Senja jingga terlewati, temaram pun mengantar sang malam mencapai puncak kelam. Di sebuah bangunan kuno di atas Puncak Punden, beberapa orang tengah khusyuk memanjatkan doa untuk leluhur yang disemayamkan di lokasi itu. Punden Kepaten, nama yang terlontar dari mulut Danuseka akibat beberapa kali menjadi tempat terjadinya kebengisan manusia yang bersekutu dengan siluman, juga arwah penasaran.
Orang-orang itu tidak lain, Ajiseka berikut kedua orang tuanya, Projo dan beberapa orang yang memiliki pengaruh di wilayah Punden. Kecuali Dadungkolo, lurah Wono wingit yang membelot dan memilih bersekutu dengan siluman ular yang bernama Dewi Sengkolo.
Obor-obor di tancapkan untuk sarana penerangan, lalu setelah selesai memanjatkan doa rombongan mereka bertolak ke wilayah selatan. Melewati desa Wono Kahuripan yang di pimpin oleh lurah Janudoro, penghujung desa terlewati. Namun, perjalanan belumlah selesai.
Ajiseka dan rombongan berjalan menuju hamparan hutan sisi Selatan Punden, tempat dimana pohon Klumpit berdiri. Ya! Di tempat itulah Ajeng Ratri beberapa kali menarik Ajiseka ke alam mimpi buatannya. Dan kali ini pemuda itu sengaja ingin di tarik kembali.
“Ibu, tetap bersama Aji, biarkan Romo dan yang lainnya memantau saja, dan ingat amalan yang saya berikan tadi.” ujar Ajiseka kepada ibunya. Wanita ayu itu mengangguk paham, lalu mereka menjauh dari rombongannya.
Rupanya, keberadaan Ajiseka cukup cepat memancing hasrat Ajeng Ratri, pasalnya belum lama ia terduduk angin tiba-tiba berhembus pelan dan dingin. Hal itu juga di rasakan oleh sang Ibu, ya! Ajiseka dan ibunya memisahkan diri dari rombongan, dan hal itu sudah di rencanakan olehnya. Semilir angin lambat laun menghilang, berganti dengan suasana temaram seperti halnya waktu senja.
“Ibu, bersiaplah. Jangan terkecoh dengan tipu daya, sekalipun itu menyentuh relung terdalam,” ujar Ajiseka kepada Sekar Pinesti, Ibunya.
“Iya. Tetap bersama Ibu, Nak?” jawab Sekar Pinesti.
Keduanya memasang kewaspadaan di sekitarnya tanpa menimbulkan kecurigaan terhadap sosok yang baru saja membuka daun pintu gubuknya. Ya, rupanya Ajeng Ratri tidak ingin berlama-lama dengan tujuannya. Sudah sekian ratus tahun wanita itu menunggu momen seperti saat ini, oleh karena itu ia tidak mau mengulur waktu lebih lama lagi.
“Selamat datang, Nak Mas. Rasanya aku tidak perlu basa-basi lagi, terlalu lama diriku menunggu saat ini tiba,” ujar Ajeng Ratri.
“Maksudmu apa Nyai … Bahkan, kedatanganku kesini bukan untuk menuruti keinginanmu…” jawab Ajiseka.
“Nak Mas, Sudah saatnya. Dan seharusnya kau tau maksudku, secuil ikhlas darimu akan sangat membantu diriku menuntaskan perjalanan panjang itu,”
“Nyai, Bukankah sudah takdir setiap manusia meninggalkan dunia? Ikhlaskan yang sudah pergi. Sudah seharusnya putrimu berada di jagat besar, dan kedatangan diriku kesini untuk membantunya agar sempurna.”
Ajeng Ratri tersenyum miring, lalu mendekat perlahan mengelilingi tubuh Sekar Pinesti. Mengendus aroma energi di tubuhnya, lalu tersungging senyum dari keriput bibirnya. Ia lantas menatap lekat Ibu dan anak itu tanpa sedikit pun mengucap kata.
Sekar Pinesti sedikit bergetar, walau bagaimanapun ia tidak pernah berhadapan dengan sosok yang hendak berbuat jahat. Beruntung sepuluh tahun terakhir ia berada di alam lelembut, sehingga keberadaannya di alam mimpi sudah tidak membuat dirinya ketakutan lagi. Tetapi, menghadapi Ajeng Ratri yang penuh tipu daya tentu bukanlah perkara mudah untuk dirinya.
