Table of Contents
Lates Chapters
30
[Mila, jangan lupa atur pernikahan Anya,] tulis Anton dalam sebuah pesan kepada Karmila. [Oke, Pa. Kita buat pernikahan paling megah dan indah di seantero negeri. Anya terlalu lama menderita, dia pantas mendapatkan yang indah,] balas Karmila sambil tersenyum. Keluarga Anton tampaknya sedang diliputi…
29
Hotel Grand Imperial yang terletak di jantung kota sudah berubah menjadi bak istana mewah sejak tadi malam, langit-langit tinggi ballroom hotel itu dihiasi dengan ribuan kristal chandelier yang memancarkan cahaya keemasan. Dari kejauhan, sorot lampu-lampu berpendar seperti bintang yang turun menghiasi bumi. Dekorasi…
28
Ririn memang bukan siapa-siapa bagi Anya. Hatinya teriris mendengar kabar yang baru saja dia dengar, Lewis datang tergesa-gesa, menyusul calon istrinya yang terlihat terguncang. “Apa yang terjadi, Anya? Bagaimana kondisinya?” tanya Lewis, lalu duduk di sebelah Anya sambil menggenggam bahunya. Anya terisak, matanya…
27
Di tempat lain, Ririn berdiri di depan jendela rumah kontrakannya, memandangi hujan yang turun deras membasahi jalanan di depan rumahnya. Tatapannya kosong, tubuhnya gemetar, dan kepalanya penuh dengan suara-suara yang tidak bisa dia hentikan. Sebuah amplop berisi surat yang ditinggalkan Beno tergolek di…
26
Dukungan Lewis kepada Beno tidak pernah surut. Dia melakukan semua diam-diam, tanpa sepengetahuan Anya. Setiap pekan, Lewis rutin mengunjungi Beno di rumah rehabilitasi, membawakan buku-buku humor atau sekadar menemani lelaki itu duduk-duduk di taman. Perlahan, Beno mulai menunjukkan perubahan pada fisiknya yang mulai…
Comments
You May Also Like
20 Chapters
Chapter 1: 1
“Duh …, kepalaku sakit banget,” keluh Anya sambi memegang kepalanya. Anya merasa kepalanya berdenyut bak dihantam palu dengan keras, belum selesai dengan rasa sakit sambil mengerang, dia terkejut saat duduk dan menatap sekitar, ini bukanlah tempat yang dia kenal! Lalu di mana…
ReadmoreChapter 2: 2
Anya menggendong tas ranselnya, wanita tersebut tampak kebingungan menentukan ke mana tujuannya. Dia akan memesan ojek menuju terminal, dan kembali ke kampung halamannya. Namun, urung dia lakukan. “Aku pulang juga gak ada gunanya. Duh, aku harus ke mana nih,” keluh Anya sambil…
ReadmoreChapter 3: 3
“Kamu temenin dia sebentar,” kata Karmila sambil meninggalkan Anya dan seorang wanita di sana. Karmila pergi menemui seorang lelaki paruh baya yang masih menyisakan ketampanan di masa mudanya. Rambut pria tersebut diwarnai dengan warna coklat tua. Sementara itu Anya dan wanita…
ReadmoreChapter 4: 4
‘Aku harap kau orang dicari Papa. Aku cuma perlu periksa apa kamu punya tanda lahir di di bawah punggung apa enggak,’ batin Karmila. Karmila kemudian meninggalkan kamar Anya dengan hati yang gundah. Anya beranjak menuju cermin, lalu menatap pantulan tubuh dan…
ReadmoreChapter 5: 5
“Hei, hei. Jangan ditutup pintunya!” teriak Anya. Tiba-tiba lelaki tersebut meletakkan sepucuk senjata dengan tatapan kosong, dan bersiap menarik pelatuk. Degup jantung Anya berdebar kencang, kedua bola matanya terbbelalak. Kemudian dia menyadari jika dia tidak bertindak, ada nyawa yang akan melayang sia-sia. …
ReadmoreChapter 6: 6
“Aku akan bayar berapa pun yang kau minta Karmila. Oh, kau kan tau aku tidak memakai jasa kehangatan. Aku hanya ingin dia yang menemaniku,” tawar pria tersebut. “Tuan Lewis. Bukan aku tidak mau, hanya saja dia tidak ingin bekerja seperti itu. Biarkan…
ReadmoreChapter 7: 7
Anya membuka pintu dengan malas, tetapi tidak ada siapapun di sana. Saat akan melangkah kakinya menyentuh sesuatu. “Lah, apaan nih? Kok ga ada orang? Halo, punya siapa nih!” seru Anya. Anya menunggu dua menit, dia meraih sebuah kantong belanja yang berisi…
ReadmoreChapter 8: 8
