Sugar Puff

8

“Anak sial.”

Brian memejamkan matanya erat-erat ketika mengingat pesan yang baru diterimanya. Pesan dari anonim, namun dia tahu pasti siapa yang mengirimkannya.

Dua bulan sudah berlalu, namun rasa sakitnya masih belum juga sirna. Apalagi pesan-pesan yang diterimanya akhir-akhir ini seperti alarm untuk jangan melupakan masa sebelum dia ada di Jakarta. Mereka benar-benar tidak membiarkan Brian sedikit mengistirahatkan hatinya barang sehari saja. Pria itu sadar, bibinya masih belum terima, jika dirinya dibantu oleh papanya yang sekarang mencoba mengakuisisi perusahaan milik ayahnya.

Brian duduk menghadap balkon kamar. Pikirannya berkecamuk. Bolehkah ia tidak masuk sekolah hari ini? Buru-buru pria itu menggelengkan kepala.

Bagaimana dia bisa menjalankan perusahan nantinya, jika belajar saja dia enggan? Berbarengan dengan dia yang akan beranjak, seseorang mengetuk pintu kamar. Setelahnya, pintu terbuka. Ada sosok wanita yang disayangi seperti ibu kandungnya tersenyum ke arahnya.

“Boleh masuk?” tanya Sarah.

Brian tersenyum. Diikuti Sarah yang ikut duduk di sebelahnya.
“Brian baik-baik saja?”

Brian mencoba memaksakan senyumnya. “Kenapa, Ma?”

Sarah seperti akan mengucapkan sesuatu. Dia seolah memikirkan hal lain. Kemudian menggelengkan kepala, tersenyum, dan berkata, “Tidak apa-apa. Mama cuma bertanya saja. Ayo sarapan. Kita semua sudah menunggu.”

Banyak sebenarnya yang ingin ditanyakan Sarah. Namun, dia menahannya. Jangan sampai, rasa penasaran membuat anak laki-lakinya semakin tidak nyaman dibuatnya.

“Papa! Sampai kapan Papa nyimpen mobil Ara? Masak harus bareng Papa terus? Terus pulangnya nunggu Papa! Papa juga gak ngizininin Ara pulang bareng teman. Papa maunya apa, sih?”

Brian dan mamanya saling pandang. Pria itu mengernyit. Sepertinya dia datang di waktu yang tidak tepat.

“La, kan kamu bisa telepon sopir suruh jemput, bisa?”

“Malas banget, ih!” Ara bersidekap. Bareng sopir akan membuatnya pulang ke rumah tepat waktu. Padahal gadis itu masih ingin jalan dengan teman-temannya. Atau bisa juga kan Roland tiba-tiba mengajaknya kencan?

“Kamu nggak suka pulang sama sopir karena nggak bisa maen, kan?”

Ara tegang. Apa mungkin papanya bisa mendengar isi kepalanya?

“Kamu bisa pulang sama Brian, kalau dia enggak keberatan.” Javas melirik Brian.

Ara mendengus menatap Brian yang dari tadi hanya melamun menatap makanannya. Ide itu tidak terlalu buruk, batinnya. Dia bisa memanfaatkan Brian. Menyuruh Brian untuk jalan-jalan dulu sebelum menjemputnya. Kenapa baru kepikiran sekarang, sih? Bukankah ini ide yang cemerlang?

“Bri, kamu pulang jam berapa?” tanyanya kemudian.

Alis Brian terangkat. “Kenapa?”

Ara melirik ke kanan dan ke kiri. Dilihatnya sang papa menahan senyumnya. Kenapa dia jadi gugup begini? Gadis itu meremas celana kainnya. “Ehm, gue mau bareng pulangnya.”

Tidak ada pilihan lain. Brian adalah jalan satu-satunya untuk bisa jalan bersama teman-temannya. Lagi pula, kenapa sih orang tuanya langsung memberi Brian motor? Kenapa mereka sepercaya itu dengan Brian? Berbanding terbalik dengan saat orang tuanya memperlakukan dirinya. Ara sangat iri sekali.

“Kamu pulang jam berapa? Aku pulang jam setengah tiga.”

“Gue pulang jam tiga.” Ara tersenyum lebar saat Brian menjawabnya dengan anggukan kepala.

Pukul tiga sore Brian tiba di kampus Ara dan benar gadis itu sudah menunggunya.

“Kita ke mall sebelah dulu, ya?” ucap Ara sesaat setelah ia menerima helm miliknya.

“Enggak.”

“Kenapa sih kaku banget jadi manusia!” Ara keki. Dia tidak menyangka si tower besi ini susah sekali. Rencananya dia akan jalan bersama teman-temannya setelah ini.

“Gue traktir, deh.” Ara mendekat. “Atau mau gue kenalin sama cewek-cewek cantik?”

Biasanya pria seumuran Brian bakalan menyukai idenya ini. Kecuali pria itu memang memiliki orientasi seksual yang berbeda seperti banyak yang tengah dibicarakan di media sosial akhir-akhir ini. 

