“Mulai sekarang kamu tinggal di sini dengan kami ya, Le!” Bukan ajakan melainkan keputusan yang awalnya diambil sepihak oleh Bu Dewi, yang kemudian diamini oleh Wira sebab dia sama sekali tak punya pilihan kala itu.
Bagaimanapun juga Wira butuh tempat tinggal. Butuh rumah yang bisa dia dan putrinya tinggali, setidaknya dari terik matahari dan dinginnya hujan. Pun tempat yang ditawarkan oleh Bu Dewi jauh lebih baik dari apa yang sanggup Wira bayangkan. Sebab di rumah gurunya tersebut mereka tak hanya mendapat tempat berteduh, melainkan juga benar-benar rumah.
Bu Dewi yang tidak lagi bekerja setelah kematian Arjuna dan Kanaya , hari-harinya hanya dihabiskan untuk membantu Wira mengurus bayi Nayla. Mulai dari menggendong, memberi makan, hingga memandikan dan membersihkan kotoran bayi itu. Sementara Wira? Masih sama seperti sebelumnya, Wira mencoba mencari pekerjaan meski hasilnya nihil.
“Tidak apa-apa, Le. Tidak usah terburu-buru. Lagi pula Ibu senang kalian tinggal di sini.” Adalah perkataan yang selalu Bu Dewi berikan untuk melapangkan hati Wira.
Bu Dewi bahagia dengan keberadaan ayah dan anak itu. Sebab rumah mereka yang sangat sepi semenjak kematian Arjuna, kini seolah-olah hidup kembali. Ramai oleh tangis bayi Nayla yang juga mengingatkannya pada keberadaan Kanaya. Membuatnya berandai-andai, barangkali suasana seperti inilah yang akan dia dapatkan andaikan kedua buah hatinya masih ada.
Dan entah ide gila dari mana –Bu Dewi sendiri pun kebingungan dengan betapa sembrononya dia waktu itu –sebagai ibu yang terluka tiba-tiba saja dia berpikiran untuk, “Aku ingin mengadopsi Nayla!”
Yang jelas membuat suaminya mendelik kaget. “Apa? Kamu bercanda, Wi?”
“Tidak! Aku serius!” Jawaban Bu Dewi membuat kening Pak Wisnu semakin mengerut. “Mas, dengar! Nayla tidak punya identitas. Wira dan Pelita juga tidak menikah secara resmi. Aku tidak bisa membayangkan bagaimana masa depan Nayla bila –”
“Dewi!” Pak Wisnu menyela, dia meraih kedua tangan istrinya untuk digenggam erat-erat. “Apa yang kau pikirkan? Aku tahu kamu menyayangi Nayla, tapi kamu tahu kan betapa penting anak ini bagi Wira?”
“Aku tahu! Sangat tahu bahkan!” Bu Dewi masih menjawab dengan keyakinan yang sama. “Justru karena itu, kita bisa mengajak Wira tapi tinggal bersama dan tidak perlu memisahkan mereka.”
“Maksudmu?” Ekspresi Pak Wisnu berubah, lebih serius. “Kamu ingin kita mengadopsi Wira juga?”
“Kenapa tidak?”
“Jangan bilang kau ingin menjadikan mereka pengganti Juna dan Kanaya?”
Bukan menggantikan! Sebab sampai kapan pun kedua buah hatinya itu tak akan pernah tergantikan. Masalahnya, Bu Dewi merasa dirinya hanyalah seorang ibu yang mencoba menyelamatkan anak-anak di sekitarnya.
Setidaknya, bila dia gagal menjaga dua buah hati kandungnya, Bu Dewi tidak ingin gagal sebagai manusia. Terlebih, semenjak Wira tinggal di rumahnya Bu Dewi tahu persis betapa sinis pandangan orang-orang terhadap ayah dan anak baru tersebut.
Semua orang menyebut Nayla sebagai anak haram. Anak yang tidak diinginkan yang lahir dari seorang ayah yang tidak sempurna, dan Ibu yang lari meninggalkannya.
Bukankah itu terlalu menyakitkan?
“Tapi apa perlu kamu mengganti nama Nayla?”
