AJISEKA

78. Memantau danau berkabut

Senja di Wono wetan, mengantarkan bahagia untuk keluarga Danuseka. Kini keluarga itu telah utuh seperti sepuluh tahun yang lalu. Namun, Ajiseka tidak serta Merta berdiam diri di rumahnya.

Bahkan, sehari setelah berkumpul dengan keluarganya Ajiseka sudah bersiap pergi ke danau tepi barat. Tempat keturunan silang siluman ikan dan manusia bersemayam. Danau berkabut, tempat yang sangat mengerikan untuk orang-orang yang memiliki linuwih, sebab dengan adanya kabut yang tidak wajar itu menandakan jika tempat itu dihuni oleh makhluk yang memiliki kekuatan besar.

Ajiseka berdiri di atas tebing, memantau aktivitas di wilayah danau. Sayang, pandangannya tidak mampu menembus pekatnya kabut yang menyelimuti permukaan air. Hal itu membuat rasa penasaran Ajiseka memuncak, yang akhirnya ia memutuskan untuk menelisik lebih jauh lewat jalur air, artinya Ajiseka akan melakukan penyelaman di dalam air danau berkabut itu.

“Ajiseka, jika kau berhasil masuk ambillah lempengan kuning yang berbentuk ikan. Romo yakin benda itu berada di dasar danau, berhati-hatilah anakku…” ujar Danuseka.

“Baik, Romo…” jawab Ajiseka.

Rupanya saat berbicara Danuseka melakukan telepati kepada Ajiseka, sehingga hanya suaranya saja yang terdengar oleh putranya. Beruntung Ajiseka paham maksud ucapan Ayahnya, sehingga ia tidak perlu repot menanyakan perihal ucapan sang ayah.

Dalam senyap Ajiseka melakukan penyelaman, tidak ada riak air yang bergerak dari awal pemuda itu memasuki dinginnya air danau. Ya! Ia sengaja melakukannya dan tidak ingin ada makhluk danau yang melihat keberadaannya. Mengingat, pesan dari sesepuhnya yang mengatakan jika makhluk air di tempat itu bukan hanya turunan silang saja, tetapi ia juga titisan iblis dari luar pulau.

Sejauh mata memandang dan sekian lama menelisik, Ajiseka menemukan kejanggalan yang luar biasa. Pasalnya ada tumpukan tulang belulang manusia di dasar danau itu. Tidak jauh dari tumpukan tulang, Ajiseka merasakan energi yang tidak biasa dan ia mengenalnya.

“Duripati, rupanya disini kekuatanmu tersimpan.” gumamnya dalam hati.

Ajiseka bergerak mendekati gundukan tulang belulang dan berenang menuju sumber energi, begitu melihatnya ia gegas mengambil dan menyimpannya. Ia tidak langsung keluar dari kedalaman danau, sebab inti pencariannya bukanlah benda pipih berbentuk ikan itu. Melainkan sosok lain yang mungkin berkeliaran di sisi lain danau, pasalnya di dekat area itu Ajiseka tidak mencium adanya kekuatan siluman atau pun iblis.

“Ini sungguh aneh, seharusnya makhluk itu berada di tempat ini, em…” gumam Ajiseka.

Pemuda itu berpikir sejenak, dan terus menajamkan pandangannya ke semua penjuru. Tetapi ia tidak menemukan sosok yang ia cari, ia lantas bergerak ke sisi lain. Merasa tidak menemukan hasil, Ajiseka pun berniat untuk keluar dari dalam danau, tetapi setelah mendekat ke arah permukaan air ia melihat puluhan ikan layur berdiri dengan kepala yang menyembul di atas permukaan danau.

Energi siluman terendus, tetapi tingkatannya masih begitu rendah. Tetapi insting Ajiseka mengiyakan kabar yang di katakan leluhurnya. Ya, tentu makhluk sekelas iblis sangat lihai menyembunyikan energinya, oleh sebab itu Ajiseka tidak ingin membuka energi miliknya.