Brian berdecak. Sebenarnya sudah menduga ini bakalan terjadi. Ara pasti berencana untuk memanfaatkannya. Namun, tololnya hati kecilnya menyuruhnya tetap ke sini. Selain juga karena tanggung jawab yang diberikan papanya tadi untuk memastikan Ara pulang dengan selamat.

“Mau pulang atau enggak? Kalau enggak aku pulang sendiri.”

“Gini aja deh Bri. Lo jalan-jalan dulu kek kemana atau ke rumah teman-teman barumu.” Ara masih belum menyerah. “Nanti kalau gue sudah selesai jalan-jalannya, gue hubungi lonya, gimana?”

“Ini siapa, Sayang?”

Keduanya menoleh secara bersamaan.

“Roland? Kamu masih belum pulang?”

Sia-sia Ara dari tadi menghindari pria itu kalau ujung-ujungnya ketemu juga di sini. Ini gara-gara Brian yang keras kepala. Waktunya jadi terbuang sia-sia.

“Aku tadi nyariin kamu. Telepon kamu juga enggak diangkat. Kenapa?” Roland sesekali masih melirik Brian seolah berniat memulai genjatan senjata.

Ara memaksakan senyumnya. “Sorry, ponsel aku silent jadi enggak tau kalau kamu telepon. Kamu enggak jadi karaoke?”

“Ini aku nyariin kamu mau ngajak kamu ikut. Anak-anak semua pada bawa gandengan. Masak aku ke sana sendirian?” Roland mendekat. “Ada banyak minuman, kamu pasti suka.”

Ara berdehem salah tingkah. Gadis itu diam-diam mencuri pandang ke arah Brian yang entah kenapa, di depan pria itu dirinya merasa menjadi manusia pendosa. Padahal, dijidat Brian saja seolah memiliki tulisan besar yang digaris bawahi, bahwa pria itu tidak peduli. Ara melirik Roland. Pria itu memang selalu tahu apa yang dia suka. Namun, kali ini waktunya saja yang tidak tepat.

“Ayo!” Roland meraih tangan Ara. Berbarengan dengan itu Brian menepisnya. Roland tentu saja tidak suka. Dengan spontan pria itu berancang-ancang hendak akan melayangkan pukulan untuk Brian.

Ara yang tahu situasi memanas buru-buru memegang tangan kekasihnya. “Oke … oke, aku sama kamu.”

“Dia siapa, sih?” tunjuk Roland. Napasnya mulai memburu.

“Dia adik aku.”

“Adik? Aku kira kamu anak tunggal, Sayang?” Wajah Roland yang tadinya tidak bersahabat mulai berubah. “Gue Roland pacar kakak lo.” Tangan pria itu bergerak akan memulai jabat tangan. Namun buru-buru menariknya lagi, saat tidak ada balasan dari Brian.

Ara memicing tidak terima kekasihnya diperlakukan seperti itu di depannya. Yah, walau pun dia tidak benar-benar menyukai Roland. Tetap saja, harga dirinya terluka.

“Ayo Roland!” ajak Ara seketika.

“Halo, Pa—”

Ara melotot merebut ponsel Brian. Bisa gawat, jika papanya sampai tahu. Mobil dan uang sakunya saja masih ditahan. Bisa-bisanya malah nanti tidak akan diberikan. “Sebentar Sayang aku mau bicara sama ini anak dulu.” Gadis itu menarik paksa Brian. Mendorong pria itu setelah dirasa cukup jauh dari jangkauan Roland. “Lo apaan, sih!” Sungguh Ara mulau tersulut emosi. Dia tidak menyangka, Brian akan semengganggu ini.

“Papa cuma berpesan untuk mengantar kamu dengan selamat sampai rumah. Kalau kamunya enggak mau yaudah, si. Enggak salah juga kan aku telepon papa buat bilang kamunya nggak mau ikut karena mau karaoke sama pacar kamu dan minum-minum.” Brian sengaja menekankan kata minum.

Ara benar-benar tidak bisa berkata-kata. Gadis itu memijat pangkal hidungnya. Gelisah mencoba mengais ide yang ada di kepalanya.

“Lo bisa ikut gue.” Ara memejamkan mata. Ini gila, namun hanya ini jalan satu-satunya. “Lo bisa iku gue buat mastiin gue bakalan baik-baik saja.”

“Kamu enggak berpikir aku sepeduli itu dengan keadaan kamu, kan?”

Ara tercekat. Otaknya benar-benar lumpuh menghadapi manusia yang ternyata setengah medusa.

“Terus mau kamu apa?”

“Pulang.”

“Kita bisa negoisasi dulu sebentar. Lo mau apa, uang?”

“Kamu lupa? Aku punya banyak warisan? Oh, iya bukanya uang sakumu juga masih ditahan beberapa, ya?”

Bola mata Ara membulat sempurna mendengar pernyataan Brian yang sayangnya tidak ada yang bisa dibantahnya.

“Ayo kita pulang. Lagi pula, memang kamu nggak bisa apa cari cowok yang seperti manusia?”

“Lo kira Roland apa kalau bukan manusia? Kucing angora? Lo kayaknya mulai keterlaluan ya, Bri! Mentang-mentang sekarang jadi anak emas mama papa, lo jadi bisa seenaknya! Jangan ikut campur! Lo harus tahu batasan juga!”