“Mas Wisnu, ini bukan mengganti.”
“Lalu apa, Wi?”
“Aku hanya ingin –”
“Menghamburkan asal-usulnya?” Sekali lagi Pak Wisnu memotong ucapan sang istri. “Aku tahu kematian Kanaya sangat berat untukmu, tapi apakah cukup etis kamu memaksakan Nayla menjadi penggantinya?”
“Harus berapa kali aku bilang …, aku tidak sedang menjadikan Nayla sebagai pengganti Kanaya. Aku hanya ingin Nayla percaya bahwa dia adalah anak kita. Anak kandung kita. Setidaknya sampai usianya tujuh belas tahun.”
“Terserah kamulah, Wi. Aku tidak paham dengan isi kepalamu!” Pak Wisnu berdiri kembali, lantas dengan air muka tak senang dia pergi meninggalkan perempuan terkasihnya itu.
Bukan karena dia tidak bisa melawan, melainkan karena dia tahu semua akan sia-sia saja.
Keputusan Bu Dewi sudah sangat bulat. Maka, tidak akan ada yang bisa membantahnya. Pun pria itu juga paham betul ke mana arah pemikiran istrinya akan bermuara.
🍀🍀🍀
Sejak resmi berganti nama dan dimasukkan ke kartu keluarga, Nayla yang kini telah menjadi Kanaya adalah pusat dunia bagi Bu Dewi.
Seluruh hidup dan cintanya hanya dia berikan kepada Kanaya kecil. Sampai-sampai tanpa sadar, hubungannya dengan sang suami yang sebelumnya hangat perlahan berubah. Ada jarak yang sulit dijelaskan di sana. Hingga kemudian dia pun mengetahui bahwa suaminya itu tengah menjalin hubungan dengan orang lain.
“Kamu selingkuh, Mas?” todong Bu Dewi saat suaminya baru pulang bekerja.
Pak Wisnu tentu saja terkejut. “Kamu bicara apa sih, Wi?”
“Kamu pikir aku tidak tahu?” Bu Dewi tersenyum kecut. “Aku tahu bahwa sekarang aku tidak lagi muda. Tapi bukan begini caranya kalau kamu memang sudah tidak lagi mencintaiku,” lanjutnya dengan ada yang dingin.
Setelah pertengkaran singkat itu, Bu Dewi membawa kedua buah hati barunya –Kanaya dan Wira meninggalkan rumah. Dia kembali ke tanah kelahirannya. Ke rumah orang tuanya di Jakarta. Bukan untuk menghindar, melainkan karena dia tahu betul posisinya di rumah suaminya.
Kembali ke masa kini, lebih tepatnya di depan ruang perawatan intensif tempat Wira sedang perjuangan telah hidup dan mati, Bu Dewi yang baru saja menyelesaikan ceritanya hanya bisa menunduk dalam sembari sesekali menyeka air mata di wajahnya menggunakan tisu. “Bunda tahu ini semua kesalahan Bunda. Maafkan Bunda yang terlalu egois, Nay.”
Kanaya bergeming. Bingung harus bereaksi bagaimana.
“Seharusnya Bunda bisa lebih bijak, tapi …, sungguh bukan ini yang Bunda inginkan.” Dia kembali terisak. “Bunda tahu Bunda telah membohongi kamu soal statusmu, akan tetapi apa yang Bunda rasakan bukan kebohongan. Bunda sangat menyayangi kalian berdua seperti anak kandung Bunda sendiri.”
Mulut Kanaya akhirnya kembali terbuka, suaranya sangat lemah atau lebih tepatnya pelan nyaris tidak keluar. “Kenapa? Kenapa Kak Wira setuju? Kak Wira bahkan ….”
“Bunda yang menyuruhnya!” Dengan cepat Bu Dewi mengklarifikasi. Sebab pada dasarnya memang dialah yang memaksa pemuda itu untuk menyerahkan Nayla kepadanya.
