Aroma kafein yang biasanya menenangkan, sore itu terasa mencekik. Arumi menatap rintik hujan yang menghantam kaca jendela kafe “Bosque”, meninggalkan jejak air yang menyerupai air mata yang dipaksakan jatuh. Di luar, Jakarta sedang murung. Langit abu-abu seolah sengaja membungkus kota dengan kesedihan yang merayap pelan, merembes masuk melalui celah pintu kafe yang sesekali terbuka.
Di hadapannya, Davin, lelaki yang telah mengisi empat tahun hidupnya dengan tawa, janji-janji kecil, dan rencana masa depan yang dulu tampak begitu nyata, tampak seperti raga kosong. Ada sesuatu yang hilang dari sorot matanya. Binar yang biasanya muncul setiap kali mereka bertemu, kini redup, digantikan oleh kabut rasa bersalah yang sangat pekat.
Davin tidak meminum kopinya. Americano dingin itu sudah kehilangan uapnya sejak sepuluh menit yang lalu, meninggalkan lingkaran hitam di permukaan porselen. Ia hanya mengaduknya secara mekanis, menciptakan pusaran kecil yang tak kunjung usai di tengah cangkir. Arumi memperhatikan gerakan tangan itu; jemari yang gemetar halus, sendok yang sesekali berdenting gelisah menabrak dinding gelas. Seolah-olah seluruh masa depan mereka sedang diputar-putar dalam pusaran pahit itu.
”Kamu terlalu banyak melamun hari ini, Vin,” tegur Arumi lembut. Suaranya terdengar asing di telinganya sendiri terlalu tenang untuk seseorang yang dadanya mulai berdenyut nyeri karena firasat yang tak enak.
Davin tersentak. Sendok peraknya berdenting keras, menciptakan bunyi nyaring yang memutus aliran musik jazz lembut di latar belakang. Ia memaksakan sebuah senyum. Namun, itu adalah jenis senyum yang biasanya diberikan orang asing di sebuah pemakaman penuh duka, formalitas, dan jarak yang lebar.
”Hanya lelah, Rum. Akhir bulan di kantor selalu menyita kewarasan,” Davin mencoba beralasan, namun matanya menatap ke arah mana saja asal bukan ke mata Arumi yang coklat jernih.
”Bukan kantor yang membuat matamu sekuyu itu, Vin,” potong Arumi cepat. Ia tidak ingin lagi bermain petak umpet dengan kata-kata. Kebohongan Davin terasa seperti amplas yang menggesek luka lama. “Ini tentang Ibumu, kan? Beliau menyinggung soal ‘utang’ itu lagi?”
Pertanyaan itu seperti jarum yang menusuk balon ketenangan Davin yang rapuh. Ia meletakkan sendoknya, lalu meraih tangan Arumi di atas meja. Genggamannya erat, namun tangannya terasa sedingin es. Genggaman itu tidak terasa seperti dukungan, melainkan seperti pegangan terakhir seseorang yang tahu ia akan segera dihanyutkan arus yang sangat deras.
”Rum,” suaranya serak, nyaris tenggelam oleh suara hujan yang semakin deras di luar. “Jika suatu saat nanti… aku bukan lagi orang pertama yang kamu lihat saat bangun tidur… apa kamu akan membenciku?”
Kalimat itu bukan sekadar pertanyaan retoris. Itu adalah sebuah vonis tanpa sidang. Arumi merasakan dunianya seakan berhenti berputar pada porosnya. Oksigen di paru-parunya mendadak lenyap. Ia menatap lekat-lekat wajah lelaki di depannya, mencari tanda-tanda bahwa ini hanyalah candaan buruk. Tapi yang ia temukan hanyalah keputusasaan yang telanjang.
”Kenapa kamu bicara seolah-olah perpisahan itu adalah rencana yang sudah dijadwalkan, Vin?” Arumi berusaha menjaga suaranya agar tidak pecah, meski tenggorokannya terasa seperti disumbat kerikil tajam. “Kita sudah melewati banyak hal. Kita sudah sepakat untuk berjuang, kan? Kamu bilang restu itu bisa kita jemput pelan-pelan.”
Davin menunduk. Ia melepaskan satu tangannya untuk mengusap wajah dengan kasar. “Ibu tidak memberiku pilihan lagi, Rum. Beliau jatuh sakit semalam setelah kita bertengkar hebat soal kamu. Sambil terisak, beliau kembali menceritakan masa-masa sulit setelah Ayah meninggal. Saat kita tidak punya apa-apa untuk membayar uang sekolahku.”
Arumi terdiam. Ia tahu arah pembicaraan ini.
