Pulau Khayangan indah. Salah satu pantai pulau kecil Kota Makassar bagian timur. pesonanya sepanjang masa seperti memikat para pelancong datang untuk melepaskan lelah sambil menikmati desiran angin pantai yang menyejukkan. Deburan ombak menghemaps bibir pulau bak nyanyain bidadari cinta yang dilanda asmara.
Keindahan alamnya selalu menarik banyak hati turis lokal dan internasional untuk menikmati pesona alam cipta mahakarya semesta. Hembusan anginnya bak hembusan nafas bidadari dikala senja telah menepi.
Namun tidak dari sebuah awal…..
“Aku gak akan memaafkanmu Vano. Kamu tau? Aku sudah bersumpah dengan diriku sendiri, hanya suamiku kelak yang berhak memiliki tubuhku. Semua mantan dan pacarku tidak ada satupun dari mereka yang berani menghinaku seperti ini.” Mutiara menantang menatapnya.
Amarahnya tidak terkendali membakar menyala menghancurkan pertahanan akal sehat dalam minda. Vano hanya diam untuk beberapa waktu. Bagaikan lokomotif yang tak berbahan bakar. Hanya diam tak mam pu berucap sepatah katapun.
“Aku mencintaimu, Ra. Ijinkan aku menjadi suamimu.”
“Bagaimana dengan istrimu, Vano?”
“Entahlah..!! Akupun tau semuanya yang terjadi. Sekali lagi maaf… Maukah kamu hidup bersamaku, Dek?” Vano merayu. Merajuk berusaha memenangkan sebuah permainan. Dan permainan itu adalah hati seorang gadis cantik dan seksi.
Terlihat jelas semburat mata Vano memberi tanda keseriusan, Mutiara hanya terdiam kelu tanpa tau meski harus berbuat apa? Andaikan dulu Mutiara tidak menggodanya, mungkin Vano tidak akan menyentuh bibirnya.
Lelehan air mata Mutiara terus membasahi pipi, satu sisi menangis bahagia dan di sisi lain menangis kebingungan tidak tahu harus berbuat apa? Hari semakin malam, angin laut semakin dingin. Vano menarik Mutiara sampai terjatuh dalam pelukan hangat.
Kecupan mesra mendarat di kening Mutiara bertubi-tubi. Tanpa terasa sebening tirta melompat dari kedua mata Mutiara membasahi dada. Ia terhanyut dalam cinta terlarang itu. Nafas mereka berdetak seirama deru ombak di laut. Hembusan angin di pulau itu bagaikan hembusan nafas mereka yang saling memburu.
Ah cuma rujak bibir, tak apalah yang penting mahkotaku masih terjaga, gumam Mutiara dalam hati. Malam itu mereka resmi berpacaran. Mutiara jatuh dalam godaan, dan mulai menulis kisah asmara yang dia belum tahu arahnya kemana.
Waktu terus berlalu, hari-hari Mutiara semakin indah bersamanya. Perlahan tapi pasti cintanya telah melebarkan sayap-sayapnya. Vano juga sudah dikenalkan dengan keluarga Mutiara di Malang, Jawa Timur.
“Assalamualaikum, Bu?” Sapa Vano lewat telepon konferensi panggilan.
“Waalaikumsalam, Nak.”
“Lagi apa nih, Bu?”
“Lagi nyantai, Nak Vano sendiri?”
“Baik, Bu. Mutiara sudah cerita sama Ibu?”
Vano mulai mulai mencari pertanda, apakah Mutiara sudah menceritakan hubungannya atau belum? Bisa dikatakan ia anak mami tentunya saja sudah berceritalah bahwa mereka punya hubungan khusus. Yang terjaling, entah apakah kitu dasar cinta atau hanya sebagai pelarian bagi Vano karena jauh dari istrinya.
“Udah, emang ada apa ya?” Ibunya memberi sinyal.
“Saya ingin jejodohan dengan putri Ibu. Jika Ibu mengizinkan saya juga ingin minta izin sama Bapak juga? Insya Allah setelah pulang dari sini saya hendak ke rumah Ibu sama Bapak?”
Begitu mantap dan meyakinkan Vano meminta izin ingin menikahi Mutiara.
“Terserah si Mutiara aja. Orang tua hanya bisa mendoakan. Yang terpenting Nak Vano sudah bersih terlebih dahulu.”
Entah kenapa? Ibu Mutiara memberikan lampu hijau hubungan mereka . Syaratnya Vano harus menceraikan dulu istri pertamanya.
Semenjak mendapat restu kedua orang tua Mutiara, hubungan asmara mereka sudah tidak ditutup-tutupi lagi sehingga teman-teman dan Bos di kantor ‘pun mengetahuinya.
Sehingga berbagai tuduhan dan fitnah menghampiri, dibilang Pelakor ‘lah, tidak punya harga dirikah, bukan wanita baik – baiklah dan masih banyak lainnya.
Semakin angin menerpa semakin kuat cinta mereka. Dulu Vano mencium bibir Mutiara langsung memberikan tamparan, namun kini? Selalu Mutiaralah yang memulai melumat menggodanya berkali-kali. Sehari tanpa rujak cingur hidup Mutiara terasa hampa.
Disaat telah tertanam jauh, hingga berakar, Mutiara dan Vano bagaikan sepasang merpati yang dilanda lautan asmara. Memabukkan dan membutakan seluruh penglihatan.
Lalu terdengar kabar, jika Dion. Pacarnya akan memutuskan untuk hadir kembali dengan seluruh bentuk keseriusannya pada Mutiara.
Pepatah berkata, nasib telah menjadi bubur, Mutiara menolak lamaran itu lantaran hatinya telah dia serahkan sepenuhnya pada Vano. Walaupun dia tahu Vano masih berstatus suami dari seorang wanita bernama Eva.
Dion yang sudah membeli tiket pesawat hendak ke jawa melamar Mutiara, akhirnya dibatalkan. Sebab putus, karena Mutiara sudah memutuskan memilih Vano.
Memang banyak yang menganggap Mutiara bodoh, tolol dan tidak masuk akal. Dion pria single sudah terlebih dahulu kenal bahkan pacaran, ditolak lamarannya. Malah menerima laki-laki masih beristri.
“Apa kamu tak menyesal menerimaku, Dek?” Vano sembari mencium pucuk rambut Mutiara. Wanita pemilik lekukan dada montok itu menyandarkan kepala pada bahunya yang gagah.
“Apa Kak Vano menyesal mencintaiku?”
“Di tanya kok balik nanya? Ya enggak lah.”
“Sama kalau gitu.”
Telah terjadi lagi kisah indah di seperti mawar yang berduri, harumnya memang mewangi namun kapanpun duri ini bisa melukai.
“Aku tak akan berhenti mencintaimu walaupun musim telah berganti, walau di halaman yang berbeda hingga di ujung senja,” janji Vano
“Mahkota itu hanya untuk suamiku seumur hidup,” janji Mutiara.
Hidup Mutiara tanpa Vano, entah apa jadinya? Cinta mereka untuk dirinya lebih banyak dari pada debar, lebih besar dari pada sabar, lebih lama daripada selamanya. Saat cinta mereka indah bersemi sebuah kabar duka menghampiri, bahwa nenek yang telah merawat Vano dari kecil telah meninggal dunia.
Hati Vano hancur berkeping-keping tanpa tersia, menangis sesegukan seperti anak kecil. Tersebab saat-saat terakhir, sebagai cucu kesayangan, ia sangat terpukul karena menjelang kepergian, Vano tidak ada disamping neneknya.