Table of Contents
Lates Chapters
Bab 4. Tertangkap
Suara rantai bergemerincing memecah kesunyian lorong penjara. Arsa tersentak dari lamunannya saat pintu sel terbuka kasar. Dua penjaga berdiri di depan, wajah mereka sama dinginnya seperti batu-batu Nerava. “Bangun,” perintah salah satu dari mereka. Jantung Arsa langsung menegang. “Ada apa lagi?” tanyanya…
Bab 3. Dunia Tanpa Matahari
Kegelapan di Nerava bukan sekadar ketiadaan cahaya. Ia hidup. Ia bernapas. Dan kini, ia mengurung Arsa. Duduk di sudut sel batu yang dingin, Arsa memeluk lututnya erat. Tangannya sudah tidak lagi terikat, namun pergelangannya masih terasa nyeri. Luka kecil yang ditinggalkan tali…
Bab 2. Celah Misterius
Langkah kaki Arsa menggema pelan di lantai batu yang dingin. Setiap dorongan yang ia terima dari para penjaga membuat tubuhnya sedikit tersentak ke depan. Tangannya masih terikat di belakang, pergelangannya mulai terasa perih karena gesekan tali kasar. Namun rasa sakit itu kalah…
Bab 1. Liburan yang merubah takdir
Udara pagi di pegunungan terasa lebih dingin dari yang Arsa bayangkan. Embun masih menempel di ujung daun, sementara kabut tipis menggantung rendah, seperti tirai yang belum sepenuhnya tersibak. Ia menarik napas panjang, mencoba mengisi paru-parunya dengan udara segar yang jarang ia rasakan…
Comments
4 Chapters
Chapter 1: Bab 1. Liburan yang merubah takdir
Udara pagi di pegunungan terasa lebih dingin dari yang Arsa bayangkan. Embun masih menempel di ujung daun, sementara kabut tipis menggantung rendah, seperti tirai yang belum sepenuhnya tersibak. Ia menarik napas panjang, mencoba mengisi paru-parunya dengan udara segar yang jarang ia rasakan…
ReadmoreChapter 2: Bab 2. Celah Misterius
Langkah kaki Arsa menggema pelan di lantai batu yang dingin. Setiap dorongan yang ia terima dari para penjaga membuat tubuhnya sedikit tersentak ke depan. Tangannya masih terikat di belakang, pergelangannya mulai terasa perih karena gesekan tali kasar. Namun rasa sakit itu kalah…
ReadmoreChapter 3: Bab 3. Dunia Tanpa Matahari
Kegelapan di Nerava bukan sekadar ketiadaan cahaya. Ia hidup. Ia bernapas. Dan kini, ia mengurung Arsa. Duduk di sudut sel batu yang dingin, Arsa memeluk lututnya erat. Tangannya sudah tidak lagi terikat, namun pergelangannya masih terasa nyeri. Luka kecil yang ditinggalkan tali…
ReadmoreChapter 4: Bab 4. Tertangkap
Suara rantai bergemerincing memecah kesunyian lorong penjara. Arsa tersentak dari lamunannya saat pintu sel terbuka kasar. Dua penjaga berdiri di depan, wajah mereka sama dinginnya seperti batu-batu Nerava. “Bangun,” perintah salah satu dari mereka. Jantung Arsa langsung menegang. “Ada apa lagi?” tanyanya…
Readmore





