“Seira, berapa kali Ibu bilang, jangan tanya soal itu lagi!” Suara keras ibunya bergema di dapur kecil mereka, membuat Seira mundur selangkah. Matanya nanar memandang punggung ibunya yang sibuk mencuci piring.
“Tapi, Bu, aku hanya ingin tahu. Kenapa sulit sekali untuk menceritakannya?” tanya Seira dengan suara lirih, hampir seperti bisikan.
Ibunya tidak menjawab. Tangan-tangannya yang gemetar berhenti sesaat sebelum kembali sibuk mencuci.
Seira menghela napas panjang. Sudah bertahun-tahun ia menyimpan pertanyaan yang sama, dan jawabannya selalu seperti ini, sebuah tembok tak tertembus.
Namun, ia tidak ingin menyerah. Dia berjanji suatu hari akan menemukan jawabannya sendiri.
===
Hujan baru saja reda, meninggalkan aroma tanah basah yang bercampur dengan dinginnya malam. Lampu jalan memantul di genangan air, menciptakan pendar cahaya yang mengiringi langkah Seira. Sepatu haknya yang mulai usang bersentuhan dengan aspal basah, menimbulkan bunyi yang hampir tenggelam oleh suara kendaraan yang melintas.
Seira baru saja selesai lembur di kantor, dengan mata lelah dan kepala penuh angka utang yang harus dilunasi. Namun, pikirannya hanya tertuju pada ibunya yang terbaring lemah di rumah sakit.
Di depan bangunan tua itu, dengan lampu neon bertuliskan “RS PELITA HUSADA”, ia berhenti sejenak. Tangannya meraih payung lipat di tasnya, menepuk-nepuk sisa air sebelum melipatnya rapi.
Lorong rumah sakit seperti labirin dingin, penuh aroma disinfektan yang menusuk hidung. Langkahnya otomatis mengarah ke bangsal di ujung, ruangan yang sudah menjadi “rumah” bagi ibunya juga dirinya selama dua tahun terakhir. Setiap sudutnya terasa akrab, tapi juga menyimpan luka yang tak pernah sembuh.
Pintu bangsal kelas tiga itu berderit pelan saat ia dorong. Udara pengap menyambut, bercampur dengan suara alat bantu pernapasan dan batuk pasien lain. Di dalam, ranjang-ranjang berderet tanpa privasi, hanya dipisahkan tirai putih yang sudah pudar warnanya. Di sudut ruangan, ibunya terbaring diam.
“Telat lagi, Mbak Seira.”
Suara itu datang dari penjaga ibunya, seorang wanita paruh baya dengan wajah keras dan tatapan penuh keluhan. Ia berdiri di samping ranjang, tangannya menyilangkan tubuh seolah siap berdebat.
Seira mencoba menenangkan diri sebelum menjawab. “Maaf, tadi hujan deras di jalan. Ada kerjaan tambahan juga.”
“Kerjaan tambahan apa? Kog hampir tiap hari,” balas wanita itu, tangannya mulai sibuk melipat selimut. “Saya juga punya keluarga di rumah, Mbak. Nggak bisa terus-terusan begini.”
Seira menarik napas panjang, membiarkan kata-kata itu menggantung di udara. “Saya tahu Mbak Neni sering keluar di jam kerja,” ujarnya tenang, tapi dengan tatapan yang langsung menusuk. “Tapi saya tetap bayar penuh, kan?”
Wanita itu terdiam, seperti tertampar oleh kenyataan. Tangannya yang semula sibuk kini berhenti, hanya menggenggam kain di ujung jari. “Ya udah,” gumamnya, nada suaranya melunak. “Saya pamit dulu, ya. Besok pagi saya datang lagi.”
Seira hanya mengangguk kecil, matanya beralih ke ibunya. Wanita paruh baya itu buru-buru meraih tasnya dan pergi, menyisakan keheningan yang berat.
“Ibu, ini Seira,” katanya lembut sambil mendekati ranjang. Ia duduk di kursi kecil di samping ibunya, menggenggam tangan kurus yang terasa dingin. “Tadi hujan deras, makanya Seira telat. Tapi sekarang Seira di sini. Semua baik-baik saja.”
Ibunya hanya terbaring diam. Tanpa respon. Wajahnya pucat, hampir tanpa warna. Selang transparan menempel di hidungnya, mengalirkan udara yang menjadi penghubung terakhir antara tubuhnya dan kehidupan. Dadanya naik turun pelan, nyaris tak terlihat, seakan bernapas adalah perjuangan tersendiri.
Hidup Seira sudah rumit lebih dulu tanpa diminta. Semuanya bermula dari hari itu, saat ibunya tiba-tiba jatuh di kamar mandi. Tidak ada tanda-tanda sebelumnya, tidak ada peringatan.
