“Bodoh sekali! Wanita kampungan sepertimu ini memang akan selamanya jadi wanita kampungan! Kau benar-benar gak tau tempat ya! Kau itu tidak pantas memelukku. Kau itu pantasnya menjilat sepatuku! Serendah itu kau! Benar-benar tidak ada harganya!” Ucap Ethan.
(DEG) “Edward?! Bisa-bisanya kau bicara begitu! Kurang ajar!”
Rose hendak menyerang Ethan, namun Ethan langsung menahan kedua tangannya!
“LEPASKAN AKU! ARGHH!!”
Rose semakin mengamuk!
“Kau pikir kau siapa hah!”
Ethan langsung mendorong Rose dengan sangat kencang!
BUK!
Kepala Rose terbentur meja!
“Akh.”
SRUK!
Rose tak sadarkan diri.
“Huh. Mengganggu saja! Sekarang lebih baik aku pergi. Aku benar-benar sudah terlambat!” Ethan pergi.
… – Rose
Kembali ke Camelia…
(Menatap jendela hotel) “Haah.. kurasa hubungan mereka sudah membaik. Dia benar-benar gak menghubungiku lagi. Memang anak tidak tau diri!”
‘Tapi aku tidak menyangka Edward juga begitu. Ternyata dia mau semuanya. Dasar pria kotor! Sudah punya istri, tapi tetap tergoda dengan wanita lain! Memang brengsek!’ – dalam hati Camelia.
Tiba-tiba ada yang memeluk Camelia dari belakang.
“Masih memikirkan putrimu?” tanya supir taksi.
“Sudah tidak. Ayo kita bersenang-senang saja.”
“Oke.”
Mereka pun berciuman.
Kembali ke Ethan…
Ethan berjalan dengan percaya diri ke ruang rapat, disambut oleh beberapa eksekutif senior Wilson Group.
“Selamat, Ethan,” kata salah satu eksekutif. “Kami yakin Anda akan menjadi CEO yang hebat.”
Ethan tersenyum. “Terima kasih. Saya siap memimpin perusahaan ini ke tingkat yang lebih tinggi.”
Tiba-tiba, Pak Simmons, eksekutif senior, berbicara dengan nada serius.
“Tunggu, Ethan. Kami belum bisa menganggap Anda sebagai CEO secara resmi.”
Ethan terkejut. “Apa maksud Anda?”
Pak Simmons menjelaskan, “Edward masih pemilik sah Wilson Group dan belum resmi dipecat. Proses pengambilalihan perusahaan membutuhkan waktu dan prosedur hukum yang tepat.”
(DEG) ‘Sialan! Aku pikir hanya dengan mendepak Edward dari sini, aku akan berhasil jadi CEO! Tapi ternyata tidak! Ternyata harus menunggu lagi?!’ – dalam hati Ethan.
“Lalu sekarang aku harus bagaimana? Apa ini akan membutuhkan waktu yang sangat lama? Aku tidak bisa menunggu. Aku ini orang yang sangat sibuk!” ucap Ethan.
“Maaf Ethan. Tapi semuanya butuh proses!”
“Haah.. menyebalkan,” ucap Ethan pelan.
“Sekali lagi maaf. Anda belum bisa menjadi CEO.”
“Ya ya. Tidak perlu mengulanginya, Simmons! Aku sudah dengar kok. Aku masih punya telinga.”
…
“Sekarang lakukan saja yang terbaik. Aku sangat pusing memikirkan ini semua. Aku pergi.”
‘Ini ternyata tidak semudah yang aku kira!’ – dalam hati Ethan.
Ethan pergi.
“Kalian lihat? Dia bahkan tidak lebih baik dari tuan Edward!” ucap Simmons.
“Memang sih. Tapi…”
“Sudahlah! Menurutku sebaiknya kita berikan saja kesempatan kedua untuk tuan Edward. Dia sudah banyak berjasa untuk perusahaan ini. Bahkan dia juga sampai stress berat saat muda karena beban yang dia tanggung. Setelah perusahaan ini sukses, masa kalian ingin mendepaknya begitu saja?! Aku tau skandal itu sangat besar sampai-sampai membuat perusahaan terguncang. Tapi bukan berarti kita langsung menyerah begitu saja, apalagi sampai memberikan jabatan CEO pada tuan Ethan. Hanya karena dia kakak kembar tuan Edward, bukan berarti dia lebih baik. Mau bagaimanapun juga, di pandangan hukum, tetap tuan Edward lah yang berhak menerima ini semua!”
Semua orang langsung terdiam.
