Murka Naga Angin

6. Buronan

Siiing!

Siiiing!

 

Lesatan bola api menderu cepat, menimbulkan gemuruh berdesing saat membelah udara dan meninggalkan jejak api yang membakar dedaunan. Sementara sikap tenang Ananta seketika berubah drastis manakala merasakan energi kuat mengancam dirinya. Kewaspadaannya meningkat pesat saat tatapan matanya menangkap kerlip membara melesat cepat ke arahnya.

 

Dhar!

Dhar!

 

Sungguh intuisi yang tepat, menggagalkan serangan dengan gerakan yang tidak terduga. Padahal, sedikit saja salah bergerak, bisa saja tubuh Ananta habis terbakar. Dan saat seperti inilah Ananta harus waspada, terlebih pemilik energi besar itu belum menunjukkan dirinya.

 

“Keahlianmu cukup mengesankan, mampu melumpuhkan prajurit dari Barat. Tetapi, setiap perbuatan harus ada pertanggungjawaban, terlebih yang kau lawan adalah orang-orang kerajaan Barat yang menguasai Negri Naga! Aku rasa, berlutut dan sukarela menyerahkan diri adalah pilihan terbaik buatmu, wahai Bocah!” ujar suara tanpa wujud yang menggema di seantero belantara hutan.

 

“Tunjukkan dirimu! Jika kau pimpinan prajurit, maka kaulah yang harus bertanggungjawab atas kekacauan di Kotaraja!” sentak Ananta. Bukan tanpa sebab Ananta berani melakukan itu, jelas ia sudah menakar sebesar apa energi dan aura yang semakin dekat kearahnya.

 

“Kotaraja wilayah kerajaan Naga Barat, semua peraturan di tempat itu sudah seijin pihak kerajaan, apa yang kau permasalahkan? Lalu, apakah tindakan perlawanan ini bukan perbuatan yang menciderai kedaulatan kerajaan?” ujar seseorang yang berkelebat dan mendarat didepan Ananta dan melesakkan pukulan jarak jauh.

 

“Ini bukan perlawanan, Tuan … Dimana ada kejahatan dan kesewenang-wenangan aku akan datang, sekalipun pelakunya para prajurit kerajaan, aku tidak perduli.” jawab Ananta.

 

Ketika menjawab Ananta sudah berada di udara, menghindari serangan cepat dari lelaki ber-zirah kerajaan Naga Barat. Ia sudah terbiasa dengan prajurit, bahkan panglima tempur di kerajaan Naga Timur, atau lebih sering di sebut kerajaan Naga Sowa. Tidak heran jika Ananta biasa saja saat berhadapan dengan pimpinan prajurit yang saat ini menyerangnya.

 

Menakar dari tingkat kekuatan, memang Ananta berada satu tingkat di atas pimpinan prajurit kerajaan Naga Barat. Tetapi, satu hal yang tidak di sadari oleh Ananta, pengalaman. Pengalaman harus di kuasai oleh seorang petarung, terlebih pertarungan hidup dan mati. 

 

Bahkan, saat ini pun Ananta mulai terjebak oleh kekuatannya sendiri. Serangannya yang bertubi-tubi menghabiskan begitu banyak energi, membuat Ananta mengalami kelelahan. Kini ia berkelit kesana-kemari menghalau serangan balasan dari lawan yang masih terlihat bugar.

 

“Sudahlah, walau tingkat kekuatanmu lebih besar dariku, nyatanya kau harus takluk padaku. Menyerahkan ….” ujar kepala prajurit sembari menengadahkan kepalanya.

 

“Pantang bagiku menurutimu! Terlebih kau berada di pihak penindas!” sentak Ananta.

 

Tubuhnya melayang, lalu kedua tangan Ananta merentang dan mengepak seperti sayap burung terbang. Seketika, udara di sekelilingnya terasa begitu pengap dan panas. Sebuah jurus tingkat tinggi yang jarang dimiliki oleh orang seumuran Ananta.

 

Pimpinan prajurit terkesiap manakala aura menindas tiba-tiba mengancamnya. Dia merasakan energi besar yang melampaui batas akal sehat menyelimuti lawan. Bahkan, tubuh pimpinan prajurit itu menggigil ketakutan saat tatapan tajam Ananta tertuju kepadanya.

 

“Siapa bocah ini? Kenapa aku merasakan ketakutan luar biasa mengerikan?” pertanyaan itu terlontar begitu saja dari mulut pimpinan prajurit.

 

Sedangkan Ananta sendiri tidak menyadari keanehan itu, sebab ia hanya menggunakan jurus elang api miliknya. Namun, sesuatu yang mengendap di tubuhnya tiba-tiba menguap. Menyuplai kekuatan Ananta yang masih berada di ranah menengah.

 

Saat ketakutan makin merajai sang pimpinan, prajurit-prajurit yang semula terkulai lemas mulai bangun. Berjalan terseok berusaha meninggalkan lokasi secepatnya. Mereka tau, bahaya besar dari ranah pendekar sedang mengancam kehidupannya.

 

“Matilah kita! Pergi! Pergi!” teriak salah satu prajurit mengomandoi rekan-rekannya agar menjauh secepatnya.

 

Ketika seluruh prajurit pergi, sebuah anak panah melesat cepat dari busurnya. Melintasi panasnya udara yang terkontaminasi oleh pendaran energi panas dari tubuh Ananta. Bahkan, senjata itu menembus dada pimpinan prajurit yang tengah berada di puncak ketakutan.

 

Lambat-laun raga pimpinan prajurit berubah wujud menjadi seekor Naga, hal itu menandakan jika dirinya telah tewas. Di sisi lain, Ananta tiba-tiba terjatuh dan tidak sadarkan diri. Rupanya, ia tidak mampu mengendalikan energi panas yang menguap dari tubuhnya.

