Kubawa Benihmu, Mas!

7. Liontin Biru

Cukup lama Sarita pingsan, jam sepuluh pagi saat sinar mentari masuk dalam kamar melalui jendela yang terbuka tirainya. Perlahan tubuh Sarita menggeliat, kedua matanya membuka. Pandangannya menyapu ruangan yang berwarna biru laut. Warna yang sudah lama dia dambakan sejak masih kecil. 

 

Tapak tangannya meraba hamparan sprei biru langit berhias gemerlap bintang, kemudian pandangannya beralih pada selimut yang menutupi sebagian tubuhnya. Seketika dibuka selimut tersebut, lalu Sarita bangkit dari tidurnya. 

 

“Ini … Kamar siapa? Nuansanya sangat indah,” gumam Sarita.

 

Kemudian kakinya mulai bergerak memutari keseluruhan isi kamar tersebut. Bibirnya sesekali berdecak kagum akan semua yang ada di kamar itu. Bagai bulan yang jatuh di pangkuan, semua yang pernah muncul di mimpinya kini nyata ada di depan mata. 

 

“Selamat pagi, Nona. Sudah lamakah Anda bangun?” tanya wanita muta dengan name tag  Aulia.

 

“Pagi, saya ada di mana?” 

 

“Ini mansion Tulip milik keluarga Waluyo,” jawab Aulia, “Saya yang akan melayani semua kebutuhan Nona ke depan, sampai tenaga saya tidak dibutuhkan lagi.”

 

“Boleh saya bertemu dengan pemilik ini mansion, Mbak?!” kata Sarita lembut.

 

Kemudian Sarita mengikuti langkah Aulia keluar dari kamar itu. Aulia terus melangkah hingga sampai di sebuah pintu dengan ukuran yang berbeda. Aulia berbalik badan menatap pada Sarita dari atas hingga bawah, lalu menepuk jidatnya.

 

“Hadeh, maaf kelupaan, Nona. Tuan Muda tidak suka melihat orang yang baru bangun tidur langsung menemuinya. Apa sebaiknya Nona bebersih dulu baru menjumpai tuan?” kata Aulia 

 

“Tidak perlu, tanggung. Sudah biar aku sendiri yang masuk!” setelah berkata, Sarita melangkah maju untuk mengetuk pintu.

 

“Masuk!” Terdengar suara bariton perintah agar dia masuk.

 

“Silakan masuk, Nona. Saya permisi dulu menyiapkan keperluan Nona yang lain!”

 

“Hemm!”

 

Sarita pun membuka perlahan pintu yang tinggi dan berukir sepasang naga. Sedikit ragu melangkah, tetapi dia harus berterima kasih pada pemilik mansion.

 

“Selamat pagi. Terima kasih atas bantuannya, sekarang saya mohon diri!” kata Sarita.

 

Langkahnya terhenti kala ingat semua barang miliknya tidak ada di sekitar kamarnya tadi. Kemudian, Sarita kembali menghadap pada pria tersebut. Dan mulai bertanya.

 

“Apakah Tuan mengerti dimana letak kalung liontinku berada?” tanya Sarita.

 

“Tidak hanya kalung, semua barangku yang ada di dalam tas punggung. Dimana barang itu semua?”

 

Pria yang sedang duduk di depan Sarita hanya diam, tidak ada reaksi sama sekali. Perempuan itu memberanikan diri melangkah lebih dekat, tubuhnya bergetar melihat pada manik mata sang pria.

 

“Aku inginkan semua barangku kembali, Tuan!” 

 

Sarita masih berkata dengan nada rendah tetapi penuh intimidasi. Dia tidak memedulikan  tatapan pria begitu tajam.

 

“Kau sedang hamil, bersihkan dulu badanmu. Tidak baik keluar kamar belum mandi!” 

 

Hanya beberapa deretan kalimat yang keluar, selanjutnya dia memencet tombol merah. Sesaat kemudian pintu terbuka dan Aulia pun masuk ke ruangan itu.

 

“Mari ikut saya, Nona!”

 

Sarita pun akhirnya berbalik menatap Aulia. Gadis manis dengan rambut cepak dan pakaian kasual itu hanya tersenyum. Kemudian menarik jemari Sarita lembut. Dengan langkah sedikit menghentak, Sarita mengikuti langkah Aulia.

 

“Seperti itu lah aturan di rumah ini, Nona. Tuan muda tidak suka melihat wajah kumal.”

 

Sarita diam saja selama perjalanan menuju ke kamarnya yang ada di lantai dua. Sepanjang jalan hanya ada tiga pintu dengan jarak yang cukup jauh. Kamar miliknya ada di paling ujung.

 

“Semua sudah saya siapkan, Nona. Silakan bersihkan diri!”

 

Sarita pun masuk dalam, segera dia membersihkan tubuhnya dan memakai apa yang tersedia di atas ranjangnya. Sebuah pakaian ibu hamil berwarna cokelat susu sangat pas di tubuhnya.

 

“Bagaimana mungkin bisa sangat pas sesuai dengan ukuran tubuhku, sungguh aneh pria itu. Siapa gerangan?” gumam Sarita.

 

Kemudian setelah semua siap, Sarita pun keluar dengan senyum tipis terukir di bibirnya. Aulia yang sejak tadi menunggu di dwpan pintu hanya menatap Sarita dengan mulut terbuka. Penampilan Sarita berubah 180• .

 

“Mari  Nona!” Aulia pun mengajak Sarita untum segera berjalan menuju ke ruang kerja Sagara.