Masih terekam jelas di kepala Bu Dewi betapa besar kebingungan Wira saat dia berkata, “Mulai sekarang kalian berdua menjadi anak Ibu.” Sambil menatap kedua matanya lekat-lekat. “Wira, kamu mau kan Nayla bisa hidup dengan lebih baik? Kamu mau kan Nayla bahagia? Dan kamu juga pasti mau kan anakmu punya keluarga yang lebih?”
Yang sudah bisa dipastikan semua dijawab anggukan oleh pemuda itu. “Iya, Bu Dewi. Wira ingin Nay bahagia.”
“Kalau begitu …, mulai sekarang kamu harus menganggap Bu Dewi dan Pak Wisnu sebagai orang tua kamu. Kamu mau, kan?” Yang kembali Wira jawab dengan anggukan. “Bagus. Tapi untuk itu ….” Di titik ini Bu Dewi menjeda kalimatnya sebentar hanya untuk menelan ludah kasar. “Mulai sekarang, kamu harus memanggil Nayla dengan nama Kanaya.”
“Kenapa begitu?”
“Karena –dengar! Ini demi masa depan Nayla. Karena mulai sekarang akan menjadi anak Ibu dan Pak Wisnu.”
“Nay anak Wira. Jangan ambil Nay!”
“Tidak ada yang mengambil Nay dari Wira! Tidak ada!” tegas Bu Dewi mencoba meyakinkan. “Hanya situasinya yang sangat berbeda. Wira menjadi kakak. Nay menjadi adik. Justru kalau tidak begini, Wira bisa saja kehilangan Nay. Memangnya Wira mau kehilangan Nay?”
🍀🍀🍀
“Bunda memanfaatkan kondisi Kak Wira demi kepentingan Bunda sendiri?!”
Bu Dewi tidak membantah ucapan Kanaya Karena bagaimanapun juga itulah faktanya. “Maaf, Sayang. Maafkan Bunda.”
Kanaya memalingkan wajah ke arah lain, lebih tepatnya ke pintu ruangan bertuliskan ICU di seberang tempatnya duduk. Ingin sekali rasanya dia mengutuk keadaan, tapi sebelum itu terjadi perhatian karena yang lebih dulu dibuyarkan oleh suara yang memanggilnya dari kejauhan, dari salah satu ujung lorong tempatnya duduk.
“Mbak Sekar?” Gadis itu langsung berdiri saat mendapati perempuan yang dikenalnya datang.
Mbak Sekar berlari mendekat. “Maaf ya, Mbak baru dengar. Bagaimana kondisi Wira?”
Kanaya tidak untuk menjawab, melainkan dia menghambur ke pelukan wanita tersebut.
“Bu Dewi?” Sembari memeluk Kanaya, Mbak Sekar mengulurkan tangan kanannya untuk menyalami gurunya tersebut. “Ingat saya?”
Mencoba menyembunyikan tangis Bu Dewi menjawab, “Sekar Setia Ningrum?”
“Benar.”
“Apa kabar, Nduk?”
“Baik, Bu.” Akan tetapi, dia yang sadar tak ada waktu untuk berbasa-basi segera menoleh ke arah di belakangnya. “Wira?”
“Dia baru dioperasi semalam.”
“Ya Tuhan.” Kedua bahu Mbak Sekar jatuh. Sambil mengelus punggung Kanaya, dia mencoba menjaga air matanya agar tidak luruh.
“Ibu ke musala dulu ya,” pamit Bu Dewi sembari berdiri dari duduknya yang dijawab senyuman oleh Mbak Sekar. “Titip Kanaya.”
Sepeninggal Bu Dewi, Mbak Sekar pun akhirnya mengajak Kanaya duduk. “Kamu yang kuat ya,” katanya mencoba menghibur.
“Aku takut, Mbak.” Kanaya merengek. “Aku takut kehilangan Kak Wira.”
Mbak Sekar menarik nafas panjang, kemudian dia hela perlahan. Dadanya sesak. “Wira itu orang yang kuat. Dia pasti bertahan buat kamu.”
