Dua Puluh Hari

1. Hari yang Sial

“Sial.” Maki Diajeng saat Pak Gagah tidak membalas pesannya setelah kemarin beliau menyanggupi untuk bimbingan di pagi ini. Diajeng Candra Kirana, seorang mahasiswi semester akhir yang menjadi salah satu korban ghosting Pak Gagah. Jika bukan kalah war dosen pembimbing, ogah sekali Diajeng mendapatkan Pak Gagah. Namanya saja yang Gagah, kenyataannya manusia satu itu sangat menyebalkan. 

Tidak peduli dan pandang bulu, mahasiswi terutama yang selalu dianiaya. Bukan dalam artian sebenarnya, hanya saja di tengah krisis kewarasan beliau malah menambah pikiran.

Diajeng tertunduk lemas di koridor ruang dosen. Pagi sekali Diajeng telah datang, menunggu dengan sabar kesia-siaan itu. 

Perasaannya kacau balau, apalagi semalam Diajeng lembur untuk memperbaiki bab satu yang sebulan lalu diterima Pak Gagah. Terhitung tiga kali revisi dengan satu kali bimbingan. Seolah Pak Gagah tahu isi dari pekerjaan Diajeng yang masih berantakan. Dosen muda satu itu langsung menolak mentah-mentah. 

Bu Kailiya, salah satu dosen favorit mahasiswa jurusan bahasa memberitahukan pada Diajeng jika Pak Gagah sedang berada di luar kota hingga pekan depan. Waw, keren sekali, padahal baru semalem beliau setuju untuk bimbingan. 

Bu Kailiya menatap Diajeng kasihan, beliau juga mungkin akan memaki dengan cara yang sama jika berada di posisi Diajeng. 

Setelah menenangkan diri selama sepuluh menit, Diajeng memutuskan pergi menuju kantin fakultas. Memilih bangku pojok dan memesan mie ayam sebagai bentuk penghiburan diri. 

Melihat kolom chat dengan Jenderal yang belum juga dibalas dan anehnya tetap ceklis 1 meskipun sudah dua puluh empat jam sejak pesan terakhir yang dikirimkan Diajeng.

Spekulasi terburuk pun menghantui Diajeng, di saat genting seperti ini, saat Diajeng butuh sosok kekasihnya itu. Jenderal malah menghilang tanpa jejak. Ditelpon tidak bisa, di chat ceklis satu. Padahal biasanya tanpa diminta, Jenderal akan menghiburnya. 

“Kenapa malah menghilang semua sih, sialan banget.” Diajeng menggerutu pelan. Tidak ingin merusuh di kantin, setelah membayar makanan, Diajeng memilih meninggalkan area kampus dan kembali ke kos.

Pak Mamat, satpam kos Melati menyapa. “Tumben ndok, sendirian aja. Mas Jenderalnya kemana?” 

Diajeng meringis, “iya Pak, Jenderalnya lagi sibuk.” jawab Diajeng.

“Owalah gitu, ya udah selamat beristirahat ndok.” ujar Pak Mamat. Diajeng mengangguk semangat, “makasih Pak.” 

Setelah percakapan singkat dengan Pak Mamat, Diajeng lekas membersihkan diri. Ingin sekali Diajeng bercerita kepada teman tentang hari yang sial ini. Akan tetapi, Keisya sedang pulang kampung. Cerita lewat telpon atau chat terasa kurang. Dan selain Keisya, tidak ada lagi yang dekat. 

Dulu sekali, saat semester awal Diajeng beranggapan bahwa teman dekat itu tidak terlalu penting. Tapi, kali ini Diajeng menyesalinya. 

Kepalanya terasa berat, seperti mau meledak. Hatinya sakit, dan moodnya buruk. Dengan sisa tenaga yang ada Diajeng meraih tablet obat pereda nyeri di dalam kotak P3K. “Cuma gara-gara ini doang, masa sakit.” keluhnya pada udara kosong. 

Kring, suara notifikasi dari hp satunya berbunyi. Nama Ibuk tertera di layar. Dalam keadaan seperti ini, Diajeng malas mengangkat telepon. Membiarkan selama beberapa menit, sampai panggilan tersebut mati dengan sendirinya. Lantas, Diajeng membuka aplikasi WhatsApp dan memilih chat untuk membalas telepon yang sengaja tidak diangkatnya.

 

Chat Diajeng dan Ibuk 

Ada apa buk? Maaf tidak keangkat teleponnya.

Minggu ini bisa ke rumah kakek, ndok? Haul nenek yang ke tiga. Ibuk belum bisa pulang.

Bisa, nanti Diajeng saja yang datang. Ibuk masih sibuk?

Ndak terlalu, tapi klien Ibuk kali ini agak rewel. Ndak papa kan?

Iya Buk, aman. 

Ya udah, uang sakunya udah Ibuk transfer ya, hati-hati. Jangan lupa makan, beli buah juga.

Oke Buk.

 

“Tau aja kalau aku belum makan, aish. Huh, lagi-lagi sibuk.” Keluhan itu selalu sama setiap kali Ibuk Diajeng sibuk bekerja. Padahal, wanita itu bisa saja menganggur karena Ayahnya sudah sangat cukup menafkahi keluarga Diajeng. Menjadi anak bungsu yang selalu ditinggal itu menyebalkan. Diajeng terlalu muda dan dia selalu ditinggal dalam hal apapun. Saat Kak Diandra—sulung SMA maka Diajeng baru lahir. Begitu pula dengan Biru—kakak tengahnya meskipun cukup dekat, tetapi jarak usia keduanya lima belas tahun. 