Tidak mau mengambil resiko, Ajiseka beranjak meninggalkan kerumunan puluhan siluman ikan yang sedang berdiri. Tetapi tiba-tiba sesuatu bergerak cepat menyusulnya manakala ia sudah berada di atas permukaan air. Hal itu membuat Ajiseka tersentak kaget, pasalnya ia tidak merasakan apa-apa dan juga tidak mendengar adanya pergerakan, tetapi sosok itu tiba-tiba ada di depannya dan menyeringai kepadanya.

“Siapa dirimu Kisanak,” tanya Ajiseka.

 Pertanyaan yang cukup konyol, pasalnya tidak mungkin pemuda itu berasal dari golongan manusia. Dan dapat dipastikan jika sosok itulah yang dimaksud oleh leluhurnya. Terlebih fisik pemuda tampan itu sudah cukup membuktikan jika dia bukanlah manusia.

“Siapa dirimu wahai, Kisanak. Tampaknya kau tidak berasal dari bangsa manusia,” tanya Ajiseka lagi. Namun, pemuda itu tidak kunjung menjawab pertanyaannya. Yang ada hanya suara cicitan seperti binatang.

Slas!

Tiba-tiba tangan pemuda itu bergerak lurus dan menekuk, bersamaan dengan itu dari siku hingga pergelangan tangannya mengeluarkan sirip tajam seperti puluhan Pisau yang berjejer. Hampir saja senjata tak terduga itu menebas dada Ajiseka, beruntung saat sirip itu mencuat dirinya bergerak cepat kebelakang. Mendapati calon korbannya dapat menghindari serangannya, tubuh makhluk itu pun mengalami perubahan yang tidak terduga. Pasalnya dada, punggung, dan kedua tangannya mengeluarkan sirip yang serupa.

Mulut pemuda itu sedikit terbuka dan lagi-lagi mengeluarkan suara cicitan. Rupanya suara khasnya itu berfungsi untuk memanggil kawanannya yang semula berkerumun di satu tempat. Seketika puluhan siluman bergerak mendekat dan saling pandang. Jelas mereka sedang mengatur siasat, sayangnya Ajiseka tidak memahami bahasa yang dipakai oleh puluhan makhluk.

Riuh cicit yang lebih mirip suara kelelawar terdengar nyaring dari mulut puluhan siluman ikan yang seluruhnya berkumpul di permukaan air danau. Mengambang dan menatap aneh kepada Ajiseka, raut beringas dan seolah tidak sabar ingin merajam tubuh manusia di depannya. Bahkan, saat mereka menyeringai dan memamerkan gigi yang lebih mirip mata gergaji, lelehan liur kental turut membanjiri bibirnya.

Binatang air berbentuk panjang, dengan tubuhnya yang pipih, dan berkepala manusia itu sama Persis dengan induknya, Duripati. Berbeda dengan pemuda tampan yang memimpinnya, tubuhnya hampir sempurna seperti layaknya manusia. Yang membedakan hanya bagian dada yang sedikit pipih dan cuping telinga yang meruncing, jika ia mengenakan pakaian kemungkinan besar perbedaan itu akan tersamarkan.

Sedangkan kabut tebal di wilayah danau tepi barat mulai memudar seiring keluarnya pemuda tampan itu dari kedalaman air. Namun, hal lain terjadi, air bergolak memutar tepat di bawahnya. Sehingga tercipta pemandangan yang begitu ganjil di tempat itu.

Pemuda tampan itu menyeringai senang manakala dasar danau mulai terlihat oleh gerusan pusaran air yang kian melebar dan dalam. Seolah tidak puas dengan aksinya, ia kembali menjentikkan jarinya, alhasil tumpukan tulang belulang berhamburan keluar dari dasar danau dan berputar mengelilingi dirinya. Melihat itu Ajiseka tersenyum, ia menyadari jika makhluk danau sedang memamerkan kedigdayaannya.

