Bab: 3
Disaat dewasa, menjadi perempuan itu akan dihadapkan oleh dua pilihan yang sulit. menunggu dia yang datang, atau menerima pinangan yang lain. Sejatinya wanita itu hanya butuh kepastian!
_kakesa
Malam hari…
Tepat dipukul sepuluh malam, Kanza segera melaksanakan sholat insya, setelah itu ia melanjutkan dengan sholat istikharah dua rakaat tidak lupa ia berdoa dan memohon meminta petunjuk kepada sang Khaliq.
“Ilahi, ridhailah hamba dalam sebuah cinta yang suci, cinta yang dapat membawa hambamu ini menuju jannahmu ya Rab,, sekiranya ia yang terbaik bagiku, maka izinkanlah kami untuk bersama menuju ikatan suci untuk menyempurnakan separuh agama.”
“Namun jika ia bukan takdirku, hapuskanlah rasa cinta dan rindu yang amat menyiksa ini, dan berikanlah petunjuk untuk hambamu ini ya Rab,, sekiranya ia bukan jodohku maka tolong hadirkan seseorang yang engkau takdirkan bersamaku, ia yang mampu membuat rasa cintaku ini untuknya, untuk pasangan halalku.”
Selesai melaksanakan sholat istikharah dan berdo’a, Kanza langsung tertidur, berharap ia akan terbangun di waktu sepertiga malam untuk melaksanakan sholat tahajud.
Waktupun terus berjalan tanpa henti, sesuai dengan niatnya, Kanza akhirnya terbangun dari tidurnya, ia segera berwudhu dan melaksanakan sholat malam tahajud.
Setelah melaksanakan sholat malam, Kanza berdoa kembali, “Ya Rabb, kali ini aku berhenti mendo’akannya, aku berhenti menyebut namanya dalam do’aku seperti biasanya, aku berhenti memintanya kepadamu, karena aku sadar, terlalu memaksa juga tidak baik, semuanya aku serahkan kepadamu ya ilahi, atur saja sebaik mungkin takdirku, aku hanya bisa berusaha dan berdo’a.”
“Namun, jika memang dia tidak ditakdirkan dengan ku, aku mohon segera hapuskan rasa cinta yang amat menyiksa ini,” pinta Kanza dengan air mata yang bercucuran.
Do’anya begitu tulus, sepertinya Kanza sudah benar-benar pasrah akan masalah hatinya, jujur Kanza merasa tidak tahu harus bagaimana lagi, ia mencintai seseorang, namun keluarga dan orang sekitar memintanya untuk segera menikah dengan seseorang yang akan dijodohkan dengannya.
Namun seseorang yang dinanti-nanti dan ditunggu-tunggu olehnya tidak kunjung tiba, bahkan hanya sekedar kabar saja sudah tidak ada lagi, Kanza mulai bingung, haruskah ia menunggu dan menepati janjinya? atau haruskah ia menerima perjodohan tersebut? sedangkan usianya sudah sangat pantas untuk berumah tangga.
Ibunya Wati juga berpesan agar segera menikah selagi dirinya masih hidup, hal ini juga menjadi tekanan sendiri bagi Kanza, ternyata menjadi anak bungsu begitu melelahkan, harus kejar-kejaran usia dengan orangtuanya yang sudah berusia senja.
**
Keesokan harinya, kebetulan hari ini adalah hari Minggu, Kanza tidak mempunyai jadwal mengajar di pesantren maupun les privat mengaji, seperti biasa setelah membantu sang ibu dalam beraktivitas membersihkan rumah, dimulai dari memasak, menyapu, menyuci dan sebagainya.
Kali ini Kanza meraih laptopnya ia mulai menulis rangkaian cerita yang ia abadikan melalui tulisannya.
Namun ia melirik ke arah ponselnya dan melihat tanggal, bulan dan tahun sekarang, ia menghela nafasnya, tidak terasa tujuh tahun sudah berlalu begitu cepat.
Kanza tersenyum getir melihat tanggal, dan bulan yang telah dilingkari di kalender, hari yang dimana telah dinantikan olehnya, janji seseorang yang mampu membuat hatinya bahagia dan hangat, namun sayang sekali, sepertinya lelaki yang ia cintai, kali ini tidak menepati janjinya untuk membawa orang tuanya di tahun ini.
Air mata Kanza akhirnya menetes, “Kamu dimana sekarang? bahkan ayahku sudah tiada, tapi, kamu masih belum kunjung tiba bertamu kerumahku. Dulu aku begitu bangga memperkenalkanmu di keluargaku, mama, ayah dan juga anggota keluarga yang lain, aku juga menceritakan tentang kebaikan, kehebatan kamu sebagai seorang lelaki yang tidak aku temukan di lelaki lainnya.” ucap Kanza yang melihat beberapa kenangan yang selalu ia simpan, jaga dan rawat dengan baik.
