Kubawa Benihmu, Mas!

14. Amarah Yang Tertunda

“Berhenti, Kak. Apa yang Kakak lakukan, lihat semua orang menatapmu!” desis Ni Luh.

 

Bagaskara menyentak tangan Ni Luh, dia tidak peduli. Langkahnya terus mengejar Sarita. Namun, wanita itu sudah menghilang di tengah kerumunan para tamu dan pengunjung malam amal. Bagaskara pun melangkah menuju meja yang tadi dilihatnya ada pria kecil.

 

“Kosong, kemana mereka pergi,” gumam Bagas, lalu saat ada pelayan yang melewatinya pria itu pun bertanya, “Maaf, tahukan kamu dimana Tuan Sagara dan keluarga?”

 

“Oo … Tuan Sagara baru saja meninggalkan acara ini bersama Nona Sarita, Tuan.”

 

“Terima kasih!”

 

Bagaskara pun melangkah meninggalkan lokasi malam amal tanpa mengajak Ni Luh. Wanita itu ditinggal tanpa kabar hingga membuat Ni Luh mencari sosok Bagaskara 

 

“Shit, dasar pria tidak tau diuntung. Enak saja tinggalkan aku begitu saja. Awas saja kamu, Sarita. Semua ini gara-gara kamu!”

 

Ni Luh pun menghubungi sopir pribadinya agar segera menjemputnya. Malam semakin merangkak menuju pagi, tetapi mata Sarita sulit terpejam. Bayangan masa lalu kembali hadir, apalagi saat di acara tadi dia sempat berbincang dengan Bagas.

 

“Andai aku tidak kamu buang, mungkin selamanya rahasia ini tidak terbongkar. Aku berterima kasih telah kamu buang, Mas,” gumam Sarita sambil menatap langit malam.

 

Wanita itu masih saja menatap pada pekatnya malam berhias kerlap bintang. Kemudian pandangannya menatap pada sosok pria kecil yang tergolek di ranjang king size. Kakinya bergerak maju menuju ke ranjang dan dia duduk di tepian, tangannya terulur membelai surai rambut halus milik Alifian.

 

“Sayang, hanya kamu yang mama punya. Kamu harus tumbuh menjadi pria yang kuat apapun keadaannya,” gumam Sarita.

 

Kemudian kepalanya menunduk hingga mencapai kening putranya dan mendaratkan ciuman yang dalam juga lama. Diresapi aroma tubuh putranya dan diakhiri ucapan selamat malam. Sarita pun mulai merebahkan dirinya.

 

Esok hari, mentari bersinar dengan teriknya. Sarita bangun agak kesiangan. Jam sembilan wanita itu baru bangun akibat semalaman susah tidur. Gegas wanita itu bangkit dan langsung membersihkan tubuhnya. Setelah siap, dia mulai melangkah keluar dari kamar dan langsung turun ke lantai dasar. Kakinya bergerak ke dapur.

 

“Mbok, apakah Alifian tadi rewel?” tanya Sarita  pada si  mbok.

 

“Tidak, Non. Aden pergi sekolah bersama Tuan Saga,” jawab si mbok.

 

“Aulia, apakah dia belum juga datang?” 

 

“Tadi sekedar mampir, Nona. Dia menitipkan ini!” kata Si mbok sambil menyodorkan sebuah berkas desain yang di rusak.

 

Sarita melihat dengan teliti tanpa emosi.  Ada sedikit kejanggalan yang sangat tipis dari desain miliknya. Kemudian Sarita pun menyudahi acara sarapannya dan beranjak dari duduknya. Dia mengambil tas selempang, kemudian pamit pada si mbok.

 

“Hati-hati, Non. Jika perlu diantar saja dengan Pak Soni!” saran si mbok.

 

“Tidak perlu, Mbok. Kemarin Saga sudah membelikan aku mobil anti peluru itu. Warna yang keren pula,” jawab Sarita.

 

“Wah, selamat dam tetap waspada, Non!”

 

“Siap, Mbok. Pergi dulu,” kata Sarita sambil mulai melangkah meninggalkan ruang makan.

 

Si mbok menatap punggung wanita muda itu, bibirnya menyunggingkan senyum tipis. Sosok yang begitu mirip dengan nyonya mudanya dulu.

 

Sarita membawa mobil sedan Maybach keluaran terbaru berwarna merah metalik dengan seret perak. Mobil melaju dengan kecepatan sedang meskipun begitu hanya butuh waktu yang singkat untuk mencapai tujuannya. 

 

“Gaun apa ini, mana owner kalian!”

 

Baru saja tangan Sarita menyentuh gagang pintu dan kakinya melewati ambangnya sudah terdengar suara protes seorang wanita bergaya glamor. Sarita pun berjalan mendekat dan mengajaknya bicara.

 

“Ada apa ini, Nyonya? Saya pemilik butik ini,” kata Sarita dengan nada lembut dan sopan.

 

“Oo … ini rupanya owner yang sok itu. Ini lihat gaum malamnya, ini aku beli dengan harga fantastis tetapi hasilnya seperti ini dan bahannya seperti tiruan,” kata wanita itu sambil melempar gaun malam pada muka Sarita.

 

Dengan halus, jemari lentik itu meraba kain yang menjadi bahan gaun tersebut. Seulas senyum terukir di bibir Sarita, lalu dibukanya bagian dalam gaun itu dan sesuatu dia dapatkan.

 

“Maaf sebelumnya, Nyonya, boleh saya bertanya?” ucap Sarita masih dengan kesopanannya.

 

“Hmm,” jawab singkat wanita itu.