 

Sarita masih diam tanpa mengeluarkan suaranya, lalu tangannya yang lentik oun langsung membuka pintu tersebut tanpa mengetuknya lebih dulu. Namun, sebelum membuka pintu Sarita meminta pada pelayannya agar meninggalkan dia sendiri menghadap Tuan Muda.

 

“Baik, Nona ingin makan apa?” 

 

“Seadanya kalian, tidak perlu ribet.”

 

Aulia pun membungkuk, lalu berbalik badan . Gadis itu berjalan menuju tangha melingkar yang mengarah ke lantai dasar.

 

“Selamat pagi menjelang siang. Sudahkah Anda sarapan, Tuan?” 

 

“Begitu lebih baik. Duduk lah di sana!” 

 

Pria itu pun bangkit dari duduknya. Dia memilih untuk duduk di sofa single menunggu Sarita. Sedangkan wanita itu masih saja berdiri bersandar pada pinggiran meja menghadap pada sang pria.

 

Sarita msih menunggu jawaban dari semua pertanyaan yang sejak tadi dia lontarkan. Namun, belum satu pertanyaan pun yang terjawab. Sarita mendengkus lirih.

 

“Semua barang milikmu yang ada di dalam tas sudah dibersihkan oleh Simbok. Mengenai kuliah yang kamu jalani, mulai besok sudah bisa kamu teruskan hingga wisuda nanti. Tetapi semua ada syaratnya, Sarita Waluyo!”

 

Sarita tertegun, otaknya tidak bisa mengejar apa yanh disampaikan oleh pria di depannya. Lalu sebuah pertanyaan pun muncul.

 

“Syarat apa yang harus aku penuhi dan apa alasannya?”

 

“Jangan temui lagi keluarga Itu lagi, siapa pun. Kamu pasti tahu yang aku maksud. Kamu sendiri yang tahu apa alasanku,” jawab pria itu.

 

“Liontinku?”

 

Kemudian Sarita dudum di sofa yang lain, dia masih menatap penuh harap pada sang pria yang sejak tadi belum memberitahukan siapa namanya. Lamat ingatannya memutar, sosoknya seakan pernah terlIhat di layar kaca. Namun, Sarita lupa siapa namanya.

 

“Bagaimana tawaranku?” 

 

“Baik, aku setuju. Tetapi kembalikan liontinku!” Sarita masih bertanya mengenai letak liontinnya.

 

“Apakah itu benar milikmu, dari mana kamu dapatkan liontin biru khas milik keluarga kami?”

Lates Chapters

14. Amarah Yang Tertunda

"Berhenti, Kak. Apa yang Kakak lakukan, lihat semua orang menatapmu!" desis Ni Luh.   Bagaskara menyentak tangan Ni Luh, dia tidak peduli. Langkahnya terus mengejar…

13. Ramah Tamah

"Mama!"    Seorang anak laki-laki naik ke panggung menghampiri Sarita dan Sagara. Pria kecil yang tampan berjalan tegap.   "Hai, Tampan. Siapa nama kamu?" tanya…

12. Keluarga Waluyo

Pembawa acara segera memulai acaranya. Satu per satu barang dilelang dengan cara bertahap. Ni Luh terlihat begitu antusias kala sebuah kalung permata bertahtakan belian rubi…

11.

"Maaf, Anda salah orang!" Sarita langsung melangkah pergi meninggalkan kedua orang masa lalunya.   Aulia pun mengikuti langkah Sarita dari belakang sebelumnya memastikan pada salah…

10.

Sarita menuruti langkah putranya meninggalkan wanita bersama putrinya yang cantik itu. Tanpa Sarita tahu, Sagara telah melihat dan mendengar semua kalimat perempuan itu. Dahinya mengernyit,…

9. Saudara

Sarita terdiam, matanya menatap deretan huruf yang menyatakan kecocokan 100%. Wanita itu menatap pada pria di depannya, lalu mengangguk.   "Bagaimana langkah kamu selanjutnya, Sarita?"…

8. Tabir Mulai Terbuka

"Aku sendiri tidak tahu cerita mengenai liontin itu. Yang pasti benda itu sudah melingkar di leherku sejak aku bayi. Itu keterangan yang kudapatkan dari simbok,"…

6. Terdampar

Sarita keluar dari mansion aneh milik Madam Anne, kakinya berjalan tanpa arah. Dua hari dua malam wanita muda itu terus menyusuri trotoar tanpa tujuan. Hingga…

5. Talak

Bagaskara masih saja meluapkan emosinya hingga suara lembut memanggilnya.   "Mas!" Tangan lembut Sarita terulur menyentuh lengan suaminya, "Aku bisa jelaskan semua, percayalah!" lanjut Sarita.…

4. Misterius

"Aneh!"    "Sarita!" teriak Anne memanggil nama gadis itu.   Sarita gegas berlari menuju ke asal suara. Dia termangu menatap kehadiran pria paruh baya yang…

3. Nikah

Anne menerima cambuk leluhurnya itu, dia menggerakkan dengan tenaga penuh. Terdenhar suara ujung cambuk yang menyentuh lantai. Suaranya membuat hati wanita bagai teriris pisau tajam,…

2. Cambuk

Setelah malam itu, Sarita menjadi gadis yang pendiam. Gadis itu terus menghindar agar tidak bertemu langsung dengan Bagaskara yang sekarang sedang menjadi dosennya. Baik di…

1. Malam Laknat

Kendaraan melaju dengan kecepatan sedang. Hujan semakin deras dengan angin bertiup kencang. Sarita terlihat mulai kedinginan, sedangkan Bagaskara terus melajukan kendaraannya. Di tengah lebat hujan,…
error: Content is protected !!