Cinta di Balik Kontrak : Sebuah Perjanjian Hati (TAMAT)

BAB 2 : KEPUTUSAN YANG SULIT

Pria itu mengajak Elizabeth pergi ke sebuah hotel.

 

“Ke… kenapa kita malah ke sini?!” ucap Elizabeth kaget.

 

“Katanya mau cari uang, kan?” 

 

“Ja… jadi kamu mau nyewa aku?! Ku… kupikir…” 

 

“Apa?” 

 

“Aku pikir kamu…” 

 

Pria itu menyela, “Katanya butuh uang banyak. Sekarang malah banyak omong kayak gini. Kamu nggak tahu apa kalau saya ini kaya?! Saya ini pewaris tunggal ‘Wilson Group’. Jadi udah pasti aku kaya raya! Aku bakal bayar kamu ratusan juta!” 

 

“Se… serius?! Kamu nggak bohong, kan?!” 

 

“Hm. Lagian ini juga hotelku. Jadi kita bisa bersenang-senang di sini.” 

 

Elizabeth terdiam, bingung.

 

“Gak mau? Katanya mau uang. Ya udahlah kalau nggak mau. Aku bakal cari cewek lain! Lagian duitku banyak kok. Aku bisa dapetin cewek mana saja!” 

 

“Eh?! Ja… jangan! I… iya deh. Aku mau. Maaf..” 

 

‘Ya ampun. Apa yang kamu pikirin, El? Sekarang yang perlu kamu lakuin adalah dapetin uang yang banyak. Orang ini udah baik karena milih kamu. Jadi ayo lakuin aja. Gak ada waktu untuk mundur,’ pikir Elizabeth, berusaha menenangkan dirinya.

 

“Yaudah, ayo! Aku nggak suka bertele-tele!” 

 

“I… iya.” 

 

Pria itu langsung menarik Elizabeth, dan mereka berjalan menuju ke hotel. 

 

Saat tiba, suasana di dalam hotel terasa lebih mewah dan tenang. Elizabeth mengamati sekelilingnya, merasakan campur aduk antara ketegangan dan harapan. 

 

Lea, yang merasa khawatir, berusaha mencari Elizabeth. “Haah.. membuang-buang waktu saja. Sekarang sebaiknya aku kembali ke Eli. Kasihan dia. Dia pasti sedang ketakutan sekarang.”

 

Lea pun bergegas menuju ke tempat terakhirnya bertemu Elizabeth. Namun, saat ia tiba, semuanya terlihat sepi. “Eh?! Di mana Elizabeth?!” 

 

Sementara itu, di dalam hotel, pria itu melepaskan bajunya dengan percaya diri. 

 

(DEG) Elizabeth terkejut!

 

“Kenapa kaget? Badanku bagus kan? Aku ini masih muda. Masih 22 tahun.” 

 

“U… umur kita…” 

 

“Hah? Kau juga 22 tahun?!” 

 

“I… iya.” 

 

“Wow. Tapi kau kelihatan polos sekali. Sepertinya kau tidak pernah berhubungan dengan pria manapun ya? Kau pasti tidak pernah melihat ABS seperti ini kan?” 

 

Elizabeth mengangguk, merasa semakin gugup. 

 

“Huh. Sudah kuduga. Sekarang lihatlah ABS indahku ini. Semua wanita selalu berdecak kagum saat melihatnya!” 

 

Elizabeth menundukkan kepalanya, merasa tidak nyaman. Tiba-tiba, pria itu mencengkeram pipi Elizabeth. 

 

“Apa-apaan ini? Ini sebuah penghinaan!” 

 

(DEG) “A… apa? A… aku…” 

 

“Hei, dengar ya. Sebelumnya wanita yang mengejarku dan mereka lah yang menginginkanku. Tapi kau? Apa ini? Kau bahkan tidak memujiku dan tidak menatapku, sialan! Ini penghinaan!” 

 

Pria itu menghempaskan wajah Elizabeth, dan saat itu, Elizabeth merasa hatinya bergetar.