“Kita masih bisa membersihkan nama baik tuan Edward. Dan lagipula tuan Edward juga sudah melakukan yang terbaik. Dia sudah menikahi gadis itu. Mungkin saja dia dijebak. Siapa tau hubungannya dan Rose itu memang sudah lama putus. Lagipula sejak awal kan tuan Edward memang cuek pada Rose. Mungkin saja memang Rose yang selama ini memanfaatkan tuan Edward. Karena tuan Edward sendiri sama sekali gak kelihatan mencintai Rose. Dan soal mereka yang pergi ke hotel, itu benar-benar bukan urusan kita. Sejak awal skandal ini muncul, memang seharusnya kita gak ikut campur. Karena ini urusan pribadi tuan Edward. Dan aku rasa dia layak diberikan kesempatan kedua.”
“Ah iya benar juga.”
“Benar. Benar.”
“Hm.” Simmons tersenyum.
‘Sekarang kau bisa kembali, tuan Edward,’ dalam hati Simmons.
Kembali ke Ethan…
“Aku sudah melakukannya sejauh ini dan aku masih tidak mendapatkan apa yang aku mau?! Sialan! Kalau begini mah sama saja buang-buang waktu! Apa lagi lagi Edward yang akan menang?! Tidak tidak! Itu tidak boleh terjadi! Tapi sekarang aku harus bagaimana? Aku tidak bisa menunggu lagi. Ini adalah kesempatan yang benar-benar tepat untukku mengambil alih perusahaan. Mumpung Edward sedang sibuk mengurus gadis itu! Kalau Edward bertindak dan melawanku, maka bisa jadi aku akan kalah lagi! SIALAN!!!”
Ethan mengacak-acak rambutnya.
“Kenapa Edward yang selalu menang? Aku benar-benar kesal setiap kali memikirkannya! Dia itu.. harusnya dia gak lahir ke dunia ini! Dia benar-benar pengacau! Kenapa kami harus ditakdirkan menjadi saudara kembar sih? SIALAN!”
Ethan menendang batu!
“AKU BENCI KAU EDWARD!!!”
Kembali ke Edward…
Edward memeluk Elizabeth dari belakang dan mencium pundaknya.
“Aku mencintaimu,” ucap Edward.
“Wah ada apa ini? Tuan Edward kelihatannya semakin bucin padaku.”
“Hm. Memang!”
“Hahaha, manisnya.”
Elizabeth tersenyum.
TRINGGG
“Ah.. ada telepon,” ucap Elizabeth.
“Biarkan saja. Toh sekarang aku sudah gak bekerja kan? Sekarang kita nikmati saja waktu kita berdua. Sambil menunggu masa pemulihan ayahmu.”
“Hm.. memang sih. Tapi memangnya semudah itu ya mengusirmu dari perusahaan? Kau juga sepertinya langsung pasrah begitu saja. Apa kamu gak mau berusaha untuk kembali? Aku tau perusahaan itu sangat penting untukmu sayang. Kamu selalu mengatakan itu berulang kali padaku.”
“Apa kamu mau aku kembali ke perusahaan itu?”
“Kalau itu membuatmu bahagia, maka kembali saja. Kalau itu jatuh ke tangan Ethan, maka itu akan jadi sangat berbahaya. Apalagi perusahaan itu adalah peninggalan terakhir orang tuamu.”
… – Edward
“Kamu sudah lama diam. Ini waktunya untuk kembali bangkit. Aku akan selalu mendukungmu sayang.”
Elizabeth tersenyum sembari menggenggam tangan Edward.
“Kamu selalu tau cara menenangkanku.”
CUP♡
Edward mencium kening Elizabeth.
“Tentu saja. Aku kan istrimu,” Elizabeth tersenyum.
“Hm. Itu benar. Selamanya akan begitu.”
“Ya! Tapi sekarang bukan waktunya bermesraan. Aku ambilkan hpmu ya. Siapa tau itu telepon penting. Mungkin ada hubungannya dengan perusahaan? Siapa tau. Gak ada salahnya juga berharap.”
“Tapi kalau seandainya aku gak bisa kembali? Apa kamu bakal ninggalin aku?”
“Jangan berfikir begitu. Mau kamu susah sekalipun, aku akan selalu bersamamu. Aku gak sanggup kalau harus ninggalin kamu. Aku cinta banget sama kamu, Edward.”
“Segitu gak sanggupnya kah?”
“Ya. Aku akan mati kalau kamu gak ada.”
Edward tersenyum.
“Kamu emang selalu bisa bikin aku bahagia sayang,” ucap Edward.
Edward mengecup bibir Elizabeth.
“Tentu saja suamiku. Tapi sekarang hentikan. Jangan bermesraan terus!”
“Hahaha iya iya.”
“Hm. Tunggu sebentar.”
Elizabeth pergi mengambil hp Edward.
‘Dia memang benar-benar manis,’ dalam hati Edward.
“Ah ini dari…”
“Dari siapa?”
“Dari Ethan.”
Ekspresi Edward langsung berubah.
Bersambung…