Table of Contents
- Chapter 1: Bab 1. Liburan yang merubah takdir
- Chapter 2: Bab 2. Celah Misterius
- Chapter 3: Bab 3. Dunia Tanpa Matahari
- Chapter 4: Bab 4. Tertangkap
- Chapter 5: Bab. Tatapan yang menantang
- Chapter 6: Bab. 6 Rindu yang tidak bisa pulang
- Chapter 7: Bab 7. Tuduhan mata mata
- Chapter 8: Bab 8. Penjara Nerava
- Chapter 9: Bab 9. Pelarian yang gagal
- Chapter 10: BAB 10. Perintah Sang Kaisar
Lates Chapters
BAB 11. Interogasi Dingin
Langkah kaki Arsa bergema pelan di lorong istana Nerava. Dua penjaga berjalan di belakangnya, sementara Varian memimpin di depan tanpa sekali pun menoleh. Sejak pengumuman Kaisar Aetherion sehari sebelumnya, status Arsa memang berubah. Ia bukan lagi tahanan yang dikurung di ruang isolasi, tetapi…
BAB 10. Perintah Sang Kaisar
Udara di ruang isolasi terasa jauh lebih dingin daripada sel sebelumnya. Tidak ada jendela. Tidak ada suara para tahanan lain. Tidak ada bisikan para penjaga yang berlalu-lalang. Hanya suara tetesan air yang jatuh dari langit-langit batu, menciptakan gema panjang yang membuat kesunyian terasa…
Bab 9. Pelarian yang gagal
Keheningan malam di Nerava terasa berbeda. Bukan lagi sekadar sunyi. Ada ketegangan yang menggantung di udara. Arsa duduk di dalam selnya dengan mata terbuka, menatap cahaya kristal yang berpendar di langit-langit batu. Tubuhnya terlihat tenang, namun pikirannya berlari ke berbagai arah. Sudah terlalu…
Bab 8. Penjara Nerava
Kegelapan kembali menyelimuti Arsa. Bukan kegelapan malam seperti yang ia kenal di dunia atas, ketika bintang masih terlihat dan suara alam menemani kesunyian. Ini berbeda. Kegelapan Nerava terasa hidup. Seolah dinding-dinding batu di sekelilingnya menyimpan ribuan rahasia yang tidak ingin diketahui manusia…
Bab 7. Tuduhan mata mata
Suara gemuruh terdengar dari luar istana Nerava. Bukan badai. Bukan hujan. Melainkan dentuman logam dan langkah para pasukan yang berjaga lebih ketat dari biasanya. Lorong-lorong istana dipenuhi penjaga bersenjata, sementara bisikan para pelayan terdengar semakin gelisah. Ada sesuatu yang sedang terjadi. Dan…
Comments
11 Chapters
Chapter 1: Bab 1. Liburan yang merubah takdir
Udara pagi di pegunungan terasa lebih dingin dari yang Arsa bayangkan. Embun masih menempel di ujung daun, sementara kabut tipis menggantung rendah, seperti tirai yang belum sepenuhnya tersibak. Ia menarik napas panjang, mencoba mengisi paru-parunya dengan udara segar yang jarang ia rasakan…
ReadmoreChapter 2: Bab 2. Celah Misterius
Langkah kaki Arsa menggema pelan di lantai batu yang dingin. Setiap dorongan yang ia terima dari para penjaga membuat tubuhnya sedikit tersentak ke depan. Tangannya masih terikat di belakang, pergelangannya mulai terasa perih karena gesekan tali kasar. Namun rasa sakit itu kalah…
ReadmoreChapter 3: Bab 3. Dunia Tanpa Matahari
Kegelapan di Nerava bukan sekadar ketiadaan cahaya. Ia hidup. Ia bernapas. Dan kini, ia mengurung Arsa. Duduk di sudut sel batu yang dingin, Arsa memeluk lututnya erat. Tangannya sudah tidak lagi terikat, namun pergelangannya masih terasa nyeri. Luka kecil yang ditinggalkan tali…
ReadmoreChapter 4: Bab 4. Tertangkap
Suara rantai bergemerincing memecah kesunyian lorong penjara. Arsa tersentak dari lamunannya saat pintu sel terbuka kasar. Dua penjaga berdiri di depan, wajah mereka sama dinginnya seperti batu-batu Nerava. “Bangun,” perintah salah satu dari mereka. Jantung Arsa langsung menegang. “Ada apa lagi?” tanyanya…
ReadmoreChapter 5: Bab. Tatapan yang menantang
Langkah kaki para penjaga kembali menggema di lorong penjara Nerava. Arsa berjalan di tengah mereka dengan kepala sedikit menunduk, berusaha mengabaikan tatapan tajam yang terus mengarah padanya. Setelah pertemuannya dengan Kaisar Aetherion tadi, suasana di istana terasa berbeda. Lebih tegang. Lebih dingin.…
ReadmoreChapter 6: Bab. 6 Rindu yang tidak bisa pulang
Cahaya kebiruan Nerava memantul redup di dinding sel batu. Arsa duduk memeluk lututnya di sudut ruangan, diam menatap lantai tanpa benar-benar melihat apa pun. Sudah entah berapa lama ia berada di dunia bawah tanah itu. Tanpa matahari, tanpa pagi, tanpa malam, waktu…
ReadmoreChapter 7: Bab 7. Tuduhan mata mata
Suara gemuruh terdengar dari luar istana Nerava. Bukan badai. Bukan hujan. Melainkan dentuman logam dan langkah para pasukan yang berjaga lebih ketat dari biasanya. Lorong-lorong istana dipenuhi penjaga bersenjata, sementara bisikan para pelayan terdengar semakin gelisah. Ada sesuatu yang sedang terjadi. Dan…
ReadmoreChapter 8: Bab 8. Penjara Nerava
Kegelapan kembali menyelimuti Arsa. Bukan kegelapan malam seperti yang ia kenal di dunia atas, ketika bintang masih terlihat dan suara alam menemani kesunyian. Ini berbeda. Kegelapan Nerava terasa hidup. Seolah dinding-dinding batu di sekelilingnya menyimpan ribuan rahasia yang tidak ingin diketahui manusia…
ReadmoreChapter 9: Bab 9. Pelarian yang gagal
Keheningan malam di Nerava terasa berbeda. Bukan lagi sekadar sunyi. Ada ketegangan yang menggantung di udara. Arsa duduk di dalam selnya dengan mata terbuka, menatap cahaya kristal yang berpendar di langit-langit batu. Tubuhnya terlihat tenang, namun pikirannya berlari ke berbagai arah. Sudah terlalu…
ReadmoreChapter 10: BAB 10. Perintah Sang Kaisar
Udara di ruang isolasi terasa jauh lebih dingin daripada sel sebelumnya. Tidak ada jendela. Tidak ada suara para tahanan lain. Tidak ada bisikan para penjaga yang berlalu-lalang. Hanya suara tetesan air yang jatuh dari langit-langit batu, menciptakan gema panjang yang membuat kesunyian terasa…
ReadmoreChapter 11: BAB 11. Interogasi Dingin
Langkah kaki Arsa bergema pelan di lorong istana Nerava. Dua penjaga berjalan di belakangnya, sementara Varian memimpin di depan tanpa sekali pun menoleh. Sejak pengumuman Kaisar Aetherion sehari sebelumnya, status Arsa memang berubah. Ia bukan lagi tahanan yang dikurung di ruang isolasi, tetapi…
Readmore