“Siapa dirimu, Nduk? Darahmu mengalir garis yang sama denganku,” tanya Ajeng Ratri setelah selesai menelisik energi tubuh Sekar Pinesti.
“Saya Sekar Pinesti, kehadiranku kesini bertujuan sama dengan Putraku. Ingin menyempurnakan Sekar Sari agar tenang,” jawab Sekar Pinesti sembari tersenyum.
“Jika seperti itu, maka lakukanlah segera, tidak ada alasan untuk menundanya bukan?”
Rupanya Ajeng Ratri salah mengartikan ucapan Ajiseka dan Sekar Pinesti. Terlebih ia merasakan jika ada ketulusan dari keduanya. Senyumnya kembali mengembang manakala merasa upayanya mempengaruhi wanita itu berhasil.
“Mari … Putriku sudah menunggu lama untuk itu.” ajaknya sembari mengulas senyum aneh.
Ajeng Ratri mengayunkan langkahnya terlebih dahulu, di susul oleh Ajiseka dan Sekar Pinesti. Rupanya gubuk reot yang selama ini di lihat Ajiseka hanyalah tampilan luarnya saja. Nyatanya saat masuk pandangannya di sajikan adanya bangunan megah nan luas dan kental dengan nuansa mistis.
“Aku dan Sekar Sari adalah pendahulumu, terlepas kau berasal dari garis keturunan yang mana. Dan sudah menjadi suratan takdir kau hadir kesini, Nak Ayu …” ujar Ajeng Ratri kepada Sekar Pinesti.
Ia menjelaskan itu berdasarkan aroma darah yang ia hirup dari tubuh Sekar Pinesti. Ya! Semudah itu Ajeng Ratri mendeteksi garis keturunan, sebab sejatinya ia sendiri hanya wujud dari ilmu hitam yang ia anut semasa hidupnya. Tidak heran jika ia mudah memahami garis keturunan pemiliknya.
“Apa pun itu, kedatangan saya hanya untuk menunaikan amanah dari leluhur, dan kiranya tunjukkan dimana letak raga Sekar Sari agar urusan ini lekas selesai,” ujar Sekar Pinesti.
Lagi-lagi Ajeng Ratri salah menilai. Karena leluhur yang di maksud bukanlah leluhur dari jalur Ajeng Ratri, tetapi dari pemilik keraton Setyaloka. Jika saja wanita tua itu menyadarinya, sangat mustahil ia akan menunjukkan keberadaan raga Sekar Sari.
“Baiklah, Nak Ayu.” Selesai berucap mulut Ajeng Ratri berkecumik, lambat-laun tabir tipis mulai terbuka.
Ruang yang semula hanya berupa pilar-pilar kini mulai menunjukkan perubahan. Ya! Kamar nan luas dan sebuah ranjang mewah yang tertutup kelambu muncul tanpa ada penghalang. Aroma wewangian kembang yang di tabur memutari ranjang mulai menguar, menusuk Indera penciuman Sekar Pinesti dan juga Ajiseka.
“Bukalah kelambu itu dan lakukan sesuai petunjuk leluhur, Nak Ayu?” ujar Ajeng Ratri.
Sekar Pinesti mengangguk, ia mengajak Ajiseka menghampiri raga yang terbujur di atas ranjang. Keduanya menatap wajah Sekar Sari atau di alam manusia lebih dikenal dengan nama Sariti, wajahnya tampak ayu walaupun sedikit terlihat pucat. Anehnya, raga wanita yang hidup ratusan tahun lalu itu masih terlihat muda, dan lebih mengejutkan lagi dada wanita itu bergerak pelan, artinya jantungnya masih berdetak.
“Lakukan tanpa ragu, Bu? Jangan terkecoh dengan apa yang kita lihat, tidak ada yang abadi di jagat kecil ini, sebab seharusnya wanita ini sudah berada di jagat besar. Dan tugas kita menyempurnakan keharusan itu sekalipun harus menikamnya,” ujar Ajiseka meyakinkan Ibunya. Pasalnya hati Sekar Pinesti sendiri mulai meragu dan kasihan melihatnya.
Sekar Pinesti menghela napas kasar, memantapkan hati yang sedikit goyah. Lalu, salah satu tangannya terangkat dan mengambil benda kecil berukir bunga kenanga yang terselip di sela gelungan rambutnya. Sesaat bibirnya berkecumik, merapalkan ajaran yang di berikan oleh leluhur Setyaloka kepadanya.
Jleb!
