‘Aku harap kau orang dicari Papa. Aku cuma perlu periksa apa kamu punya tanda lahir di di bawah punggung apa enggak,’ batin Karmila.
Karmila kemudian meninggalkan kamar Anya dengan hati yang gundah.
Anya beranjak menuju cermin, lalu menatap pantulan tubuh dan wajahnya, dia menatap tajam dan menunjuk bayangan dirinya.
“Hei kau, Anya! Kamu bukan orang yang dulu, bukan lagi perempuan tolol yang mengagungkan cinta. Omong kosong itu cinta, kau harus jadi wanita kuat, banyak uang, dan balas sakit hatimu. Kau harus bekerja keras, dan kalahkan pahitnya hidup dengan kerja keras. Perasaan cinta itu cuma sampah, rasa sakit itu ilusi. Kau harus berubah sekarang kalo mau bertahan hidup,” ucap Anya kepada dirinya.
Air mata mulai mengembun, dan menunggu waktu saja untuk menetes. Anya tidak mau menangis lagi, dia akan memaki dirinya jika menangis.
Anya bertekad untuk berubah, dia tidak lagi mau percaya dengan cinta. Cinta untuk lawan jenis yang dimaksud tentunya, rasa sakit yang dia terima membuatnya demikian.
“Aku gak akan biarkan hati, pikiran dan batinku terluka lagi karena cinta. Tujuanmu sekarang cuma uang, aku bisa kerjakan apa aja dan jadi apa aja demi uang. Asalkan gak jual diri,” gumam Anya lagi.
Anya kemudian menyusun pakaiannya pada lemari yang sudah tersedia, lalu menyimpan dokumen di tempat yang aman.
Usai menata pakaian, dia mengunci kamar dan kemudian membersihkan tubuh agar terasa segar. Pikirannya lelah membuatnya mengantuk dan akhirnya memilih untuk tidur saja.
Subuh Anya sudah terjaga, dia kemudian membersihkan tubuh dan menyapu kamarnya. Lalu dia menuju ruang cuci untuk mencuci pakaian, lalu memasak sarapan. Hampir satu jam kemudian, tepat saat dia selesai memasak sarapan, tiga orang wanita cantik datang membawa satu kantong berisi pakaian dan langkah lesu karena lapar.
“Eh, kamu anak baru? Ini sarapan kamu? Aku bayar deh dua puluh ribu. Laper banget aku,” gadis tersebut memberi uang senilai dua puluh ribu dan menyantap makanan milik Anya.
“Aku bikinin juga dong. Cuciin aku aku dong, lima puluh ribu deh buat nyuci, sarapan dua puluh ribu.” gadis cantik lainnya memberi selembar uang pecahan seratus ribu.
Anya meski sedikit lapar langsung berbinar, dia merasa sangat senang sekali. Bayangan uang yang mengalir ke kantongnya membuatnya penuh semangat.
“Oke deh, Kakak. Cuciannya besok ambil ya. Aku juga sediaan sarapan mulai besok pagi di kamarku,” ucap Anya dengan penuh semangat.
Dia kemudian mencari Karmila, dan meminta ijin untuk ke luar memberi beras, deterjen dan beberapa bahan makanan lainnya.
Meski Karmila sedikit bingung, dia menemani Anya untuk berbelanja ke pasar, laku menuju sebuah toko grosir. Anya menghabiskan uangnya hingga tersisa dua puluh ribu saja.
Anya tampak sangat senang, dia memiliki banyak barang yang akan dijual kepada penghuni tempatnya bekerja membuatnya sangat senang.
“Makasih, yah. Mami,” kata Anya sambil membawa semua barangnya.
Karmila melihat Anya kepayahan membawa barang, dia meminta petugas keamanan untuk membantu Anya.
Anya bersenandung kecil sambil menyusun belanjaannya, Karmila yang melipat tangannya sontak terkejut.
“Anya, kamu tau dari mana lagu itu?” tanya Karmila terkejut.
“Oh, ibuku kadang senandung begitu waktu nidurin adikku,” sahut Anya dengan riang.
‘Gak mungkin, ini gak mungkin,’ batin Karmila.
Anya membawa satu kantong berisi deterjen dan pewangi pakaian. Tidak lupa membawa alat tulis, sebuah buku, mie instan, sosis, saus cabai, dan beberapa sachet kopi instan dan juga teh serta gula.
