Dua Puluh Hari

7. Obrolan di Meja Makan

Diandra menyiapkan piring tambahan untuk tamu spesial Diajeng. Setelah Diajeng meminta dengan malu-malu khas miliknya, Diandra penasaran. Jujur saja dia belum melihat sosok manusia yang membuat adiknya tidak tidur semalaman. Untuk hal yang dikatakan Diajeng pada malam saat monitor hp milik Diajeng tersambung otomatis, Diandra tahu jika sang adik tengah gundah gulana. Bukan pasal skripsi dan dosen pembimbing lagi, tetapi masalah hati. 

“Kalula, Mama minta tolong boleh?” pinta Diandra pada Kalula. “Boleh, Mama mau minta tolong apa?” Kalula menanggapi ibunya. “Panggilkan Om Biru sama yang lainnya ya, makan malamnya udah siap.” 

Kalula mengangguk riang, “oke, Mama!” sembari memberikan jempol mungilnya. Diandra segera merapikan meja dan berganti pakaian lebih dulu. Suasana meja makan malam ini lebih ramai, apalagi dengan bertambah satu personil baru. Makan malam terasa nikmat dan obrolan kecil mewarnai setelahnya. 

“Nak Jenderal udah lama kenal sama Diajeng?” tanya Kakek setelah acara perkenalan. Jenderal tersenyum tipis, “tiga tahun, Kek.” jawabnya. “Lama juga, kenapa Diajeng tidak cerita? Kamu juga udah tahu, Ru?” Kakek bertanya pada Xabiru yang diam-diam memainkan hp miliknya. Menatap bingung pada kakeknya, Xabiru tidak menyimak obrolan. Lengannya menyenggol Daffa, bertanya lewat isyarat, ‘apa yang ditanyakan kakek’ begitulah kira-kira. Daffa mengedikkan bahu, tidak mau membantu. Xabiru mengumpat dalam diam. “Tidak, Kakek.” jawab Xabiru memilih aman. 

“Diandra juga?” Kakek kembali bertanya, kini giliran Diandra yang mendapatkannya. “Jujur saja, tidak. Diajeng pelit sekali soal seperti itu, Kakek. Kalau soal uang saku dia tidak pernah absen untuk menelepon.” adu Diandra jujur. Meskipun dia bisa menebak, tapi jujur itu diperlukan. Apalagi dalam keluarga, jujur itu menjadi pondasi selain setia. 

“Yah, kecewa Kakek.” 

Diajeng yang mendengar kekecewaan kakeknya merasa sedikit bersalah. Ditambah tatapan maut Xabiru, dan godaan Diandra. Kalula juga memberikan tatapan menyalahkan, padahal bocah kecil itu belum paham arah pembicaraan orang dewasa yang rumit ini. 

Jenderal juga merasa canggung, dia menoleh pada Diajeng meminta bantuan untuk mencairkan suasana sidang ini. 

“Diajeng mau cerita, tapi takut dikatain bocil sama Kak Biru. Waktu itu Di cerita sama Kak Biru malah dianggap halu kan nyebelin. Jadi Di udah nggak mood buat cerita ke yang lainnya juga. Kalau ke Kak An, em Di malu.” ungkapan Diajeng memicu tawa renyah dari Xabiru dan Diandra. Mereka berdua kompak saling lirik dengan sisa tawa yang masih terukir di bibir. 

“Kan belum apa-apa udah diketawain aja. Ngga asik banget kalian.” Diajeng merajuk, Xabiru menyentil kening Diajeng pelan. “Maaf, ya. Kak Biru kira Diajeng kebawa mimpi abis nonton drama gitu. Tahunya beneran.” ujar Xabiru menenangkan. 

Diandra juga menatap si bungsu, “Kak An ngga pernah ngelarang, Di. Kak An cuma mau Diajeng ngga nyesel sama apa yang telah Di pilih.” Diandra menambahkan.

