EMPAT BULAN BERSELANG.
Dalam Islam. Wanita yang sudah menikah, lalu ditinggal suami, entah itu bercerai atau mati, harus menjalani masa ida, selama tiga bulan lebih. Anita pun telah melewati masa idanya.
Tiga bulan lalu. Di malam itu, Gema Dirgantara, yang tidak lain adalah anak dari mendiang suaminya itu, memintanya untuk menikah. Sebagaimana janji Gema kepada Angga Wijaya, ketika disambangi dalam mimpi.
Semula Anita ragu untuk menerima permintaan tersebut. Pernikahan ini adalah hal yang tabu bagi keduanya. Namun, setelah melewati pertimbangan yang panjang. Pada akhirnya Anita setuju.
Ya. Hari ini lebih tepatnya. Anita dan Gema akan melangsungkan pernikahan. Tidak banyak yang dagang dalam acara ini. Hanya orang-orang tertentu dan inti saja.
Salah satunya adalah Juna. Ya! Sang sahabat datang untuk menjadi saksi di pernikahan terpenomenal abad ini.
“Saya nikahan dan kawinkan ananda Anita Apsari binti Almarhum Sueb dengan Gema Dirgantara bin Angga Wijaya, dengan maskawin lima ratus gram emas, uang lima ribu lima ratus, satu unit rumah dan seperangkat alat sholat, dibayar TUNAI!”
“Saya terima nikahnya, Anita Apsari binti Almarhum Sueb dengan maskawin tersebut dibayar TUNAI!” Gema pun mengucapkannya dalam satu tarikan napas.
Dia menjabat tangan Pak Penghulu itu dan dengan mantap mengucap ijab kabul.
“Bagaimana para saksi? Sah?”
“SAH!” jawab mereka yang ada di sana serentak.
Setelahnya, Pak Penghulu memimpin doa. Mereka yang ada di ruangan itu mengangkat kedua tangan. Mengaminkan doa itu bersama-sama.
Gema tidak bisa menyembunyikan rona kebahagiaan dari wajahnya. Jelas! Dia sangat bahagia karena pada akhirnya, dia bisa bersanding juga dengan wanita pujaannya. Meskipun harus banyak drama yang dilewati.
***
MALAM HARINYA.
Malam yang seharusnya menjadi malam pertama bagi keduanya. Kendati ini pernikahan kedua Anita. Pada dasarnya, ia belum disentuh oleh suami terdahulunya.
Sehabis makan malam. Gema dan Anita pun berada di satu kamar yang sama. Saling berpandangan satu sama lain di tepi ranjang yang telah dihias itu.
Sudah cukup lama keduanya saling diam. Baik Gema maupun Anita, sama-sama merasa canggung dan bingung harus mengatakan apa?
Lima bulan terakhir, Anita berstatus ibu tirinya, tapi hari ini, jam ini, detik ini, Anita bukan lagi ibu, melainkan istri sah seorang Gema Dirgantara.
“Ok! Baiklah! Aku tidak tahan lagi!” teriaknya hampir frustasi. Menyeka keringat di wajahnya dengan kasar. Terperanjat bangun karena sudah tidak betah lama-lama duduk tanpa kata.
Anita mengangkat kepalanya, menatap pria yang kini telah sah menjadi suaminya itu. “Kenapa kamu?” tanyanya polos. Menahan diri untuk tidak tertawa.
“Aku nyerah, Anita. Aku enggak kuat lagi!”
“Kita baru setengah jam duduk di sini, tapi kamu udah nyerah aja. Uhuhuu, tidak kompeten,” ejek Anita sedikit merengut.
“Terserah kamu mau ngejek aku apa. Dibilang tidak kompeten atau lainnya juga, terserah kamu,” ungkap Gema menyerah dan ditandai dengan mengangkat kedua tangannya.
“Kamu kan tau sendiri. Aku paling enggak bisa diemin kamu lama-lama. Apa lagi sambil menatap gitu. Bisa gila aku, Anita!” katanya blak-blakan.
Mendengar itu, Anita terkekeh. Menutup mulutnya dengan sebelah tangan. “Ada-ada aja kamu ini,” ucapnya geleng-geleng sembari beranjak bangun dari tepi ranjang.
“Kalau kamu gila, lantas kenapa kamu menikahiku?”
Pertanyaan itu membuat Gema langsung berbalik badan. “Ya karena aku sangat mencintaimu, Anita. Dari dulu hingga detik ini!” akunya lantang.
Anita menghentikan langkahnya. Posisi membelakangi sang suami.
“Dalam game ini aku mengaku kalah. Bukan hanya di game, tetapi seterusnya aku akan mengalah. Demi bisa membuat kamu bahagia selalu, Anita.”
Sang pemilik nama berbalik badan. Hati wanita mana yang tidak luluh, ketika mendapatkan pujian dari orang yang sangat disayangi, terlebih statusnya sekarang ada suami?
“Berhentilah memujiku. Kamu terlalu berlebihan,” jawab Anita datar tanpa ekspresi.
Gema menggeleng cepat, “tidak! Aku akan terus memujimu. Setiap hari, setiap jam dan setiap detiknya. Aku ingin terus memujimu!”
