Siang harinya.
“Bagaimana rasanya, Sayang? Apa kamu menyukainya?” tanya Gema sambil tersenyum lebar.
Anita melihat tangan kanan dan kirinya secara bergantian. Ia sedang duduk di kursi yang biasa Gema tempati. Kursi yang diperuntukkan untuk pemimpin. Pemilik perusahaan. Tempat yang dulunya milik Angga Wijaya, kini telah diwariskan kepada Gema Dirgantara.
“Rasanya nyaman tidak, duduk di kursi pemilik perusahaan?” Gema kembali melayangkan sebuah pertanyaan dan Anita mengangkat kepalanya.
“Apakah tempat duduk ini berbeda dari tempat duduk kebanyakan?”
Gema tersenyum lembut. Dia paham betul, sang istri baru pertama kali merasakan sensasi berada di kantor. Terutama sampai duduk di tempat pemilik perusahaan.
“Ayah pernah berkata kepadaku …”
Anita tidak melepaskan pandangannya dari Gema. Sedangkan Gema tersenyum penuh makna.
Dulu Angga Wijaya pernah berucap. Kursi yang ia duduki saat ini, memang sebatas kursi biasa. Tidak ada bedanya dengan kursi pada umumnya. Memiliki bantalan di belakang dan bisa berputar sesuai yang penggunaannya inginkan. Namun, kursi ini memiliki peranan penting di perusahaan.
Dia yang duduk di kursi ini, akan menjadi pengendali. Dia mengendalikan sebuah perusahaan, yang di dalamnya terdapat ratusan bahkan ribuan orang, yang menggantungkan harapannya pada perusahaan.
Mereka berangkat di pagi hari. Mengantungkan harapannya pada pekerjaan masing-masing. Tidak ada yang mereka pikirkan selain memberikan yang terbaik bagi perusahaan. Begitu juga dengan dia yang duduk di kursi itu.
Tidak mudah untuk menjadi seorang pemimpin. Dia memanggul tanggung jawab besar di pundaknya. Ada banyak senyuman yang harus ia pertahankan. Itulah mengapa. Jadilah pemimpin yang adil. Jangan hanya demi uang dan kesenangan semata, membuat diri menjadi abai dan lepas tanggung jawab.
“Ayah berpesan kepadaku. Bilamana di masa depan diriku memimpin perusahaan ini. Maka diriku haruslah menjadi pemimpin yang adil dan bertanggung jawab …”
“Ayah selalu menekankan padaku, untuk tidak terlena dengan keuntungan dari pencapaian yang telah diraih. Pencapaian didapatkan, dari hasil kerja sama. Mereka yang berada di belakang. Apa pun hasilnya, tetaplah, menjadi pemimpin yang mampu mensejahterakan para karyawannya.”
Hal yang hingga detik ini selalu Gema banggakan, ialah kepemimpinan sang ayah dalam membangun bisnis.
Angga Wijaya bukanlah sosok baru di dunia bisnis. Sudah banyak kontribusi yang ia buat dalam bisnis. Dia membangun Wijaya Grup dari nol. Dari yang awalnya tidak memiliki apa-apa, kini menjadi sesuatu. Dari yang semula hanya beberapa karyawan saja, kini sudah ribuan bahkan puluhan ribu karyawan yang tersebar di beberapa kantor cabang.
Gema tidak memiliki darah Keluarga Wijaya. Namun, Angga Wijaya tetap menjadikan Gema sebagai pewaris utama Wijaya Group. Tidak ada alasan. Angga Wijaya hanya yakin, bahwa putranya itu mampu menjaga dengan baik hal yang selama ini telah dibangun dengan keringat dan kerja kerasnya itu.
“Apa kamu paham sampai di sini, Sayang?” Gema membuka pembicaraan baru, setelah ia menceritakan sepenggal kisah tentang Angga Wijaya di masa lalu.
Anita tersenyum dan mengangguk. Baginya, kisah kecil ini memiliki makna besar. Selama ini, Anita hanya mendengar kabar tentang Wijaya Group dari sosial media, berita di tv dan media massa lainnya.