Seira membawanya ke rumah sakit dengan panik, dan para dokter mengatakan ada pendarahan di otak. Operasi darurat dilakukan malam itu juga, menyelamatkan nyawanya tapi meninggalkan tubuhnya dalam keadaan seperti sekarang.
Seira menjual semua yang ia bisa, bahkan meminjam uang dari rentenir untuk membayar operasi itu. Namun hingga kini, meski semua pengorbanan itu telah ia lakukan, ibunya tetap belum membuka matanya. Seira hanya bisa menunggu, berharap setiap hari bahwa ibunya akan kembali kepadanya.
**
Pagi itu, udara masih lembap oleh sisa hujan semalam. Jalanan basah, memantulkan cahaya lampu kendaraan yang membentuk kilau keperakan.
Seira berjalan cepat, sepatu haknya mengetuk trotoar dengan ritme terburu-buru. Sebuah map berisi laporan penting tergenggam erat di tangannya. Kantornya hanya berjarak beberapa blok dari rumah sakit, tempat ia menghabiskan malam-malam panjang menemani ibunya yang terbaring lemah.
Langkahnya terhenti sejenak di depan gedung kantor yang berdiri menjulang, kaca-kacanya memantulkan langit yang mendung. Ia menarik napas panjang sebelum melangkah masuk, berharap semoga rapat pagi itu belum dimulai.
Di lorong menuju ruang meeting, Seira berbelok tajam, terlalu sibuk dengan pikirannya hingga tak memperhatikan jalan.
Bruk!
Tubuhnya menghantam seseorang. Map di tangannya jatuh berserakan, sementara aroma kopi yang kuat menyeruak di udara. Ia mendongak, pandangannya bertemu dengan pria berjas rapi yang kini berdiri kaku dengan kopi tumpah di kemeja putihnya.
“Ya ampun!” Seira terkejut, refleks mundur selangkah.
“Maaf! Saya benar-benar tidak sengaja,” ujar Seira tergagap, buru-buru memungut mapnya yang berserakan di lantai.
Pria itu—Sena Arkadya, sosok yang wajahnya terpampang di berbagai berita korporat belakangan ini—mengangkat alis, matanya menatap kemejanya yang bernoda.
Pagi itu, Sena sedang mengamati kantor yang akan dipimpinnya, ditemani asisten pribadinya yang sibuk mencatat semua ucapannya.
“Tidak sengaja?” Sena mengangkat alis, memandang noda besar di bajunya. “Ini kopi panas, tahu?”
“Saya benar-benar minta maaf.” Seira menghela napas, lalu buru-buru membuka tasnya. Dia mengeluarkan tisu basah dan mencoba membersihkan noda itu. Tapi Sena mundur, membuat Seira berhenti.
“Itu tidak akan membantu,” kata Sena dingin, menatapnya tajam.
“Apa yang mau saya lakukan kalau begitu? Ini kan juga kesalahan Anda, tidak melihat jalan!” Seira akhirnya kehilangan kesabarannya.
Asisten Sena, yang merasa situasi semakin memanas, menyela. “Pak Sena, Anda ada waktu lima menit sebelum rapat. Kalau tidak segera berganti, Anda akan terlambat.”
Sena mendesah, matanya masih tak lepas dari Seira. “Baju ganti ada di mobil?”
“Tidak ada, Pak.”
Seira melihat jam tangannya. Ia sudah terlambat lima menit. Tapi rasa bersalahnya menguasai logikanya. “Di lantai dua ada pantry. Anda bisa membersihkan diri sementara saya ambilkan sesuatu dari ruang staf.”
Sena menatapnya dengan pandangan tidak percaya. “Anda tahu siapa saya?”
Seira, yang tidak tahu siapa pria ini, mengangkat bahu. “Seseorang yang perlu berganti baju.”
Tanpa berkata apa-apa lagi, Sena berjalan menuju pantry, diikuti asistennya.
Beberapa menit kemudian, Seira membawa kemeja putih bersih yang biasa disimpan di ruang staf. Sena berganti pakaian dengan enggan, memandang kain itu seperti sesuatu yang menyinggung harga dirinya.
“Terima kasih, tapi saya tidak biasa memakai pakaian orang lain,” katanya dingin.
“Kalau begitu, Anda bisa tetap memakai pakaian kotor itu,” balas Seira, suaranya penuh kesabaran yang menipis. “Pilihan ada di tangan Anda.”
Ketika Sena selesai berganti, Seira sudah pergi. Asisten Sena tersenyum kecil. “Sepertinya kita harus lebih mengenal staf di sini, Pak.”
“Siapa dia?” tanya Sena sambil memandang pintu yang sudah tertutup.
Asisten Sena mengangkat bahu. “Saya akan cari tahu nanti.”