Murka Naga Angin

1. Hancurnya Kotaraja

Trang!

Trang!

 

Dentingan senjata nyaring terdengar, membahana mengusik tenang. Sore itu, ratusan pasukan menyerbu ujung wilayah kerajaan naga Sowa. Penyerangan tiba-tiba membuat pasukan yang terdiri dari beberapa puluh penjaga tersudut, sebagian bertahan dan beberapa lagi menyusup pergi meninggalkan arena pertarungan.

 

 Wilayah perbatasan menjadi gaduh, benteng alami dari bebatuan yang menjulang tinggi dan memanjang kini penuh dengan ratusan pasukan naga dari tiga kerajaan. Mengamati keadaan di pos penjagaan yang kini telah porak-poranda akibat gempuran rekan-rekannya. Sementara seorang penjaga berhasil sampai di aula istana dan melaporkan kepada sang panglima.

 

“Tuanku! Terjadi penyerangan di wilayah perbatasan! Jumlah mereka kurang lebih seratus prajurit!” lapor prajurit jaga sembari merundukkan tubuhnya.

 

“Apa! Kumpulkan dua ratus prajurit tempur! Habiskan penyusup itu tanpa sisa!” titah Ganinda, panglima kerajaan naga Sowa.

 

“Baik, tuanku Panglima, titah segera dilaksanakan!” jawab tegas prajurit jaga yang melapor.

 

“Cepatlah! Jangan sampai terjadi sesuatu kepada penjaga yang masih bertahan!” sentak Ganinda manakala prajuritnya terlalu lama merunduk.

 

Mencekam, kata yang sangat pantas untuk ujung wilayah naga Sowa. Perang tidak terduga terjadi dan mengakibatkan tidak seimbangnya perlawanan. Namun, saat semua prajurit jaga kerajaan naga Sowa terdesak, tiba-tiba gemuruh datang dari wilayah tengah, tempat dimana istana kerajaan berada.

 

Setidaknya dua ratus prajurit tempur kerajaan merangsek, menghalau dan melumpuhkan seratus prajurit musuh yang melakukan pengejaran. Api berkobar, meluluhlantakkan area sekitar. Menghanguskan seratus prajurit musuh dengan elemen api yang menjadi khas kekuatan mereka.

 

“Perbanyak dan perketat penjagaan, ingat! Ini bukan kemenangan, tetapi awal kekacauan. Oleh karena itu tetap waspada terhadap sekitar kalian!” ujar ketua prajurit yang memimpin penyerangan.

 

“Baik, laksanakan titah pimpinan!” 

 

Dari dua ratus prajurit, hanya sedikit yang menjadi korban, mereka lebih siap melakukan penyergapan balasan. Tetapi, saat pengaturan formasi penjagaan berlangsung. Dari balik tebing batu yang menjadi tembok perbatasan. Lima kali lipat pasukan atau sekitar lima ratus pasukan mulai bergerak, turun bersamaan dan menyerang prajurit tempur kerajaan naga Sowa.

 

“Seraaang!” komando pasukan dari tiga kerajaan mengomandoi pasukannya, dia berdiri gagah di barisan paling depan memimpin penyerangan.

 

Pergerakan derap langkah ratusan prajurit menyebabkan gemuruh dan menciptakan hembusan hawa panas, membuat pasukan kerajaan naga Sowa serentak terkesiap, ” Waspada! Siapkan diri kalian!” teriak lantang pimpinan prajurit dari kerajaan naga Sowa.

 

Senja memerah, sore kelam melanda perbatasan. Pasukan kerajaan naga Sowa hangus tanpa sisa, menjadi debu hitam yang berhamburan tertiup angin. Bahkan, ratusan pasukan naga mulai bergerak menuju kota raja dan melakukan penyerangan terhadap apa saja yang mereka temui.

 

Berita penyerangan menyebar dan sampai ke istana. Ganinda panik, ia meyakini dua ratus prajuritnya telah gugur di Medan perang. Merasa keadaan sudah genting, Ganinda bergegas menghadap sang raja dan mengabarkan kekacauan yang terjadi di Kotaraja. 

 

“Ganinda, segera perketat penjagaan di tempat-tempat vital. Biar diriku sendiri yang menghadapi mereka,” titah raja naga Sowa.

 

“Tapi Baginda, biarkan penjajah itu menjadi urusan hamba. Hamba khawatir jika jumlah mereka terlalu banyak dan terjadi sesuatu yang tidak di inginkan,” jawab Ganinda, panglima kerajaan naga Sowa. 

 

“Tidak perlu, biarkan aku sendiri dan tanpa pengawalan prajurit, perang ini harus di cegah, terlebih kita tidak tau maksud tujuan mereka menyerang kerajaan kita. Aku tidak ingin rakyatku menanggung lebih banyak kehancuran,” ujar sang Raja.

 

“Jika seperti itu, baiklah. Titah raja naga Sowa akan saya laksanakan sebaik-baiknya.” jawab Ganinda, tubuhnya merunduk hormat kepada raja Sowa.

 

 

Sang raja mengangguk, tatapannya menerawang jauh, memikirkan nasib rakyatnya jika perang benar-benar meletus. Oleh sebab itu ia memutuskan untuk menghentikan sendiri pasukan yang menyerang wilayahnya. Saat pergi, naga Sowa tidak menggunakan baju zirah, melainkan pakaian yang biasa ia kenakan.

 

Tubuhnya terbang ringan menuju Kotaraja, menelisik setiap sudut kota yang merah membara. Tatapan raja Sowa nanar manakala pusat keindahan negri naga Sowa hampir hancur lebur oleh tindakan anarkistis ratusan prajurit dari kerajaan lain. Asap membumbung memenuhi angkasa Kotaraja menambah pilu sang penguasa yang saat ini mengamati dari ketinggian.

