Refleks tangan Mentari mengusap rambutnya yang tergerai indah dengan warna baru yang membuatnya terlihat lebih cerah dan cantik.
“Beda sekali. Hampir gue ga ngenalin lu. Sofi, kan?” tanya Leon sambil kembali mendekat beberapa langkah.
Leon dan Mentari berhadapan hanya berjarak satu meter. Wajah tampan yang mempesona itu makin terlihat jelas.
“Iya. Mas Agus udah hapal aku. Padahal kita baru kenal,” kata Mentari.
“Abis, lu unik. Manggil gue Mas. Aneh tahu. Panggil aja nama,” ujar Leon.
“Ga sopan, Mas. Ga boleh kata ibuku,” sahut Mentari.
“Terserah lu, deh. Hee … hee …” Leon tertawa kecil dengan ucapan Mentari. “Tapi lu cakep. Lu cantik kayak gini. Suka nyalon juga lu?”
“Apa?” Mentari tidak begitu paham dengan kalimat Leon. Dia mengerutkan kening berpikir. “Ohh, salon? Nggak. Aku jarang ke salon. Ini gratisan, Mas. Mana aku ada duit.”
“Hee … hee … lu beneran unik. Lucu dan lugu banget.” Leon menggeleng kepala. Dia tidak mengira hari begini ada gadis sepolos Mentari.
Mentari tersenyum dan sedikit bingung dengan sikap Leon.
“Gue mau pulang. Lu kagak pulang? Arah mana?” tanya Leon lagi.
“Eh, itu …” Mentari makin bingung. Pulang ke mana? Dia tidak ke mana-mana. Dia tinggal di mal itu, di atapnya lebih tepatnya. Dan tidak mungkin Mentari mengatakan yang sebenarnya pada Leon. Apa yang akan dia katakan? Apa dia akan percaya?
“Eh, aku masih nunggu … belum mau pulang,” ucap Mentari sedikit tidak yakin.
“Oh, oke, deh.” Leon mengangkat kedua bahunya sambil berjalan mundur.
Tampan, astaga! Banget. Senyumnya itu. Melihat tampangnya Mentari mengira dia bukan asli Indonesia, tapi kalau lihat namanya tidak mungkin dari luar. Dan logatnya, Jakarta total. Ada rasa penasaran di hati Mentari dengan paduan antik yang terlihat dari penampilan Leon.
“Sampai besok, ya?” Leon melambai.
Mentari hanya mengangguk sambil tersenyum kecil.
“Kita berteman, kan?” Leon masih bicara sambil bergerak mundur.
“Berteman?” Mentari menaikkan kedua alisnya. Dada Mentari seketika berdegup kencang mendengar kata-kata itu.
“Hmm,” sahut Leon. Dia menghentikan langkah dan mengangguk. “Sesama pegawai baru, harus kompak.”
“Hee … hee …” Mentari terkekeh mendengar itu. “Mas Agus bisa aja. Tapi aku setuju, deh. Harus kompak. Cuma …”
Leon mengernyit, menunggu Mentari meneruskan ucapannya. Tapi Mentari tampak ragu bicara. “Kenapa?”
“Hhmm, nggak. Nggak jadi. Udah sana kalau mau pulang. Ntar dicari ibu Mas Agus, kok ga pulang-pulang!” kata Mentari dengan senyum lebar.
“Haa … haa …!! Lu bisa aja, Sof!” Tawa Leon meledak. Lalu dia kembali melambai, berbalik, dan melangkah menjauh.
Mentari menatap tubuh gagah dan atletis Leon. Masih terkagum-kagum pada pemuda tampan itu. Seperti tidak percaya saja, dia ternyata sama dengan Mentari, pegawai mal.
“Cuma … aku rasa ga cocok nama kamu Agus, Mas.” Mentari melanjutkan apa yang sebenarnya dia mau katakan pada Leon.
Leon tak terlihat lagi. Mentari pun bergegas menuju ke atap mal. Di jam itu Alman biasanya datang membawa makanan buatnya. Mentari tidak mau Alman menunggu terlalu lama. Pria itu juga harus segera pulang dan istirahat.
“Ah! Ini dia. Ke mana saja ga balik-balik?” Alman menyambut Mentari dengan suara khasnya. “Sofi? Apa yang terjadi sama kamu?”