Kharisma menatap Jenderal intens, mengukur seberapa teguh keinginan Jenderal untuk memperbaiki hubungannya dengan Diajeng. Kharisma tidak bilang setuju, tapi dia melunakkan tatapannya. Sedangkan Daffa, masih acuh tak acuh. Dia merasa tidak perlu berkontribusi dalam hal menyambut calon keluarga baru yang mana Daffa sudah tahu dari Kharisma bahwa laki-laki yang duduk persis di depannya ini menimbulkan masalah. 

Obrolan itu berlanjut sampai selesai makan malam. Dari Kakek, Jenderal telah mendapatkan restu untuk memiliki cucu bungsu, seorang Diajeng yang ternyata begitu disayang di dalam keluarganya. Kehangatan yang Jenderal rasakan kini menjadi pelipur kesepian yang memeluknya di tahun-tahun terakhir. Tidak heran sikap Diajeng begitu terkendali dan penuh kelembutan. Tangki cinta Diajeng telah penuh oleh orang-orang disekitarnya. 

Melihat ada sebuah keluarga yang harmonis membuat Jenderal berkeinginan untuk memilikinya. Memiliki rumah yang hangat dan nyaman, tempat pulang yang akan selalu dirindukan. Dan Jenderal menemukan itu pada Diajeng, sosok perempuan penuh talenta yang tetap lembut dalam bertutur kata. 

Diajeng menatap Jenderal yang duduk anteng di depan televisi. Menikmati acara yang entah mengapa bagi Diajeng terkesan membosankan. Malam ini Jenderal menginap, Kakek mengajak ngobrol sampai malam, sehingga Xabiru menyuruhnya menginap saja. “Kenapa natapnya gitu?” tanya Jenderal sadar diperhatikan Diajeng sedari tadi. 

Diajeng menggeleng, “tidak, gr banget kamu.” elak Diajeng sekenanya. Bibir Jenderal menipis, “padahal ngga papa loh, tidur sana udah malem!” ujar Jenderal. Diajeng mengatupkan bibir, kata yang hendak terlontar tiba-tiba hilang entah kemana. Lekas Diajeng berdiri dan berjalan menuju kamarnya. Meninggalkan Jenderal bersama Xabiru yang sudah pergi ke alam mimpi lebih dulu. 

Penerimaan keluarga Diajeng, yang sangat terbuka dan tidak penuh penghinaan itu membuat Jenderal menurunkan waspada. Langit-langit ruang keluarga yang melukiskan awan putih seolah langit yang cerah itu menambah kesan tenang. Malam semakin larut, tetapi netra Jenderal enggan terpejam. Obrolan hangat di meja makan tadi masih membekas. Dia mengusap dada pelan, ada getaran halus di sana. Cahaya, ya. Sesuatu yang telah lama hilang dari diri Jenderal, kini kembali ditemukan. “Aku harus bisa, tidak ini bukan ajang pembuktian. Ini ketulusan yang langka.” ujarnya sebelum terlelap. 

Xabiru membuka mata, dia mendengarkan dengan baik, seolah Xabiru paham bahwa laki-laki yang dibawa sang adik mungkin memiliki keluarga yang tidak Cemara. Dilihat dari reaksi Jenderal saat mendapatkan penyambutan hangat di meja makan. Saat Diajeng membela karena dia sendiri yang tidak inisiatif memperkenalkan. Atau saat adiknya memperhatikan tatapan Jenderal yang seolah tengah memikirkan sesuatu. Xabiru tidak mempersulit, justru dia ingin melihat usaha laki-laki ini. Bagaimana cara dia memperlakukan Diajeng, menghormati pilihannya atau sekedar mendukung impiannya. 

Xabiru berharap kali ini tidak mengecewakan. Xabiru tidak akan pernah rela jika Diajeng mendapatkan laki-laki yang merepotkan hidupnya. Si tuan putri itu sudah terbiasa hidup tercukupi. Xabiru pun memberi tolak ukur bahwa seseorang yang nanti akan menjadi pendamping hidup Diajeng haruslah berkecukupan. Realistis saja, kakak mana yang ingin hidup adiknya kekurangan? Ada? Ada, jika dia tidak memiliki kewarasan.

