Ternyata Mencintai Anak Pemilik Mal

15. Di Bioskop

Mentari cepat-cepat menyiapkan diri agar tidak telat pergi dengan Leon. Tidak sempat mandi lagi. Mentari hanya mencuci muka, menyisir, dan mengenakan bedak tipis di wajahnya. Bahkan berganti baju pun tidak. Memang Mentari juga tidak ada baju keren buat pergi bersama lelaki tampan. Hanya jaket tipis pemberian Alman yang bisa dia kenakan menutupi baju kerjanya.

Tinggal lima menit lagi film akan diputar. Mentari berlari kecil menuju ke bioskop tempat dia dan Leon janji bertemu. Di depan bioskop, lumayan ramai para penonton yang mulai memenuhi lokasi.

Leon berdiri di dekat pintu masuk, bersandar pada dinding kaca sambil memainkan ponselnya. Mentari merasakan detak jantungnya makin beradu. Tepat tiga langkah dia berhenti di depan Leon.

“Mas Agus,” panggil Mentari.

Leon mengangkat kepala dan melihat Mentari memandang padanya.

“Aku ga telat, kan?” tanya Mentari dengan wajah sedikit cemas.

Leon menegakkan badan, memasukkan ponsel ke saku, dan tersenyum sambil memandangi Mentari.

“Kamu memang lucu. Ayo,” ajak Leon.

Si tampan penuh pesona berjalan masuk. Mentari mengikuti di belakangnya. Keduanya beriringan dengan penonton yang lain masuk lorong menuju ke gedung. Suasana remang-remang. Iklan yang mengawali film sudah diputar.

“Yuk, di atas, sebelah pojok.” Leon memberitahu di bagian mana mereka duduk.

“Di sana?” Mentari mengarahkan pandangan ke sisi yang Leon maksud. Entah kenapa, suasana remang-remang itu mengingatkan Mentari pada malam saat dia lari dan dikejar-kejar para pria jahat itu. Ada rasa tak nyaman menyusup di dada Mentari.

“Aku dapat tiketnya di bangku itu. Ga apa, kan?” ujar Leon.

“Ya, ga apa-apa.” Mentari tak punya pilihan. Tidak mungkin juga dia tiba-tiba membatalkan dan kabur.

Mereka duduk bersebelahan. Mentari tepat di sebelah dinding. Begitu duduk, Mentari merapatkan jaket tipisnya dan menangkup kedua tangannya.

Leon duduk tenang, melihat ke depan. Dia hampir tak bergerak memandang layar lebar di depan. Beberapa menit berikut film pun mulai diputar. Mata Mentari terpaku pada layar. Film yang bagus. Kisah roman dibalut action dan sedikit thriller.
Selang lima belas menit film berjalan, Leon berdiri.

“Mas, mau ke mana?” Refleks Mentari bertanya.

Leon merendahkan badan. “Aku haus. Bentar, aku beli minum.”

Mentari mengangguk. Leon keluar ruangan dengan beringsut, tidak mau mengganggu para penonton lainnya. Di luar Leon menuju ke counter food and beverage. Makanan wajib buat penonton bioskop yang Leon beli. Juga dua jus jeruk.
Sambil menunggu makanan disiapkan, Leon mengirim foto pada Baharudin di mana dia berada. Tidak sampai satu menit balasan masuk.

– Gila! Lu ngedate?

Jawaban yang membuat Leon ingin ngakak sekeras-kerasnya.

– Gue iseng, tapi terjebak

Balasan Leon pada Baharudin. Sohib Leon tidak membalas, tapi telpon masuk ke ponsel Leon.

“Jelasin, terjebak apaan?” tanya Baharudin penasaran.

“Sofia. Gue ga sengaja aja bilang soal nonton. Akhirnya gue ajak dia nonton.” Leon menjawab sambil nyengir.

“Sialan. Lu bikin gue penasaran, tuh cewek kayak gimana, sih?” sahut Baharudin.

“Polos dan lucu. Serius. Bikin happy hari kalau dekat dia. Aku jadi semangat kerja gegara ada dia di mal.” Leon kaget sendiri dengan jawaban yang dia berikan.

“Wah, ga bisa dibiarin. Gue mesti ketemu sama Sofia. Dia kayaknya memang bikin dunia lu terbalik, Bro.” Serius Baharudin bicara.

“Hei, jangan ngarang. Lu nongol di mal gue sikat! Bisa berantakan penyamaran gue,” tugas Leon cepat.

“Bang! Pesanannya!” Pelayan memanggil Leon.

