Baru saja Mutiara menyalakan laptopnya ketika terdengar suara nyanyian disusul derai tawa gadis kecil Dita malaikat kecilnya. Ia mendengarkan suara mp3-nya dan petikan suara gendang Dangdut Koplo mengalun merdu lagu Edan Turun .
Derai tawa Dita masih keras mengalahkan suara audio Mp3-nya. berisik. Diliriknya jam dinding ternyata sudah pukul 11 malam. Banyak pekerjaan yang harus diselesaikan malam ini. Mutiara menghela napas.
Diperiksanya beberapa file. ia harus membuat buku produksi untuk variety show . Rapat produksi tadi siang memutuskan bahwa program variety Show Liga Dangdut Indonesia di Stasiun TV tempat ia bekerja sebagai direktur kreatif akan membuat tayangan kolaborasi musik dangdut dan tari tradisional.
Besok siang rapat lagi membahas rencana produksi yang harus ia selesaikan malam ini. Namun, bagaimana ia bisa bekerja dalam suasana berisik seperti ini? Mendadak konsentrasinya buyar.
Bisa gak volumenya dikecilin!.
Teriak Mutiara ke arah kamar Dita putrinya itu. Untuk beberapa saat ia menunggu namun tidak ada reaksi. Suara senandung dan derai tawa yang semakin keras membuat Mutiara berubah marah. mengalir deras memenuhi darah otaknya.
Banu aku lagi kerja. Berisik ! Mutiara mendelik di muka pintu kamar dengan mata seolah terbakar.
Banu suaminya berhenti bernyanyi dan menurunkan buku dongeng di tangan. Dita juga berhenti derai tawanya.
Mama, kok kerja terus sih !. sela Dita tanpa dosa.
Jangan banyak bicara Dita. Lihat jam berapa sekarang?
Cepat tidur besok sekolah!
Gadis kecil 9 tahun berambut lurus itu ketakutan. Ia membenamkan kepalanya di balik guling ketika Mutiara ingin mencium keningnya. Banu menghela nafas erat selimut Dita, lalu mendorongnya meninggalkan kamar.
Kamu ajari Dita hal-hal yang tidak seharusnya dilakukan anak kecil!
Suara Mutiara menggelegar tinggi setelah mereka di ruang tengah memecah keheningan malam.
Mata memanah menghujam melesat tepat ke tengah mata Banu. Lelaki sabar yang pandai mengendalikan emosinya itu balik menatap Mutiara yang mana ucapannya seringkali merobek-robek jubahnya menutup habis harga dirinya.
Menantang. Andaikan di indonesia tidak ada hukum pasti sudah ditampar dan di injak-injak istrinya itu.
Hal yang pertama dilakukan Banu setelah 9 tahun menikah bersama Mutiara. Mungkin kesabaran orang itu ada batasnya.
Oya? Coba katakan padaku, apa yang diajarkan dengan baik pada Dita? Kamu sendiri tak punya waktu untuk mengajari anakmu, bukan?
Mutiara mengeluarkan nafas dengan keras di dalam hatinya berkata Dita itu bukan anakmu. Tidak menyangka Banu yang begitu bodoh mencintainya selama ini akan menjawab kata-katanya setelah dua belas tahun menikah.
Tercepat ia mematikan audio Mp3-nya, menutup file-file lalu mematikan Laptopnya. Buru-buru ia melangkah ke kamar.
Aku butuh ketenangan untuk menyelesaikan pekerjaanku malam ini.
Mutiara memasukan pakaian dalam travel bag, Dita itu anakku dan aku tidak suka kau ajak bernyanyi setiap malam hingga ia terlambat tidur.
Anakku juga, kan?
Mutiara menatap Banu sekilas, Mutiara berlalu menuju garasi. Mengeluarkan mobil dan berlalu bersama malam yang menggelinding muram temaram. Betapa sombongnya lagi angkuhnya sendiri meniti titian cinta berlumuran kisah dan kenistaan.
Sejak pertama kali bertemu di bangku sekolah, itulah pertama kali Banu mengaguminya. Sosoknya yang ideal, wajahnya yang berseri seperti mentari pagi,kulit putih orientalis, tubuh seperti gitar spanyol, sikapnya yang energik dan penuh percaya diri.
Bukan hanya itu, ia juga sangat pintar, tiga besar disekolah selalu disabetnya. Selain pintar secara akademis ia juga suka seni.
Banu selalu menunggu hari minggu pagi. Saat dimana mereka bertemu dalam ekstrakurikuler musik. Dia memainkan alat-alat musik bersamanya dan tidak jarang mereka bernyanyi bersama.
Gadis itu bernama Mutiara, hampir segala cara Banu melakukannya agar ia mau membalas cintanya namun semua sia-sia. Ia tidak pernah memberikan jawaban dan lulus begitu saja tidak dianggap.
Bahkan meninggalkan seulas senyum yang sering singgah dalam mimpi-mimpinya pun tidak. Sampai bangku kuliah memisahkan mereka, Banu masih memimpikanmu.
Mencari keberadaanya dan menunggunya. Cinta memang buta. Kesetiaan memang menyakitkan Jendral. Namun Banu selalu optimis bahwa suatu hari nanti cintanya akan tersembut.
Kamu disini Banu? sapaan itu mengejutkannya pada suatu senja, beberapa tahun kemudian setelah ia mulai lelah mencari. Banu sedang nongkrong di kafe saat itu gadis bersama teman-teman seniman ketika seorang menghampirinya dengan wajah berseri ramah.
