Table of Contents
Lates Chapters
Menjalankan Misi
Damar dan Danu baru saja tiba di perkebunan pasca menyampaikan idenya pada sang nyonya. Jalan yang harus memutar membuat jarak yang sebenarnya begitu dekat terasa cukup jauh. “Maling! Maling!” Baru saja dua pemuda itu akan melanjutkan pekerjaan yang sempat tertunda, tiba-tiba…
Parasit
"Juragan?" "Mas Sono?" Ucapan serentak nan kompak tersebut tentunya berasal dari dua wanita yang sedang terkejut dengan kedatangan pria bertubuh tambun. Pria yang sejak tadi sedang mengganggu pikiran Eli hingga membuat wanita berambut keriting gantung itu menjatuhkan gelas. Rasa penasaran…
Luka Lama Eliana
Semua kejadian baik senang maupun sedih saat bersama Laksono kembali terngiang di benak Eliana. Akan tetapi hal yang paling membekas adalah saat sang suami dengan tega dan kejamnya membohongi dan memanfaatkan bisnis yang baru dimulai. "Sayang, perkebunan biar jadi tanggung jawab aku.…
Pertaruhan
Meskipun mendapatkan reaksi yang kurang mengenakkan dari sang nyonya bos, Damar tetap mencoba menyampaikan idenya demi keamanan perkebunan dan juga keamanan nyonya bos sendiri. "Bagaimana bisa begitu? Sengaja aku bikin tembok keliling agar terpisah antara perkebunan dan pekarangan rumahku. Kini kamu memberikan…
Rayuan Damar
"Set dah. Galak bener itu orang. Tapi tetap cantik sih, makin cantik malah," gumam Damar terkekeh. Pria bertubuh jangkung itu masih berdiri di balik tembok sambil memegangi dada, memastikan detak jantungnya kembali normal karena sempat berpacu akibat rasa takut dan baper yang…
Comments
You May Also Like
15 Chapters
Chapter 1: Pagi yang Buruk
Braakkk… Suara keras berasal dari pot jatuh dan menyebabkan sepatu flat seorang wanita yang sudah bersih dan berwarna putih menjadi kotor. Belum lagi lantai yang semula bersih dan mengkilap kini turut kotor akibat tanah berserakan. "Ya ampun, Damar! Bisa nggak sih…
ReadmoreChapter 2: Wanita Misterius
Laju motor Damar perlahan memelan saat melihat wanita yang sempat diteriaki tadi berhenti di depan green house terbesar di Jakarta. "Wah, dia pecinta tanaman? Menarik." Damar memutuskan untuk ikut masuk ke green house tadi, kebetulan disitu sepertinya sedang diadakan sebuah acara…
ReadmoreChapter 3: Dicampakkan!!!
Sriiiittttt… Mobil yang semula diikuti Damar mengerem mendadak saat Damar menghadang di depannya. Pria yang juga memiliki hobi touring tersebut seakan sudah bersahabat dengan keadaan jalanan, hingga ada celah sedikit dia bisa mengambil kendali dan bisa menyalip dengan lihai. Damar menghadang…
ReadmoreChapter 4: Tawaran Pekerjaan
Pertanyaan Guntur bagaikan angin lalu. Damar masih terus memukuli samsak bertubi-tubi, layaknya memukul musuh yang paling dia benci. Buggg…buggg buggg buggg… "Ini untuk keluargaku yang selalu menyalahkan karena ambil jurusan pertanian!" desis Damar dengan deru nafas yang memburu, setelah melayangkan pukulan…
ReadmoreChapter 5: Tantangan dari Ayah
Pasca Damar meminta izin pada ibunya untuk bekerja di perkebunan alias jadi tukang kebun, malam harinya di kediaman Adiwangsa diadakan sidang keluarga. Mungkin terkesan terlalu formal jika dibilang sidang, tapi itu memang suatu kegiatan dimana Damar dipojokan oleh semua anggota keluarga. Sebelumnya…
