BADUM! BADUM! BADUM!
Suara berdenyut dari sebuah klub malam memenuhi telingaku. Namaku Elizabeth, dan aku baru berusia 22 tahun. Tak pernah terbayang sebelumnya bahwa aku akan berada di sini, mengambil langkah yang sedemikian berani. Aku akan menjadi… “kupu-kupu malam”.
“Haah… ini semua demi ayah,” bisikku dalam hati, menarik napas panjang untuk menenangkan diri.
“Eli, cepat keluar kalau kau sudah siap,” seru seorang wanita bernama Lea.
Dia lah yang membantuku untuk masuk ke dunia ini. Harus kuakui, aku benar-benar tidak tahu harus mencari uang di mana lagi.
“Haah…”
“Eli!”
“Ya. Aku keluar sekarang,” jawabku, berusaha meyakinkan diri.
‘Aku harus bisa,’ tekadku.
Dengan sekali tarik napas dalam, aku membuka pintu dan melangkah keluar.
“Wah wah. Kau kelihatan sexy sekali! Baju itu sangat cocok dengan wajah cantikmu. Memang tidak salah aku memilihnya!” puji Lea.
“Aku terpaksa. Apa ini bisa menghasilkan uang yang banyak? Aku benar-benar butuh secepatnya. Makanya aku memilih jalan ini.”
“Tenanglah, Eli. Semuanya akan baik-baik saja. Percaya padaku. Aku tidak mungkin menipumu. Lagipula jika pelayananmu bagus, maka akan ada banyak orang yang datang menyewamu. Lalu setelah itu? Kau akan punya uang yang banyak!”
“Dalam waktu singkat?”
“Hm. Kau benar-benar sangat butuh sekarang ya?”
“Sangat! Jika aku punya banyak waktu, aku pasti tidak akan menjadi “kupu-kupu malam”. Aku pasti akan mencari pekerjaan lain. Aku benar-benar butuh uang sekarang.”
“Oke, tenang. Kamu jangan nangis. Bisa bahaya nanti kalau makeup-mu luntur. Nanti gak ada yang mau.”
“Tapi mereka harus tertarik padaku supaya aku bisa dapat uang.”
“Iya, iya. Tenang. Aku bakal bantu kamu. Oke?”
“Hm.”
Elizabeth sedikit tenang.
“Aku akan cari pria yang kaya untukmu. Dan mungkin juga yang muda. Karena ini pertama kalinya buatmu, aku rasa kamu bakal takut kalau sama yang tua. Jadi, tenang aja. Aku bakal cari cowok yang cocok buatmu. Untuk hari ini, aku akan bantu kamu. Tapi setelah itu, kamu harus berusaha sendiri ya.”
“Hm. Makasih.”
“Ya. Tapi ngomong-ngomong.. kamu ini masih “perawan” kan?”
(DEG) … – Elizabeth
(Skip)
”Hah sialan!”
BUK!
Seorang pria memukul meja bar!
“Mm.. tuan. Maaf. Sepertinya tuan ada masalah. Bagaimana kalau tambah lagi birnya supaya perasaan tuan lebih tenang? Lalu setelah itu, saya akan kenalkan tuan pada wanita cantik agar tuan bisa merasa lebih tenang.”
“Ah diam kamu! Cepat isi gelasku! Yang penuh! Aku mau melahap semuanya!”
“Wah wah sepertinya tuan akan bersenang-senang di sini. Di sini juga ada kamar, lho, tuan.”
“Ck, bisa diam gak sih?! Cepat isi gelasku atau aku lempar gelasnya ke kepalamu!”
“Ah iya, iya, tuan. Tuan ini gak sabaran sekali ya.”
Bartender itu pun langsung menuangkan bir ke dalam gelas.
“Nah ini tuan. Nikmatilah. Setelah ini akan kukenalkan pada satu wanita cantik! Tuan sepertinya mencari yang perawan ya?”
Pria itu hanya diam dan langsung meminum birnya sampai habis!
GLEK GLEK
“AH…”
“Hm.. sepertinya sudah agak lebih tenang. Aku tambahkan lagi ya birnya. Setelah itu baru kukenalkan pada wanita.”
“Ya ya cepat. Banyak omong kau!”
“Hehe.”
(Skip)
“Ini dia tempatnya, Eli. Ada banyak sekali pria. Kau suka yang mana?”
“Aku tidak tahu. Aku masih merasa kurang nyaman.”
“Ya itu wajar sih.”
TRINGG
“Ah tunggu sebentar. Ada yang meneleponku. Kau coba lihat-lihat saja dulu. Sekarang kau harus terbiasa dengan semua ini, Eli. Karena merekalah yang akan membayarmu. Mereka yang akan memberimu uang. Jadi sudah tidak ada pilihan lain. Kau mengerti?”
“Ya.”
Elizabeth sedih.
“Hm. Maafkan aku. Aku angkat telepon ini dulu.”
“Ya.”
Lea pun pergi.