Anya mengusir rasa kesepian dengan duduk di tepi ranjang sambil memandangi setiap unggahan teman-temannya. Tampaknya pesta itu sangat mewah dan meriah. Tampak lampu-lampu kristal yang indah berkilauan, musik klasik dari piano mengalun merdu, dan tawa para tamu terdengar dari balik layar ponselnya saat…
ReadmoreChapter 9: 9
“Anya!” teriak Lewis terkejut. Lelaki itu kemudian menggendong Anya menuju ke rumah sakit. Wajah lelaki tersebut tampak sangat cemas. Matanya dipenuhi kecemasan yang tidak bisa disembunyikan begitu saja. “Anya, kamu kenapa, Sayang?” tanya Lewis dengan suara parau dan bergetar, sambil setengah berlari…
ReadmoreChapter 10: 10
Anya dirawat selama tiga hari, dan keadaannya jauh lebih baik. Dokter menyarankan agar dia tidak berusaha mencari tahu akan kepingan ingatan yang tidak dia mengerti secara berlebihan. Lewis dengan sabar mendampingi Anya, untuk menunjukkan keseriusannya. Tentu saja agar wanita tersebut luluh dan…
ReadmoreChapter 11: 11
“Untung aku sempat ambil rambut Anya, nanti tinggal kasih aja,” gumam Karmila. Dua orang lelaki bertubuh tegap datang, mereka adalah asisten sekaligus pengawal setia dari Anton Wijaya. “Tolong periksa DNA kedua rambut ini, kalau bisa secepat mungkin hasilnya datang. Gak peduli…
ReadmoreChapter 12: 12
Karmila pun panik, tepat saat Lewis tiba terdengar teriakan wanita itu memanggil pelayan, dan bertanya apa yang sedang terjadi. Karmila meminta lelaki itu menghubungi ambulan agar membawa Anya dan Anton, ayahnya. Karmila juga menyerahkan kertas yang berisi hasil tes DNA kepada…
ReadmoreChapter 13: 13
Rupanya, saat Lewis mendengar perintah untuk Karmila, dia meminta asistennya untuk mencari Indra dan Lastri. Asisten Lewis berhasil menemukan alamat orang yang menculik Anya sewaktu kecil. Berbeda pulau dan letaknya di daerah yang tidak terlalu ramai. Lewis kemudian membuat keputusan akan…
ReadmoreChapter 14: 14
Indra menggeleng, dia tidak terima dengan semua yang diungkapkan Anton. Dia merasa semua salah, dia sudah melakukan yang terbaik, tetapi tetap saja salah. Akhirnya dia menculik Anya saat Melinda sedang lengah. “Kita mau apain dia?” tanya Lewis sambil melirik Indra yang kini…
ReadmoreChapter 15: 15
Lewis menyerahkan Indra ke pihak berwenang dengan semua bukti yang telah dikumpulkan, termasuk pengakuannya. Dia tahu keadilan harus ditegakkan untuk Anya, meskipun itu tidak akan menghapus luka yang telah tertanam dalam hati Anya. Usai membereskan Indra alias Alex, Lewis meminta asistennya untuk…
ReadmoreChapter 16: 16
“Apa aku boleh tau, Tuan?” tanya Lewis sopan. “Tentu, kau bagian dari keluarga. Aku cuma perlu menunggumu melamar putri bungsuku,” jawab Anton sambil menepuk bahu Lewis. Ucapan itu sukses membuat wajah Lewis semburat merah karena malu, tingkahnya bak remaja yang sedang…
ReadmoreChapter 17: 17
“Mami?” gumam Ririn dengan mata terbelalak. Beno tertawa kecil, lalu menyerahkan kembali benda yang berupa buku menu dengan tampilan mewah tersebut. “Di dunia ini banyak yang namanya Anya, dia beruntung namanya sama dengan nama restoran ini. Mana mungkin ampas seperti Anya…
ReadmoreChapter 18: 18
"Tapi mereka kan inget kita. Uang dan kekuasaan mereka bisa buat kita celaka, trus kita gimana? Bisa aja diciduk kapan aja." Beno tampak mulai panik, suaranya bergetar. Ririn termenung sejenak, benaknya sedang mencoba mencerna situasi saat ini. Rautnya berubah khawatir sekarang, dia…
ReadmoreChapter 19: 19
“Apa-apaan ini, Mami!” seru Beno sambil bangkit berdiri dengan wajah marah. “Pergi dari sini, atau dihancurkan mukamu yang jelek itu!” hardik Karmila dengan wajah memerah. “Kakak!” pekik Anya. “Diam kamu!” sergah Karmila. Melihat Karmila penuh amarah, Beno bergegas pergi…
ReadmoreChapter 20: 20
“Maksudnya apa? Kan kamu yang maksa deketin Anya. Aku terpaksa akting biar dia percaya dan bisa ngasih duit lah, kok malah ngamuk, aneh!” hardik Beno. “Gak sampe kebawa-bawa ke rumah juga lah. Gara-gara kamu ikutin mau dia, penghasilan kita ga ada. Uang…
Readmore





