~Kita hidup di antara pertemuan yang terlambat dan perpisahan yang terlalu cepat.~
—
Aku tak tahu apakah kamu juga mengingat meja itu.
Bukan meja makan besar yang biasa kita pakai saat semua masih utuh. Bukan yang di ruang utama yang punya empat kursi dan satu taplak abu-abu yang warnanya sudah mulai pudar di sudut-sudutnya.
Tetapi meja kecil di pojok dapur, dekat jendela, di mana suara hujan dan suara detak jam dapur bisa terdengar bersahut-sahutan saat kita duduk berdua, tak banyak bicara, hanya menyeruput teh dan pura-pura tidak saling membaca pikiran masing-masing.
Tempat kita duduk berdua dalam diam, malam itu. Aku ingat kita duduk berseberangan, tetapi terasa seperti dua dunia yang terpisah jauh.
Tersisa hanya dua sendok, satu gelas yang tak sempat kamu kembalikan ke rak, dan sepotong percakapan yang tak pernah selesai aku jawab.
Entah mengapa, meski air mataku tak jatuh malam itu, aku merasa seluruh tubuhku sedang berkabung untuk hal-hal yang belum sempat terjadi.
Entah bagaimana, meja itu menyimpan seluruh sisa kita. Dan sejak kamu pergi, aku tak pernah duduk di sana lagi.
Kamu tahu, aku selalu percaya bahwa perpisahan sejati tak pernah terjadi di terminal atau stasiun. Perpisahan hadir di tengah percakapan yang mendadak berhenti. Di jeda kecil saat seseorang mulai merasa tak perlu lagi menjawab. Di keheningan yang terlalu sopan, terlalu santun untuk disebut luka.
Hari itu kamu bicara dengan nada biasa. Kamu tidak tersenyum, tetapi juga tidak terlihat marah. Tak ada pelukan, tak ada salam pamit. Hanya suara sendok bertemu gelas, dan langkahmu menjauh pelan.
Aku tetap duduk di meja itu sampai pagi, menunggu suara pintu terbuka lagi. Ternyata, pagi datang sendirian.
Sejak hari itu, aku mulai menulis ulang “hari jadi” kita di kalender. Menghapusnya, lalu menulisnya lagi.
Aku terus mengingat bahwa kamu menyukai nasi yang agak lembek dan teh manis yang tidak terlalu manis. Dan kamu paling benci kalau hujan turun tanpa aba-aba.
Aku masih ingat bagaimana kita tertawa waktu itu, sambil berlarian menjemur pakaian kembali ke dalam rumah. Kamu basah kuyup, tetapi tetap sempat menggodaku soal kaus kaki yang tak pernah serasi sebelah.
Sekarang, hujan pun datang tanpa suara, tanpa amarah, tanpa kamu.
Aku pun mulai mengerti. Kadang, kita tak benar-benar kehilangan seseorang, kita hanya kehilangan kemungkinan untuk berbincang lagi dengan versi lama dari mereka.
Aku pun bertanya sendiri, sudah berapa lama kamu pergi?
Aku tak benar-benar menghitung, karena aku takut tahu jawabannya.
Tetapi tubuhku tahu. Ia menghafal sore yang sepi tanpa balasan pesan, malam yang dipenuhi monolog yang harusnya kamu jawab, dan pagi-pagi di mana aku lupa caranya mengawali hari tanpa kamu jadi alasan untuk bangun.
Malam ini, aku duduk lagi dekat meja tua itu, sendirian, entah mengapa. Mungkin karena hari ini tanggal yang tidak ada dalam kalender, tetapi terasa sangat familiar.
Atau mungkin hari ini, kamu bangun dan tak mengingatku lagi. Atau mungkin kamu ingat, tetapi memilih untuk tidak menyebut namaku di kepala.
Aku mencoba berbicara pada kursi kosong di seberangku. Bertanya hal-hal remeh yang dulu tak sempat kutanyakan padamu.
“Apa kamu masih suka roti bakar gosong?”
“Kenapa kamu tak pernah cerita soal hari itu di rumah sakit?”
“Waktu kamu bilang ‘aku kembali besok’, apakah kamu tahu kalau aku tak percaya?”
Kursi itu tetap diam. Tentu saja begitu.
Namun entah kenapa, aku seolah sedang diajak bicara oleh seseorang yang tak sempat selesai mencintai.
Atau mungkin aku yang belum selesai mengikhlaskan?
Kadang, aku juga merasa kita hidup dalam jamuan makan malam yang panjang. Setelah segalanya usai, kita belum juga beranjak dari meja.
Makanan sudah habis, lampu sudah padam, tetapi kita memilih tetap duduk di sana. Saling menatap, berharap satu dari kita akan mengatakan sesuatu yang menyelamatkan.
Kenyataannya, tidak ada yang saling bicara.
Begitulah kita pada akhirnya, dua orang yang terlalu mencintai, tetapi sama-sama takut menyentuh luka.
Aku mulai menulis surat untukmu, larut malam seperti ini. Bukan untuk dikirim melainkan agar aku bisa berbicara tanpa harus benar-benar bicara.
Surat-surat itu aku simpan di laci meja. Kadang aku membacanya ulang, dan merasa lucu karena aku menulis seolah kamu masih peduli.
Surat terakhirku hanya satu kalimat yang berisi, “Jika hari ini kamu tak ingat siapa aku, tak apa. Asal kamu bahagia, walaupun tanpaku.”
Itulah yang kupelajari setelah kamu tak ada. Beberapa orang datang bukan untuk tinggal, melainkan membentuk sudut kosong. Tempat di mana kita bisa merindukan sesuatu yang dulu membuat kita merasa utuh.
Itulah rasa yang tidak bisa dijelaskan. Bukan sekadar rindu, bukan kehilangan, bukan penyesalan. Rasa aneh seperti ingin pulang ke sesuatu yang mungkin bahkan tidak pernah nyata.
*
Hari ini aku membeli cangkir baru. Warnanya biru langit. Warnanya kamu.
Kupikir, aku harus mulai berdamai dengan kenangan. Bukan dengan mengusirnya, tetapi dengan membuatnya ruang.
Kursi tetap ditata, piring tetap tersedia dua, dan teh masih kutuang ke gelas kosong. Mungkin besok, aku akan berhenti membayangkan kamu datang. Mungkin besok, aku benar-benar duduk sendirian tanpa rasa bersalah.
Atau mungkin tidak.
Mungkin aku akan tetap di sini, menulis, diam-diam menyebut namamu di hati, dan menanti takdir kecil. Siapa tahu suatu hari kamu kembali, entah dalam bentuk apa.
Bahkan jika pun tidak, jika tak ada hari itu, tak ada yang kembali, tak ada lagi makan malam atau kamu…
Aku ingin kamu tahu bahwa aku sudah memaafkan segalanya.
Bahkan sunyi.
Bahkan kamu.
~musimsunyi,
28 Juli 2025