Diam-diam Ajiseka menelisik aura yang dimiliki oleh makhluk-makhluk itu, dan kesimpulannya tidak satu pun yang patut di pertahankan kehidupannya. Pasalnya mereka memiliki tabiat yang mengerikan lagi ganas terhadap makhluk lain. Bahkan, terhadap manusia sekalipun ia akan berlaku sama.

“Tampaknya tidak ada tempat untuk kalian di wilayah ini, enyahlah! Dan tidak mengurangi niatku, bukan semata-mata membinasakan makhluk ciptaan sang pencipta. Namun, demi keberlangsungan hidup yang aman dan damai, terpaksa kalian harus ku lebur.”

Selesai berucap Ajiseka menjentikkan jarinya, seketika pusaran air yang membentuk lubang besar hingga ke dasar danau kembali tertutup. Akibatnya siluman ikan yang berada di atas permukaan air terkena imbas, mereka terdorong kerasnya gelombang air dan terdorong ke atas.

Sialnya lagi mereka tidak dapat turun dari ketinggian, pasalnya tubuh mereka terkena ajian kunci raga milik Ajiseka. Tanpa diduga-duga sosok burung elang berwarna perak terbang berputar di angkasa. Gaharu, lengkingan suaranya cukup memekakkan telinga, burung yang sejatinya siluman itu datang di saat yang tepat.

Slash

Slash

Tiba-tiba Jarum perak miliknya melesat dan menghujani puluhan siluman ikan yang masih mematung di angkasa. Rupanya senjata khas Gaharu memiliki peningkatan yang cukup signifikan, pasalnya setiap jarum yang melesat sudah di bubuhi dengan racun mematikan. Sehingga dengan waktu yang relatif singkat, tubuh siluman air itu memucat dan kehilangan nyawanya.

Byur…

Satu persatu siluman tewas dan jatuh ke danau, tersisa seorang pemuda tampan yang sama sekali tidak terpengaruh oleh senjata Gaharu. Namun begitu ia tetap terkena efek kunci raga dari Ajiseka. Tetapi pemuda itu tidak sedikit pun berusaha memberontak, ia malah menyeringai penuh ejekan kepada Ajiseka.

“Ajiseka, tampaknya kau harus berhati-hati dengannya!” teriak Gaharu dari ketinggian.

“Baik, Kakang. Sepertinya saya harus membawa makhluk ini ke daratan,” jawab Ajiseka. Pemuda itu langsung melesat ke atas tebing dan berdiri menunggu si pemuda terlepas dari pengaruh kunci raga miliknya.

Gaharu pun mendarat dan merubah wujud menjadi seorang pemuda.

“Kakang, bagaimana dirimu tau saya berada di tempat ini?” tanya Ajiseka setelah Gaharu menghampiri dirinya.

“Ki Paksi Maruta yang memerintahkan diriku, nyai Lurah yang menguasai pasar gaib tepi timur Punden mengabarkan jika Ibumu telah kembali. Aku di tugaskan untuk memantau keadaan seluruh wilayah Punden, tetapi aku malah penasaran dengan danau berkabut ini. Dan beberapa hari aku memantaunya, berhati-hatilah. Beberapa hari ini Manusia yang saat ini berada di bawah sana memakan daging yang tidak wajar, banyak manusia yang menjadi mangsanya,” ujar Gaharu.

 Rupanya Siluman elang perak itu telah memantau keadaan Danau sebelum Ajiseka datang. Bahkan ia menyaksikan sendiri ada seseorang yang sengaja memberi makan kepada pemuda yang saat ini masih terdiam di atas permukaan air Danau. Gaharu sendiri berniat melaporkan kepada Ajiseka perihal orang yang memberi santapan kepada makhluk air itu, tetapi hingga saat ini ia belum dapat memastikan siapa sosok yang ia intai.