Hening, tidak ada jerit kesakitan manakala benda yang bernama cunduk mentul itu menghujam jantung Sekar Sari. Bahkan, Ajeng Ratri tidak menyadari jika perlahan-lahan jantung putrinya mulai berhenti berdetak.
Dhar!
Dhar!
Ajeng Ratri mengamuk manakala menyadari raga Sekar Sari telah di Hujam dengan senjata, akibatnya pertarungan terjadi di dalam ruangan itu. Bahkan, ruangan yang semula tertata rapi dengan wewangian yang semerbak, kini hancur lebur. Rumah gaib alam mimpi yang ia bangun sedemikian rupa senyatanya hancur dalam beberapa saat saja.
“Bedebah! Tidak seharusnya aku percaya begitu saja dengan kalian!” Teriak Ajeng Ratri.
Kemarahannya memuncak dan menyebabkan hawa panas tak terkira di dalam ruangan itu. Beruntung Sekar Pinesti lebih dulu menyusup dan keluar dari ruangan tanpa sepengetahuan wanita tua yang sedang di amuk amarah. Sedangkan Ajiseka sendiri masih bergeming, kemarahan wanita tua itu sama sekali tidak menjadi masalah untuk dirinya.
“Hancurkan sepuasmu, Nyai …” ujar Ajiseka.
“Kau harus bertanggungjawab!” teriak Ajeng Ratri.
Tubuh ringkihnya tiba-tiba membesar gagah dan hitam. Bahkan, ukurannya terus meningkat mengikuti amarahnya. Namun, lagi-lagi Ajiseka tetap bergeming.
Hal itu membuat tubuh baru Ajeng Ratri meraung marah dan menyerang Ajiseka. Sorot mata merahnya cukup menggambarkan kebengisan pemiliknya. Namun, pemuda yang ia serang selalu saja berkelit tanpa melakukan serangan balik.
“Cukup! Wujud aslimu membuktikan jika kaulah penyebab semua ini. Leburlah bersama jasad yang kau ikuti, bukan mengambil jalan sendiri dan memanfaatkan arwahnya yang belum tenang!” sentak Ajiseka manakala Ajeng Ratri terus menerus mengumbar kekuatannya.
“Tidak akan berhenti sebelum semuanya terwujud, aku bisa mendiami jasad Sekar Sari jika aku berkehendak! Sebab keberadaan ku memang seizin Ajeng Ratri sendiri, Hua ha ha ha,” kelakar makhluk tinggi besar itu.
“Baiklah! Maka aku yang akan meleburmu!” sentak Ajiseka, ia tidak melakukan serangan, tetapi berdiam diri dengan mulut yang berkecumik pelan.
Sesekali Ajiseka tersenyum melihat amarah Ajeng Ratri yang benar-benar brutal. Bahkan, dirinya yakin jika alam ilusi buatan Ajeng Ratri akan hancur oleh pemiliknya sendiri. Tinggal menunggu waktu saja untuk melihat hal itu, pasalnya saat ini Ajeng Ratri sudah mulai menghancurkan dinding bangunannya.
Ajiseka sendiri hanya menghindari serangan serampangan dari wanita sepuh itu, terlebih dirinya menyadari jika sesungguhnya Ajeng Ratri hanya sebuah kekuatan yang terbentuk dari aura hitam. Sebab Ajeng Ratri yang sesungguhnya sudah mati dan bernasib sama seperti Sariti.
Tatapan amarah penuh dendam terlihat jelas di sorot mata tua Ajeng Ratri. Gerakannya melemah dan lambat-laun menghentikan amukan yang tanpa jeda. Ya, wanita tua itu tersadar manakala seluruh bangunannya hancur.
Ia menatap nanar seonggok tubuh yang terbujur kaku dan tertumpuk material bangunan. Raga yang ia jaga agar tetap utuh dan berharap bisa hidup selayaknya manusia biasa kini tidak lagi ada harapan. Ia meraung marah, tetapi semua itu tentu tidak mampu membalikkan keadaan.
“Semua ini karena ulahmu, wahai anak muda! Kalau pun nanti diriku lebur oleh digdayamu, aku akan tetap ada. Tempat ini tidak akan tenteram! Dendam! Amarah! Keserakahan dan kebengisan akan mewarnai kehidupan di wilayah ini! Ingatlah anak muda!” teriakan sumpah-serapah Ajeng Ratri menggema, membuat Ajiseka sendiri bergetar karena khawatir jika sumpah-serapah itu benar-benar terjadi di kehidupan masa depan.
