“Sugandi? Si tua itu? Hahaha, dia sudah mati!!! Tapi apa yang aku dapat? Cuma apartemen kecil dengan toko. Cuih!! Itu barang-barang milikku, kenapa dijual? Aku tidak bisa memakainya lagi bukan? Apa yang harus aku lakukan? Dia sudah membuangku! Jadi aku tusuk saja dia di perut dan di dadanya!” teriak Bella dengan marah.
“Siapa yang kamu tusuk di perut dan di dada?” tanya lagi Heru.
“Kamu ingin tahu? Stt!! Kamu bukan polisi kan? Polisi brengsek! Dia tidak menolongku!! Mereka memperkosaku!!! Mereka memperkosaku!!! Heru! Heru! Tolong Tante! Suruh daddy menghajar mereka! Aku marah! Mereka memperlakukanku seperti seorang pelac*r murahan! Ini tidak sebanding dengan apa yang Sarah lakukan buat kamu bukan? Sarah mendapatkan warisan yang lebih banyak dariku padahal dia baru datang lebih beberapa bulan! Aku!! Aku!!! Sudah bertahun-tahun tinggal di rumah itu! Tapi kamu? Kamu!! Kenapa kamu mengusirku, Heru???” ucapnya dengan lirih. Sesekali Bella berteriak dan marah, namun tiba-tiba dia menangis hingga menjerit kesakitan. Para perawat berjaga-jaga agar Bella tidak melempar barang-barang yang ada didekatnya.
“Apakah yang kamu tusuk itu Haryadi? Suamimu?” tanya Heru.
“Haryadi? Haryadi si pemalas! Sudah kubuang di rel kereta api! Dia pantas mendapatkannya! Dia memerasku!! Hahaha!” Bella menjadi tak terkendali. Matanya nyalang dan mulai melempari barang-barang disekitarnya. Para perawat mulai memberikan suntikan penenang dan menyuruh Heru untuk keluar dari kamarnya.
“Suster bagaimana keadaan ibu Bella?” tanya Heru pada seorang perawat yang baru keluar dari kamar Bella.
“Beberapa minggu ini, kami sedang mengobservasi Bu Bella, sepertinya, dia mengalami apa yang namanya Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD), kondisi ini membuat seseorang sulit fokus, impulsive, dan hiperaktif. Terkadang, gangguan ini mempengaruhi aktivitas harian. Disaat bu Bella keadaan mood yang baik, dia menjadi ramah, tapi ketika seseorang menanyakan sesuatu hal yang pribadi, seperti pak Heru langsung bertanya tentang daddy, maka Bu Bella menjadi hiperaktif, bahkan jika ada hal yang membuatnya terancam, dia bisa menyerang dengan melemparkan barang-barang sekitarnya,” jelas perawat.
“Apakah ada kemungkinan dia berbuat seolah-olah dia terkena gangguan jiwa, karena terus terang, polisi menduga, bu Bella ini tersangkut 2 kasus, pembunuhan berencana ayah saya, dan pembunuhan suaminya sendiri. Agar terhindar dari jerat hukum, maka dia berbuat seolah-olah dia terkena gangguan jiwa.”
“Segala kemungkinan apapun bisa terjadi karena motif seseorang. Tapi bu Bella juga mengalami traumatik pelecehan terhadap dirinya hingga diperkosa. Itu yang menganggap bahwa semua orang menyerang dirinya karena telah membunuh orang lain, mengertikah maksud saya?”
“Apakah maksudnya dia menganggap bahwa kejahatannya yang dilakukan dibayar dengan pelecehan dan perkosaan terhadap dirinya?”
Perawat itu mengangguk, “Jadi sebaiknya, kita lihat saja dulu perkembangannya. Jika keadaannya lebih baik, anda bisa memanggil polisi untuk menginterogasi dia dan memprosesnya ke jalur hukum.”
“Baiklah, mungkin saya akan menjenguknya ketika saya ada waktu luang,” jawab Heru.
***
Kamis pagi, Heru dan Kalina sudah berada di pesawat tujuan Bali. Betapa senangnya Kalina perjalanan kali ini seperti bulan madu baginya. Pekerjaannya hampir sebagian diurus oleh event organizer. Dia hanya mendampingi Heru pada saat meeting saja, jadi dia punya banyak waktu luang untuk bisa memikat Heru.
“Her, gue senang banget hari ini bisa pergi sama lo,” ucap Kalina setelah lepas landas.
“Hm, jangan berpikir terlalu jauh, kita sudah tidak ada apa-apa lagi. Bersikaplah profesional. Karena jika tidak, gue bisa saja memecat lo,” kecam Heru.
