastikan wanita itu tidak akan bisa hidup dengan tenang selagi masih bersamamu Gio! Kau milikku! Sampai kapan pun! Kau adalah milikku!” 

 

Selly berteriak di depan pintu apartemen Gio, seperti orang gila.

 

“Akh! Awas saja kalian!” jeritnya lagi.

 

Dengan perasaan yang kesal luar biasa, Selly berjalan dengan menghentakan kaki kelantai, sehingga menimbulkan suara yang cukup mengganggu, apalagi suasana di lorong itu sangat sepi.

 

Di dalam apartemen.

 

Gio berjalan mencari keberadaan Alana.

 

“Alana kau dimana?”  panggil Gio. 

 

Gio sudah mencari Alana ke dalam dapur bahkan di kamar namun tidak dapat menemukan  Alana.

 

‘Kamana dia? Bukankah, tadi dia masuk kesini? Lalu dimana dia sekarang’ batin Gio.

 

Gio berbalik hendak berjalan keluar dari kamar, namun suara orang memanggilnya membuat Gio menghentikan langkah.

 

“Mr.G!” panggilnya dengan pelan. Malah terkesan seperti orang sedang bisik.

 

Gio menoleh, mencari sumber suara.

 

“Alana kau dimana?” 

 

“Aku disini tuan.” sahut Alana.

 

Reflex Gio, berjongkok lalu membuka sprei ya terjuntai ke lantai.

 

“Astaga! Alana!” seru Gio. Yang terkejut melihat Alana sedang meringkuk dibawah ranjang.

 

“Kau sedang apa? Keluarlah!” titah Gio. Alana mengangguk kecil, lalu menggeser tubuhnya, Gio beringsut mundur agar Alana dapat keluar.

 

Alana langsung berdiri ketika dirinya sudah keluar dari persembunyian. Gio pun ikut berdiri, kini mereka saling berhadapan.

 

“Kau sedang apa disana?” 

 

“Aku sedang bersembunyi tuan! Pacarmu sangat garang sekali, aku mau menjadi sasarannya lagi. Ya sudah aku sembunyi saja disana.” Alana menunjuk tempat tidur.

 

“Dulu waktu rentenir itu mencariku, aku bersembunyi di bawah ranjang, dan gak ketahuan. Jadi menurut aku itu tempat persembunyian paling aman.” jelas Alana. Lalu tersenyum manis pada Gio.

 

Gio geleng-geleng kepala mendengar cerita Alana, menurutnya itu hal terkonyol yang pernah dia dengar.

 

Bagaimana jika waktu itu Alana ketahuan? Akankah kolong ranjang menjadi tempat persembunyian teraman?

 

Gio rasa tidak!

 

“Dasar cewek aneh! Kelakuanmu random sekali.” ucap Gio sambil terkekeh kecil.

 

Alana hanya mencebikan bibir mendengar ucapan Gio.

 

“Eh! Tuan. Anda kenapa sudah kembali?” tanya Alana heran. Alana melirik jam baru jam dua siang, setahu Alana jam pulang kantor adalah jam empat sore.

 

“Kenapa? Aku bosnya! Aku bebas datang dan pulang kapanpun!” 

 

Penjelasan Gio, membuat Alana tercengang. Alana sampai mundur beberapa langkah dengan mulut menganga dan mata melotot, akibat terkejut.

 

“A..anda bos?” tanya Alana dengan terbata.

 

Gio menaikan alisnya.” Iya. Kenapa? Ada masalah?” tanya Gio. 

 

Gio melangkah maju mendekati Alana sedangkan Alana terus melangkah mundur.

 

Bagaimana bisa Alana tidak tahu bahwa pria ini bos di tempatnya bekerja?

 

Ah! Bodohnya Alana! Kenapa tidak pernah bertanya? Ataupun mencari tahu siapa pemilik perusahaan di tempatnya  bekerja.

 

Alana merasa di jebak! Atau ini cara pria ini balas dendam dengan pada Alana atas kesalahannya di hotel tempo lalu?

 

Bugh! 

 

Alana terjatuh di tempat tidur, akibat kakinya menabrak tempat tidur.

 

“Aaa…!” Alana menjerit kaget.