 

Kabar menyebar cepat, tempat-tempat keramaian menggunjingkan kematian pimpinan prajurit kerajaan Naga Barat yang bertugas di wilayah Kotaraja. Menghilangnya tiga orang prajurit juga menjadi kabar hangat di seantero Kotaraja. Hal itu tentu mencoreng nama baik kerajaan, terlebih ciri-ciri pelaku tampak asing di mata warga Kotaraja.

 

Pos jaga di perketat. Bahkan, tempat-tempat strategis seperti pasar, kedai dan tempat lain yang berpotensi menjadi ajang keramaian mendapat perhatian lebih dari para prajurit. Akibatnya, keramaian yang seharusnya menjadi ajang suka-cita malah cenderung di selimuti ketegangan. Sketsa wajah terpampang dimana-mana, menandakan jika wajah remaja itu menjadi buronan kerajaan Naga Barat.

 

***

 

Istana Naga Sowa, atau kerajaan Naga Timur.

 

Di kamar pribadi Ananta, seorang ahli pengobatan istana sibuk meracik obat untuk Ananta. Remaja itu belum juga siuman semenjak kejadian di perbatasan Kotaraja. Hal itu membuat panik Bogadana, pengasuh khusus Ananta, ia memanggil Jalasuta yang di tugaskan mengawal gerak-gerik Ananta diluar istana.

 

“Jalasuta, apa yang terjadi terhadap pangeran. Mengapa kondisinya seperti ini,” ujar Bogadana tanpa melihat raut wajah Jalasuta.

 

Tatapan Jalasuta menelisik sekitarnya, merasa aman ia baru berucap kepada Bogadana, “Semua di luar prediksi, Bogadana … Pangeran Ananta tiba-tiba melayang dengan jurus elang api, tetapi ada hal yang membuatku kebingungan.” ucapan Jalasuta terhenti, memikirkan sesuatu sebelum melanjutkan ucapannya.

 

“Apa itu?” tanya Bogadana, ia tidak sabar menanti jawaban Jalasuta.

 

“Energi itu mengingatkan diriku pada seseorang, Bogadana ….” ujar Jalasuta yang masih tidak mau menjelaskan.

 

Padahal dia hanya berdua dengan Bogadana, tetapi tentunya ada kekhawatiran tersendiri jika ada yang menguping pembicaraannya. Jalasuta mendekat dan membisikkan sesuatu kepada Bogadana. Lelaki itu tersentak kaget manakala Jalasuta membeberkan perihal keanehan Ananta.

 

“Saranku, usahakan pangeran Ananta mengkonsumsi sumberdaya yang melimpah, Bogadana,” ujar Jalasuta kemudian.

 

“Ya, untuk saat ini biar ahli pengobatan yang menangani pangeran Ananta, semoga dia cepat siuman.” jawab Bogadana.

 

Selesai berbincang, kedua orang itu memisahkan diri. Bogadana menuju kamar Ananta, sedangkan Jalasuta kembali ke tempatnya. Menjalankan peran masing-masing sesuai dengan tugasnya.

 

 

Menjelang pagi, Ananta baru sadarkan diri. Matanya mengerjap pelan, melihat sekeliling lalu memiringkan kepala sembari berpikir. Berusaha mengingat-ingat kejadian terakhir, juga memikirkan siapa yang membawa dirinya ke istana Naga Timur.

 

 Satu hari dua malam tanpa kesadaran membuat Ananta melewatkan berita yang sedang panas di luar sana. Pasalnya, sketsa yang hampir menyerupai wajahnya bertebaran di seantero Kotaraja. Menempel disudut kota dan seluruh kedai yang ada di kota terbesar negri Naga, termasuk menghiasi jalanan penghubung antar kerajaan.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Lates Chapters

8. Jagoan dari Barat

"Ringkus!!!"   Teriak Bagja manakala memastikan pemuda didepannya benar-benar buronan prajurit kerajaan Naga Barat. Tentu dirinya bersama dua temannya tidak ingin mengambil resiko, ketiganya serempak…

7. Peningkatan kekuatan

Berbagai pil sumber daya penguat tubuh telah di konsumsi oleh Ananta, kesehatan pun berangsur membaik. Namun, pertanyaan besar masih bergelayut di pikiran. Perihal sebab musabab…

5. Kekuatan Ananta

Tiga orang prajurit mengepung Ananta, buntut dari teriakannya yang berakibat tegang di tengah keramaian Kotaraja. Rupanya Ananta sengaja melarikan diri agar jauh dari kota. Meninggalkan…

4. Kekuasaan di Kotaraja

"Tidak selayaknya sebuah kerajaan tunduk kepada kerajaan lain, wahai Raja Bagasuta ... Sekalipun Raja Naga Sowa telah gugur, bukan berarti Raja berikutnya harus tunduk padamu!" …

3. Arca Naga

Naga Sowa kelelahan, energinya menurun drastis manakala ia terus menerus menggunakan kekuatan berkah api abadi untuk melawan Raja Bagasuta. Di tambah dengan luka dalam yang…

2. Koloni para Raja

Percikan api menyebar cepat, menghanguskan material dan memporak-porandakan malam yang seharusnya penuh ketenangan. Saat itu, raja Naga Sowa berhasil melumpuhkan kekuatan dua Raja. Namun, salah…

1. Hancurnya Kotaraja

Trang! Trang!   Dentingan senjata nyaring terdengar, membahana mengusik tenang. Sore itu, ratusan pasukan menyerbu ujung wilayah kerajaan naga Sowa. Penyerangan tiba-tiba membuat pasukan yang…
error: Content is protected !!