Misteri Takdir Anya

1

“Duh …, kepalaku sakit banget,” keluh Anya sambi memegang kepalanya.

 

Anya merasa kepalanya berdenyut bak dihantam palu dengan keras, belum selesai dengan rasa sakit sambil mengerang, dia terkejut  saat duduk dan menatap sekitar, ini bukanlah tempat yang dia kenal! Lalu di mana ini? Saat dia menatap ke arah samping kirinya, dia terkejut dan menggeser tubuhnya hingga terjatuh dari ranjang.

 

Seorang lelaki dengan mulut berbusa sudah tewas, karena tubuhnya sudah kaku. Lelaki itu tidak memakai pakaian bagian atas, dan resleting celana terbuka hingga setengahnya.

 

Anya panik dan menatap sekeliling yang ternyata adalah sebuah kamar hotel. 

 

“Duh, itu siapa yang mati? Astaga! Aku harus ngapain?” Anya tampak panik bukan kepalang. 

 

Anya menenangkan diri dengan menarik napas, kemudian memutuskan dia berlari ke luar dengan tergesa saat seorang wanita histeris dan menunjuk ke arah Anya. Dalam sekejap. Anya dikejar empat lelaki yang tidak dia kenal.

 

“Bangke, aku salah apa!” teriak Anya sambil berlari.

 

Anya berhasil ke luar dari hotel dan berlari tanpa tujuan, dia berlari ke luar masuk gang, dan berlari secara acak. Yang ada di benaknya saat ini adalah bagaimana caranya agar tidak tertangkap.

 

Napasnya terengah sambil sesekali menoleh kebelakang, tidak peduli kakinya terasa lemas dan berat, dia terus berlari sekencang-kencangnya. 

 

Lima belas menit sudah dia berlari, sakit kepala yang mendera tidak dipedulikan, tatapan aneh, makian karena tidak sengaja menabrak orang yang berjalan kaki, serta berulang kali nyaris tertabrak sepeda motor tidak dihiraukan sama sekali.

 

Kakinya luka dan mengeluarkan darah, udara pagi yang hangat menyapa wajahnya terasa terbakar api neraka saja, pikirannya kacau. Beruntung penampilannya sama sekali tidak aneh, berpakaian lengkap tanpa ada yang terkoyak. Dia melihat sebotol air mineral bekas yang tergeletak di jalan, dengan terengah dia menghampiri dan akan meminum air sisa yang entah milik siapa.

 

Sayangnya, seorang lelaki sudah terlebih dahulu meraihnya dan membuang isinya, lalu memasukkan botol bekas tersebut ke dalam karung. Tubuh Anya luruh karena sudah merasa lemas dan kehausan. Anya mengedarkan pandangan, mencari apa masih ada sesuatu yang bisa dia makan atau minum untuk mengganti tenaga yang terkuras tadi. Tidak ada apapun di sana, Anya bangkit dan menyeret langkahnya keluar dari sebuah perumahan yang tidak terlalu ramai.

 

‘Sebenarnya aku di mana? Ini daerah mana? Aku hanya belum pernah ke sini deh. Mana aku ga pake sendal, hape gak ada, uang apalagi.’ Anya merogoh saku celana panjang yang dia kenakan.

 

Anya merasa bingung dan panik, tidak tahu di mana dia berada saat ini. Dia berharap ada yang menolongnya, sambil mencari petunjuk di mana dia berada saat ini, akhirnya dia menemukan toko yang berjajar dengan lalu lintas yang ramai. Di sana tertulis di mana dia berada sekarang.

 

“Jalan Kelapa Hijau? Ini kan jaraknya lima belas menit dari kos si Ririn. Aku telepon dia aja, pinjem hp sama yang punya toko, siapa tau ada yang baik,” gumam Anya sambil menyusuri jalan.

 

 Anya sudah mendatangi empat toko, tetapi, tidak ada yang bersedia meminjamkan ponsel kepadanya. Bahkan beberapa menganggapnya orang yang kehilangan kewarasan dan mengusirnya. Anya tampak putus asa dan duduk dibawah pohon yang tidak terlalu rindang, di dekat sebuah warung yang tampak kosong. Sungguh kacau hari ini bagi Anya, hingga seorang lelaki paruh baya mengenakan jaket ojek online menghampiri wanita malang tersebut.

 

“Kamu kabur dari rumah?” tanya lelaki tersebut dengan tatapan iba.

 

“Gak, Pak. Maaf, ada air minum? Saya haus,” jawab Anya lemah.