 

Alana berusaha untuk bangun, namun tubuh Gio yang sudah ada di atasnya dengan kedua tangan bertumpu pada sisi kanan dan kiri tubuh Alana, membuat Alana terpaku.

 

Bagaimana  tidak! 

 

Wajah mereka hanya berjarak beberapa senti saja, bahkan Alana dapat mendengar deru nafas Gio.

 

Gio menatap Alana tanpa berkedip sedikitpun, mata Gio terfokus pada bibir ranum milik Alana. Terbayang kembali dengan adegan beberapa waktu lalu, yang membuatnya begitu kecanduan.

 

Gio semakin mendekatkan wajahnya pada Alana, semakin dekat! Semakin dekat…

 

Brak! 

 

“Tuan! Anda…..” ucapan Bas menggantung melihat adegan di hadapannya.

 

‘Mampus! Matilah aku’ batin Bas..

 

Alana yang terkejut, reflek mendorong tubuh Gio dengan  keras, hingga membuat Gio terhuyung ke belakang dan jatuh tersungkur di lantai.

 

“Aw!”

 

“Tuan!” teriak Bas, lalu langsung berlari menghampiri Gio,yang sedang meringis kesakitan sambil mengusap-usap bokongnya.

 

“Tuan maaf! Aku..aku tidak sengaja, tadi aku hanya reflek.” jelas Alana.

 

“Ah! Bodoh kau Bas!” seru Gio. 

 

“Maaf tuan.” Bas membantu Gio untuk berdiri. Lalu membawanya duduk di tepi ranjang.

 

“Apa yang kau lakukan! Masuk kamar orang tidak ketuk pintu!” gerutu Gio dengan kesal.

 

Haha…Bagaimana tidak kesal? Baru akan menikmati madu! 

 

Ah! Bas merusak segalanya!

 

Bas menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.”.Maaf tuan, saya lupa kalau ada nona Alana disini. Tadi setelah dikabari petugas keamanan kalau ada kerusuhan disini , aku langsung pergi kemari” ucap Bas sambil nyengir kuda.

 

“Bodoh! Mengganggu saja!” gerutu Gio.

 

Gio mengangkat wajah menatap Bas.

 

“Kau membawa surat perjanjian itu?” tanya Gio dengan serius.

 

Bas mengangguk.” Aku membawanya tuan.”

 

Kemudian Bas berjalan menuju meja tempat tadi Bas menyimpan tas kerjanya, tidak lama Bas sudah kembali di hadapan Gio dengan memegang map di tangannya.

 

“Ini tuan.” Bas memberikan berkas itu pada Gio. 

 

Gio mengambil map itu lalu membukanya, membaca setiap isi dari perjanjian yang di buatkan Bas. Gio tersenyum penuh kemenangan, karena sebagian besar dari isi perjanjian ini menguntungkan dirinya.

 

Gio mendongak, menatap Alana.

 

“Kemarilah! Duduk disini. Apa kau tidak lelah terus berdiri di sana?”  

 

Alana mengangguk, lalu duduk di sisi ranjang yang bersebelahan dengan Gio.

 

“Bacalah, setelah itu tanda tangani surat perjanjian ini. Maka besok kita akan menemui bos rentenir untuk melunasi hutang ayahmu.”

 

“Atau bila perlu malam nanti!” ucap Gio.

 

Alana menoleh, lalu menatap map yang ada di tangan Gio. Dengan tangan gemetaran Alana mengambil map dari tangan Gio.

 

Hanya sebuah kertas! Nanum dapat menentukan nasib Alana. 



Alana menjulukinya dengan ‘selembar kertas penentu nasib!’
















Lates Chapters

Jadian(Ending)

Sonya menepuk keningnya sendiri begitu juga dengan Bas, sedangkan Gio dia hanya tersenyum sambil garuk-garuk kepala yang tidak gatal.   “Astaga! Kau ini. Sudah besar…

Bertemu Sonya(mama Gio)

Alana masih tidak percaya dengan apa yang dia saksikan wanita yang beberapa bulan lalu menghina bahkan berkata kasar padanya, kini berubah lembut?   Entah ini…

Apa dia wanitanya?