ReadmoreChapter 6: Tiba di Desa Pendul
"Kita langsung berangkat?" tanya seorang pria yang mengendarai kuda besi yang mirip dengan punya Damar, hanya saja beda merek dan warna. "Terserah, yang penting aku keluar dulu dari rumah. Sebelum ayahku berubah pikiran." Damar menyahut sambil terburu-buru naik di jok…
ReadmoreChapter 7: Teori yang Salah
Masa pengenalan Damar dengan lingkungan tempat dia akan bekerja selesai sudah, hari sudah berganti malam waktunya semua beristirahat. Netra Damar mengedar memperhatikan suasana kamar, memang sedikit berbeda dengan ruang tidurnya di rumah keluarga. Tapi dia tidak mempermasalahkan hal itu, namanya juga merantau…
ReadmoreChapter 8: Bidadari Kebun
"Hmmm… tuh kan terpesona? Kemarin pas diceritain sih nggak percaya." Damar mengerjapkan netra beberapa kali lalu menoleh pada Danu. "Maksudnya dia… "Iya. Dialah Bu Eliana. Nyonya besar sekaligus pemilik perkebunan ini," sahut Danu mengangguk pasti. "Yang sudah janda tiga kali itu,"…
ReadmoreChapter 9: Drama Peraturan
Bukan benar-benar marah, Damar hanya bercanda dalam melempar kerikil tadi. Danu pun paham rekan kerja barunya itu sedang kecewa berat akibat mati gaya di depan bos. Dua pria yang baru bersahabat sejak kemarin itu berjalan beriringan menuju kebun buah. Jika sebelumnya mereka…
ReadmoreChapter 10: Nyonya Bos Murka
Semalaman Damar diejek habis-habisan oleh Danu karena tantangan yang diberikan oleh nyonya bos. "Apa sih, Kamu? Seneng banget kayaknya melihat aku menderita. Nasibku disini itu sedang di ujung tanduk tau nggak?" Damar melempar bantal pada Danu yang sedang duduk di bangku…
ReadmoreChapter 11: Rayuan Damar
"Set dah. Galak bener itu orang. Tapi tetap cantik sih, makin cantik malah," gumam Damar terkekeh. Pria bertubuh jangkung itu masih berdiri di balik tembok sambil memegangi dada, memastikan detak jantungnya kembali normal karena sempat berpacu akibat rasa takut dan baper yang…
ReadmoreChapter 12: Pertaruhan
Meskipun mendapatkan reaksi yang kurang mengenakkan dari sang nyonya bos, Damar tetap mencoba menyampaikan idenya demi keamanan perkebunan dan juga keamanan nyonya bos sendiri. "Bagaimana bisa begitu? Sengaja aku bikin tembok keliling agar terpisah antara perkebunan dan pekarangan rumahku. Kini kamu memberikan…
ReadmoreChapter 13: Luka Lama Eliana
Semua kejadian baik senang maupun sedih saat bersama Laksono kembali terngiang di benak Eliana. Akan tetapi hal yang paling membekas adalah saat sang suami dengan tega dan kejamnya membohongi dan memanfaatkan bisnis yang baru dimulai. "Sayang, perkebunan biar jadi tanggung jawab aku.…
ReadmoreChapter 14: Parasit
"Juragan?" "Mas Sono?" Ucapan serentak nan kompak tersebut tentunya berasal dari dua wanita yang sedang terkejut dengan kedatangan pria bertubuh tambun. Pria yang sejak tadi sedang mengganggu pikiran Eli hingga membuat wanita berambut keriting gantung itu menjatuhkan gelas. Rasa penasaran…
ReadmoreChapter 15: Menjalankan Misi
Damar dan Danu baru saja tiba di perkebunan pasca menyampaikan idenya pada sang nyonya. Jalan yang harus memutar membuat jarak yang sebenarnya begitu dekat terasa cukup jauh. “Maling! Maling!” Baru saja dua pemuda itu akan melanjutkan pekerjaan yang sempat tertunda, tiba-tiba…
Readmore