 

“Kapan dan dimana Nyonya membeli gaun ini?” tanya Sarita, “Kami belum ada produksi gaun malam lagi hingga saat ini. Bahkan desain terbaru kami masih mentah,” jelas Sarita.

 

Mendengar apa yang dijelaskan Sarita, wanita itu seketika terhenyak kaget. Dia pun menceritakan apa yang dilakukan hingga mendapatkan gaun tersebut. Sarita mendengar semua penjelasan wanita tersebut hingga tuntas. 

 

“Jadi begitulah, Nona!” kata wanita itu.

 

“Santi tolong jamu Nyonya ini!” kata Sarita memberi perintah pada karyawannya.

 

“Mari duduk dulu Nyonya. Kita bisa bicarakan baik-baik.

 

Wanita itu pun segera menghempaskan bobot tubuhnya pada sofa lembut yang biasa digunakan oleh pengunjung kala menunggu pasangannya atau temannya mencoba baju di ruang pas. Beberapa saat datang lah Santi membawa nampan berisi dua gelas jus buah segar.

 

“Diminum dulu, Nyonya!”

 

“Terima kasih,” jawab wanita itu, “Lalu bagaimana dengan nasib gaun malam saya, Nona?” lanjutnya.

 

“Maaf, saya tidak bisa bantu mengenai gaun ini karena ada beberapa alasan yang menyertainya. Anda pasti tahu alasan kami, sekali lagi maaf!” ungkap Sarita, “Tetapi jika Nyonya berkenan silakan pilih beberapa koleksi terbaru dari kami, akan saya beri diskon 20% pada setiap baju,” lanjut Sarita.

 

Senyum manis terukir di bibir wanita itu. Namun, kedua bola mata Aulia membulat sempurna kala mendengar apa yang dikatakan oleh nona nya itu. 

 

“Tapi, Nona?”

 

Sarita hanya tersenyum saja menanggapi keluhan Aulia. Wanita itu tidak mempermasalahkan mengenai kerugian butiknya tetapi lebih menjaga nama butiknya agar nilainya tidak turun. Sementara di sebuah jalan lebih tepatnya di depan sekolah Kasih Bunda, terlihat sebuah mobil sport hitam terparkir di pinggir jalan. Seorang pria keluar dari dalam mobil.

 

“Aku harus bertemu langsung dengan pria kecil itu. Sungguh ku rasakan ada yang berbeda saat aku melihatnya,” gumam Bagaskara, “Apa aku harus menjemputnya di kelas langsung?” lanjut Bagas.

Lates Chapters

13. Ramah Tamah

"Mama!"    Seorang anak laki-laki naik ke panggung menghampiri Sarita dan Sagara. Pria kecil yang tampan berjalan tegap.   "Hai, Tampan. Siapa nama kamu?" tanya…

12. Keluarga Waluyo

Pembawa acara segera memulai acaranya. Satu per satu barang dilelang dengan cara bertahap. Ni Luh terlihat begitu antusias kala sebuah kalung permata bertahtakan belian rubi…

11.

"Maaf, Anda salah orang!" Sarita langsung melangkah pergi meninggalkan kedua orang masa lalunya.   Aulia pun mengikuti langkah Sarita dari belakang sebelumnya memastikan pada salah…

10.

Sarita menuruti langkah putranya meninggalkan wanita bersama putrinya yang cantik itu. Tanpa Sarita tahu, Sagara telah melihat dan mendengar semua kalimat perempuan itu. Dahinya mengernyit,…

9. Saudara

Sarita terdiam, matanya menatap deretan huruf yang menyatakan kecocokan 100%. Wanita itu menatap pada pria di depannya, lalu mengangguk.   "Bagaimana langkah kamu selanjutnya, Sarita?"…

8. Tabir Mulai Terbuka

"Aku sendiri tidak tahu cerita mengenai liontin itu. Yang pasti benda itu sudah melingkar di leherku sejak aku bayi. Itu keterangan yang kudapatkan dari simbok,"…

7. Liontin Biru

Cukup lama Sarita pingsan, jam sepuluh pagi saat sinar mentari masuk dalam kamar melalui jendela yang terbuka tirainya. Perlahan tubuh Sarita menggeliat, kedua matanya membuka.…

6. Terdampar

Sarita keluar dari mansion aneh milik Madam Anne, kakinya berjalan tanpa arah. Dua hari dua malam wanita muda itu terus menyusuri trotoar tanpa tujuan. Hingga…

5. Talak

Bagaskara masih saja meluapkan emosinya hingga suara lembut memanggilnya.   "Mas!" Tangan lembut Sarita terulur menyentuh lengan suaminya, "Aku bisa jelaskan semua, percayalah!" lanjut Sarita.…

4. Misterius

"Aneh!"    "Sarita!" teriak Anne memanggil nama gadis itu.   Sarita gegas berlari menuju ke asal suara. Dia termangu menatap kehadiran pria paruh baya yang…

3. Nikah

Anne menerima cambuk leluhurnya itu, dia menggerakkan dengan tenaga penuh. Terdenhar suara ujung cambuk yang menyentuh lantai. Suaranya membuat hati wanita bagai teriris pisau tajam,…

2. Cambuk

Setelah malam itu, Sarita menjadi gadis yang pendiam. Gadis itu terus menghindar agar tidak bertemu langsung dengan Bagaskara yang sekarang sedang menjadi dosennya. Baik di…

1. Malam Laknat

Kendaraan melaju dengan kecepatan sedang. Hujan semakin deras dengan angin bertiup kencang. Sarita terlihat mulai kedinginan, sedangkan Bagaskara terus melajukan kendaraannya. Di tengah lebat hujan,…
error: Content is protected !!