 

Lelaki tersebut diam lalu membeli air mineral dan dua bungkus roti, kemudian menyerahkan plastik berisi roti dan air mineral.

 

Anya membuka plastik tersebut, mengucapkan terima kasih, lalu memakan dengan lahap, dan meminum air hingga tandas. Dia menceritakan kepada lelaki tersebut tentang apa yang sedang menimpanya saat ini.

 

“Saya udah coba pinjem hape biar temen jemput saya, tapi ga ada yang mau pinjemin. Malah saya dikatain orang gila,” tutur Anya.

 

“Ya udah, ayo ikut. Saya anter ke tempat temen kamu,” tawar lelaki tersebut.

 

Bagai mendapat durian runtuh, Anya langsung bangkit dengan wajah senang dan mata berbinar. Dia sangat berharap jika temannya berada di rumah, agar mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi tadi malam.

 

Kini Anya sudah tiba di rumah kos, dia mengucapkan banyak terima kasih dan mengingat nomor seri kendaraan tersebut. Lalu bergegas menuju kamar Ririn, ternyata temannya tidak berada di sana. Pupus lah sudah harapan Anya, dia duduk dengan memeluk kedua lututnya lalu menangis terisak.

 

“Anya? Ikut aku.” Seorang wanita menarik lengan Anya menuju sebuah kamar yang berada di ujung.

 

“Barusan Ririn telepon, kalo kamu dateng suruh ngumpet dulu. Kamu lagi dicari orang sekarang. Ini uang lima ratus ribu sama hape bekas, masih bagus kok.” Wanita tersebut memberi sebuah bungkusan berisi ponsel dan lima lembar uang pecahan seratus ribu.

 

“Tapi aku salah apa? Aku aja bingung ada di dekat jalan Kelapa Hijau,” ucap Anya dengan wajah bingung sambil menerima bungkusan tersebut.

 

Wanita itu memberinya sendal jepit dan memintanya segera pergi dari sana, Anya semakin bingung dengan apa yang sedang menimpanya saat ini. Dia mengendap-endap memeriksa keadaan, lalu menuju sebuah warung kecil yang menjual kartu perdana untuk ponselnya, dan membeli kabel pengisi daya, dan menuju sebuah toko pakaian.

 

Usai membeli yang dibutuhkan, dia segera pergi dengan tergesa menuju sebuah warung makan, memesan makanan dan mengisi daya ponsel miliknya. 

 

“Apa sih sebenernya ini? Aku gak salah, Ririn minta aku pergi. Ngapain aku pergi kalo aku gak salah?” gumam Anya.

 

Pesanannya tba, dia segera menyantap makanan karena merasa sangat lapar. Usai perutnya terisi dan membayar makanan, dia memesan ojek online menuju rumah yang dia sewa. 

 

“Hei, itu dia!” teriak seorang lelaki bertubuh kekar sambil menunjuk ke arah Anya.

 

“Sial, baru aja makan.” Anya kembali berlari menyelamatkan diri dari kejaran orang asing yang tidak dikenalnya sama sekali. 

 

Anya mengenal daerah ini dengan baik, dia tahu dengan jelas bagaimana dia melepaskan diri dari orang yang mengejarnya, hanya butuh waktu delapan menit untuk menghilang dari kejaran orang yang tidak dia kenal tersebut.

 

“Brengsek, hari apa sih ini? Sial banget aku,” gerutu anya sambil mengayun langkahnya gontai.

 

Ojek yang dia pesan sudah membatalkan pesanan karena tidak mendapati Anya pada titik penjemputan. Wanita itu mengayunkan langkahnya gontai, sambil menyusuri lorong perbatasan antara toko satu dengan yang lainnya. Dia berusaha menenangkan dirinya agar bisa berpikir dengan jernih. 

 

Tinggal sedikit lagi dia tiba di rumah kontrakannya, dia meminjam kunci cadangan kepada pemilik rumah dan masuk ke dalam rumah, mengganti pakaiannya dan merapikan penampilannya agar tidak tampak berantakan, lalu mengemas pakaian dan berniat pergi dari sana.

 

Anya menangis sedih, mendapati rumah yang dia tinggali posisinya tetap sama seperti dia tinggalkan tadi malam. Dia mencari dompet dan juga beberapa berkas yang penting untuknya. Usai semua rampung, dia mengembalikan kunci tersebut kepada pemilik rumah.

 

‘Beno, kamu di mana?’ batin Anya.

