Hayu

Calon Mantu

Hayu tertawa geli, dia hanya bercanda, tapi reaksi yang ditunjukkan Jelita padanya menurutnya terlalu berlebihan. 

“Hei aku hanya bercanda, kenapa kamu seserius itu. Nikmati saja waktumu, toh aku tidak pergi ke mana-mana.” 

Jelita menghela nafas lega, dia pikir sudah mengganggu Hayu sehingga dia mengusirnya. Jelita menyeruput kopinya dan memakan kembali kue buatan ibu Hayu yang sejak tadi membuat air liurnya menetes. 

Jelita memasukkan kue basah dengan warna dan aroma pandan ke dalam mulutnya. Baru saja dia mengunyahnya, suara yang sangat familiar menyapa telinganya. 

“Lho, Jelita, kamu kok di sini, Nak?” 

Jelita tersedak, Hayu melesatkan tangannya cepat, mengulurkan kopi milik Jelita. 

“Hati-hati, minumlah, jangan menyepelekan tersedak, itu bisa membuatmu mati!” 

Mendengar kalimat yang terlontar dari mulut Hayu barusan, malah semakin membuat Jelita terbatuk-batuk. 

Mami Candra yang memiliki hati yang lembut pun segera menghampiri Jelita dan mengusap punggung gadis itu hingga batuknya mereda. Meski kesal dengan Jelita, Mami Candra dengan sabar membantu gadis yang sudah membuat putranya kecewa. 

“Terima kasih, Tante. Jelita pamit pulang dulu.” 

“Kenapa terburu-buru, bukankah kamu belum menghabiskan kopimu?” tanya Hayu penasaran. Kalau tebakannya benar, Jelita mungkin merasa sungkan setelah kedatangan mama Candra. 

Mama Candra duduk di sebelah Hayu, dia tersenyum tipis ke arah Jelita yang tampak gugup. 

“Kenapa terburu-buru, apa kedatangan Tante mengganggu obrolan kalian berdua?” 

Jelita menggelengkan kepalanya, berusaha bersikap biasa saja, membuang canggung yang tiba-tiba datang, sebab dia sendiri tahu betapa tak sukanya Mama Candra padanya. 

“Maaf, Hayu, tapi aku baru ingat kalau sebentar lagi ada meeting, sebaiknya aku pulang dulu, kapan-kapan  aku datang kemari lagi, tentunya kalau kamu tidak keberatan.” 

Hayu mengulas senyum manisnya, walau dia pernah kesal dengan perempuan di depannya itu, tapi senyuman yang diberikan Hayu padanya benar-benar tulus. 

“Tentu saja, datanglah kalau kamu ingin datang. Tunggu sebentar, aku ambilkan kue-kue ini untuk kamu makan di kantor.” 

Cekatan Hayu memasukkan kue-kue basah kesukaan Jelita dan memasukkannya di sebuah kotak plastik yang biasa ibunya gunakan untuk berjualan. 

Mama Candra memandangi Hayu dengan kagum, gadis yang sedang disukai putranya itu sungguh memiliki hati secantik rupanya. 

“Terima kasih, Hayu,” ucap Jelita. “Sampaikan pada Ibu, terima kasih kue-kuenya.” 

Hayu mengangguk, menatap Jelita yang sedang berpamitan pada Mama Candra, dan meninggalkan halaman rumahnya. Setelah punggung itu menjauh dan mobilnya tak terlihat, mama Candra mengajaknya duduk. 

“Bagaimana keadaanmu, Nduk, sudah sehat?” 

Hayu mengangguk dengan lembut.” 

“Ibu mau minum apa? Tunggu sebentar Hayu buatkan dulu.” 

Hayu baru saja hendak berdiri meninggalkan mama Candra, tapi perempuan lembut itu meraih tangannya. 

“Mama sudah bilang padamu, panggil Mama. Candra menyukaimu, kamu tahu itu, kan, Nduk?” 

Hayu tersenyum, “Tunggu, Ma, Hayu buatkan minum dulu, Bu, eh, Ma. Mau masuk ke dalam atau di sini saja? Ibu belum pulang.” 

“Mama di sini saja, Nduk. Udaranya lebih sejuk.” 

Hayu mengangguk, dia masuk ke dalam membuatkan teh kesukaan mama Candra, sementara itu mama Candra mengambil sekeranjang buah-buahan yang memang sengaja dia beli untuk calon menantunya. Rasanya tak enak kalau dia datang menjenguk Hayu dengan tangan kosong. 

 Hayu keluar dengan secangkir teh melati yang masih mengepulkan asap, meletakkannya di depan mama Candra. Tak lupa kue basah kesukaan mama Candra juga dia keluarkan. 

“Terima kasih, Nduk. Simpan dulu ini ke dalam.” 

Bu Candra mengulurkan tangannya, menyerahkan bawaannya pada Hayu. 

