My Fault

Bab 1. Noah

Bocah laki-laki yang usianya sekitar 10 tahun itu sedang berdiri tertegun di depan pintu kamarnya, matanya tidak berkedip sama sekali, dia tidak sedang melihat hal yang menyenangkan di depannya, melainkan dia melihat sesuatu yang membuat kedua lututnya bergetar.

Pyar …

Terdengar suara pecahan benda yang dilempar, dan bunyinya menggema di seluruh ruangan. Bocah itu masih tidak bergeming berdiri di tempatnya.

“Papa, Mama, sudah! Jangan bertengkar sepert ini, kenapa kalian membuat kita ketakutan?” suara seorang gadis dengan rambut yang dikepang duanya, dia berusaha berada di tengah-tengah pertengkaran kedua orang tuanya.

“Kamu diam saja, Nat!” bentak seorang wanita cantik dengan rambut sebahunya.

“Kamu masih kecil dan tidak tau tentang apa yang terjadi di sini. Jadi diamlah!” Sekali lagi dia membentak gadis yang usianya masih 18 tahun itu.

“Sandra! Jangan membentak putrimu seenaknya, dia sudah dewasa dan dia berhak tau semuanya,” bentakan seorang pria dengan rambut berwarna hitam legamnya.

“Dia memang harus tau semuanya, semua tentang apa yang sudah kamu lakukan di luar sana, kamu benar-benar menjijikan, aku sudah tidak mau lagi bersama dengan kamu. Dan Noah akan ikut denganku nantinya. Dia tidak akan hidup dengan pria brengsek seperti kamu!” serunya dengan nada tinggi.

“Noah … Noah, kamu di mana?” Wanita itu berjalan menuju ke dalam kamar putranya. Noah tertegun melihat wajah mamanya yang sudah berderai air mata, wanita itu duduk dengan dua lutut menyangga tubuhnya, kedua tangannya memegang erat kedua lengan tangan Noah. “Noah, kamu akan ikut mama, kamu tidak perlu tinggal di sini lagi.”

Tangan bocah kecil itu terangkat mengusap tetesan air mata yang ada di pipi mamanya. “Mama kenapa?”

“Mama tidak apa-apa, Sayang. Kamu sekarang ambil tas kamu dan kita pergi dari rumah ini.” Wanita itu berdiri dan menyambar tas ransel berwarna hitam yang ada di atas meja belajar, dia memasukkan beberapa baju Noah—putranya ke dalam tas itu dan menggandeng tangan Noah keluar dari kamar itu.

Pria dengan rambut hitamnya itu hanya melihat diam ke arah istrinya dan putra kecilnya. “Ma, aku tidak mau Mama dan papa berpisah, aku dan Noah masih membutuhkan kalian. Aku mohon, Ma,” Gadis yang tak lain adalah kakak Noah bahkan sampai memegang erat tangan mamanya agar tidak pergi dari rumah itu.

“Lepaskan, Nat!” Wanita itu menghentakkan tangannya dengan kasar. “Kamu sebaiknya ikut dengan ayah kamu, karena mama hanya membawa Noah,” ucap Sandra lirih.

“Kamu akan pergi dengan mama, Noah. Kita tinggalkan mereka saja, nanti kalau kamu ingin bertemu dengan Nathali, mama bisa mengantarkan.”

Noah dan mamanya berjalan menuju pintu keluar. Saat mamanya akan membuka pintu, terdengar teriakan keras dari ayah Noah. Seketika Noah dan mamanya menoleh ke arah belakang. Di sana mereka melihat tubuh Nathali yang sudah tergeletak di lantai dengan tangan yang bersimbah darah.

“Nat!” teriak mama Noah. Noah pun sekali lagi hanya bisa terdiam di tempatnya, dia benar-benar shock melihat tubuh kakaknya yang tidak bergerak sama sekali saat kedua orang tuanya memanggil-panggil namanya.

Noah hanya bisa melihat papanya membawa tubuh kakaknya keluar dan masuk ke dalam mobil, sedang mamanya mencoba berbicara dengan Noah, tapi Noah seolah tidak mendengar jelas apa yang mamanya ucapkan.

“Noah bangun … bangun Noah!” suara seseorang memanggil Noah, dan seketika Noah membuka kedua matanya dengan keringat bercucuran.

“Dan, ini—?” Noah langsung bangkit dari tidurnya, dia duduk bersebelahan dengan sahabatnya.

“Kamu mimpi buruk lagi? Apa tentang keluarga kamu?”

“Brengsek! Aku ingin sekali melupakan masa lalu itu.” Noah mengusap wajahnya kasar.