 

“Sekarang pergilah! Aku menyesal karena memilihmu! Aku ke sini untuk bersenang-senang, bukan malah badmood seperti ini! Aku benci wanita yang menghinaku seperti ini! Pergilah!” 

 

Elizabeth langsung berlari, memeluk pria itu dari belakang. “Tu… tunggu! Aku minta maaf. Tolong jangan usir aku. Aku benar-benar minta maaf.” 

 

Pria itu terkejut, dan Elizabeth merasakan gemuruh di dalam hatinya.

 

“Lepaskan aku!”

 

“Aku mohon maafkan aku. Aku akan bersujud!” 

 

Dengan penuh rasa penyesalan, Elizabeth langsung bersujud di bawah kaki pria itu. “Aku benar-benar minta maaf. Tolong maafkan aku. Malam ini aku akan memuaskanmu. Jadi tolong maafkan aku.” 

 

“Haah.. kalau kau mau minta maaf, berdiri di depanku dan tatap wajahku. Bukannya malah seperti ini.” 

 

“I… iya!” 

 

Elizabeth pun langsung menuruti perkataan pria itu dan berdiri di hadapan pria itu, merasakan tatapannya yang tajam. 

 

“Aku minta maaf. Aku sangat menyesal. Tolong maafkan aku dan kau bisa lakukan apa saja padaku.” 

 

“Kau sungguh menyesalinya?” 

 

“Sangat. Aku sadar kalau aku seharusnya tidak seperti itu. Tolong maafkan aku. Ini pertama kalinya untukku.” 

 

“Gak usah banyak alasan. Kalau kau sudah memilih jalan ini, maka lakukan dengan benar!” 

 

“I… iya. Aku minta maaf. Aku akan lakukan sebaik mungkin!” 

 

Pria itu pun langsung memeluk Elizabeth, dan Elizabeth merasakan kehangatan yang tak terduga. 

 

“Bagaimana rasanya?” 

 

“Hangat. A.. aku suka dipeluk. Kau benar-benar hangat.” 

 

Pria itu menyeringai, dan dalam sekejap, semuanya terasa semakin dekat. 

 

“Lalu tubuhku?” 

 

“Tubuhmu sangat indah. Aku gak pernah melihat tubuh seindah ini.” 

 

“Kalau begitu sentuh lah agar kau bisa merasakan bagaimana rasanya tubuh pria.” 

 

“I.. iya.” 

 

Elizabeth pun menurutinya, merasakan getaran yang baru dan aneh.

 

“Kau suka?” 

 

“Aku sangat menyukainya,” ucap Elizabeth, dengan perasaan campur aduk. 

 

‘Ternyata dia sama aja kayak cowok yang lain. Aku tadinya sempat berpikir positif bahwa dia pria yang baik. Tapi yang namanya datang ke bar, sudah pasti itu pria nakal. Gak mungkin dia baik. Aku salah karena terlalu polos,’ pikir Elizabeth, berusaha menenangkan diri.

 

“Sekarang duduklah di kasur.” 

 

“Ya.” 

 

‘Aku harus memuaskannya sekarang. Dengan ini, aku jadi bisa dapat uang. Ini semua demi ayah,’ pikir Elizabeth, berusaha menguatkan hatinya.

 

Elizabeth pun duduk di kasur, menunggu langkah selanjutnya. 

 

“Kau juga kemari lah,” ucap Elizabeth. 

 

“Wah wah sepertinya kau sudah mulai mengerti akan pekerjaanmu itu ya.” 

 

“Ya. Sekarang aku ingin melakukan pekerjaan ini dengan baik.” 

 

“Bagus. Itulah yang aku inginkan.” 

 

Pria itu pun mulai mendekati Elizabeth, dan Elizabeth merasa jantungnya berdegup kencang. 

 

‘Tenang Eli. Tenang,’ pikirnya, berusaha menenangkan diri.

 

Pria itu menyeringai, melihat ketegangan di wajah Elizabeth. 

 

“Rupanya kau masih takut.” 

 

“Ma… maaf. Tapi aku berusaha sebaik mungkin! Kau jangan khawatir,” ucap Elizabeth, berusaha menunjukkan keberanian. 