“Apa ini?” tanya Alana ketika Bas memberikan kotak hadiah itu.   “Saya tidak tahu nona, tuan Gio hanya berpesan agar nona dandan yang cantik. Dan…

Rencana Gio.

Ketika hari hampir malam, Gio baru tiba di apartemen. Sedangkan Bas pria itu langsung pulang keapartemen miliknya yang tidak jauh dari tempat Gio saat ini.…

Restu Mama.

Alana menggeleng tidak percaya.    “Ternyata anda suka bercanda juga ya.” ucap Alana.   “Aku tidak sedang bercanda Lana. Ponsel ini memang untukmu. “ jujur…

Membeli hadiah.

Hari menjelang malam,  Gio baru saja keluar dari gedung perusahaan miliknya bersama dengan Bas.    Saat ini keduanya sedang berjalan menuju parkiran.    “Bas, apa…

Jantung aman?

Pagi menjelang,     Alana mulai mengerjap membuka mata, gadis itu merasakan tangannya terasa kelu dan berat ketika ingin digerakan. Alana menoleh,  ketika matanya sudah benar-benar…

Manisnya perhatian Gio.

Gio baru melepas pelukannya, ketika bel berbunyi.    “Sepertinya dokter Rian yang datang. Tunggulah dulu, aku akan membukakan pintu.” ucap Gio dengan lembut, pria itu…

Kehilanganmu, seperti aku kehilangan separuh nyawaku.

Brak!   Gio mendobrak salah satu pintu yang ada di gudang itu, pintu itu satu-satunya pintu  yang di kunci. Di ruangan yang pengap dan gelap…

Rencana Bas.

Emp!....empt! Alana meronta memberontak ketika dua orang pria yang tiba-tiba membekap mulutnya dengan sebuah sapu tangan. Berteriak minta tolong pun Alana tidak bisa.   Tubuh…

Kabar Baik.

Dua hari telah berlalu, Bas dan anak buahnya  gencar mencari keberadaan Alana. Mulai dari perkotaan sampai ke pelosok pun semua mereka datangi.   Bahkan anak…

Kegilaan Gio.

“Maksud kamu, bicara seperti itu pada mama apa Gio, mama tidak mengerti?” tanya Sonia dengan wajah di buat se sendu mungkin.   “Sudahlah ma! Aku…

Mama puas sekarang!

Gio menjatuhkan surat yang baru saja dia baca, Tanpa bicara apapun Gio langsung bangun lalu menyambar kunci mobil Bas yang tergeletak di sofa.   “Tuan!…

Surat yang di tinggalkan Alana.

Gio mengerjapkan mata perlahan, sinar matahari pagi yang masuk lewat celah genjela mengganggu tidurnya.   Masih antar sadar dan tidak, Gio menelisik ruangan tempatnya saat…

Igauan Gio.

Tuan Gio!’’ buru-buru Bas mengangkat panggilan itu sebelum panggilan  kembali mati.   ‘’Tuan anda dimana? Aku seharian mencarimu.’’tanya Bas setelah  panggilan terhubung.   ‘’Maaf tuan,…

Kepergian Alana.

Dengan langkah gontai Alana berjalan keluar dari apartemen, tak terasa air matanya jatuh begitu saja. Ada rasa berat meninggalkan pria yang beberapa bulan ini bersama…

Pergilah! Aku membebaskanmu.

Lagi-lagi Alana terpaksa harus berbohong.” Aku bekerja sebagai asisten rumah tangga, dan tidur di dalam. Makanya aku tidak pernah pulang.” sahut Alana, dengan seulas senyum…

Meninta izin.

Gio segera memeriksa ponselnya sesuai perintah Alana, Sedetik kemudian Gio mengernyitkan keningnya, karena tidak ada notif salah kirim seperti yang Alana katakan.   Kembali Gio…

Aku suka ini.

Tring!   Ponsel Alana berbunyi, Alana yang baru saja keluar dari kamar mandi hanya meliriknya saja tanpa berniat ingin melihatnya lebih dulu.   Alana lebih…

Amankan jantungku.

Keesokan hari mereka kembali pulang ke kota, sesuai yang dikatakan Gio semalam jika Gio sudah menemukan  apartemen untuk tempat tinggal Alana.   Alana sempat menolak…
error: Content is protected !!