Brak!
Gio mendobrak salah satu pintu yang ada di gudang itu, pintu itu satu-satunya pintu yang di kunci.
Di ruangan yang pengap dan gelap ini Gio melihat wanita yang begitu dikenal terikat di sebuah kursi, dengan mulut, tangan dan kaki yang terikat.
Mata bulat Alana membola, kala mendengar pintu didobrak, namun yang membuatnya lebih terkejut pria yang ada di balik pintu, yaitu Gio.
Empt….!
Empt….!
‘Tuan Gio!’’
‘Tolong saya tuan!’ jerit Alana dalam hati,
‘’Alana!’’ teriak Gio, sambil berlari menghampiri gadis yang membuatnya hampir gila dalam beberapa minggu ini.
Air mata Alana jauh seketika, begitu melihat Gio dari dekat yang sedang berusaha membuka satu persatu ikatan tali dari tubuh Alana.
Sedangkan diluar,
Gio mendengar adanya keributan, mungkin Bas sedang melawan para penjahat yang menculik Alana. Dan untuk hal itu Gio mempercayakan hal itu pada Bas.
‘’Ahk!’’
Bugh!
Bugh!
Suara kayu yang dipukulkan ke tembok, dan teriakan anak buah Bas yang seolah sedang kesakitan.
Padahal ketiga orang itu hanya berdiri sambil menahan tawa, melihat kelakuan mereka sendiri.
‘’ Bos, apa tuan Gio tidak akan curiga?’’ bisik salah satu anak buah Nick.
‘’Tenang saja, cepat kalian pasang tali itu. Sebelum tuan Gio kemari.’’ ucap Bas menunjuk tali tambang yang tergeletak di pojok ruangan.
Ke dua anak buah Bas mengangguk patuh, kemudian mereka mengikat tubuh mereka masing-masing. Setelah itu, keduanya duduk bersimpuh di lantai seolah telah kalah bertarung dengan Bas.
Rencana dan strategi Bas berjalan dengan lancar, bahkan Gio tidak curiga sedikitpun ketika tiba disini tidak ada orang yang menjaga gedung ini.
‘’Tuan!’’ seru Alana, langsung memeluk tubuh tegap Gio yang ada di hadapannya dengan tangis yang
pecah.
‘’Lana, kau baik-baik saja?’’
‘’Apa ada yang luka?’’
Gio sedikit merenggangkan tubuh Alana, memeriksanya dari depan hingga belakang.
Alana menggeleng.’’ Tidak ada tuan. Aku…aku…’’ ucap ALna terputus-putus di sela tangisnya.
‘’ Ssttt! Sudah. Sudah! Ada aku disini. Kamu tenang, jangan takut lagi. Ok!’’ ucap Gio mencoba menenangkan Alana.
Tangan pria itu mengusap-usap punggung gadis yang mendekap dengan begitu erat. Gio mengerti, pasti Alana sangat ketakutan berada di ruangan ini.
Gio membiarkan Alana tenang lebih dulu setelah itu, dengan gagahnya Gio menggendong tubuh langsing Alana. Membawa gadis itu keluar.
‘’Tuan. Bagaimana, nona baik-baik saja?’’ tanya Bas ketika berpapasan dengan Gio yang sedang berjalan keluar dengan menggendong Alana yang terlihat lemas.
Gio menghentikan langkahnya.’’ Dia baik-baik saja. Bagaimana dengan para pelakunya?’’
‘’Tenang saja tuan, mereka sudah aku amankan. Lebih baik tuan pulang terlebih dulu, biar aku yang urus mereka. Sepertinya nona membutuhkan pertolongan segera.’’ ucap Bas.
Gio diam sebentar, kemudian mengangguk membenarkan ucapan Gio.
‘’Baiklah. Kau berhati-hatilah, jika hubungi anak buahmu jika butuh bantuan.’’
Nick mengangguk, setelah itu Gio melangkah keluar meninggalkan Bas.
Gio membuka pintu mobil, lalu menaruh Alana dengan perlahan, sedangkan gadis itu hanya diam patuh karena memang tubuhnya juga lemas.
Entah karena efek ketakutan atau apa, Alana rasa suhu tubuhnya naik, namun tubuhnya menggigil kedinginan.
‘’Kau dingin?’’ tanya GIo melihat Alana yang memeluk tubuhnya sendiri.
Alana hanya menjawab dengan anggukan kecil.
Gio melepas jas yang melekat di butuhnya, lalu menyelimuti butuh Alana. Setelah itu barulah Gio tancap gas segera pergi dari tempat ini.