“Oke aku ikut,” balas Brian sambil berlalu menabrak bahu Ara. “Ayo! Mau tetep berdiri di sana?”

Ara membuka mulut seolah akan berbicara, namu gagal. Gadis itu kehabisan kata-kata saking kesalnya.

Lates Chapters

30 (end)

[embed]https://youtu.be/iLlLLBuuvVU?si=A1we1kaLuanXFjSj[/embed] Javas mengulurkan tangan ke arah Masha. Gadis itu memaksakan diri untuk berdiri walau kedua kakinya masih lemas seperti jeli. Javas tersenyum memandang satu persatu…

29

Masha meremas ujung jari tangannya, sesekali juga mengigit kuku-kukunya, kemudian mendongak menatap jalanan dan membuang napas setelahnya. Itu berulang kali ia lakukan sambil berkali-kali memanjatkan…

28

Senyum Masha menguar saat melihat Brian membuang tongkat, balik badan, dan berlari begitu saja. Apa ini? Apa dia terlalu percaya diri karena berpikir Brian benar-benar…

27

Sudah seminggu semenjak Brian pulang dari sumah sakit. Keadaan pria itu sudah baik-baik saja selain, kakinya yang masih menggunakan penyangga serta luka-luka bekas goresan yang…

26

"Kalian pacaran?" tanya Ara saat hanya ada dia dan Brian saja di sana. Gadis itu memang sengaja menyuruh kedua orang tuanya agar mengistirahatkan diri di…

25

Brian mengerjap. Apakah, dia salah lihat? Ada Masha melangkah pelan masuk mendekat ke arahnya. "Itu masha?" tanya Brian mencoba mencari kebenaran. Bisa jadi akibat cedera…

24

Begitu Brian membuka mata, dia sudah berada di dalam kamarnya. Pria itu menyingkap selimut yang tadi melindungi tubuhnya, mengamati sekitar. Cukup heran, walau ini adalah…

23

Brian semakin melajukan motornya. Pikirannya berkecamuk, menyesal dia mengiyakan Ara tadi untuk ikut dengannya. Kalau saja dia menolak, Ara tidak akan menghadapi situasi semacam ini. …

22

"Kenapa dari kemarin kamu susah dihubungi?" "Kita putus." Tanpa menatap Roland, Ara kembali mengecek ponselnya. Berdecak saat Luna memberitahunya, jika mereka akan terlambat. Katanya Belle…

21

Masha berlari begitu melihat orang-orang yang dia tahu suruhan ayahnya mondar-mandir di depan sekolahnya. Namun, kemudian ia berubah pikiran. Masha menghentikan langkah,  memejamkan mata, balik…

20

"Tumben telat, Bri?" todong Randy begitu melihat Brian baru meletakkan tasnya. "Ngantuk banget gue, Rand." Semalam Brian baru bisa tidur saat cengkaraman Ara mulai mengendor.…

19

"Mau ke mana?" tanya Ara kepada Brian. Begitu pria itu terlihat berpenampilan lebih rapi dari biasanya. Namun, bukannya menjawab, pria itu malah mengabaikannya. "Heh! Diajak…

18

Masha menyandarkan kepala pada salah satu pohon dari berbagai pohon yang ditanam ditata rapi di sekitaran pemakaman.  Seperti pemakaman pada umumnya, pemakaman ini juga cukup…

17

"Kenapa muka lo, Bri?"   "Kenapa?"   "Lah, ditanya juga!"   "Pria tidak pernah bercerita."   "Tapi diam-diam beol di celana."   Kale sontak tertawa…

16

"Kenapa lo mau?" Brian menatap Leo. "Kenapa gue harus enggak mau?" Leo mendadak menawarkan hal aneh yang pada awalnya, Brian sulit mempercayainya. Bahkan, berulang kali…

15

"Hidup dan pilihan, seolah manusia tidak memiliki kebebasan"   Leo memegang lengan Masha. Menatap sahabatnya itu dengan pikiran yang saling beradu. "Lo, yakin, Sha? Gak…

14

"Gila gila gila!" Kenapa dia malah mengusap kepala Ara alih-alih menghindar dengan segera? Brian memukul-pukul kepalanya. Otaknya perlu direparasi, sepertinya. Oh, apa jangan-jangan akibat pukulan…

13

Ara mematikan televisi lalu menyalakan lagi. Mematikannya, kemudian mengulanginya untuk menyalakan kembali. Begitu terus, sebab dirinya bosan setengah mati. Seharusnya dia sudah berada di rumah…

12

Brian berjalan di trotoar yang sepi. Sekolahnya memang agak masuk ke dalam dan agak jauh dari jalan raya. Namun, siswa yang tidak mengendarai kendaraan pribadi,…

11

"Hey, ayo! Jadi pulang, enggak?" Kale menyadarkan Brian dari lamunannya tentang Leo baru saja. Brian akhirnya pulang, sengaja ia membelakangi teman-temannya untuk melirik Leo yang…
error: Content is protected !!