Gayanya masih energik dan penuh percaya diri. Baju semi formal yang dikenakannya membuat ia tampak anggun dan dewasa. Sepertinya senja itu ia baru pulang dari kantor. Apa Banu tidak salah lihat? Mutiara senyum-senyum sikapnya salah tingkah.
Kenapa kamu tidak pernah bilang tinggal di Jakarta? hehe lagi membuatnya bingung. Bagaimana mau bilang selama ini ia lelah mencarinya. Tuhan, rupanya mengerti kegelisahan hatiknya sehingga mempertemukan Banu dengan Mutiara di kafe itu.
Sibuk apa sekarang Banu?. Lalu pembicaraan hangatnya mengalir.
Mereka saling bertukar cerita, Banu bercerita tentang komunitas menulis yang akhirnya menemukan jati diri karena itu sengaja ia menulis cerita hidupnya melalui novel online. Sebaliknya Mutiara bercerita tentang kehidupannya setelah lepas SMA.
Menyelesaikan Kuliah di Malang, ia pernah bekerja di beberapa penelitian di luar jawa seperti NTB dan Bali. Kemudian ia pulang ke Pulau Jawa dan beruntunglah ia diterima dan baru saja bekerja di salah satu TV sebagai direktur kreatif.
Mutiara juga mengatakan bahwa cocok bekerja yang berhubungan dengan seni yang selama ini ia tinggalkan.
Jadi sekarang kamu sedang menulis buku atau menulis lagu, Banu? Aku mau dong dibikinin lagu atau buku olehmu.
Permintaan Mutiara itu menginspirasi beberapa menulis novel dan juga beberapa lagu. Banu tidak pernah menyangka bahwa pertemuan di kafe itu membuat mereka berjanji untuk saling bertemu.
Cinta di pucuk ulam pun tiba, janur ajur cinta pertamanya yang belum pudar menyala lagi. Tidak perlu lama Banu memberanikan diri mengajak Mutiara naik pelaminan dan ternyata ia tidak menolak. Mutiara menerima lamarannya, tentunya seorang Banun sangat bahagia.
Bahagia indah merasakan mimpi-mimpikan selama ini untuk memiliki Banu menjadi nyata. Harapan untuk membangun mahligai cinta bertahta bahagia kini tidak lagi sekedar angan.
Selama ini Banu mendambakan istri yang cantik berkulit putih orientalis, energik dan tidak bosan untuk memandangnya saat bangun di pagi hari.
Namanya cewek energik pasti lincah di atas kasur tentu akan membuatnya betah di rumah. Ingin Banu menanam benih cinta pada rahimnya dan ia akan melahirkan anak-anaknya kelak. Walaupun agak ganjil kenapa Mutiara menerimanya begitu saja.
Mungkin alasannya karena Mutiara baru di jakarta dan kebetulan bertemu teman lama saat SMA. Tanpa rasa curiga Banu dan Mutiara pulang kampung dan langsung menikah begitu saja. Kedua keluarga mereka pun sangat merestui keputusan mereka berdua.
Siapakah sangka yang akhirnya berbeda? Saat malam pertama Mutiara selalu mencari alasan penolakan begitu saja. Banu ingin menjalankan kewajibannya sebagai suami. Yang membuat jantungnya hancur berkeping-keping ternyata ia mengaku seolah tanpa dosa bahwa sudah tidak perawan lagi, sedang mengandung.
Jangankan darah perawan menyapa di malam pertama Banu menyentuhnya ‘pun tidak bisa. Sudah jatuh ketiban tangga mungkin itulah nasib yang mesti ia terima.
Apa yang ingin Banu katakan, kenyataanya bagian itu berubah menjadi buram. Enam bulan pernikahan mereka, Mutiara melahirkan seorang bayi perempuan. Rambut, mata, alis, hidung, bibir, kulit, tidak sedikit pun yang diwariskan padanya.
Namun Banu tidak mempermasalahkan semuanya. Dia menganggap bayi mungil dan lucu itu sebagai anaknya.
Siapa yang mewariskan wajah itu pada, Dita? Lelaki mana yang pernah tidur dengan Mutiara?. Itukah sebabnya Mutiara dengan suka cita menerima lamarannya. Karena di dalam rahimnya telah tumbuh janin tak berdosa?
Tersebab cinta begitu besar pada Mutiara membuatnya menelan pertanyaan-pertanyaan itu.
Apalagi ketika tanpa sengaja Banu menemukan diary Mutiara yang jatuh ke dalam lipatan baju, ia memilih diam. Bukan karena ia mandul atau kekurangan finansial tetapi sudah menjadi prinsipnya untuk jatuh cinta sekali dan menikah sekali seumur hidup.
Bagi seorang banu, cinta itu sebuah anugerah terbesar bagi manusia. Dan impian terbesar seorang laki – laki menikah dengan wanita yang merupakan tulang rusuknya yang hilang. Lalu Mutiara, gadis yang semasa dibangku sma merupakn cinta sejatinya.
Bukankah cinta putih butuh pengorbanan yang besar?. Ada sebuah lagu dengan judul ” Cinta Itu Buta”. Tapi bagi Banu cinta itu tidak buta, karena dia mampu memilih pada hati siapa dia akan bersemayam, mengubah hidup orang yang mengalami asmara.