 

“Hentikan tindakan kalian wahai prajurit yang perkasa … Tidak kah kau sadari berapa banyak nyawa melayang akibat kuasa kalian ….” ucapan raja naga Sowa begitu tenang, tetapi mampu menghentikan aksi prajurit gabungan tiga kerajaan yang beru saja memporak porandakan Kotaraja.

 

“Dengarkan baik-baik, kembalilah ke kerajaan kalian dan sampaikan kepada Raja. Naga Sowa tidak menghendaki kehancuran negri, baik kerajaan naga Sowa atau kerajaan kalian. Sampaikan kepada raja kalian, bahwa naga Sowa menyambut pertarungan hanya dengan antar raja saja, tidak perlu melibatkan prajurit dan rakyat, pergilah ….” ujar raja naga Sowa lagi.

 

“Raja naga Sowa! Kami di tugaskan membumi hanguskan wilayah ini, pantang bagi kami untuk mundur!” jawab pimpinan prajurit.

 

Dari ketinggian, naga Sowa menjentikkan jarinya ke arah pimpinan prajurit. Seketika kepala lelaki jumawa itu tertanggal dan jatuh menggelinding ke tanah. Hal itu membuat gentar ratusan prajurit yang menyaksikan pimpinannya tewas tanpa tersentuh.

 

“Sekali lagi, pergilah sebelum murka raja naga meluluhlantakkan kalian, pergi dan sampaikan pesanku kepada rajamu.” ucapan raja Sowa terdengar tenang, tetapi suaranya menggema di seantero Kotaraja, memekakkan telinga para prajurit dan menggentarkan nyali mereka.

 

Saat itu seluruh prajurit berhamburan pergi, saling tubruk satu sama lain, berebut jalan agar bisa lebih dulu meninggalkan Kotaraja. Meraka sadar, ucapan raja naga Sowa bukan sekedar ucapan biasa. Nyatanya suara yang terdengar tenang itu berusaha menjebol gendang telinga.

 

Kehancuran Kotaraja tidak terelakkan, hanya tersisa desisan api yang melumat bangunan-bangunan indah kota. Naga Sowa terpekur, menyesali tindakan pasukan kerajaan tetangga yang masih satu ras dengan bangsanya. Dia berpikir tidak seharusnya menyelesaikan urusan dengan menghancurkan dan membunuh, terlebih dirinya tidak tahu menahu penyebab terjadinya penyerangan.

 

 

Tiga hari berlalu, selama itu pula naga Sowa melakukan meditasi di atas gunung tertinggi. Tepat tengah malam, sorot merah menyala melesat dari telapak tangan sang raja. Memberi petunjuk kepada raja-raja yang berniat menyerang kerajaan naga Sowa agar hadir memenuhi undangannya.

 

Ya! Naga Sowa menantang tiga raja sekaligus, mempertaruhkan kerajaan di tangannya sendiri tanpa melibatkan ras naga di semua kerajaan langit. Rupanya suar api yang juga merupakan kekuatan inti raja Sowa di sambut oleh tiga raja naga lainnya. Ketiganya melesat menuju suar, tempat tertinggi dan jauh dari keramaian bangsa naga.

 

Puncak tertinggi yang dingin seketika memanas manakala tiga raja datang. Kedatangannya begitu cepat dan melakukan penyerangan dari sisi berbeda, membuat naga Sowa kesulitan menghindari tiga kekuatan dahsyat yang tiba-tiba menyerangnya. Dalam sekejap pertarungan sengit terjadi, energi besar elemen api saling bertubrukan dan menghantam material di sekitarnya.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Lates Chapters

8. Jagoan dari Barat

"Ringkus!!!"   Teriak Bagja manakala memastikan pemuda didepannya benar-benar buronan prajurit kerajaan Naga Barat. Tentu dirinya bersama dua temannya tidak ingin mengambil resiko, ketiganya serempak…

7. Peningkatan kekuatan

Berbagai pil sumber daya penguat tubuh telah di konsumsi oleh Ananta, kesehatan pun berangsur membaik. Namun, pertanyaan besar masih bergelayut di pikiran. Perihal sebab musabab…

6. Buronan

Siiing! Siiiing!   Lesatan bola api menderu cepat, menimbulkan gemuruh berdesing saat membelah udara dan meninggalkan jejak api yang membakar dedaunan. Sementara sikap tenang Ananta…

5. Kekuatan Ananta

Tiga orang prajurit mengepung Ananta, buntut dari teriakannya yang berakibat tegang di tengah keramaian Kotaraja. Rupanya Ananta sengaja melarikan diri agar jauh dari kota. Meninggalkan…

4. Kekuasaan di Kotaraja

"Tidak selayaknya sebuah kerajaan tunduk kepada kerajaan lain, wahai Raja Bagasuta ... Sekalipun Raja Naga Sowa telah gugur, bukan berarti Raja berikutnya harus tunduk padamu!" …

3. Arca Naga

Naga Sowa kelelahan, energinya menurun drastis manakala ia terus menerus menggunakan kekuatan berkah api abadi untuk melawan Raja Bagasuta. Di tambah dengan luka dalam yang…

2. Koloni para Raja

Percikan api menyebar cepat, menghanguskan material dan memporak-porandakan malam yang seharusnya penuh ketenangan. Saat itu, raja Naga Sowa berhasil melumpuhkan kekuatan dua Raja. Namun, salah…
error: Content is protected !!