“Sudahlah! Kejadian itu sudah berlalu beberapa tahun yang lalu, kamu harus melupakan kejadian itu?” Tangan pria itu menepuk pundak Noah.

Memang kejadian itu sudah sangat lama, bahkan sekarang Noah sudah bukan bocah kecil lagi yang polos dan tampak culun, dia sudah berubah menjadi seorang pria dengan paras yang sangat tampan dan memiliki postur tubuh yang gagah, tapi kenangan masa lalunya benar-benar menjadi mimpi buruk di setiap tidurnya. Kenangan-kenangan itu yang membuat Noah menjadi pribadi yang berbeda.

Noah mengambil napas panjangnya. “Aku memang harus melupakan kejadian itu. Bahkan aku harus melupakan jika aku pernah memiliki keluarga seperti itu.” Noah beranjak dari tempatnya dia menuju lemari pendingin dan mencari minuman yang mengandung alkohol kesukaannya.

“Noah, pagi ini kamu punya rencana apa? Kita tidak punya uang sedikitpun. Apa kita akan pergi ke rumah ayah tiri kamu saja dan seperti biasa, kita akan meminta uang kepadanya?”

“Aku tidak mau, nanti malam saja kita pergi ke arena balap, di sana aku akan menantang Bruno dan Hugo untuk balapan, dan aku yakin, kita akan mendapatkan uang dari sana.”

Daniel sahabat Noah itu membanting tubuhnya di atas kasur. “Lalu pagi ini kita mau berbuat apa?” tanyanya malas.

“Aku mau pergi ke suatu tempat hari ini.”

“Apa? Pergi Ke suatu tempat? Kalau begitu aku ikut.” Dan langsung beranjak dari tempatnya.

“Maaf, Dan, aku tidak bisa mengajak kamu, aku ingin sendirian ke sana, kamu di sini saja.” Noah menyaut jaket hitam miliknya dan kunci motornya yang ada di atas nakas.

“Apa kamu sedang menyembunyikan sesuatu dariku Noah?” tanya Dan curiga. “Kita sudah lama menjadi sahabat, sejak kamu kabur dari rumah, kita sama-sama memutuskan untuk tinggal bersama seperti saudara, tanpa ada rahasia apapun.”

Noah hanya memberikan seringainya dan dia keluar dari kamar itu. Dan, kembali merebahkan tubuhnya, dia sudah tau bagaimana sifat sahabatnya itu.

Noah sudah sampai di tempat yang menjadi tujuannya. Noah memarkirkan motornya, dan berjalan perlahan masuk ke area pemakaman, di sana suasananya sangat sepi, bahkan hanya Noah yang tampak sebagai manusia.

Noah berdiri di salah satu pusaran yang tidak terlihat nama di batu nisa itu.
Noah duduk berjongkok di samping pusaran itu. “Maaf, jika aku tidak pernah ke sini, tapi aku akan tetap mengingatmu.” Noah terdiam sejenak, kenangan masa lalunya seolah kembali tergambar jelas di depannya.

“Kenapa mama selama ini membohongiku? Aku membencimu, bahkan aku ingin melupakan jika aku mempunyai keluarga, kalian benar-benar bukan orang tua yang aku harapkan!”

Tlit …

Tlit …

Noah tersadar akan lamunannya. Saat ponsel di sakunya berdering, dia melihat nama yang tidak asing baginya ada pada layar ponselnya.

“Halo.”

“Noah, apa kamu nanti bisa datang ke sini?” tanya seseorang di seberang telepon.

“Besok pagi aku bisa ke sana, saat ini aku belum bisa ke sana. Apa semua baik-baik saja?” tanya Noah dengan raut wajah cemasnya. Noah berharap semua akan baik-baik saja.

Pria di seberang telepon yang sedang menghubungi Noah itu tidak menjawab pertanyaan yang dilontarkan oleh Noah. Sepertinya dia masih memikirkan apa jawaban yang akan dia berikan pada Noah.
“Kenapa tidak menjawabku?” ulang Noah sekali lagi.