“Kenapa, Mama repot-repot? Hayu hanya kelelahan, meriang sedikit, tapi, terima kasih, Ma.” 

“Sama-sama, Nduk.” 

Sembari menunggu Hayu keluar menemaninya, Mama Candra mengirimkan pesan pada putranya memamerkan keberadaannya. Dia tahu anaknya itu tengah tergila-gila dengan Hayu. Walaupun tak ada balasan pesan dari putranya, dia yakin sebentar lagi Candra pasti menyusulnya ke sana. 

Mama Candra sudah tak sabar melihat Hayu dan putranya bersanding di pelaminan. Secara naluriah seorang ibu tak mungkin salah. Sejak awal Mama Candra memang suka dengan sosok gadis lembut dan sederhana itu, Hayu perempuan modern yang masih menjunjung tinggi adab, dan tahu bagaimana memperlakukan orang lain, meskipun dia diperlakukan tidak baik. 

Gadis itu menyadari bahwa status seseorang di dunia selalu ditentukan dengan apa yang dia miliki. Di sadari atau tidak, menilai orang dari kekayaan yang dia miliki masih banyak terjadi. Dunia memang tak adil padanya, tapi itulah rumus dunia. Mau disangkal bagaimanapun realita di sekitarnya menunjukkannya. Status sosial menjadi bagian penting bagi mereka yang haus dunia. Namun gadis itu tetap berusaha menjadi versi terbaiknya. 

“Maaf, Ma, Hayu lama. Ini Hayu kupaskan beberapa apel Fuji kesukaan Mama.” 

“Kenapa malah kamu yang repot meladeni Mama, Hayu, kalau kamu belum merasa sehat, sebaiknya kamu istirahat saja, tidak usah sungkan dengan Mama. Mama datang ingin melihatmu. Mama rindu, beberapa hari ini tidak bertemu denganmu.” 

“Mama bisa saja.” 

“Jadi apa yang Jelita lakukan padamu hingga dia datang kemari? Apa ini ada hubungannya dengan Bisma? Kamu nggak berniat kembali pada Bisma dan meninggalkan putra Mama, kan, Nduk?” 

Hayu tercengang dengan pengakuan terang-terangan mama Candra yang jelas-jelas memberi lampu hijau pada hubungan mereka. 

“Tidak, Ma, tak mungkin Hayu kembali pada Bisma. Jelita hanya datang untuk meminta maaf. Hubungan mereka kandas, Bu Ayu tak mengizinkan mereka menikah. Mama tahu posisi Jelita sekarang, kan? Sebagai seorang perempuan Hayu tak bisa membayangkan betapa hancurnya hati Jelita. Dia dikhianati orang-orang yang paling dekat dengannya.” 

Mama Candra memegang tangan Hayu, “Apakah Mama terlalu terburu-buru?” 

Hayu tersenyum dan menggeleng, dia selalu berusaha memosisikan dirinya menjadi orang lain sehingga tahu seperti apa perasaan mereka. 

“Hayu, tahu, Ma. Tapi biarkan waktu yang mendekatkan hubungan kami, Hayu sudah berusaha membuka hati Hayu, tak ada kekurangan yang dimiliki Candra, hanya saja Hayu tak mau terlalu terburu-buru. Bukan karena Candra tidak baik untuk Hayu, hanya luka itu belum menutup sempurna, sehingga Hayu masih memiliki sedikit ketakutan.” 

“Mama mengerti, Hayu, tapi Mama akan selalu berdoa yang terbaik buat kalian berdua. Mama tetap dengan keyakinan, bahwa kalian akan bersama. Tunggu saja, sebentar lagi anak itu pasti datang kemari dengan alasan menyusul mamanya, padahal Mama yakin, dia pasti ingin bertemu denganmu.” 

Hayu terkekeh geli, dia masih ingat betul saat lelaki itu dengan kekhawatirannya menungguinya hingga dia tak pulang ke rumah, padahal dia tahu ada ibu Hayu di rumah. 

Seperti dugaan mamanya, tak ada hitungan jam, lelaki tampan tampak mengendarai mobilnya masuk ke pekarangan rumah milik Hayu. 

Hayu dan Mama Candra tertawa melihatnya berjalan ke arah mereka. Candra pun ikut melemparkan tawa khasnya, tampak lesung pipinya menghias. Candra segera menghampiri mamanya dan mencium punggung tangannya. Dia duduk di sebelah Hayu. 

“Kenapa kalian berdua tersenyum-senyum melihatku datang?” 

Mama Candra dan Hayu refleks saling memandang. Mereka berdua tersenyum. 

“Pasti kalian sedang membicarakan aku,” tebaknya sembari merajuk. 

“Kamu mau kalau Mama membicarakan lelaki lain dengan Hayu? Kalau memang itu maumu, Mama akan melakukannya,” goda Mama Candra pada putranya. 