“Tapi aku yang sudah bikin …”
“Hsst!” Mbak Sekar menempelkan telunjuknya di bibir Kanaya, meminta gadis itu untuk tidak melanjutkan kata-katanya. “Kamu tidak boleh menyalakan diri sendiri. Yang terjadi, semua sudah atas kehendak Tuhan. Oh ya, Mbak ingin menyerahkan ini ke kamu.” Lalu, dia mengeluarkan sesuatu dari dalam tas selempangnya. “Ini kemarin ketinggalan di rumah. Ini punya Wira, kan?”
Kanaya agak kaget saat mendapati kamera milik kakaknya berada di tangan Mbak Sekar. Sebab seingatnya, Kak Wira dan kamera kecil itu tidak pernah terpisahkan sebelumnya.
Kanaya menerimanya sambil berkata, “Terima kasih ya, Mbak.”
“Dengan keluarga Mas Prawira Darmawan?” Panggilan dari petugas ICU yang baru saja keluar dari ruangan membuat semua orang di ruang tunggu menoleh.
Kanaya yang berdiri. “Saya, Dok!” Kemudian menghampirinya. “Ada apa ya? Kakak saya baik-baik saja kan?”
Namun, pria itu malah kembali bertanya, “Bisa tolong panggilkan bapak dan ibunya, Dik? Saya perlu bicara dengan orang tua kalian.”
“Sebentar!” Kanaya yang panik buru-buru berlari menuju musala guna memanggil sang ibu. “Nay juga nggak tahu, Bun. Intinya Bunda dipanggil sekarang.”
🍀🍀🍀
“Nay boleh ikut?”
Bu Dewi tidak langsung menjawab, sejenak dia menatap ke arah petugas untuk memastikan. Barulah setelah dokter mengangguk, wanita itu menjawab, “Ayo!”
Di dalam ruangan dokter yang dingin, Kanaya tahu sesuatu yang buruk akan segera dia dengar. Tubuh gadis itu bergetar hebat luar biasa. Dia merasakan jadi-jadinya kelu. Hanya saja, dia mencoba tetap bersikap senang mungkin.
“Berdasarkan hasil CT Scan terbaru, kami kembali menemukan pembengkakan di otak Mas Prawira yang membuat tekanan di otaknya meningkat.”
Meskipun tidak sepenuhnya paham dengan ucapan dokter, Kanaya tahu sesuatu yang buruk sedang terjadi. Spontan dia meraih tangan ibu angkatnya, kemudian menggenggamnya erat. Bu Dewi pun juga membalas aksinya, membuat keduanya kembali mengirim sinyal saling menguatkan satu sama lain.
“Dan ini,” Dokter kembali menunjuk ke arah layar komputernya. “Terdapat pergeseran struktur otak yang diakibatkan oleh tekanan signifikan.”
“Lalu, apa yang harus saya lakukan?” tanya Bu Dewi dengan bibir bergetar. “Apa yang bisa –tolong selamatkan anak saya.”
Dokter memberi tatapan empati. “Mas Wira harus kembali dioperasi. Bila tidak, pasti yang bisa berisiko mengalami kerusakan otak permanen.
“Ya Allah!”
Kanaya menggigit bibir bagian bawahnya sendiri kuat-kuat. Dia tahu ini semua kesalahannya.
Oh Tuhan, aku tak mau kehilangan lagi, ratap Kanaya.
“Kami berencana untuk membuka sebagian tulang kepala pas Wira untuk memberi ruang pada otaknya.”
“Lakukan saja bila memang itu yang terbaik, Dok.”
“Baik, Bu. Akan tetapi, ini bukan operasi yang ringan,” jelas Dokter, kembali menghantam hati dua perempuan tersebut. “Operasi ini memiliki risiko yang besar seperti pendarahan, infeksi hingga kemungkinan pasien tidak bisa sadar kembali. Namun, bila tidak dilakukan kami tidak bisa menjamin Mas Wira dapat bertahan.”
Kenapa? Kenapa harus seperti ini? Kanaya tidak ingin kehilangan kakak …, eh, ayahnya. Tidak sebelum dia menebus semuanya. Dia bahkan tidak pernah bertemu dengan ibunya, tapi kenapa Tuhan masih setega ini menulis cerita untuknya?
Kenapa seolah-olah Tuhan tidak pernah puas dalam menyiksanya?