Bab: 10
Jadilah perempuan tangguh yang ketika dikecewakan sedihnya tidak terlalu lama berlarut, yang ketika terluka maka percaya Allah telah menyiapkan obatnya. yang ketika putus asa tidak butuh waktu lama untuk bangkit. Jatuh itu pasti, namun bangkit adalah sebuah pilihan. Harapan itu selalu ada, maka jemputlah. ~kakesa
Hari-hari telah berlalu, kini waktu yang direncanakan oleh Wati dan kedua orangtua lelaki itu sudah tiba, Hari ini pak Agus dan istrinya akan membawa Amar sang putra untuk menemui Kanza dirumah orang tuanya, Wati.
Wajah Kanza tampak lebih cerah dari pada biasanya, mungkin efek mencoba mengikhlaskan sudah dilalui secara perlahan, meskipun tidak sepenuhnya, Kanza sudah pasrah akan takdirnya.
“Ya Allah, atur saja apa yang terbaik menurutmu, karena aku tahu engkau maha mengetahui segalanya, sedangkan aku tidak,” batin Kanza yang kini akan dipertemukan dengan seorang lelaki yang akan di jodohkan dengannya.
Wati, dan yang lainnya sangat antusias menunggu kehadiran keluarga pak Agus, tidak lama kemudian mereka telah tiba, langsung saja Wati menyambutnya dan mempersilahkan keluarga pak Agus untuk melangkah masuk kedalam kerumah.
“Kanza, mereka telah tiba,” ucap Zeana.
Namun ekspresi Kanza seperti biasa, tidak ada yang berarti, karena dia sudah pasrah kali ini, meskipun dihatinya sedikit berat untuk menerima apa yang sedang dijalaninya.
“Iya kak,” ucap Kanza.
“Lah, kok kamu gak kelihatan senang sih Kanza? seharusnya kamu senang dong, tuh mereka dari keluarga kaya,” ucap Zeana sang kakak.
Kanza menatap dalam kakaknya ini, sorot mata Kanza tidak bisa berbohong, ada kesedihan yang terpancar disana, “Kak, aku tidak pernah mengincar kekayaan seseorang, karena kekayaan itu hanya titipan Allah, bahkan diberikan kecukupan saja aku sudah bersyukur sekali!” ucap Kanza.
“Dan kakak sendiri tahu, bagaimana sulitnya aku membuka hati untuk orang lain, namun aku sedang berusaha, jika aku mengejar pria tampan dan mapan, maka lamaran sebelumnya sudah aku terima, aku hanya mencari kenyamanan hati! pernikahan berlaku seumur hidup, seumur hidup itu terlalu lama jika kita salah dalam memilih pasangan.”
“Iya deh si paling benar.”
Kanza menghembuskan nafasnya, dan menggeleng pelan melihat sang kakak yang ketus seolah tidak ingin mengerti dan menyepelekan perihal hatinya.
“Kakak berbicara seperti itu, karena kakak tidak pernah merasakannya,” lirih Kanza.
“Kanza! jaga tutur katamu! aku tidak suka kamu berkata seperti itu! perkataanmu sama saja, mendo’akan hal yang tidak baik untuk ku,” ucap Zeana tampak emosi.
“Aku tidak mendo’akan kakak, aku hanya berkata untuk lebih memahami, sudahlah kak, jangan dibesarkan masalah ini, aku lelah,” ucap Kanza tampak lesu.
Samar-samar Wati mendengar seperti ada keributan di kamar sang putri, segera saja Wati menghampirinya.
“Ada apa ini? apa kalian tidak malu ribut dan bertengkar terus seperti ini hah? sementara dirumah kita sedang ada tamu!” bentak Wati yang memelankan suaranya namun penuh penekanan.
“Hanya salah paham Bu,” jawab Kanza yang tidak ingin hal sepele dibesarkan hanya karena Zeana salah menanggapi.
“Ini loh bu, Kanza mendo’akan ku agar merasakan apa yang dia rasakan,” adu Zeana.
“Kak Zeana, aku tidak mengatakan seperti itu, aku hanya berkata—”
PLAK!
“CUKUP KANZA!” bentak Wati.
“Kenapa? kenapa hah? kamu merasa tidak puas apa yang sedang terjadi dengan kamu? sehingga kamu merasa iri dengan Zeana? agar kakak kamu merasakan apa yang seharusnya kamu rasakan saat ini juga? jahat sekali kamu Kanza! hanya wajah mu saja yang kelihatan polos tapi hati kamu busuk! bahkan semua orang tertipu dengan wajah polos mu bak seorang ustazah!”
“Malu Kanza! malu dengan ilmu mu! percuma kamu mencari ilmu ke pesantren dan menjadi seorang guru agama, jika kelakuanmu seperti ini! kamu benar-benar mengecewakan ibu Kanza!” murka wati.
