Mentari cepat-cepat menyiapkan diri agar tidak telat pergi dengan Leon. Tidak sempat mandi lagi. Mentari hanya mencuci muka, menyisir, dan mengenakan bedak tipis di wajahnya. Bahkan berganti baju pun tidak. Memang Mentari juga tidak ada baju keren buat pergi bersama lelaki tampan. Hanya jaket tipis pemberian Alman yang bisa dia kenakan menutupi baju kerjanya.
Tinggal lima menit lagi film akan diputar. Mentari berlari kecil menuju ke bioskop tempat dia dan Leon janji bertemu. Di depan bioskop, lumayan ramai para penonton yang mulai memenuhi lokasi.
Leon berdiri di dekat pintu masuk, bersandar pada dinding kaca sambil memainkan ponselnya. Mentari merasakan detak jantungnya makin beradu. Tepat tiga langkah dia berhenti di depan Leon.
“Mas Agus,” panggil Mentari.
Leon mengangkat kepala dan melihat Mentari memandang padanya.
“Aku ga telat, kan?” tanya Mentari dengan wajah sedikit cemas.
Leon menegakkan badan, memasukkan ponsel ke saku, dan tersenyum sambil memandangi Mentari.
“Kamu memang lucu. Ayo,” ajak Leon.
Si tampan penuh pesona berjalan masuk. Mentari mengikuti di belakangnya. Keduanya beriringan dengan penonton yang lain masuk lorong menuju ke gedung. Suasana remang-remang. Iklan yang mengawali film sudah diputar.
“Yuk, di atas, sebelah pojok.” Leon memberitahu di bagian mana mereka duduk.
“Di sana?” Mentari mengarahkan pandangan ke sisi yang Leon maksud. Entah kenapa, suasana remang-remang itu mengingatkan Mentari pada malam saat dia lari dan dikejar-kejar para pria jahat itu. Ada rasa tak nyaman menyusup di dada Mentari.
“Aku dapat tiketnya di bangku itu. Ga apa, kan?” ujar Leon.
“Ya, ga apa-apa.” Mentari tak punya pilihan. Tidak mungkin juga dia tiba-tiba membatalkan dan kabur.
Mereka duduk bersebelahan. Mentari tepat di sebelah dinding. Begitu duduk, Mentari merapatkan jaket tipisnya dan menangkup kedua tangannya.
Leon duduk tenang, melihat ke depan. Dia hampir tak bergerak memandang layar lebar di depan. Beberapa menit berikut film pun mulai diputar. Mata Mentari terpaku pada layar. Film yang bagus. Kisah roman dibalut action dan sedikit thriller.
Selang lima belas menit film berjalan, Leon berdiri.
“Mas, mau ke mana?” Refleks Mentari bertanya.
Leon merendahkan badan. “Aku haus. Bentar, aku beli minum.”
Mentari mengangguk. Leon keluar ruangan dengan beringsut, tidak mau mengganggu para penonton lainnya. Di luar Leon menuju ke counter food and beverage. Makanan wajib buat penonton bioskop yang Leon beli. Juga dua jus jeruk.
Sambil menunggu makanan disiapkan, Leon mengirim foto pada Baharudin di mana dia berada. Tidak sampai satu menit balasan masuk.
– Gila! Lu ngedate?
Jawaban yang membuat Leon ingin ngakak sekeras-kerasnya.
– Gue iseng, tapi terjebak
Balasan Leon pada Baharudin. Sohib Leon tidak membalas, tapi telpon masuk ke ponsel Leon.
“Jelasin, terjebak apaan?” tanya Baharudin penasaran.
“Sofia. Gue ga sengaja aja bilang soal nonton. Akhirnya gue ajak dia nonton.” Leon menjawab sambil nyengir.
“Sialan. Lu bikin gue penasaran, tuh cewek kayak gimana, sih?” sahut Baharudin.
“Polos dan lucu. Serius. Bikin happy hari kalau dekat dia. Aku jadi semangat kerja gegara ada dia di mal.” Leon kaget sendiri dengan jawaban yang dia berikan.
“Wah, ga bisa dibiarin. Gue mesti ketemu sama Sofia. Dia kayaknya memang bikin dunia lu terbalik, Bro.” Serius Baharudin bicara.
