Ternyata berkuda itu sangat menyenangkan. Jika aku tidak terjebak di masa ini, mungkinkah aku mampu menunggang seekor kuda dengan berani?
*
*
Ah, Elaine tidak mau terlalu pusing soal bunga itu. Mungkin saja itu salah satu pelayan yang membersihkan rumah. Elaine senang saja melihat bung aitu menghiasi kamarnya. Bahkan ketika dalam beberapa hari bunga itu mulai layu, sepulang dari bekerja, Elaine mendapati bunga diganti dengan yang baru dan segar.
“Aku suka sekali. Kalau saja aku bisa langsung memetiknya sendiri. Mungkin Kerry mau menemaniku mencari bunga di padang,” ucap Elaine.
Elaine meninggalkan kamar dan menuju ke kamar sebelah, Kerry ada di sana. Dengan cepat Elaine mengutarakan maksudnya.
“Tentu saja bisa, Elaine. Besok aku dan Tommy akan berkuda di padang. Jadi sekalian bisa mencari bunga di sana,” jawab Kerry.
Apa yang Elaine dengar ini? Ini seperti sebuah kejutan luar biasa. Dia baru mengutarakan keinginannya, ternyata Kerry dan Tommy sudah punya rencana lebih dulu.
“Tommy sebenarnya mau beri kamu kejutan. Besok pagi, dia akan tiba-tiba mengajak kita pergi bersama.” Kerry dengan ceplas-ceplos mengatakannya.
“Aihh!! Kenapa kamu beritahu Elaine? Ini tidak lagi kejutan!” Tiba-tiba saja Tommy muncul dan mendekati keduanya.
“Hahaha!” Kedua gadis itu pun tergelak.
Tommy berkacak pinggang, menatap adiknya dengan wajah kesal. “Kenapa kamu tidak bisa menahan mulutmu sedikit saja?”
”So sorry, Tommy.” Kerry memasang wajah melas. “Aku terlalu senang. Aku tidak sabar mau bilang Elaine.”
”It is okay. Tetap surprise buat aku, Tommy.” Elaine meredakan rasa kesal Tommy pada adiknya.
”Baiklah. Bersiaplah buat besok. Kita akan melakukan petualangan seru.” Tommy sedikit lebih lega.
Pagi tiba. Elaine merasa sangat bersemangat menyambut hari itu. Dia sudah membayangkan serunya perjalanan mereka ke padang yang luas. Ketika Elaine ke teras rumah, di halaman tampak Dale dengan kuda putih kesayangannya melintas.
Elaine menatap pada pria tampan yang mempesona itu. Gagah, berkarisma, dan tampak sudah dewasa. Elaine tidak bisa sedikitpun mengurangi kekagumannya pada Dale.
”Kalau saja kamu juga ikut, Dale.” Itu yang terdengar di hati Elaine. Tentu saja Elaine tidak mampu meminta Dale pergi bersama mereka.
”Dale! Come with us!” Kerry muncul di belakang Elaine. Suaranya keras meneriaki kakaknya.
Dale menghentikan langkah kudanya dan menghadap ke arah dua gadis itu.
”Ke padang? Urusanku masih banyak. Aku harus-“
”Please! Sekali ini saja. Kita lama tidak berkuda di padang!” Kerry membujuk.
”Please, ikutlah, ayo, Dale!” Elaine ikut berteriak, tapi hanya di hatinya. Tidak bisa dia tutupi, Elaine sangat ingin bisa pergi dengan Dale juga.
Dale menatap dua gadis itu dengan pandangan seperti tengah berpikir. Dia tidak yakin akan ikut atau melanjutkan urusannya hari itu.
”Elaine,” panggil Kerry seraya menepuk bahu Elaine. “Kalau Dale ikut kamu tidak masalah, kan?”
Elaine terkejut Kerry bertanya begitu. Elaine dengan cepat menggeleng.
”Tidak. Kurasa Tommy juga tidak,” sahut Elaine. Mengatakan itu, degupan kuat melanda hati Elaine. Ah, kalau saja benar, Dale pergi dengan mereka pasti menyenangkan sekali.
”Hey, Ladies! You are waiting for me, huh?!” Tommy muncul dari belakang Kerry dan Elaine. Tangan Tommy memeluk bahu keduanya kiri dan kanan.
”Yup! Dan Dale akan ikut dengan kita,” ujar Kerry girang. Dia sengaja mengatakan itu agar Dale tidak menolak untuk pergi.
”Really?” Senyum lebar Tommy terurai mendengar itu. Dia mengarahkan pandangan pada kakak tirinya.
”Why not?” ucap Dale. “Pekerjaan hari ini masih bisa aku tunda.”
”Great! Let’s go!!” Kerry bersorak girang.
Akhirnya, berempat mereka menuju ke padang. Kerry berkuda bersama Dale dan Tommy dengan Elaine. Kerry memang sudah mulai bagus mengendarai kuda, tetapi belum di area yang lebih jauh dari sekitar rumah. Ini kesempatan gadis itu belajar juga membuat dirinya makin mahir.