Jleb!
Kata-kata sang ibu seperti belati yang menikam ulu hatinya, terasa sangat menyakitkan, bahkan tenggorakan Kanza terasa tercekat untuk mengatakan sesuatu, bibirnya seakan bungkam namun air matanya yang mengalir bercucuran, sang ibu langsung menghakiminya tanpa mendengarkan penjelasannya terlebih dahulu.
Selalu seperti itu, Wati akan mendengar apapun kata Zeana, padahal Zeana suka memprovokasi, bahkan hal-hal yang kecil akan menjadi besar hanya karena ulahnya yang sangat gemar menjelekkan Kanza dihadapan Wati sang ibu.
“Dramatis sekali kamu Kanza! sedikit-sedikit air mata, seolah kamu orang yang paling tersakiti!” ujar Zeana.
“Sudah! Kanza, hapus air mata kamu! kita akan keluar sebentar lagi, kamu selalu bikin onar dan ulah disaat seperti ini!”
“Bu..” ucap Kanza dengan suara tercekat.
“Apa lagi hah? belum puas kamu menangis?” tanya Wati tampak kesal dengan Kanza.
“Kenapa bu? kenapa ibu selalu memarahi kanza? kenapa ibu tidak pernah mendengar penjelasan kanza terlebih dahulu? kenapa hanya kak Zeana yang ibu dengarkan saja? Kanza lelah Bu.. Kanza lelah ibu perlakuan seperti ini terus.”
“Selama ini Kanza diam, bukan berarti Kanza membenarkan apa tuduhan kak Zeana maupun hal sepele yang selalu dibesarkan, tapi Kanza tidak ingin memperbesarkan sesuatu yang tidak penting.”
“Kenapa ibu memperlakukan Kanza seperti bukan anak ibu? kenapa hanya Kanza merasa seperti orang asing di keluarga ini? Kanza sedang meyakinkan diri atas keputusan yang ibu buat secara dadakan, hati Kanza masih rapuh Bu, seharusnya ibu selalu ada untuk Kanza dan merangkul Kanza di saat Kanza tidak tahu harus bagaimana menghadapi kondisi hati yang terlalu berantakan,” ujar Kanza dengan suara yang tertahan.
“Tapi ibu seakan-akan ikut menyudutkan Kanza atas perihal yang kecil. Wallahi Bu, hati Kanza benar-benar sakit atas perilaku kalian kepada Kanza! mungkin secara fisik Kanza terlihat baik-baik saja, namun batin dan mental Kanza siapa yang tahu? luka fisik tidak seberapa ketimbang luka batin.”
“Ibu tidak pernah tahu, betapa sulitnya Kanza menjaga diri Kanza agar tetap waras berada ditengah-tengah lingkungan toxic seperti ini, ibu tidak tahu bagaimana mental Kanza dalam menghadapi semua ini, menghadapi ketakutan yang mendadak muncul, tekanan dan luka yang ditorehkan oleh keluarga sendiri secara perlahan, sekaligus kehilangan orang yang Kanza cintai.”
“CUKUP KANZA! ibu tidak ingin mendengar ocehan kamu yang berlagak seperti sinetron yang selalu merasa tersakiti, cepat ikut ibu ke ruang tamu!” sentak Wati yang memegang pergelangan tangan Kanza dan membawanya ke ruang tamu.
“Ya Allah, kuatkan aku dalam menghadapi cobaan ini, tolong kuatkan aku disaat aku ingin menyerah dengan jalan hidupku, Aku tahu bahwa semua atas kendalimu, maka tolong beri aku keikhlasan dan kesabaran yang luas jika takdirku tak seperti apa yang aku mau,” batin Kanza.
“Masya Allah, cantiknya calon menantu saya,” ucap Rina istri pak Agus.
Kanza tersadar dari lamunannya yang begitu sedih, ia tersenyum anggun kepada Rina, pak Agus, dan Amar yang hanya meliriknya sekilas.
Rina menyikut lengan sang putra, “Cantik tuh, kalem dan anggun, bahkan pacar kamu itu kalah loh dengan pesona ustazah satu ini,” bisik Rina samar-samar masih terdengar di Indera pendengaran Kanza.
“Maaf jika terkesan kurang sopan, bolehkah aku mengajaknya untuk berbicara empat mata?” ucap Amar yang membuka suaranya.
Mereka saling melirik satu sama lain, “Dia, maksudku Kanza, boleh mengajak satu orang untuk menjadi saksi, agar tidak menimbulkan fitnah diantara pembicaraan kami berdua,” ucap Amar.
“Baiklah,” ucap Kanza yang menyetujui permintaan Amar.