“Ada yang mau mie goreng? Lima belas ribu, kopi sepuluh ribu, cuci lima puluh ribu,” kata Anya kepada lima gadis cantik lainnya.
Sontak saja mereka setuju, Anya kemudian memasak sambil mencatat nama, nomor telepon pada buku yang semua perlengkapan itu dia beli sewaktu di pasar.
Karmila melihat semua aktifitas adanya, wanita itu melakukan dengan senang dan seolah tanpa beban. Dia seolah lupa perlakuan tidak menyenangkan dari suaminya yang kurang ajar tersebut.
Dalam waktu setengah hari, Anya memiliki uang ratusan ribu. Karmila tersenyum bangga kepada Anya, lalu menghampiri Anya.
“Waduh lupa, Mami mau sarapan apa? Hari ini gratis,” tawar Anya dengan penuh semangat.
‘Mie rebus pake telor, pake sosis, sama teh tanpa gula,” sahut Karmila.
Anya dengan gesit melayani Karmila, dia membuat dua porsi. Satu untuknya satu untuk Karmila.
Lagi-lagi Karmila terkejut melihat cara Anya memakan mie rebus. Anya memilih mie pada sumpitnya, lalu mengambil sebuah piring kecil dan meletakkan di sana. Lalu melakukan hal yang sama hingga setengahnya.
Usai melakukan hal tersebut, Anya memakannya dengan lahap. Kemudian menyeruput kuah mie setelah semua mie nya habis.
‘Itu cara Papa makan mie. Ah, aku terlalu berlebihan. Banyak kok orang yang makan dengan cara begitu,’ pikir Karmila.
Anya memejamkan mata, kemudian tersenyum, lalu mengucap terima kasih kepada Tuhan atas makanan yang baru saja dia makan. Kemudian mencuci piring sambil menggerakkan pinggulnya dengan jenaka.
Karmila yang sedang minum mendadak tersedak, dan terbatuk hingga gelas yang tadi dia pegang tersenggol dan jatuh ke lantai laku berderai.
Anya terkejut, lalu membersihkan serpihan kaca dengan hati-hati, hingga tidak terluka sedikit pun.
“Mami, tidur aja dulu. Kayaknya kecapean, deh. Tenang aja, aku pasti kerja dengan baik. Hari ini aku hoki banget deh,” saran Anya dengan penuh semangat.
“E-iya. Aku ke kamar dulu, ya,” pamit Karmila dengan gugup.
Anya mengerjakan pekerjaannya dengan cepat, dia mengangkat jemuran yang sudah kering, lalu menyetrika. Sambil menunggu, siapa tahu ada yang butuh jasanya untuk membuat makanan atau minuman.
Sudah pukul dua siang, pekerjaan Anya rampung sudah. Pakaian yang dia cuci sudah selesai disetrika dan kini dia sedang mengantar ke kamar pemiliknya.
“Aku masuk kerja jam lima, masih bisa tidur sebentar. Aku tidur ah,” ucap Anya kepada dirinya.
Tubuhnya sedikit lelah, dia memilih istirahat dan mengatur waktu untuk bangun. Anya bekerja dari pukul lima hingga pukul satu dini hari, berada pada shift kedua. Shift ekstra tersedia dari pukul sebelas malam hingga pukul lima dini hari.
Alarm yang diatur pada ponsel Anya akhirnya berdering, wanita tersebut menggeliat, diam selama dua menit, lalu bangkit perlahan dan menuju kamar mandi dan memakai pakaian seragam sebagai petugas kebersihan.
Seorang wanita berusia tiga puluh lima tahun mengetuk kamar Anya, lalu mengajaknya untuk menuju tempat kerja dan lantai mana saja yang menjadi tanggung jawabnya kelak.
“Kamu jatahnya di lantai tiga. Area diskotik, oh, kamu kan cantik, masih muda. Hati-hati sama laki-laki yang pura-pura mabuk, kalo ada apa-apa lapor sama satpam yang dekat lift. Mami melindungi semua pekerjanya, laporkan kalo ada tamu yang jahat sama kamu,” ucap wanita yang bernama Hani.
“Siap, Mbak Hani. Saya kerja dulu,” sahut Anya dengan riang.
Anya mulai membersihkan toilet dengan serius, hingga dia terkejut saat mendengar seseorang mengunci pintu toilet.