“Udah, gue cabut. Dah, Udin!” Leon mematikan panggilan.

Dia menerima pesanan dan segera balik ke dalam gedung. Mentari tampak tegang memperhatikan layar lebar. Cerita di film sepertinya sampai dia bagian yang krusial untuk tokoh yang ditampilkan.

“Minum, biar ga haus.” Leon memberikan jus pada Mentari.

“Oh, ya, makasih.” Mentari menerima jus dari Leon. Tapi dia tetap fokus melihat adegan yang terpampang di depannya.

Leon mencoba mengikuti lagi kisah film. Tapi entah kenapa, sesekali dia terus melihat ke arah Mentari. Ekspresi Mentari lucu sekali. Mau dia tertawa, tegang, atau terlihat cemas, buat Leon dia unik dan menyenangkan.

Leon menyodorkan kotak popcorn pada Mentari. Tangan gadis itu meraup beberapa tapi wajahnya tidak beralih dari layar. Leon tersenyum kecil melihat tingkah Mentari.

“Lu bukan kali pertama lihat film di bioskop, kan?” bisik Leon di telinga Mentari.

Mentari menoleh. Popcorn udah nempel di bibirnya. Dia menggeleng lalu pelan mengunyah popcorn dan balik serius melihat layar. Leon menggaruk-garuk kepala.

“Ada ya, cewek kayak gini. Gue dicuekin demi film.” Leon bicara dalam hati. Dia sandarkan kepala pada sandaran kursi. Leon tidak lagi memperhatikan sekeliling. Dia pejamkan mata saja. Leon hanya mendengar apa yang terjadi dalam film. Sesekali melirik Mentari.

Di tengah adegan yang makin tegang, tiba-tiba Mentari memutar kepala dan menunduk dalam-dalam. Leon kaget dan menegakkan badannya. Dia mendengar seru napas Mentari seperti ketakutan.

“Kamu takut?” Leon berbisik lagi.

Mentari tidak menjawab. Dia masih menundukkan kepala dalam-dalam. Leon melihat ke layar. Adegan yang tampak di sana, tiga pria dengan pakaian hitam-hitam menangkap wanita pemeran utama.

Tidak sengaja Leon menyentuh lengan Mentari. Terasa sangat dingin dan berkeringat. Leon makin heran.

“Kamu beneran takut?” tanya Leon.

“Bisa kita … keluar saja?” pinta Mentari dengan napas berat dan napas masih tidak normal.

“Oh, oke …” Leon bingung. Tapi dia ikuti saja.

Keduanya keluar gedung itu. Sepanjang berjalan meninggalkan ruangan, Mentari menutup kedua telinga dengan tangan dan berjalan menunduk sama sekali tidak melihat ke layar.

Begitu di luar, di ruangan yang terang, Mentari bergegas menuju sofa di depan gedung dan duduk sambil memegangi dadanya. Leon duduk di sisi Mentari. Dia pandangi wajah Mentari yang tampan pucat.

“Sofia, lu kenapa?” Leon bingung melihat perubahan cepat dari Mentari.

“Maaf, aku …” Mentari menarik napas dalam, berusaha menenangkan dirinya.

“Lu ga suka film yang tegang gitu, ya? Sorry. Mestinya gue nanya dulu, lu suka film apa.” Leon merasa bersalah.

“Tapi tiket itu Mas Agus dikasih teman, kan?”

Leon tersentak. Benar juga. Leon salah bicara.

“Iya, sih. Ga harus juga lu mau. Beneran maaf, gue ga maksud buat lu takut,” kata Leon. Dia berpikir bagaimana caranya agar Mentari menjadi tenang.

“Ga apa, Mas. Mas Agus juga ga tahu aku penakut. Maaf,” ucap Mentari.

“Kita cari makan saja? Lu pingin makan apa?” tanya Leon.

“Ga usah. Mas udah beli makanan sama minuman. Ntar uang habis. Gajian masih lama. Jangan, Mas.” Mentari menolak.

Leon lagi-lagi kaget dengan jawaban Mentari. Tapi Mentari benar. Leon cuma pegawai biasa. Dia pasti tidak punya banyak uang.