 

“Hm. Aku gak percaya. Sekarang diamlah di situ.” 

 

Pria itu pergi, dan Elizabeth merasa seolah waktu melambat. 

 

“Eh tu… tunggu! Tolong jangan marah.” 

 

“Sudah diam. Aku hanya ingin pesan minuman.” 

 

“Ah.. i.. iya.” 

 

Pria itu pun langsung menelepon seseorang. 

 

‘Kenapa dari tadi aku nggak bisa tenang? Ayolah Eli. Aku tahu ini bukan keinginanmu. Tapi kau harus tetap melakukannya. Tenanglah. Semuanya pasti akan berlalu dengan cepat,’ pikir Elizabeth, berusaha menenangkan diri.

 

“Hei, kemari lah!” 

 

“I… iya!” ucap Elizabeth, berusaha menunjukkan keberanian.

 

“Kau sangat cantik malam ini. Apa kau tahu itu?” 

 

“I… iya,” jawab Elizabeth, merasakan campur aduk di dalam hatinya.

 

“Hm.. aku terlalu banyak minum tadi. Kau lihat tidak?” 

 

“I… iya.” 

 

“Hm.. sekarang jawab pertanyaanku.” 

 

“I… iya. Tanyakan saja!”

 

“Apa kau perawan?” 

 

Pria itu menatap Elizabeth dengan tatapan serius, dan Elizabeth merasakan jantungnya berdegup kencang. 

 

“Kenapa kaget? Kau tidak perawan?” 

 

“A… aku… aku perawan.” 

 

Pria itu langsung terdiam, dan Elizabeth merasa semakin tertekan. 

 

“Ke… kenapa?” 

 

‘Hati-hati, Eli. Jangan sampai terjebak,’ pikirnya, merasa ada sesuatu yang tidak beres. 

 

“Huh. Hahaha.” 

 

Pria itu mulai tertawa, dan Elizabeth merasakan ketakutan yang tak terduga. 

 

“Ke… kenapa?” tanyanya, ketakutan.

 

Pria itu langsung menatap Elizabeth dengan intens, mendekatinya dan menghirup wanginya. 

 

“Hmm.. kau benar-benar masih segar.” 

 

“Ah…” Elizabeth terkejut, merasakan ketegangan yang semakin mendalam.

 

Pria itu menyeringai, dan Elizabeth tahu bahwa keputusan sulit ini baru saja dimulai. 

 

Bersambung…

Lates Chapters

BAB 30 : AKHIR DARI SEGALANYA (TAMAT)

'Mereka benar-benar mengubahku menjadi monster. Tapi mereka pantas mendapatkannya! Sekarang semuanya benar-benar sudah selesai. Aku tidak merasa bersalah. Ini bukan salahku!' - dalam hati Edward.…

BAB 29 : SKANDAL DAN BALAS DENDAM

Sejak saat itu, aku sering melihat tukang sapu jalanan. Ternyata, dia adalah ayah Elizabeth. Setelah mencari informasi lebih lanjut, aku mengetahui bahwa dia memiliki seorang…

BAB 28 : PERMAINAN PSIKOLOGIS

"Mm... mau kamu angkat?" tanya Elizabeth ragu.   'Dia kayaknya nggak bakal angkat deh. Soalnya Ethan kan... udah keterlaluan banget,' pikir Elizabeth dalam hati.  …

BAB 27 : KETEGANGAN YANG MENGHIMPIT

"Bodoh sekali! Wanita kampungan sepertimu ini memang akan selamanya jadi wanita kampungan! Kau benar-benar gak tau tempat ya! Kau itu tidak pantas memelukku. Kau itu…

BAB 26 : MENIKAH DIAM-DIAM

Edward langsung mendatangi Elizabeth.   "Lizzie."   "Hm? Kamu gak pulang? Kasihan lho nenek."   "Nenek menyuruhku untuk menjagamu."   "Ya ampun, padahal..."   "Sstt.…