Selama dalam perjalanan, Gio terus menoleh melihat keadaan Alana dengan perasaan yang amat cemas. Bahkan pria itu langsung menghubungi dokter keluarga untuk datang ke apartemen miliknya. Bukan hanya itu, Gio juga memesan beberapa makanan untuk Alana.
GIo tahu betul Alana lemas karena kurangnya asupan makanan kedalam tubuh.
Masih di gudang yang sama,
Bas beserta kedua anak buahnya bersorak gembira, tidak sia-sia akting mereka. Semua berjalan sesuai rencana.
‘’ Syukurlah. Semua telah selesai.’’ ucap salah satu diantara mereka berucap dengan bernafas lega.
‘’Goog job buat kalian semua. Bonusnya akan aku transfer nanti.’’ Sahut Bas membuat euforia para anak buahnya.
Dalam gedung itu, sebenarnya bukan hanya ada mereka berdua. Semua anak buah Bas yang terlibat dalam pencarian Alana semua berkumpul disana, hanya mereka berada di dalam kamar yang berbeda yang jauh dari tempat Alana di sekap.
Bas pun akhirnya pergi dari tempat itu, untuk menyusul Gio ke apartemen.
Tiba di apartemen Gio meletakan Alana di atas tempat tidur. Tanpa canggung pria itu menggantikan pakaian Alana, untung saja masih ada beberapa pakaian milik gadis itu disini.
Setelah selesai menggantikan pakaian Gio mengambil air es dalam baskom kemudian mengompres kening Alana dengan sapu tangan.
“Istirahatlah dulu, sebentar lagi dokter akan datang.” ucap Gio yang saat ini sedang duduk di sisi Alana yang sedang terbaring.
Alana mengangguk kepala kecil, matanya tidak kuat hanya sekedar untuk di buka rasanya terasa sangat pusing.
Tring!
“Tunggu aku akan keluar sebentar, sepertinya kurir yang datang.” pamit Gio, tanpa menunggu jawaban dari Alana Gio sudah melangkah keluar dari kamar.
Tidak lama Gio sudah kembali dengan menenteng plastik berisi beberapa makanan. Pria itu menaruh barangnya di atas meja, lalu melangkah mendekati Alana.
“Lana, apa kau tidur?”
Alana menggelengkan kepala,” Tidak tuan.” sahutnya pelan.
“Kalau begitu makanlah dulu, aku sudah memesankan makanan untuk mu.” ucap Gio.
Alana memaksakan membuka mata walau terasa sangat berat. Dengan dibantu Gio, Alana duduk bersandar di kepala ranjang.
Setelah itu barulah Gio mengambil makanan yang ada di meja, kemudian Gio duduk di sebelah Alana. Pria itu dengan telaten menyuapi dengan perlahan.
Alana menatap wajah tampan pria di hadapannya, air matanya jatuh begitu saja. Perhatian Gio membuat hatinya menghangat.
“Terimakasih tuan.” ucap Alana pelan.
Gio menghentikan gerakan tangannya yang hendak menyendok nasi, pria itu mendongak menatap wajah sayu Alana.
Tangan Gio terangkat, kemudian membingkai kedua pipi Alana. Membuat gadis itu mendongak menatap Gio yang juga sedang menatapnya. Kedua netra mereka bertemu mengunci satu sama lain beberapa waktu lamanya.
Mata itu!
Bibir itu!
Gio benar-benar merindukannya, ingin sekali rasanya saat ini dia menerkam bibir itu. Bibir yang membuatnya candu.
Namun Gio berusaha mempertahankan akal sehatnya. Untuk tidak berbuat lebih, paling tidak sampai kondisi Alana membaik. Hahaha…
“Lana dengarkan aku! Kau tidak perlu berterimakasih atas apapun, setelah ini aku tidak akan membiarkanmu pergi lagi dari hidupku.”
“Kau buat aku gila Lana! Gila!”
“Kau tahu? Kehilanganmu seperti aku kehilangan separuh hidupku.” pria itu meneteskan air mata saat mengutarakan isi hatinya.
“Jangan pergi! Tolong jangan tinggalkan aku!” Gio menarik Alana dalam pelukannya.
Keduanya menangis bersama sambil berpelukan, Alana tidak pernah menyangka Gio akan mengatakan hal seperti itu. Entah apa artinya tapi yang jelas hatinya terasa menghangat.
Karena Alana pun sama, jauh dari Gio membuat hidupnya hampa berjalan tanpa arah.