 

Lates Chapters

30

[Mila, jangan lupa atur pernikahan Anya,] tulis Anton dalam sebuah pesan kepada Karmila. [Oke, Pa. Kita buat pernikahan paling megah dan indah di seantero negeri.…

29

Hotel Grand Imperial yang terletak di jantung kota sudah berubah menjadi bak istana mewah sejak tadi malam, langit-langit tinggi ballroom hotel itu dihiasi dengan ribuan…

28

Ririn memang bukan siapa-siapa bagi Anya. Hatinya teriris mendengar kabar yang baru saja dia dengar, Lewis datang tergesa-gesa, menyusul calon istrinya yang terlihat terguncang. “Apa…

27

Di tempat lain, Ririn berdiri di depan jendela rumah kontrakannya, memandangi hujan yang turun deras membasahi jalanan di depan rumahnya. Tatapannya kosong, tubuhnya gemetar, dan…

26

Dukungan Lewis kepada Beno tidak pernah surut. Dia melakukan semua diam-diam, tanpa sepengetahuan Anya. Setiap pekan, Lewis rutin mengunjungi Beno di rumah rehabilitasi, membawakan buku-buku…

25

“Sebenarnya aku benar-benar jatuh cinta sama Anya. Aku menyadari saat aku bersama Ririn, dan sayangnya itu sudah terlambat untuk ku,” ungkap Beno jujur kepada Lewis. …

24

“Lewis?” Anya menoleh, matanya membulat tak percaya. Dia tidak mendengar langkah kaki tunanganya mendekat.   Lewis sudah lama berdiri di dekat Anya, lelaki tersebut mengenakan…

23

Ririn sudah tiba di kontrakannya, pintu dia banting keras. Menimbulkan gema suara yang memecah keheningan. Wanita itu masuk dengan langkah berat, wajahnya merah padam penuh…

22

“Pergi?” Ririn tertawa sinis, “eh denger, ya. Aku gak akan pergi sebelum semua orang di sini tahu siapa kamu sebenarnya.”   Beberapa pelanggan mulai berbisik-bisik.…

21

“Aku gak peduli dengan apapun ancaman dari pelakor. Pergi sana, aku sibuk,” usir Anya dengan suara ketus.     “Anya, jangan kira kamu di atas angin…

20

“Maksudnya apa? Kan kamu yang maksa deketin Anya. Aku terpaksa akting biar dia percaya dan bisa ngasih duit lah, kok malah ngamuk, aneh!” hardik Beno. …

19

“Apa-apaan ini, Mami!” seru Beno sambil bangkit berdiri dengan wajah marah.    “Pergi dari sini, atau dihancurkan mukamu yang jelek itu!” hardik Karmila dengan wajah…

18

"Tapi mereka kan inget kita. Uang dan kekuasaan mereka bisa buat kita celaka, trus kita gimana? Bisa aja diciduk kapan aja." Beno tampak mulai panik,…

17

“Mami?” gumam Ririn dengan mata terbelalak.    Beno tertawa kecil, lalu menyerahkan kembali benda yang berupa buku menu dengan tampilan mewah tersebut.   “Di dunia…

16

“Apa aku boleh tau, Tuan?” tanya Lewis sopan.    “Tentu, kau bagian dari keluarga. Aku cuma perlu menunggumu melamar putri bungsuku,” jawab Anton sambil menepuk…

15

Lewis menyerahkan Indra ke pihak berwenang dengan semua bukti yang telah dikumpulkan, termasuk pengakuannya. Dia tahu keadilan harus ditegakkan untuk Anya, meskipun itu tidak akan…

14

Indra menggeleng, dia tidak terima dengan semua yang diungkapkan Anton. Dia merasa semua salah, dia sudah melakukan yang terbaik, tetapi tetap saja salah. Akhirnya dia…

13

Rupanya, saat Lewis mendengar perintah untuk Karmila, dia meminta asistennya untuk mencari Indra dan Lastri.    Asisten Lewis berhasil menemukan alamat orang yang menculik Anya…

12

Karmila pun panik, tepat saat Lewis tiba terdengar teriakan wanita itu memanggil pelayan, dan bertanya apa yang sedang terjadi.   Karmila meminta lelaki itu menghubungi…

11

“Untung aku sempat ambil rambut Anya, nanti tinggal kasih aja,” gumam Karmila.   Dua orang lelaki bertubuh tegap datang, mereka adalah asisten sekaligus pengawal setia…
error: Content is protected !!