Entah apa yang membuat adiknya itu berubah menjadi penentang utama. Mungkin karena saat pertemuan pertama di salah satu rumah kerabatnya di hari kedua raya idul fitri yang membuatnya berubah. Karena saat itu aku datang dengan mengendarai Motor Yamaha buntut. Dengan pakaian ala kadarnya saja.
Yach menurut Arumi adiknya itu menilai seseorang dari penampilan dan apa yang dikendarainya. Apalagi laki – laki itu menjalin hubungan dengan kakaknya yang selama ini belum pernah disentuh laki – laki.
Puncak dari ketidaksetujuan pada hubungan kami, adik perempuannya itu mencaci maki aku di media sosial miliknya. namun aku tetap tidak menggubrisnya, karena sebelumnya Arumi sudah memberikan nasehat agar selalu sabar, jika memang aku betul – betul sayang padanya.
Aku pun akhirnya mengalah, dan tetap sabar menerima caci maki adiknya itu, hingga akhirnya ada satu ungkapan yang aku anggap sudah kelewatan diucapkan seorang gadis.
Aku pun menelpon Arumi dengan nada marah karena membaca caci maki adiknya yang sudah keterlaluan di media sosial.
“ Maaf kali ini aku sudah tidak bisa menerima caci maki adikmu itu.
“ Ini sudah melewati batas!” ucapkan dengan nada marah pada Arumi lewat telpon.
“ Ya Randi !” jawabnya singkat.
“ Saya minta maaf Randi, ya begitulah sifat adikku itu, keras dan tidak mau mendengarkan orang lain, bahkan dengan saudaranya sendiri sering berselisih paham!”
“ Saya mengerti Arumi, memangnya adikmu itu sudah lama mengenal saya, sampai – sampai merendahkan saya.
“ Kamu bacakan statusnya di media sosial”.
“ Apa dia lebih mengenal saya dari kamu, keluarga saya dan kehidupan saya, tidak akan Rum.”kesabaranku seakan diambang batas. Dihina direndahkan dari seorang gadis seperti dia.
“Sabar, Rand, kamu sayang aku kan?” kata Arumi dari seberang telpon
“Arumi, justru aku sangat mencintaimu, sampai sekarang aku mempertahankan hubungan kita.”
“Ya, aku sadar status saya seorang duda.”
“ Tapi bukan berarti mau direndahkan serendah-rendahnya oleh adikmu itu! !”jawabku dengan nada yang mulai lembut.
“ Kamu sadarkan aku hanya hamba hina di pandangan mata keluargamu” tuturku padanya yang terdengar sesegukan menahan tangis.
“Nanti saya akan mengadu pada Kak Diran, mengenai kelakuan dan status Mawar di media.
Demi hubungan kita !”nada Arumi penuh kelembutan.
“ Demi kamu, aku akan tetap bersabar. Aku bisa saja meminta dan memaksa ke kamu untuk mengakhiri hubungan kita ini!” ujarku pada Arumi.
“Jangan, Randy.” cegatnya berharap.
“ Saya tidak mau pisah dengan kamu. “
“ Aku sayang kamu, lebih baik saya tidak mengenal lagi seorang laki – laki dan tidak akan menikah kalau bukan dengan kamu, Ran !” suara Arumi terasa serak pertanda di seberang sana dia menahan tangisnya.
“Jangan menangis sayang, aku sayang kamu, saya juga tidak ingin pisah, tapi !” aku tidak melanjutkan kata – kataku. Kudengar Arumi menangis.
“ Sayang, jangan nangis gitu dong ntar kamu jadi jelek ah, aku gak mau kamu tuh jelek!” candaku menghibur.
“ Gombal, Arumi !” suara Arumi nampaknya sudahnya tenang
“ Andaikan aku ingin mempermainkan perasaanmu, tak mungkin aku buktikan cintaku padamu. Aku memujamu, bagaikan penyair memuji sebuah syair yang diciptakannya. kasih sayangku padamu, tak dapat aku ungkapkan dengan kata – kata!” berpuisi pada Arumi yang tangisnya mulai reda.
“Betulkah itu Ran, betulkah apa yang kau ucapkan itu padaku, bukan semata – mata gombalan semata!” ucapnya.