“Apakah lo begitu sensitifnya sama gue? Biarpun gue begini, gue adalah mantan terlama buat lo, sebelum lo merid. Lihat lo sekarang, malah ditinggal istri lo sendiri, sedangkan gue? Gue tetap berada di samping lo walau lo usir gue,” bela Kalina.
Heru memikirkan perkataan Kalina. Dia tidak menyukai Kalina karena dari latar belakang keluarganya yang identik dengan permainan kotor dalam dunia bisnis. Ditambah, dia teringat obrolan dengan Michael, kalau Kalina pernah tidur dengan Michael. Heru menganggap, Kalina hanya gadis murahan dari keluarga kaya.
“Apa lo gak punya cowok lain selain gue? Lo itu cantik, Kalina, seksi, siapa cowok yang gak tertarik sama lo?”
“Ada! Lo gak tertarik sama gue, walau gue cantik, gue seksi. Coba gue mau tanya, apa sih yang bagus dari Sarah kutu buku itu? Sekarang, dia ninggalin Lo.”
Heru berpikir, “Yah, Sarah ninggalin gue disaat gue mulai jatuh cinta padanya. Orang sederhana, terkadang lucu, spontan, tapi apa yang menyebabkan dia pergi ninggalin gue? Apakah karena gue sudah melanggar janji?” gumam Heru.
“Sudahlah, gak usah lo pikirin! Lo pengen gue profesional kan? Tapi itu pada saat kerja! Diluar kerja, kita adalah teman. Okey? Gue ingin menikmati Bali! Sesampai di sana kita jalan-jalan sebentar sebelum para tamu undangan datang. Okey?” ajak Kalina.
Heru pun berniat untuk mencari Sarah, mungkin ketika berjalan-jalan, dia bisa menemukan Sarah, “Baiklah setelah sampai. Kita akan jalan-jalan,” jawab Heru.
Sejam lamanya, perjalanan dari Jakarta ke Bali. Dari nomor ponsel yang diterima oleh Heru, Heru menyuruh untuk melihat lokasinya, dan itu tidak terlalu jauh dari hotel tempatnya menginap.
Setelah tiba di hotel, Kalina dan Heru langsung check in. Kalina dan Heru dikamar bersebelahan. Hotel bintang lima yang tidak terlalu jauh dari bibir pantai, membuat Kalina segera mengganti pakaiannya dengan hotpants dan tank top.
“Her! Heru! Gue sudah siap!” ketuk Kalina pada pintu kamar Heru.
Heru membuka pintunya dan melihat Kalina, “Lo mau ke pantai atau mau jalan-jalan?”
“Kita jalan-jalan di pantai,” ucap Kalina tersenyum.
“Tapi gue mau jalan-jalan keluar hotel,” jawab Heru.
“Bukannya di hotel ini fasilitas sudah lengkap? Ngapain keluar hotel?”
“Aku mau mencari Sarah,” ucap Heru.
“Apa?!”
“Lo mau cari Sarah?” tanya Kalina kaget.
“Yah, dia ada di Bali disekitar hotel ini, kalau Lo keberatan, Lo bisa jalan-jalan di pantai–.”
“No! Gue bantu Lo cari Sarah, okey? Bukankah gue sudah bilang kalau kita adalah teman?”
“Okey,” jawab Heru bersiap.
Heru dan Kalina keluar hotel kemudian menyusuri jalan yang cukup ramai dengan wisatawan. Heru mengeluarkan ponselnya dan mencari berdasarkan GPS dari nomor milik Sarah.
“Sialan! Ternyata Heru ke Bali karena dia ingin mencari Sarah? Jadi selama ini, dia begadang membuat proyek adalah untuk bisa melihat Sarah dari dekat?” gumam Kalina dengan berang sambil mengepalkan tangannya.
Heru berjalan diikuti Kalina, tampak di depannya ada ruko yang menarik hatinya, dengan tulisan Tjokro Bakery dengan gambar yang sama pada lambang hotel The Tjokro. Sepertinya, lambang yang dipakai adalah lambang keluarga.
Heru tersenyum, ruko Tjokro Bakery bercat putih dengan lampu berwarna kuning pada bagian luarnya dengan dua meja bundar sebagai tempat makannya. Heru masuk ke dalam dimana jika pintu dibuka terdengar suara dentingan lonceng, “Selamat datang …,” Sarah menatap Heru yang ada dibalik pintu, tapi tiba-tiba saja Kalina menabrak Heru dan dirinya hampir terjatuh. Beruntung, Heru sigap menangkap Kalina, “Terima kasih, Sayang, maaf aku tersandung,” ucap Kalina yang memegang leher Heru.
Sarah yang mengetahui Heru bersama Kalina, segera menyingkir ke dalam. Dia tidak ingin bertemu dengan Heru, hatinya begitu berdetak dengan kencang, “Kenapa Heru dan Kalina ada disini?” gumamnya.