Dengan begitu Diajeng selalu dilarang ini itu oleh mereka, sehingga dalam hal mental Diajeng tidak cukup kuat. 

Saat ini Diajeng baru mau menapaki dunia orang dewasa, sedangkan kedua kakaknya sudah sangat dewasa. Baik secara pikiran, mental ataupun finansial.

Pulang ke rumah Kakek, adalah hal menyenangkan setiap kali liburan. Tapi, minggu ini bukan liburan. Kesannya akan berbeda. 

Jika Biru tahu kalau Diajeng sakit cuma gara-gara gagal bimbingan dan ditinggal musang, pasti akan menertawainya. Maka dari itu lebih baik tidak diceritakan. 

Dengan moodnya yang sudah membaik sedikit, Diajeng memutuskan memilih baju mana saja yang akan dibawa. 

“Pokoknya aku harus senang-senang. Lupain aja si musang itu, oke Diajeng?” Diajeng memberikan kata penenang lagi. 

“Liburan, tunggu aku ya!” Ucapnya penuh semangat.

Mungkin, ini kali terakhir Diajeng berharap Jenderal membalas pesannya. Esok hari, mau tidak mau harus mengakhiri harapan yang menyakitkan ini.

“Aku ngga mau nyesel dan sakit sendirian. Tuhan, kalau seandainya dia kembali haruskan aku memaafkannya?” bisik Diajeng lirih. Kata Ibuk kunci hubungan itu komunikasi dan saling memaafkan. Tetapi, jujur saja Diajeng agak keberatan. Dia sudah mencoba sebaik mungkin menjaga komunikasi dan tidak menampakkan sikap dominan.

Huft, bagaimana jika bukan Diajeng yang bersalah tetapi Jenderal yang bingung mau mengucapkan tentang dirinya. Tentang sisi yang paling gelap. Atau tentang ketakutan akan kehilangan. Dari sisi Jenderal yang mungkin enggan membuka diri terhadap Diajeng. 

Diajeng sempat berpikir mungkin kali ini dia kan memberikan waktu sejenak, ruang untuk berdamai dengan segala ketakutan yang ada. 

 

Chat Diajeng dan Biru

Kak Biruu, kalau cowok ngga mau bales pesan dia lagi ngapain si?

Woiii! Tunggu! Mbul sejak kapan punya cowok? 

Apasih, jawab aja.

Ga boleh pacaran ya mbul, masih bayik kamu itu.

Udah semester 8 ya, mau lulus ini. Bayik dari mananya?

Dari dulu juga bayik, ko tiba-tiba banget. Siapa dia, Kaka kenal engga?

Kenapa malah balik tanya sih, jawab aja kak.

Setres kali

Yang bener aja lah 

Ini bener banget, sumpah. Paling seminggu lagi dia balik chat kamu. Tunggu aja, kalau engga sabar putus aja. 

Ga dapet solusi blas, dasar kak Biru!

Hahahaha 

 

Chat dengan Kak Biru tidak pernah mendapatkan solusi. Ada saja jawaban asbunnya. Kalau chat Kak Diandra akan lebih parah urusannya dan Diajeng tidak mau merepotkan hal kekanakan ini pada kakak sulungnya.

Dengan hati setengah rela, Diajeng memilih menunggu. Sesuai saran Kak Biru tadi. 

Jika Jenderal masih sayang, pasti dia akan kembali. 

Setelah mencoba berdamai, Diajeng merebahkan tubuh lelahnya. Mulai menghitung bintang dan tidur. 

Dalam mimpi pun Diajeng tidak ingin diganggu dengan hal yang soalnya hari ini dia lalui dengan perasaan yang tidak baik-baik saja.

Lates Chapters

7. Obrolan di Meja Makan

Diandra menyiapkan piring tambahan untuk tamu spesial Diajeng. Setelah Diajeng meminta dengan malu-malu khas miliknya, Diandra penasaran. Jujur saja dia belum melihat sosok manusia yang…

6. Nyekar Date

Sang bayu berembus pelan seolah tahu bahwa dua anak manusia itu tengah menggenggam rindu dan luka yang tak bisa dijelaskan lewat kata. Terlalu banyak kebohongan…

5. Misi Mencari Bunga Kamboja

Senin pagi, matahari masih malas menyinari bumi. Jenderal sudah chat Diajeng.  Chat Jenderal Di, aku pengen kerumah kamu. Aku bawain pie susu iniii. Diajeng hanya…

4. Rayuan Jenderal Buaya

Pertemuan di taman Westeria menjadi titik balik Jenderal memperjuangkan maaf dari Diajeng. Bagi Jenderal, gagal adalah skenario terburuk dari hal buruk yang telah menjadi temannya…

3. Syarat Diajeng

  Ahad pagi, Diajeng sudah hectic dengan kepulangannya ke rumah Kakek. Satu koper kecil dan backpack hitam serta tas selempang mini menjadi bawaan Diajeng kali…

2. Perkara Chat di Malam Hari

Lima hari sejak terakhir pesan yang dikirim Diajeng, Jenderal membalasnya. Bukan seperti orang yang baru melakukan kesalahan. Jenderal menyapa dengan biasa. Sangat biasa untuk ukuran…
error: Content is protected !!