”Ibu mengingatkanku bahwa tanpa Pak Jaka, ayahnya Sarah, aku mungkin tidak akan pernah lulus SMA. Aku tidak akan pernah kuliah, tidak akan pernah jadi manajer seperti sekarang. Mereka yang membiayai setiap lembar ijazahku saat Ibu hanya seorang janda yang menjual sisa perhiasannya untuk makan,” lanjut Davin dengan suara bergetar. “Dan sekarang, keluarga mereka menginginkan… mereka menginginkan penyatuan keluarga. Melalui aku dan Sarah.”
Arumi melepaskan tangannya dari genggaman Davin dengan sentakan kecil. Rasa dingin menjalar dari ujung jarinya hingga ke ulu hati.
”Jadi, harga cintamu adalah biaya sekolahmu belasan tahun yang lalu?” Arumi tertawa getir, tawa yang terdengar lebih menyedihkan daripada tangisan. “Kenapa tagihan itu baru muncul sekarang, Vin? Setelah empat tahun kita bersama? Setelah ibumu tahu bahwa aku hanya seorang guru honorer yang tidak punya ‘jasa’ apa-apa dalam sejarah kesuksesanmu?”
”Rum, ini bukan soal harga, tapi soal martabat Ibu,” bisik Davin dengan nada memohon. “Ibu merasa telah menggadaikan kehormatannya jika aku menolak permintaan Pak Jaka. Beliau bilang, menolak Sarah sama saja dengan meludahi tangan orang yang telah memberi kita makan saat kita kelaparan.”
”Lalu bagaimana denganku?” Arumi merasakan amarah mulai membakar rasa sedihnya. “Aku yang menemanimu dari nol, yang memberikan semangat saat kamu gagal seleksi kerja berkali-kali? Apa itu tidak ada harganya? Katakan padaku, Vin, apa kamu melihat Sarah dan berpikir bahwa hidupmu akan lebih tenang jika kamu ‘melunasi’ hutang itu dengan tubuhmu?”
Davin mengangkat kepalanya. Matanya memerah. “Aku menginginkanmu, Rum! Demi Tuhan, hanya kamu. Tapi aku tidak bisa melihat Ibu terus-menerus menangis, memohon agar aku tidak membuat wajahnya malu di hadapan keluarga Pak Jaka. Aku merasa seperti dibeli sejak remaja, dan baru sekarang tagihannya datang. Aku tidak punya cukup keberanian untuk menjadi anak durhaka demi kebahagiaanku sendiri.”
Di sanalah Arumi menyadari pahitnya kenyataan. Cinta mereka bukan lagi tentang dua hati yang saling bertaut, melainkan tentang transaksi masa lalu yang belum lunas. Ia mencintai seorang lelaki yang seluruh masa depannya sudah “dijaminkan” oleh ibunya sendiri demi rasa balas budi yang mencekik.
Arumi menatap keluar jendela lagi. Hujan belum reda. Ia menyadari bahwa selama empat tahun ini, ia membangun istana di atas tanah sewaan yang sewaktu-waktu bisa diambil pemiliknya.
”Jadi,” Arumi berbisik, membiarkan satu tetes air mata jatuh ke pipinya, “kamu memilih untuk menyerah karena kamu merasa berhutang nyawa pada mereka?”
Davin tidak menjawab. Keheningan itu adalah jawaban yang paling tajam.
Arumi menggeser kursinya ke belakang. Bunyi gesekan kayu di lantai terdengar memilukan, seperti jeritan hatinya yang patah. Ia berdiri, merapatkan syal di lehernya, seolah benda itu bisa melindunginya dari kehampaan yang akan datang.
”Aku tidak akan membencimu karena kamu memilih ibumu, Vin,” ucap Arumi pelan, menatap Davin untuk terakhir kalinya sore itu. “Aku hanya kecewa karena ternyata bagimu, aku hanyalah orang asing yang tidak masuk dalam hitungan balas budimu.”
Ia melangkah pergi, meninggalkan Davin yang masih terpaku pada pusaran kopi dinginnya. Saat pintu kafe terbuka, udara dingin langsung menusuk kulitnya. Arumi tidak berlari mencari tempat berteduh. Ia membiarkan hujan membasahi seluruh tubuhnya, berharap air langit itu bisa meluruhkan memori tentang janji-janji yang kini terasa seperti sampah.
Sore itu, di bawah langit Jakarta yang kelabu, Arumi belajar satu hal. Balas budi adalah hutang yang paling sulit dilunasi, terutama jika yang dijadikan bunganya adalah sebuah perasaan.
#day1
#20harimencarimaaf
#novelgoodcompetition