Sedangkan Diajeng sendiri masih sibuk bolak-balik di ranjang. Dia tengah gundah. Bukan lagi soal Jenderal yang menghilang seminggu, atau permintaan maaf dan berjanji bertobat selama dua puluh hari tanpa absen. Bukan. Diajeng hanya merasa keluarganya ini terlalu menerima. Sejak kecil Diajeng terbiasa, terlindungi, dan terjamin. Kali ini Diajeng rasa kedua kakaknya sedikit melonggar. Atau hanya sampai pagi nanti? Saat Jenderal sudah pulang ke rumahnya. Mungkin sidang besar yang ada di bayangan Diajeng akan terealisasikan. 

“Ini yakin? Kok aku khawatir ya? Aah, ini gimana terus. Mana ngga bisa tidur lagi. Ngga mungkin kan aku ganggu Kak An, atau Kharisma? Tidak dia sudah marah padaku tadi sore. Aku butuh temen ngobrol,” ungkap Diajeng pada lampu tidur yang kebetulan masih menyala. Apapun yang terjadi esok, terjadilah. Diajeng lelah menerka-nerka. Berpikir keras membuat lapar, tapi dapur sudah sepi tanpa penghuni. Diajeng enggan, dia memilih tidur dengan perut yang lapar. 

Ayam berkokok lantang, berisik sekali. Kakek punya ayam jantan tujuh dan itu bunyi semua. Seberisik apa pagi Diajeng? Sangat tidak sehat untuk orang emosian. Untungnya Diajeng seanggun puteri keraton. Anti marah-marah saat bangun tidur. Langkah kaki Diajeng teratur, otomatis menuju ruang keluarga. Dia sudah hafal rutinitas membangunkan Xabiru. Kakaknya itu selalu tidak bangun pagi. Jujur saja itu menjengkelkan. Tetapi, saat sampai di ruang keluarga, Diajeng terkejut mendapati Xabiru sudah bangun. Juga, Jenderal yang telah pulang tanpa pamit dari Diajeng.

Mood pagi yang disusun secantik mungkin, hancur berantakan. Mata Diajeng menyipit, tangannya terkepal dan napasnya memburu. Ingin sekali Diajeng berteriak, memaki dan mengumpat. Tetapi sayang, ini di rumah Kakek. Mana bisa, sedih sekali. Kalau bertemu lagi, janji Diajeng akan menghajar Jenderal sampai babak belur. Ingatkan ya, kalau saja Diajeng lupa. 

Lates Chapters

6. Nyekar Date

Sang bayu berembus pelan seolah tahu bahwa dua anak manusia itu tengah menggenggam rindu dan luka yang tak bisa dijelaskan lewat kata. Terlalu banyak kebohongan…

5. Misi Mencari Bunga Kamboja

Senin pagi, matahari masih malas menyinari bumi. Jenderal sudah chat Diajeng.  Chat Jenderal Di, aku pengen kerumah kamu. Aku bawain pie susu iniii. Diajeng hanya…

4. Rayuan Jenderal Buaya

Pertemuan di taman Westeria menjadi titik balik Jenderal memperjuangkan maaf dari Diajeng. Bagi Jenderal, gagal adalah skenario terburuk dari hal buruk yang telah menjadi temannya…

3. Syarat Diajeng

  Ahad pagi, Diajeng sudah hectic dengan kepulangannya ke rumah Kakek. Satu koper kecil dan backpack hitam serta tas selempang mini menjadi bawaan Diajeng kali…

2. Perkara Chat di Malam Hari

Lima hari sejak terakhir pesan yang dikirim Diajeng, Jenderal membalasnya. Bukan seperti orang yang baru melakukan kesalahan. Jenderal menyapa dengan biasa. Sangat biasa untuk ukuran…

1. Hari yang Sial

"Sial." Maki Diajeng saat Pak Gagah tidak membalas pesannya setelah kemarin beliau menyanggupi untuk bimbingan di pagi ini. Diajeng Candra Kirana, seorang mahasiswi semester akhir…
error: Content is protected !!