“Aku tak pernah berani menyakiti hati seorang wanita, karena aku pernah merasakan sakitnya dipermainkan”! jawabku padanya
“Aku percaya Ran, kau memang beda dengan laki – laki yang pernah aku kenal”
“ Saat pertemuan pertama, aku sudah menaruh harapan padamu!” lanjutnya
Beberapa hari kemudian, Arumi menelpon bahwa adiknya itu mendapat batu dari hasil perbuatannya di media sosial. kakaknya Diran mendatanginya dan menamparnya sambil memarahinya. Sejak kejadian itu, adiknya itu semakin membenci aku. Bahkan di pergi dari rumahnya. Dan menurut Arumi itu selalu dilakukan adiknya itu jika dapat marah dari saudara- saudara lainnya. Minggat hingga berbulan – bulan.
Tak terasa sudah setahun aku dan Arumi menjalin hubungan. walaupun adik perempuan dan ayahnya tetap tidak menyetujui. Tapi karena restu dari kakak-kakaknya kami tetap bertahan.
Sampai akhirnya Kakak Arumi mendesak agar aku datang melamar Arumi. Aku pun menyetujuinya. Tiba hari dimana keluargaku yang terdiri dari Kakak kedua, tante dan om ( Soalnya Ayahku sudah lama meninggal dunia dan ibu sudah tua ) ke rumah Arumi untuk meminangnya. Aku ikut karena hanya aku yang tahu rumah Mawar. Perwakilan keluargaku menuju ke rumah Arumi sedangkan aku menunggu di atas angkot yang kami sewa untuk mengantar meminang.
Mungkin baru 15 menit keluarga berada didalam rumah Arumi, hujan lebat disertai gemuruh turun dimalam itu. Setelah 2 jam menunggu, keluargaku datang naik naik diatas angkot. Angkot pun bergeser menuju pulang.
Di atas angkot semuanya diam hingga akhirnya tante membuka suara.
“ Berat, sebaiknya kamu mencari wanita, lupakan Arumi. Masih banyak wanita lain Randi !” tante menganjur sesuatu yang akan sulit dilakukan olehku.
“ Sepertinya bapaknya tidak mau menyerahkan anaknya kepadamu, permintaan Mahar dan mas kawin yang diminta terlalu tinggi untuk kapasitas seorang gadis yang sudah lewat umur!” lanjut tante
“ Iya, Rand !” kakak membenarkan kata – kata tante. Sepanjang perjalanan tidak banyak yang kami perbincangkan hingga angkot yang membawa kami sampai di depan gang tempat kami tinggal.
Tante langsung pamit pulang karena sudah sangat malam.
Setibanya di rumah, saya pun langsung masuk kamar yang sebelumnya melihat anak – anak yang sudah tertidur pulas bersama mimpi – mimpi mereka.
Kulihat telepon genggamku, ada panggilan masuk dari Arumi kira – kira 30 menit yang lalu.
Ku hempaskan badan diatas kasur, antara ingin dan tidak menelpon Arumi.
Baru saja ingin kuletakkan teleponku berbunyi, kulihat panggilan masuk dari Arumi.
“ Assalamualaikum, Randi, maafkan ayahku, mungkin kamu sudah tahu dari keluargamu yang datang!” ucapkan Arumi dengan nada yang agak berat kudengar.
“Tidak papa, aku sadar kok, aku ini laki – laki yang terlalu menaruh harap bisa meminang seorang gadis seperti kamu.” jelasku
“ Mimpiku terlalu tinggi, aku ingin terbang tinggi sementara aku belum cukup memiliki sayap untuk itu semua!” lanjut ucapanku.
“Ran…aku tidak ingin pisah dengan kamu, jika ayahku tetap bersikap keras dengan pendiriannya, saya tidak akan mau menikah dengan laki – laki lain selain kamu!”
“Jangan berkata begitu, ingatlah kamu seorang gadis, kamu harus menjalani kehidupan seperti lainnya, merasakan bahagia bersama orang yang mampu membahagiakan kamu!’
“ Tidak, jika bukan dengan kamu aku tidak mau “ kata Arumi
“ Biar saja saya tidak ada didunia ini daripada harus berpisah denganmu!”selanjutnya lagi
“Hei sayang, kamu bicara apa sih “ menimpali ucapannya yang mengandung unsur putus asa