“Perangaimu yang begitu santun, paham agama, aku dan keluargaku begitu salut dan bangga kepadamu, namun kenapa sekarang kamu menghilang tanpa kabar?” lirih Laura yang berbicara sendiri dengan kegetiran menyelimuti hatinya.
Laura menutup laptopnya kembali, “haruskah cerita ini sudah usai dan berakhir begitu saja?” lirihnya menatap pulpen berwana pink pemberian Fatih di masa sekolah.
Kanza menarik nafasnya dalam-dalam, “satu bulan! satu bulan lagi aku menunggu kabar mu, jika masih sama, maka aku akan memutuskan untuk membuka hati kepada lelaki lain, meskipun aku tidak tahu, apakah hati ini akan sanggup mencintai lelaki lain sehebat aku mencintai kamu,” ucapnya semakin terisak.
“Saat aku memutuskan untuk memilih dan mencintaimu saat itu, maka cintaku telah habis di kamu, meskipun aku tahu tidak boleh mencintai seseorang terlalu dalam sebelum mempunyai ikatan yang halal, namun hati ini tidak bisa berbohong, semenjak aku mengenal dan mencintaimu, semenjak itu juga aku tidak tertarik dengan lelaki manapun, walupun hanya sekedar meliriknya saja,” ucapnya sambil memeluk barang-barang yang pernah Fatih beri sebagai hadiah ulang tahun Kanza waktu itu.
Tanpa sadar, ternyata ada seseorang yang menguping di balik pintu, siapa lagi jika bukan Wati sang ibu, Wati menatap putri bungsunya dengan prihatin, ia merasa miris melihat putrinya yang begitu mencintai seseorang, meskipun Wati begitu menyayangi Fatih. Ya! namanya Shaikh Fatih Rayyan, lelaki yang amat dicintai oleh putri bungsunya Nadhira Kanza Aulia.
“Apakah aku terlalu egois memaksa putriku untuk segera menikah?” batin Wati ikut merasakan kesedihan.
Wati segera berlalu dengan air mata yang tidak dapat dibendungi lagi, Nabila yang melihat sang ibu tampak tidak baik-baik saja, ia segera menghampiri sang ibu.
“Bu, ibu kenapa?” tanya Nabila tampak khawatir.
Wati tidak menjawab, ia duduk di kursi sofa, sambil menghapus air matanya, “Ibu hanya sedih melihat kondisi adik kamu Kanza yang terus menanti kepulangan Fatih yang tanpa kabar,” ucap Wati dengan sendu.
“Sejujurnya ibu tidak ingin melihat kesedihan yang mendalam dari adikmu, sudah cukup enam tahun yang lalu ia menderita dan terluka setelah kehilangan ayah, kehilangan cita-citanya yang ingin menempuh pendidikan sarjana setelah usai kuliah, namun ia juga hampir kehilangan dirinya setelah menderita penyakit yang sulit untuk disembuhkan, juga sempat kehilangan cinta Fatih saat itu,” ucap wati yang mengingat kembali kejadian lalu yang sempat menjadi saksi penderitaan Kanza.
Nabila ikut meneteskan air matanya, sejujurnya ia masih tidak menyangka jika Kanza mampu melewati ujian yang bertubi-tubi disaat itu, bahkan disaat dokter memvonis jika penyakit Kanza sulit untuk disembuhkan karena penyakit non medis, yang hampir merenggut nyawanya. Maha besar Allah, tidak ada yang tidak mungkin bagi Allah jika sudah berkehendak, akhirnya Kanza bisa sembuh kembali atas izin Allah.
Kanza sempat kehilangan cintanya, ketika ada seseorang yang datang kerumah dan melamar Kanza saat ia baru lulus dari SMA, namun Kanza menolak pinangan tersebut karena ia ingin melanjutkan komitmen dengan Fatih. Saat itu Fatih yang mengetahui jika Kanza sudah dilamar oleh orang lain, Fatih memutuskan hubungannya dengan Kanza, ia merasa kecewa dengan dirinya yang tidak bisa melamar Kanza secepat itu, karena Fatih baru satu tahun tamat dari SMA yang kala itu menempuh pendidikannya di pesantren.
“Bu, biarlah Kanza memikirkan semuanya dengan matang, kita akan memberinya waktu untuk dia berpikir kembali dengan baik-baik, agar tidak ada penyesalan di kemudian hari nanti,” ucap Nabila dengan mantap.
“sepertinya itu solusi yang tepat!” ucap Wati mantap.