“Ada yang sengaja memberinya makan mereka, tetapi aku tidak tau pasti sosok yang melakukan itu,” ujar Gaharu lagi.

“Artinya ada campur tangan manusia atas kehidupan siluman titisan iblis itu, Kang? Tentu dia bukan orang sembarangan,” jawab Ajiseka.

“Bahkan aku tidak mencium energi manusia saat melihat kedatangannya. Namun, wujudnya memang benar-benar mirip,” ujar Gaharu.

“Sungguh membingungkan, tetapi sebenarnya bukan soal itu yang menjadi masalah. Lihatlah sosok manusia di bawah sana, dia seolah tidak terpengaruh oleh senjata milikmu, Kang?”

“Aji! Awas!”

Teriakan Gaharu membuat Ajiseka terkesiap. Pasalnya pemuda makhluk Danau tiba-tiba muncul dan menyerangnya. Artinya dia sudah terlepas dari pengaruh ilmu kunci raga miliknya.

“Kakang menyingkirlah!”

Sragh!

Argh!

Benar saja, belum sempat menghindar tubuh Gaharu sudah tersambar sirip si pemuda. Hal itu membuat Gaharu terluka dan memekik kesakitan. Melihat hal itu si pemuda menyeringai senang, ia merasa mendapatkan mana yang harus di habisi terlebih dahulu.

“Tidak semudah itu, wahai makhluk Iblis!” teriak Ajiseka manakala siluman berwajah tampan itu bersiap menyerang Gaharu.

Pertarungan tidak terhindarkan, jika siluman air itu menggunakan sirip untuk menyerang. Ajiseka cukup menggunakan pergelangan tangannya, sebab pusaka Nogoweling yang dahulu berbentuk pedang kini telah menyatu dengan dirinya. Dan tangan Ajiseka berarti pedang Nogoweling jika pemuda itu membutuhkannya.

Seperti halnya saat ini, Ajiseka menggunakan kekuatan roh Nogoweling yang ia fungsikan sebagai senjata. Sehingga pertarungan yang terlihat sangat tidak lazim jika orang awam yang melihatnya. Tetapi Siluman yang konon titisan Iblis itu tidak goyah dengan digdaya Ajiseka yang bisa dibilang memiliki senjata yang penggunaannya mirip dengannya.

“Pertarungan ini tidak akan sebentar.” Gumam Ajiseka.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Lates Chapters

84. Akhir perjalanan hidup

Tidak sedikit warga yang langsung jatuh pingsan manakala sosok hitam besar memorak-porandakan tempat berlangsungnya Ritual doa-doa. Melihat hal itu Ajiseka tidak dapat menahan dirinya, pasalnya…

83. Jasad utuh Sariti

Senja jingga terlewati, temaram pun mengantar sang malam mencapai puncak kelam. Di sebuah bangunan kuno di atas Puncak Punden, beberapa orang tengah khusyuk memanjatkan doa…

82. Pertarungan Danuseka melawan Ajeng Ratri

Alam yang temaram memanas. Senyatanya Danuseka tidak selemah seperti dugaan Ajeng Ratri, setiap digdaya yang dikeluarkan mampu di halau begitu mudah oleh Danuseka. Sehingga dalam…

81. Sariti leluhur Ajiseka

Sorot penuh amarah terlihat jelas di tatapan mata Danuseka, sebab sosok arwah yang ada di depannya tidak lain adalah Sekar Sari atau Sariti. Dahulu semasa…

80. Bantuan Dewi Panguripan

Raja Tirta Dunya membisiki Ajiseka agar keluar dari pusaran air Danau, hal itu di lakukan karena tidak adanya pengawasan dari pihak lain. Sedangkan pemuda siluman…