“Haah… aku harus bisa. Sudah tidak ada jalan lagi!”
Elizabeth mulai melihat sekitar.
‘Banyak sekali pria mesum di sini. Aku sangat takut. Tapi aku sudah tidak bisa kembali lagi. Jadi sekarang lebih baik aku mencari pria yang cocok!’ – dalam hati Elizabeth.
Elizabeth pun mulai melihat-lihat.
‘Aduh, aku harus pilih yang mana? Aku benar-benar tidak mau melakukan ini,’ dalam hati Elizabeth.
“Ukh, kepalaku…”
“Mau nambah lagi, tuan?”
“Sudah diam kau! Pergi sana! Aku juga akan pergi!”
“Oho. Sepertinya tuan ingin mencari wanita. Hm.. silahkan pergi, tuan. Carilah wanita yang tuan mau. Di sini ada banyak pilihan, dan sudah pasti di sini wanitanya cantik-cantik. Tempat kami ini sangat berkualitas, tuan.”
“Ck, diamlah atau kupukul kau dengan botol ini. Berisik sekali. Gak tahu orang sibuk apa?!”
“Hahaha. Sibuk memperhatikan gadis-gadis ya, tuan?”
“Diam gak!”
“Mmh. Sebaiknya aku tutup mulut!”
“Ck, menyebalkan!”
Pria itu pun pergi.
“Haha, dia pasti akan bersenang-senang! Lihat saja. Semua masalahnya pasti akan hilang setelah dia bertemu dengan wanita yang tepat!”
(Skip)
‘Aku benar-benar merasa tidak nyaman di sini. Pria-pria mesum ini mulai memperhatikanku. Apa sebaiknya aku mundur saja? Apa aku coba cara lain? Tapi apa? Apa yang bisa menghasilkan uang yang banyak dalam waktu singkat?! Aku benar-benar gak tahu harus apa. Ayah…’ – dalam hati Elizabeth.
“Wah wah sepertinya kamu mulus.”
Tiba-tiba ada pria mesum yang mendekati Elizabeth!
(DEG) “E.. enggak!”
Elizabeth langsung berlari pergi.
“Heh, tunggu! Malah pergi. Padahal tadi mau ngajak ‘main’.”
“Ah, udahlah sama aku aja,” ucap wanita penghibur.
“Oke. Kamu kelihatannya manis. Ayo sayang.”
“Hahaha. Ayo.”
Mereka pun pergi.
(Skip)
(DEG DEG) ‘Apa itu tadi? Aku benar-benar merinding dibuatnya!’ – dalam hati Elizabeth.
Elizabeth berlari tanpa memperhatikan jalan sampai-sampai…
BRUK!
Ia menabrak seseorang.
“AKH!”
Elizabeth terjatuh.
SRUK!
Seorang pria menangkap Elizabeth!
(DEG)
Mata mereka mulai saling bertatapan.
(DEG DEG) (GLEK) ‘Si.. siapa lagi ini? Dia bukan pria mesum kan?’ – dalam hati Elizabeth.
“Haah… menyebalkan!”
“Ma.. maaf. Aku gak sengaja!”
Elizabeth langsung berdiri dan pria itu hanya diam.
“Mm.. ma.. makasih karena udah nangkap aku.”
‘Kalau gak ada dia, aku pasti udah jatuh tadi,’ pikir Elizabeth.
“Ya ya.”
Pria itu mulai menatap Elizabeth.
…
Elizabeth langsung menundukkan kepalanya.
‘Apa ini? Kenapa dia tiba-tiba natap aku? Aku jadi gugup,’ dalam hati Elizabeth.
“Hei, sopan kah begitu?”
“Eh?”
“Kalau orang natap kamu, ya balas tatap dong. Bukannya malah lihat ke bawah. Saya ini ada di depan, bukan di bawah. Kamu pikir saya ini kecoa?!”
(DEG) “Ma.. maaf. Saya benar-benar minta maaf. Saya gugup banget. Sa.. saya takut.”
“Hah? Takut?”
“I.. iya. Saya baru pertama kali di sini. Saya belum terbiasa.”
“Kalau gitu ngapain datang ke sini? Kan bisa pergi jauh! Gak ada yang mau kamu juga!”
“Ah iya. Saya tahu. Saya emang gak menarik. Tapi saat ini saya lagi butuh banyak uang. Makanya saya terpaksa kerja jadi “kupu-kupu malam”. Tapi ternyata semuanya malah jadi kacau balau begini.”
“Oh. Yaudah ayo!”
Pria itu langsung menarik tangan Elizabeth!
“Eh?! Ma.. mau ke mana?!”
“Udah diam. Banyak omong! Orang-orang di sini mulutnya gak bisa diam apa ya?! Berisik banget! Bikin aku tambah stress! Padahal niatnya mau ngilangin beban!”
“Ah! Ma.. maaf!”
“Haha. Polos banget sih!”
Pria itu menyeringai
(DEG) … – Elizabeth terdiam.
Bersambung…