Alman terbelalak melihat penampilan Mentari yang berbeda. Rambut merah kecoklatan dengan poni bagus di keningnya.
“Maaf, Om. Tadi aku terjebak di sebuah salon,” kata Mentari. “Tiba-tiba ada ibu-ibu nawari ke salon gratis. Jadi gini hasilnya.”
“Wahh … beda, cakep.” Alman masih terpana.
“Hee … hehe … udah Om, aku malu diliatin kayak gitu,” kata Mentari sambil kedua tangan mengusap-usap rambutnya.
“Coba kamu pakai baju keren dikit, dah kayak anak orang-orang kaya itu. Cocok jadi anak bos, hee …” Alman malah menggoda Mentari.
“Om ada-ada aja, haa … haa …” Tawa Mentari lepas.
“Ya, udah. Makan malam aku taruh di dalam, tapi aku langsung pulang. Kamu cepat istirahat,” ujar Alman.
“Siap, Om. Makasih banyak.” Mentari mengangguk.
Alman melambai dan berjalan menuju tanga turun dari sana. Mentari masuk ke dalam gudang, duduk di dekat pintu dan membuka makanan yang Alman berikan untuknya. Tetapi pikirannya pada kejutan yang barusan terjadi.
“Aku ga nyangka, rambutku beda warna dan dikit diubah modelnya, aku jadi lain. Kalau kayak gini, itu orang-orang jahat mungkin ga akan kenal aku lagi. Kurasa aku sudah lebih aman sekarang,” batin Mentari.
Duduk menikmati malam malam sambil memandang langit yang terang karena bulan, teduh rasanya. Tatapan Mentari memang ke angkasa, tetapi tiba-tiba saja wajah tampan Leon muncul di sana.
“Kita berteman?” Ucapan itu yang melekat dalam ingatan Mentari.
Mentari tersenyum lebar. Siapa yang mengira, pria tampan itu yang membuat Mentari terpesona mau berteman dengannya. Siapa juga yang mengira, pria muda tampan yang begitu keren, ternyata sama-sama pegawai di mal itu. Dan namanya? Agus? Entahlah, buat Mentari nama itu tidak pas buat dia.
*****
Motor berwana hitam itu masuk ke sebuah rumah mewah di salah satu perumahan elite. Dengan cepat pengendaranya turun dan masuk ke dalam rumah.
“Udin!” Teriakan itu lumayan keras hingga yang punya rumah bergegas muncul dari ruang atas.
“Hei! Karyawan tampan kita nongol! Haa … haa …!!” Pemuda dengan rambut keriting itu tertawa melihat Leon dengan seragam kerjanya. Baharudin masih tidak percaya Leon benar-benar jadi pegawai biasa di mal milik ayahnya sendiri.
“Gimana kerja hari ini? Aman?” Baharudin menonjok pelan lengan Leon.
“Kerjanya sih, sejauh ini aman. Bantu cek-cek barang di gudang. Mumet juga ngurus barang-barang segitu banyak. Salah hitung satu aja bisa masalah.” Leon melompat duduk di sofa besar di sampingnya. “Rumah lu masih sepi. Nyokap bokap belum balik?”
“Belum. Tahu tuh, betah banget di negeri orang. Lupa ada anak ganteng mereka kesepian di rumah.” Baharudin mendekati sofa tapi tidak duduk, berdiri saja di dekat Leon. “Lu mau jalan malam ini?”
“Yalahh … abis seharian jadi Agus mau balik jadi Leon dulu gue,” ujar Leon.
“Ganti baju sono, lalu kita cabut!” tukas Baharudin.
Tidak berapa lama keduanya sudah meluncur dengan mobil menuju ke salah satu club tak jauh dari perumahan itu. Club ramai dengan orang muda yang asyik menghabiskan waktu. Entah hanya untuk meredakan ketegangan sepulang kuliah atau bekerja, atau menikmati kebersamaan dengan kekasih hati.
“Leon! My man! Dan Udin, my bro!” Salah satu teman Leon menghampiri.
Segera mereka bergabung dan duduk satu meja. Leon lupa cerita lain hidupnya jika ada di club. Agus sudah tersisih. Leon kembali kepada dunianya sendiri!