BAB 25 : KEPUTUSAN PENTING

"Dia sengaja supaya aku lengah," ucap Edward.   "Hm, mungkin. Gak ngerti juga sih sama jalan pemikiran orang kayak gitu."   "Nah makanya."   "Hm.…

BAB 24 : KEBENARAN YANG TERUNGKAP

"Ada apa dengan tanda lahir kami?" tanya Edward serius.   "Begini, saat aku pertama kali bekerja jadi 'kupu-kupu malam', aku bertemu denganmu atau orang yang…

BAB 23 : KETERBUKAAN YANG DIPERLUKAN

"Semoga semua berjalan lancar," ucap Elizabeth.   "Pasti. Sekarang kita tinggal menunggu aja. Kau tenang ya. Aku akan selalu ada untukmu."   Edward memeluk Elizabeth…

BAB 22 : KETEGANGAN YANG TERSISA

"Ibu, plis..."   "Cukup, Rose! Kau harus istirahat dulu. Tolong sekali saja. Turuti perkataan ibu. Walaupun ibu ini wanita nakal, tapi ibu sangat menyayangimu. Ibu…

BAB 21 : PERJUANGAN CINTA YANG HILANG

"Ayahmu harus segera dioperasi," ucap Edward.   "Ya, kamu benar."   Wajah Elizabeth langsung berubah menjadi sedih.   "Hei, Lizzie."   "Ya?"   "Katakan saja…

BAB 20 : KEPUTUSAN YANG MENUNGGU

Edward, Elizabeth, dan Vio berada di taksi.   "Sebagai alternatif, kita tinggal di rumahku saja ya," ucap Elizabeth.   "Eh?" Edward terkejut.   "Itu lebih…

BAB 19 : PERTARUNGAN KELUARGA

FLASHBACK (ON)   "Setelah sekian lama akhirnya aku kembali lagi ke rumah biadab ini! Ck!"   Ethan kesal.   "Haah..."   Ethan langsung masuk ke…

BAB 18 : JEJAK MASA LALU

'Itu kan tanda lahir yang kulihat pada Edward! Tunggu dulu!' - dalam hati Elizabeth.   Elizabeth mulai berusaha mengingatnya.   FLASHBACK (ON)   "Minumlah. Setelah…

BAB 17 : BEBAN YANG TERSEMBUNYI

"Ya. Saat itu dia punya beban yang sangat berat. Dia harus jadi CEO muda di usianya yang masih 18 tahun. Dia menggantikan posisi ayahnya yang…

BAB 16 : KETEGANGAN YANG MENEGANGKAN

"Haah... aku harap aku gak bertemu dengannya lagi," ucap Vio.   "Aamiin."   "Hm. Nenek senang deh mendengar pernyataan cintamu tadi. Semoga dia langsung sadar…

BAB 15 : KETEGANGAN DAN KEPUTUSAN

Ruangan rapat yang tenang kini berubah menjadi ajang perdebatan. Edward memimpin pertemuan dengan wajah serius. Tim keuangan duduk di sekeliling meja.   "Kita harus mengembalikan…

BAB 14 : PERTARUNGAN KATA DAN KEBENARAN

Rose memutuskan untuk datang ke rumah Edward, berharap menemukannya di sana. Dia mengambil kunci mobil dan berangkat, hatinya berdebar-debar.   Saat tiba di rumah Edward,…

BAB 13 : KEKACAUAN DAN KEPUTUSAN

Beberapa menit kemudian...   Edward sudah siap dan bergegas pergi.    "Aku pergi ke kantor dulu ya," ucap Edward.   "Ah, sayang," panggil Elizabeth.  …

BAB 12 : KETEGANGAN DAN KEBERANIAN

Elizabeth menatapnya dengan empati. "Aku tidak bisa membayangkan betapa sulitnya itu."   "Aku merasa kehilangan arah. Tapi aku belajar untuk terus maju."    "Kau memang…

BAB 11 : HUJAN DAN HARAPAN

"Nenek benar-benar minta maaf karena gak bisa membantu kalian. Tapi dalam situasi seperti ini, kita harus tetap tenang. Pasti ada jalannya. Besok nenek akan mendatangi…
error: Content is protected !!