“Aku merasa bangga. Aku yang hanya wanita biasa dan tidak berpendidikan tinggi, memiliki kesempatan duduk di kursi kepemimpinan ini. Kursi yang ditempati oleh sosok yang memiliki pengaruh besar di perusahaan ini.”
Kalimat itu bukan sekedar pujian belaka. Anita benar-benar, merasa bahwa dirinya menjadi wanita paling beruntung di dunia ini. Kesempatan langka yang seperti ini, tidak mudah didapatkan oleh sembarang orang, bahkan pengusaha sukses sekalipun.
Gema melangkahkan kakinya. Mengubah posisi berdirinya yang semula di depan meja, kini menjadi di belakang Anita.
Gema membungkukkan tubuhnya, mendekap kursi beserta sang istri yang masih duduk.
“Mulai saat ini, kamu harus terbiasa duduk di kursi ini. Seperti yang telah Ayah wasiatkan. Dia memberikan 40% saham Wijaya Group, kepada dirimu. Dengan kata lain, kamu memiliki hak untuk memimpin perusahaan ini bersama denganku.”
Anita melepaskan kedua tangan Gema yang mendekap erat dadanya, lalu dia memutar kursi itu. Kini menghadap Gema secara langsung.
“Tugas seorang istri adalah di rumah. Mengurus keluarga. Memastikan rumah tangga berjalan harmonis.”
Anita beranjak bangun. Dia menatap lurus suaminya dan tersenyum lembut. “Aku tidak memahami soal bisnis dan saham. Lagi pun, ada kamu di sini. Aku yakin, kamu mampu memimpin perusahaan ini, sebagaimana harapan Mas Angga kepada putranya dulu.”
Sebutan ‘Mas’ untuk mendingan Angga Wijaya, tidak bisa dilepaskan begitu saja. Bagi Anita. Angga Wijaya, tetaplah suaminya, meskipun saat ini mungkin ia adalah ayah mertuanya.
Takdir yang telah menciptakan kisah rumit ini. Skenario Tuhan, yang menjadikan dirinya sebagai pemain.
“Baiklah. Aku tidak akan memaksa. Namun, seandainya kamu merasa bosan dan ingin mencoba hal baru. Kamu hanya perlu memberitahukannya kepadaku. Detik itu juga, aku akan mengajarimu tentang bisnis berserta hal yang ada di dalamnya.”
Kendati ada banyak kejutan tak terduga dalam kehidupan. Satu hal yang pasti, Anita dikelilingi orang-orang yang sangat mencintainya. Mereka yang begitu peduli dan menyayanginya tanpa pamrih.
“Ya. Aku akan ingat itu.”
Gema menarik tangan sang istri, membawa Anita masuk dalam pelukan hangat. Mendekapnya dan menumpahkan semua kasih sayangnya hanya kepada Anita.
Di tengah-tengah kehangatan yang terjalin. Mendadak seseorang mengetuk pintu. Dari suara ketukan yang terdengar cepat, Gema sedikit menyimpulkan, bahwa ada keadaan gentik saat ini.
Apa itu, Gema pun belum mendapatkan informasi pastinya.
Gema mempersilahkan orang tersebut untuk masuk. Anita pun berdiri di samping sang suami dan saling bergandengan tangan.
Hanya berselang beberapa detik dari perintah tersebut, seorang pria yang kira-kira berusia empat puluh tahun itu, masuk dengan langkah tergesa-gesa. Seakan-akan, ada hal mendesak, yang harus Gema ketahuni dengan segera.
“Pak Gema.” Dia berkata pilu. Ada sedikit kecemasan di wajahnya, yang tidak mampu disembunyikan.
“Ada apa, Roy? Mengapa kau terlihat seperti orang yang habis melihat hantu? Sebenarnya apa yang sedang terjadi?”
Sampai beberapa detik berlalu, Gema masih bisa duduk tenang di tempatnya. Ditemani sang istri tercinta tentunya. Kehadiran Anita, secara tidak langsung menjadi kekuatan terbesarnya.