79. Kekacauan di danau

  Tebing yang berdiri megah membentengi danau tepi barat luluh lantak akibat pertarungan sengit yang terjadi antara Ajiseka dan titisan iblis yang bernaung di tubuh…

77. Bertemu Tirtawani lagi

“Anak manusia! Ingatlah pesanku dahulu ketika kau datang dan mengambil mustika bening dari cangkangnya.” tiba-tiba Tirta Wani menimpali perbincangan Ajiseka dan Kumbolo. Putri Raja Tirta…

76. Menggali digdaya sendiri

Perjalanan waktu ke masa lalu kembali di mulai oleh Ajiseka. Tentu setelah ia mendapatkan pencerahan perihal kesalahannya. Ya! Welas asih yang dimaksudkan oleh ayahnya telah…

75. Tipu daya Danuseka

Haryo Wicaksono dan Danuseka berdiskusi di pendopo padepokan. Keduanya membahas perihal penculikan dan pengambilan harta benda dengan cara yang tidak wajar. Pasalnya menurut Galuh yang…

74. Perjalanan gaib

Langkah demi langkah terlewati, dan semuanya berbeda waktu. Ajiseka melihat perjalanan kehidupan seseorang dari masih kecil hingga terbentuknya sebuah keraton yang bernama Setyaloka hanya dengan…

73. Menyambangi Setyaloka

Pertarungan tidak terelakkan, tetapi sebelumnya Ajiseka terlebih dahulu membebaskan Sukma yang tertahan di dalam istana Dewi Sengkolo. Rupanya tidak sedikit korban yang sudah di ambil…

72. Kembali ke Wono wetan

Wanita jelmaan itu benar-benar mengembalikan Sukma Adhinata, walaupun ia berdalih dan seolah dia yang meminta untuk mengembalikan sukmanya. Nyatanya Adhinata telah sadar seutuhnya. Sariti juga…

71. Bertemu Sariti

Sosok wanita muncul setelah hembusan angin dingin sirna, ia berdiri anggun dengan busana bercorak batik berwarna merah terang. Parasnya ayu rupawan dengan hiasan sanggul di…

70. Ageng Pamungkas turun tangan

Sosok tua nan ringkih menangkis serangan serta memukul Roro Palupi dari jarak yang begitu dekat. Jika serangan jarak jauh yang sudah pasti menggunakan tenaga dalam…

69. Penyerangan di kediaman Haryo Wicaksono

“Serang!” Kata terakhir yang terucap dari salah satu tetua padepokan Lowo Ireng, dengan jumlah bawahan lebih dari seratus orang menjadikan dirinya begitu yakin mampu menaklukkan…

68. Menjadi tumbal

Cairan merah kental mengucur deras, menggenangi lantai aula sekte yang terbuat dari batu-batu pilihan dan terjejer rapi. Berakhirnya hidup seorang wakil pimpinan aliran hitam di…

67. Nasib Pancabala

Kunci Raga, ilmu warisan leluhur Ajiseka itu memang benar-benar membuat lawan tidak berkutik sama sekali. Tidak hanya mengunci raga manusia, tetapi juga berlaku untuk makhluk…

66. Kekalahan Adhinata

Rupanya aksi saling intai terjadi, Gaharu di perhatikan oleh sepasang mata. Tetapi sepasang mata itu juga mendapat perhatian khusus dari Paksi Maruta. Bahkan, sedikit saja…

65. Leburnya Padepokan Lowo Ireng

Tatapan yang tidak biasa, dan jika lengah seseorang akan mengikuti apa-pun keinginannya. Sayang wanita ayu itu adalah murid dari pedepokan lelembut, jelas upaya lelaki itu…

64. Melarikan diri

Shat! Blam! Seberkas sinar putih melesat cepat menghantam tubuh Sumokolo yang sedang tertawa pongah. Mulutnya terbungkam manakala dirinya tenggelam dalam cekungan tanah kering. Ya! Sumokolo…
error: Content is protected !!