Lates Chapters

Bab 60 Happy Ending

Cilla ternyata sudah menikah dengan Bruno, dan Bruno sudah berubah menjadi orang yang lebih baik, bahkan mereka memiliki seorang putri kecil yang sangat cantik.  …

Bab 59. Lembaran Baru

Lana melihat Noah dengan mata yang sudah sembab. “Kamu yang membuat sahabatku seperti ini, Noah. Kenapa Noah, kenapa kamu melanggar janjimu kepadaku? Lihat apa yang…

Bab 58 Hal Paling Menyedihkan Dalam Hidup Noah

Noah masih terdiam di tempatnya, dia masih berpikir jawaban apa yang akan dia berikan pada Lana. “Nanti malam? Sepertinya aku nanti malam tidak bisa datang,…

Bab 57 Pilihan Yang Sulit

Tidak lama seorang dokter perempuan keluar dari ruangan di mana Daniel sedang diperiksa, Noah dan Cilla segera berdiri menghampiri dokter itu. “Apa kalian berdua teman…

Bab 56 Dua Berita Menyedihkan

“Kamu pasti sangat membenci mama? Noah, mulai sekarang belajarlah untuk memaafkan, aku saja sudah memaafkan mama walaupun banyak rasa sakit yang sudah mama berikan kepada…

Bab 55. Sebuah Berita

Mara mendekatkan tubuhnya pada meja agar lebih dekat dengan Lana. “Aku membohongi  Daniel, Lana.”   “Apa? Apa maksud kamu membohongi Daniel?” Kedua bola mata Lana…

Bab 54. Cerita Masa Depan

Beberapa menit kemudian mereka sampai pada pesta itu dan di sana tampak banyak sekali para murid membawa keluarganya semua.    "Lana!" teriak seseorang.   Lana…

Bab 53. Hari Kelulusan

"Ma, setidaknya Noah sudah memiliki pekerjaan yang jelas, dan tadi di sekolah dia tampil lebih rapi."   "Kamu bertemu dengannya? Kamu tidak bisa menuruti apa…

Bab 52. Mendapat Pekerjaan

"Kalau begitu, berusahalah dan dapatkan hati putriku, tapi ingat jangan melakukan hal kasar dan buruk padanya." Jason mengangguk perlahan.   Lana yang sampai di sekolahnya…

Bab 51. Perubahan Baru Noah

Noah di tempatnya tampak terdiam sejenak mencernak kata-kata Lana. “Noah, apa kamu mendengar apa yang aku katakan tadi?”   “Iya, Sayang, aku mendengarnya. Aku akan…

Bab 50. Restu

Saat tangan mamanya akan mendarat lagi pada pipi Lana. Noah dengan cepat menahan dan memeluk Lana dalam pelukannya. " Jangan memukul dia lagi, Tante. Lana…

Bab 49. Keberanian Noah

Jason pun mengangguk. "Iya jujur saja aku tertarik sekali bersenang-senang dengan gadis yang terlihat polos dan lugu, tapi sangat terkesan galak seperti kamu. Kalau kamu…

Bab 48 Masalah Berlanjut

Tidak lama keributan yang terjadi di luar terdengar oleh guru mereka. Miss Emma keluar dan melihat apa yang terjadi di depan sekolahnya. "Waduh! Jadi tambah…

Bab 47. Noah Vs Jason

Wanita cantik yang dipanggil mama oleh Leon itu seketika mendelik ke arah Leon. "Jaga bicara kamu, Leon. Maaf Missel sikap putraku agak sedikit menyebalkan."   …

Bab 46 Rencana Mama Lana

Leon mendekat ke arah Lana. "Lana, sepertinya aku tahu alasan mama mengajak kamu ke sini," bisik Leon.   "Alasan? Alasan apa?"    "Kamu mau dikenalkan…

Bab 45 Undangan Pesta

Saat Lana mau keluar tiba-tiba Lana mendengar ada suara mamanya di dalam kamarnya. Lana segera mematikan ponsel milik Leon dan menyembunyikan di dalam kamar mandi. …

Bab 44 Satu Sama Lain

Leon diam-diam datang ke kamar Lana. Leon memanggil Lana pelan. Lana membukakan pintu untuk Leon dan Leon masuk dengan menyembunyikan sesuatu dari balik kaosnya.  …

Bab 43 Menemui Secara Sembunyi

Belum selesai Lana mengatakan mencintai Noah. Mara dengan cepat mengambil ponselnya karena tiba-tiba miss Emma masuk dan Mara pura-pura menunjukkan foto-foto lucu pada galeri ponselnya.…

Bab 42 Merindukan Dia

"Aku hanya ingin sendiri. Apa kamu tidak dengar!" bentak Noah marah. "Hei! Apa kamu tidak bisa bersikap tidak kasar pada seorang gadis?" Tegur pria yang…

Bab 41 Permohonan Noah

"Noah ... Noah!" teriak Daniel, tapi Noah sudah pergi dari sana. "Kenapa dia mau membahayakan dirinya? Kalau orang tua Lana bertindak dengan menggunakan kekuasaannya, Noah…
error: Content is protected !!