“Hei, jangan ngarang. Lu nongol di mal gue sikat! Bisa berantakan penyamaran gue,” tugas Leon cepat.
“Bang! Pesanannya!” Pelayan memanggil Leon.
“Udah, gue cabut. Dah, Udin!” Leon mematikan panggilan.
Dia menerima pesanan dan segera balik ke dalam gedung. Mentari tampak tegang memperhatikan layar lebar. Cerita di film sepertinya sampai dia bagian yang krusial untuk tokoh yang ditampilkan.
“Minum, biar ga haus.” Leon memberikan jus pada Mentari.
“Oh, ya, makasih.” Mentari menerima jus dari Leon. Tapi dia tetap fokus melihat adegan yang terpampang di depannya.
Leon mencoba mengikuti lagi kisah film. Tapi entah kenapa, sesekali dia terus melihat ke arah Mentari. Ekspresi Mentari lucu sekali. Mau dia tertawa, tegang, atau terlihat cemas, buat Leon dia unik dan menyenangkan.
Leon menyodorkan kotak popcorn pada Mentari. Tangan gadis itu meraup beberapa tapi wajahnya tidak beralih dari layar. Leon tersenyum kecil melihat tingkah Mentari.
“Lu bukan kali pertama lihat film di bioskop, kan?” bisik Leon di telinga Mentari.
Mentari menoleh. Popcorn udah nempel di bibirnya. Dia menggeleng lalu pelan mengunyah popcorn dan balik serius melihat layar. Leon menggaruk-garuk kepala.
“Ada ya, cewek kayak gini. Gue dicuekin demi film.” Leon bicara dalam hati. Dia sandarkan kepala pada sandaran kursi. Leon tidak lagi memperhatikan sekeliling. Dia pejamkan mata saja. Leon hanya mendengar apa yang terjadi dalam film. Sesekali melirik Mentari.
Di tengah adegan yang makin tegang, tiba-tiba Mentari memutar kepala dan menunduk dalam-dalam. Leon kaget dan menegakkan badannya. Dia mendengar seru napas Mentari seperti ketakutan.
“Kamu takut?” Leon berbisik lagi.
Mentari tidak menjawab. Dia masih menundukkan kepala dalam-dalam. Leon melihat ke layar. Adegan yang tampak di sana, tiga pria dengan pakaian hitam-hitam menangkap wanita pemeran utama.
Tidak sengaja Leon menyentuh lengan Mentari. Terasa sangat dingin dan berkeringat. Leon makin heran.
“Kamu beneran takut?” tanya Leon.
“Bisa kita … keluar saja?” pinta Mentari dengan napas berat dan napas masih tidak normal.
“Oh, oke …” Leon bingung. Tapi dia ikuti saja.
Keduanya keluar gedung itu. Sepanjang berjalan meninggalkan ruangan, Mentari menutup kedua telinga dengan tangan dan berjalan menunduk sama sekali tidak melihat ke layar.
Begitu di luar, di ruangan yang terang, Mentari bergegas menuju sofa di depan gedung dan duduk sambil memegangi dadanya. Leon duduk di sisi Mentari. Dia pandangi wajah Mentari yang tampan pucat.
“Sofia, lu kenapa?” Leon bingung melihat perubahan cepat dari Mentari.
“Maaf, aku …” Mentari menarik napas dalam, berusaha menenangkan dirinya.
“Lu ga suka film yang tegang gitu, ya? Sorry. Mestinya gue nanya dulu, lu suka film apa.” Leon merasa bersalah.
“Tapi tiket itu Mas Agus dikasih teman, kan?”
Leon tersentak. Benar juga. Leon salah bicara.
“Iya, sih. Ga harus juga lu mau. Beneran maaf, gue ga maksud buat lu takut,” kata Leon. Dia berpikir bagaimana caranya agar Mentari menjadi tenang.
“Ga apa, Mas. Mas Agus juga ga tahu aku penakut. Maaf,” ucap Mentari.
“Kita cari makan saja? Lu pingin makan apa?” tanya Leon.
“Ga usah. Mas udah beli makanan sama minuman. Ntar uang habis. Gajian masih lama. Jangan, Mas.” Mentari menolak.
Leon lagi-lagi kaget dengan jawaban Mentari. Tapi Mentari benar. Leon cuma pegawai biasa. Dia pasti tidak punya banyak uang.