“Bodoh!” Wanita dua puluh lima tahun itu mengumpat kesal. Namun, ada sedikit lengkungan kecil di tepi bibirnya.
“Siapa yang bodoh? Aku sungguh-sungguh, Anita.”
“Kalau kamu terus memujiku, lantas kapan kamu bekerja? Mengurus perusahaan?”
“Ouh, iya ya. Kamu benar juga. Kapan aku kerjanya?” celetuk Gema polos sembari menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Setelahnya dia cengengesan seperti orang bodoh.
Hal tersebut menciptakan gelak tawa di antara keduanya. Anita geleng-geleng kepala, tidak habis pikir dengan suaminya itu.
Bisa-bisa dia terlalu bersemangat untuk membuktikan cintanya, sampai melupakan ada hal penting lainnya yang harus dilakukan.
Mungkinkah ini yang dinamakan ‘Bucin’ budak cinta, sebagaimana yang sering anak jaman naw serukan?
“Udah ah, bercandanya. Aku udah ngantuk. Pengen tidur,” ungkap Anita sembari menutup mulutnya yang sedang menyuap.
“Eh, tunggu dulu! Jangan tidur dulu lah!” Gema lantas menarik tangan Anita guna menahan sang istri supaya tidak pergi molor.
Hehehe…
Tahu kan apa yang Gema inginkan? Laki-laki pasti tahu jawabannya.
“Kenapa aku enggak boleh tidur?” tanya Anita polos. Ditatapnya wajah sang suami penuh tanda tanya.
Gema menepuk keningnya kemudian. “Ish … Kamu ini lupa atau pura-pura lupa? Atau sengaja bikin aku kesal?”
Anita menarik tangannya cepat, lalu berkacak pinggang dan sedikit mengangkat bahunya. Wajahnya sengaja dibusungkan dan berkata. “Kalau aku pura-pura lupa, memangnya kenapa, heum?!” sungutnya.
Gema yang gemas dan tanpa basa-basi lagi, langsung saja menarik pinggang Anita, supaya bisa dipeluk tanpa cela.
Anita tersentak kaget. Matanya sampai melebar gitu saking terkejutnya. Gema tertawa kecil, melihat ekspresi lucu istrinya, yang semakin gemas dibuatnya.
Gema sudah tidak sabar. Tanpa menunggu kesadaran Anita lulih, dia langsung saja mengambil inisiatif, melakukan serangkaian aktivitas malam pertama.
Muach…
Gema mencium bibir ranum sang istri dengan penuh cinta.
Anita membola. Begitu terkejut. Ini adalah ciuman pertamanya dengan pria, selain ayahnya. Dulu dengan ayahnya hanya dicium di pipi.
Gema melirik sang istri yang sangat terkejut itu. Alih-alih menghentikan aktivitasnya. Dia semakin berani untuk melakukan ini.
Anita pun masih belum terbiasa, sehingga ia merasa tidak nyaman. Rasanya agak gimana gitu. Posisinya kurang pas. Momentumnya kurang rileks. Mungkin gitu.
Dia mencoba untuk mendorong bidang dada Gema. Namun, hal itu lantas dihentikan Gema dengan menggenggam kedua tangannya.
“Kamu kenapa, Sayang?” tanyanya lembut, bersamaan dengannya yang melepaskan ciuman panas itu.
“Kamu nakal!” protes Anita setelahnya. Dia menarik tangannya, kemudian mundur beberapa langkah.
Ciuman tadi membuat seluruh tubuhnya bergetar hebat. Pipinya memerah seperti kulit kepiting.
“Kok nakal si, Sayang? Kan kita udah sah. Jadi, wajar dong aku cium kamu?”
“Ya, aku tahu itu, tapi kan kamu bisa pelan-pelan. Jangan tiba-tiba kayak tadi. Bikin aku jantungan aja,” keluh Anita melayangkan protes.
Gema tertawa kecil. Dia bisa melihat perubahan sikap istrinya, yang semula Badas, sekarang malu-malu meong.
“Ok. Ok. Maafin aku karena udah bikin kamu kaget tadi, tapi kamu seneng kan dicium sama aku kayak tadi?” celetuknya disertai senyuman menggoda.
Anita tidak lantas menjawab.
Ya! Malu lah dia buat jawab. Rasanya gimana gitu … Di dalam tubuhnya seperti ada aliran listrik bertegangan tinggi, setelah melakukan ciuman panas tadi.
Gema yang memang sudah tinggi-tinggi itu, tanpa basa-basi, langsung saja menggendong Anita ala bridal style.
Lagi-lagi Anita dibuat kaget. Kali ini suaminya memang sudah kelewatan. Enggak sabaran.
Gema tersenyum penuh kemenangan. “Tidak akan kubiarkan kamu, tidur pulas malam ini, Sayang!” Dia menyeringai nakal.
Anita bergidik ngeri dibuatnya.
Ya. Sepertinya malam ini dia harus pasrah. Bagaimana juga, ini adalah tugasnya sebagai seorang istri. Memastikan kebutuhan suaminya terpenuhi.
Ya! Dimulai malam ini, hingga selanjutnya.