Mengingat yang mengucapkan bukanlah manusia, terlebih ia adalah bentuk digdaya ilmu hitam yang senyatanya mampu bertahan selama ratusan tahun setelah pemiliknya meninggal. Mudah bagi Ajiseka menghancurkan sosok Ajeng Ratri, tetapi masalah yang di timbulkan tentu tidak dapat ia prediksi. Namun, Ajiseka harus mengambil keputusan itu secepatnya, mengingat keberadaan dirinya sudah terlalu lama di alam mimpi Ajeng Ratri.
“Nyai, ikhlaskan masa yang lalu, sudah menjadi suratan, yang hidup akan mati dan berganti dengan kehidupan berikutnya, lepaskan beban itu Nyai.” Selesai berucap Ajiseka berkecumik, suaranya cukup keras dan terdengar oleh Sekar Pinesti.
Wanita itu ikut berkecumik mengikuti alunan doa yang terucap dari Putranya. Hingga lambat-laun lengkingan keras Ajeng Ratri terdengar begitu menyayat. Begitu juga dengan wujud besarnya yang kian menyusut, dan seiring lantunan doa yang mengalun tanpa henti, tabir alam mimpi pun mulai memudar.
Pohon Klumpit terlihat jelas di pandangan Ajiseka dan Sekar Pinesti, menandakan jika ilmu ilusi Ajeng Ratri benar-benar sudah sirna. Tetapi ibu dan anak itu masih tetap melanjutkan doanya, hingga akhirnya raga Sekar Sari terlihat tergeletak tidak jauh dari tempat Ajiseka berada.
Danuseka yang memang menunggui mereka pun segera mengajak rekan-rekannya menggotong jenazah itu. Ia belum menyadari jika raga tak bernyawa itu adalah Sekar Sari. Tetapi ia memiliki firasat jika mayat wanita bukan orang sembarangan.
“Romo, baiknya kita siapkan pemakaman sekarang juga, Jangan sampai mayat Nyai Sekar Sari di ketahui oleh makhluk yang menginginkan ia hidup kembali,” ujar Ajiseka kepada ayahnya.
Mendengar hal itu Danuseka tersentak kaget, begitu juga dengan orang-orang yang membersamainya. Seketika itu juga Danuseka mengajak Janudoro dan dua rekannya untuk segera mengamankan mayat Sekar Sari. Ia meletakkan jasad kaku itu tepat di depan Ajiseka.
“Baiknya kita kebumikan di puncak punden saja, sebab keinginan Sekar Sari tidak lain hanyalah ingin berada di keraton Setyaloka, tanah kelahirannya. Seharusnya jasad ini sudah lebur dan menyatu dengan tanah, tetapi tampaknya kita di beri kesempatan melihat jasad asli salah satu leluhur Punden. Mari beri penghormatan terakhir untuk Nyai Sekar Sari, dan kita makamkan sebaik-baiknya berikut doa terbaik, agar arwahnya tenang dan terbebas dari belenggu makhluk jahat yang selalu mendampinginya,” ajak Danuseka kepada rekan-rekannya.
Janudoro, Ki Sawung dan Dirgodono terkejut mendengarkan penuturan itu, begitu juga dengan yang lainnya. Lalu mereka membawa jasad Sekar Sari ke desa Wono Kahuripan, wilayah terdekat dengan hutan sisi selatan Punden. Malam itu juga pemakaman dilaksanakan, mengingat resiko besar yang akan di hadapi jika sedikit saja menundanya.
Obor berjejer menerangi puncak Punden, alunan doa terus mengalun tanpa henti. Lambat-laun angin berdesir pelan, hawa dingin tiba-tiba menyeruak, membuat warga yang sedang khusyuk terganggu. Tidak lama kemudian bayangan merah melayang dan hinggap di salah satu pohon besar, menyaksikan banyak warga yang duduk melingkari gundukan tanah yang masih basah.
Namun, seiring alunan doa yang terucap, sosok itu bergetar hebat. Tubuhnya terasa luruh dan lama kelamaan tidak sanggup mendengarkan doa-doa yang di panjatkan oleh warga. Seketika lengkingan tangisnya membuncah, membuat sebagian warga panik akibat mendengar suara khasnya.
“Tidak semudah itu kalian menyempurnakannya, Danuseka … Ingatlah … Aku akan terus membersamai arwahnya …” tiba-tiba suara berat menggelegar tanpa wujud dan benar-benar mengacaukan kekhusyukan doa yang dipanjatkan para warga.