Hampir setengah jam mereka berkuda akhirnya Tommy dan Dale menghentikan tunggangan mereka. Di padang luas itu ada sebuah pondok di dekat pohon tamariska yang cukup besar. Sungguh tempat yang pas buat menghabiskan waktu entah berlatih berkuda, sekadar duduk menikmati alam yang indah, atau juga mencari bunga liar di padang.
”Boleh aku berkuda?” pinta Kerry. Dia memandang pada Tommy dan Dale bergantian.
”Tentu, tapi jangan terlalu jauh,” jawab Dale.
”Okey, don’t worry,” sahut Kerry riang.
Dale membiarkan Kerry membawa kuda putih kesayangannya.
”Kerry hebat, masih muda sudah bisa berkuda dengan berani,” puji Elaine seraya menatap kuda putih itu makin menjauh membawa Kerry.
”Kamu tidak ingin berkuda?” Tommy maju beberapa langkah mendekati Elaine.
”Aku? Berkuda?” Elaine kaget dengan pertanyaan itu.
”Kamu tidak ingin bisa berkuda sendiri?” Lagi Tommy bertanya.
”Eh, tidak terpikir sebenarnya. Tapi ….”
”Kalau kamu mau, aku akan mengajari kamu.” Tommy menawarkan diri menjadi pelatih Elaine.
”Sungguh?” Elaine melebarkan matanya. Tidak percaya rasanya, Tommy ingin mengajari dia berkuda.
”Sure.” Tommy menyahut tegas. ”So?”
”Oke, aku mau mencobanya.” Elaine setuju. Tetapi detak jantungnya melaju.
Ini akan jadi sebuah pengalaman luar biasa. Berkuda? Ah, seperti benar-benar dalam sebuah film koboi!
Dengan sabar dan sederhana Tommy mulai menjelaskan tentang bagaimana berkuda. Sambil dia memberi contoh. Bahkan Tommy mengulangi dua kali sebelum kemudian Elaine mulai naik ke punggung kuda coklat berpadu putih itu.
Dale memandang dari jauh dengan tatapan dingin. Dia melipat kedua tangan di dada, menatap tanpa kedip, dan tidak bicara apapun.
Perlahan, kuda yang Elaine tunggangi bergerak. Elaine sangat gugup. Tapi sebisa mungkin dia berusaha tenang. Tommy terus di samping kuda yang berjalan perlahan.
”Bagus, Elaine! Kamu murid yang cerdas!” seru Tommy senang.
”Aku tegang sekali. Ini, ini, aku hampir tidak percaya aku menunggang kuda sendiri.” Elaine balas berseru antara senang dan gugup.
Elaine terus fokus pada setiap arahan dan aba-aba Tommy. Dia tidak mau membuat kesalahan atau dia bis saja terlempar dari kuda itu. Sampai kira-kira jarak dua atau tiga ratus meter, Tommy membawa kuda itu berbalik arah, menuju kembali ke dekat pondok tempat mereka datang.
Dari arah belakang terdengar teriakan Kerry dan derap kuda yang berlari cukup kencang. Elaine mulai panik. Yang dia pikir bisa saja Kerry menyerempet kuda yang Elaine tunggangi.
”Tommy, what should I do?!” teriak Elaine.
”Hey, Elaine! Kamu berkuda?!” Kerry berteriak lagi dan suaranya makin dekat.
Elaine semakin panik. “Tommy!”
Segera Tommy memegang tali kekang dan memberi tanda agar kuda itu berhenti. Begitu kuda berhenti Elaine memegang lengan Tommy dan melompat turun. Dia sedikit gemetar. Tommy memeluk Elaine, memastikan gadis itu baik-baik saja.
”It is okay. Tidak perlu takut,” ucap Tommy. Tommy mencermati wajah Elaine. Dia juga mau Elaine tahu, kalau Tommy pasti akan menjaganya.
”Oke, oke. Aku tidak apa-apa.” Elaine menarik napas dalam, lalu berusaha kembali menetralkan detak jantungnya.
Sementara Kerry sudah menambatkan kuda di depan pondok itu dan berjalan ke arah Tommy dan Elaine.
”Kalian lihat Dale?” Kerry bertanya.
”Tidak. Aku mengajari Elaine berkuda. Tadi dia di situ.” Tommy menunjuk ke arah pondok.
”Apa dia di dalam?” Kerry berbalik lagi dan berlari kecil menuju ke pondok.
”Apa Dale tidak suka ke sini?” tanya Elaine pada Tommy. Benar juga, pria itu tiba-tiba lenyap. Mungkin saja dia memang terpaksa ikut bersama mereka ke padang.
”Dia suka alam. Hanya dia lebih suka pergi sendiri. Sejak dia kehilangan … Ah, sudahlah,” ujar Tommy. Dia tidak mau meneruskan ucapannya.
Elaine langsung menangkap arah pembicaraan Tommy. Elaine ingat kisah cinta menyedihkan yang Dale alami.
”Kamu tahu, Elaine, aku sangat mengagumi kamu,” ucap Tommy seraya menghentikan langkah mereka.
”Apa?” Elaine menoleh dan menatap Tommy. Dia cukup terkejut mendengar kalimat itu.