Lates Chapters

125. Di Atap Mal

"Mama! Lihat!" Suara kecil dan ceria itu memaksa Mentari mengangkat wajah ke depan. Bocah tiga tahun itu menunjukkan sebuah mainan robot di tangannya. Wajahnya sumringah,…

124. Satu Lagi Keajaiban

Dada Leon semakin menderu, bergejolak, berdetak cepat, dan entah apa lagi yang dia rasa. Tiba di depan ruangan Mentari, Leon makin tidak karuan. Leon cepat…

123. Leon Junior!

Mentari membuka mata. Entah berapa lama dia tertidur. Badan rasanya sakit semua. Mentari menoleh ke sisinya. Leon masih terlelap dengan posisi meringkuk. Sebelah tangan Leon…

122. More Than I Can Wish

"Uffhhh!!" Leon meletkakkan pantatnya di kursi pesawat dengan penuh rasa lega.  Tinggal beberapa menit pesawat mengudara, Leon dan Mentari akhirnya bisa juga masuk pesawat. Mentari…

121. Kejutan Leon

Mentari makin mendekat. Pelan sekali Mentari naik ke kasur dan duduk di samping Leon. Sama sekali Leon tidak bergerak. Dia pasti sangat lelah dan terlelap…

120. Tidak Malam Ini

Leon menggaruk kepalanya sambil memutar badan melihat ke arah pintu. Ada apa lagi? Tamu datang di saat dia sedang mulai permainan manis dengan istrinya? Astaga!…

119. Di Kamar Pengantin

Upacara sakral itu masih berlangsung. Hari bersejarah bagi dua insan yang dilanda asmara, yang bersiap memasuki kehidupan baru bersama. Saat itu saat di mana di…

118. Gaun Putih

Lila berlari kecil menuju kamar utama apartemen. Di depan pintu kamar, ada Irma sudah menunggu. "Wah, cantik banget! Warna putih dan merah. Thank you!" Irma…

117. So? How?

Perkataan Asterita jelas dan tegas dia katakan. Leon merasa ada kehangatan kasih ibu yang begitu dalam hadir untuknya. Awalnya dia sangat kesal. Mamanya bertingkah aneh-aneh.…

116. Masak, Make Up, Manner

Rumah bagian depan sepi. Ada mobil merah terparkir di halaman. Leon dan Horacio tahu jika memang ada tamu karena kendaraan itu. Tetapi mereka bisa belum…

115. Huru Hara di Rumah

Asterita memegang kertas di tangan. Penilaian sudah dia beri dan siap memberikan pengumuman. Hera dan Mentari berdiri di tempat mereka menunggu dengan wajah tegang. Jelas…

114. Soal Penampilan

Lusia mendekati mamanya. Dia harus mencegah Asterita bertindak terlalu jauh. Lusia bisa paham tujuan mamanya baik sekalipun aneh yang dia lakukan. Tetapi jika akan membuat…

113. Satu Gugur

Asterita melirik Lusia. Bagaimana Asterita bisa lupa kalau Lusia juga jatuh cinta pada Mentari? Dia sangat menyukai kekasih Leon yang belum bisa Asterita terima dengan…

112. Persaingan Sengit

Tidak kalah kaget, Lusia sampai melotot dengan mulut menganga begitu mendengar kata-kata Asterita. "Mama?!" ucapnya. Asterita tidak bereaksi pada keterkejutan Lusia. Asterita harus maju dan…

111. Ujian Ketulusan Cinta

"Well, kalian akhirnya ada di sini. Thank you sudah mau datang!" Asterita menyambut kedua wanita yang sedang bersitegang saling menatap dengan kesal. Sapaan Asterita membuat…

110. Panggilan Tiba-tiba

Detak jantung Mentari makin jadi ketika semakin dekat dengan kediaman mewah keluarga Alvarez. Apa yang diinginkan Asterita? Kenapa dia tidak minta Leon saja yang mengajak…

109. Asterita Beraksi

Leon, Mentari, dan Alman hanya memandang saja pada Hera yang kebingungan menghadapi anaknya. Anak dua tahun itu seperti tak terkendali karena ponsel yang dia pakai…

108. Jawaban Buat Hera

Mentari tidak percaya apa yang dia dengar. Hera terang-terangan meminta Mentari melepaskan Leon. Hera mengatakan masih cinta Leon dan yang terjadi di masa lalu mereka…

107. Bujuk Rayu Sang Mantan

"Kesal aku, Om. Bikin malu banget, kelakuannya kayak gitu. Penampilan sama tingkahnya ga ketemu. Ihh, aku pingin cakar mukanya!" Mentari meluapkan kesal pada Alman. Alman…

106. Dilabrak Pesaing

"Wahh, keren!! Bisa gitu, ya?" Mata Mentari melebar tak percaya setelah mendengar cerita Lila. "Aku juga ga percaya rasanya." Senyum manis Lila terurai. Matanya bersinar…
error: Content is protected !!