“Maaf, Pak Gema. Saham di empat perusahaan induk, mengalami penurunan sebesar 15%. Seseorang telah menggelapkan dana perusahaan, yang membuat perusahaan mengalami kerugian sangat besar. Para investor menuntut ganti rugi setelah saham mengalami penurunan drastis.”
Roy berkata ragu di bawah tekanan besar. Sangat berat hati, dia harus menyampaikan kabar buruk ini.
Gema tidak mampu menyembunyikan keterkejutannya. Menggebrak meja sebagai bentuk luapan emosi.
Kabar yang disampaikan Roy, bukan sekedar kabar buruk saja, melainkan anak panah yang langsung menusuk jantung.
“Siapa yang telah melakukannya? Penggelapan dana perusahaan? Memangnya apa saja yang kalian lakukan selama ini, sampai kebobolan seperti in!”
Gema berkata lantang. Suaranya bergema seisi ruangan. Sudah cukup lama, Anita melihat Gema semarah ini.
Roy tertunduk pasrah. Tidak ada hal lain yang bisa diperbuatnya saat ini.
Gema memijat keningnya yang mulai terasa sakit. Penggelapan dana di satu perusahaan, mungkin masih bisa terima, tetapi ini empat perusahaan sekaligus.
Di mana orang-orang yang selama ini bekerja di perusahaan? Sebenarnya apa yang mereka lakukan? Mengapa sampai membuat perusahaan merugi?
“Bukan hanya saham saja yang mengalami penurunan. Proyek yang saat ini sedang dikembangkan pun, ternyata telah di klime oleh perusahaan K.E, sebagai milik mereka. Hal tersebut, membuat pemegang saham mempertanyakan soal proyek ini, Pak.”
Ternyata, bukan hanya satu kabar buruk saja yang diterima, melainkan ada dua kabar buruk sekaligus yang harus Gema dengar.
Persekian detik setelah kabar itu disampaikan, tubuh Gema seolah kehilangan seluruh tenaganya. Kedua kakinya seakan-akan tidak lagi memiliki kemampuan untuk menopang tubuhnya.
Gema duduk terkulai. Tatapannya kosong, begitu juga dengan isi kepalanya.
Anita buru-buru duduk berjongkok di samping Gema. Memeluknya erat. Memberikan kekuatan baru kepada sang suami, supaya tabah menghadapi musibah ini.
Gema tidak bisa berlarut-larut dalam kesedihan. Setelah mendapatkan kembali kesadarannya dan kekuatan baru, dia segera beranjak bangun.
“Sayang. Kamu pulang duluan ya. Biar aku yang urus semua ini.” Dia berkata dengan penuh keyakinan. Kedua tangannya menyentuh pipi Anita.
“Apa kamu yakin? Aku sangat mencemaskanmu, Gema,” jawab Anita terdengar pelan.
Gema tak memberikan komentar, melainkan dia mengecup kening Anita penuh cinta. Mungkin hanya ini yang bisa ia lakukan, guna menghilangkan rasa cemas di hati istrinya.
“Percayalah! Aku akan mampu mengatasi ini. Sebaiknya kamu pulang dan doakan diriku, agar masalah ini cepat berlalu.”
“Amiin.”
Pada situasi ini, Anita seperti dipaksa untuk bahagia. Menunjukkan senyuman, seolah-olah tidak terjadi apa-apa.
Gema yang telah memintanya. Sebagai seseorang yang paham akan bisnis, Gema menaruh keyakinan cukup besar, untuk mengembalikan keadaan kritis ke semula.
“Kamu akan diantar Lidia. Aku ingin kamu sampai di rumah dengan selamat. Setelah sampai. Jangan lupa kabari aku!” pesan Gema, kemudian mengecup kening Anita untuk kedua kalinya, sebelum akhirnya dia melenggang pergi dari ruangan tersebut.
Roy mengekor di belakangnya. Dua pria, yang berasal dari generasi berbeda itu, telah meninggalkan ruangan ini.
Hanya Anita di sana. Seorang diri. Menatap kosong jalur yang dilewati Gema tadi.
Akankah Gema dapat mengembalikan keadaan?