“Mama…!” 

 

 

 

Lates Chapters

Aku Mencintaimu

Mama Candra terkekeh geli melihat reaksi putranya. Dia menaik -turunkan kedua alisnya, menggoda putranya yang tersenyum-senyum tipis, mempertahankan gengsinya. “Mama nggak pulang? Bukankah ada sesuatu…

Menghancurkan Mimpi

Bisma mengetuk pintu kaca mobil Jelita. Mau tak mau Jelita menurunkan kaca pintu mobil miliknya. Dia tak mengerti dengan sikap Bisma. Bukankah kekasihnya itu sudah…

Dikhianati Keadaan

Jelita geming, menunggu jawaban dari calon suaminya, sementara Nyonya Adibrata dengan sengaja membuang muka menghindari tatapan calon menantunya. Seketika Jelita sudah bisa menebak apa yang…

Maafkan Aku

“Boleh aku masuk? Apa aku mengganggumu? Aku hanya butuh waktu sebentar denganmu. Ada sesuatu yang ingin aku bicarakan padamu. Apa kamu sudah sarapan?”  Candra menunjukkan…

Semalam Tidur Dimana?

Mau tak mau Hayu pun membuka matanya, Dia malu sekali karena ketahuan oleh Candra. Candra tersenyum melihat Hayu membuka mata.  “Apa kamu menginginkan sesuatu atau…

Awkward

Candra mengantarkan Hayu pulang ke rumahnya. Ibunya tampak sudah menunggunya di depan pintu, beliau kaget melihat putrinya yang datang dengan wajah yang pucat dan lemas.…

Serangan Jantung

Candra kaget melihat Bisma yang juga ada di sana.  “Siapa yang sakit, Ndra.”  “Hayu. Kamu sedang apa di sini?” tanya Candra kembali, bukannya tadi mereka…

Sekedar Bobo-boboan

Hayu yang kelelahan malah tertidur di sofa depan televisi. Candra yang melihatnya pun membetulkan posisi tidurnya dan mengatur suhu AC di ruang keluarga, sementara dia…

Mode Pasrah

Candra yang baru saja keluar dari kamar mandi dan melihat Bisma sedang menatap Hayu pun kesal, dia cemburu Bisma menatap Hayu selekat itu.  Dia berdeham,…

Bayangan Masa Lalu

Hayu merebahkan dirinya di atas ranjang. Seharian memutari mall cukup membuatnya lelah, mendadak dia memiliki penyakit encok.  Ibu Hayu yang tahu anaknya kelelahan segera masuk…

Isu Perselingkuhan

Bu Ayu yang masih  terngiang dengan perkataan Bu Nia, mendadak tidak mood lagi meneruskan keinginannya untuk memutari mall, dia memilih  untuk mengajak Jelita pulang.  Sejujurnya…

Pukulan Telak

Saat mereka hendak keluar dari counter sepatu, mereka bertiga berpapasan dengan orang yang paling tak diharapkan Candra.  Tampak Bu Ayu sedang bersama dengan Jelita. Sungguh…

Don’t flirting Hayu!

Setelah terombang-ambing dengan kegilaan sekretarisnya, akhirnya Hayu dan Candra sampai juga di kediaman keluarga Hardana. Bu Nia sudah menyambut mereka berdua di depan pintu masuk.…

Aku Rakyat Jelata

Minggu pagi, hari di mana semua orang menunggunya. Mereka yang biasa bekerja bisa melakukan family time ataupun me time, setelah enam hari bekerja keras.  Namun…

Makin Menggoda

Hayu dan Jelita masuk ke dalam ruangan. Jujur dia agak terkejut dengan kedatangan Jelita, namun dengan segera Candra menguasai dirinya, dia memasang wajah datar dan…

HGB, Belum Hak Milik!

Dina dan Hayu saling berpandangan, mereka kesusahan menelan salivanya, agak ngeri mendengar peringatan dari Candra tentang uang pesangon. Dina masih butuh pekerjaan, bagaimana dia bisa…

Tujuh Hari, Tujuh Malam

Candra otomatis menoleh, mengarahkan pandangannya ke arah yang dituju Hayu, dia hampir saja tertawa ketika melihat mami Bisma sedang berada di sana seorang diri. Mungkin…

Aku Cemburu

Candra diam membisu, dia tahu betapa kejamnya dunia bisnis, karena itulah dia tidak mau mengurus perusahaan keluarganya. Dia lebih suka menjadi pegawai ketimbang harus mengurus…

Cinta Ini Menelan Waktuku!

Hayu kembali ke kantornya, tampak Candra sedang duduk di kursinya dan melamun. Hayu memicingkan matanya, entah apa yang sedang dilakukan atasannya itu, di meja kerjanya,…

Apa Perlu Aku Menyingkirkan Hayu?

Jelita membuka pesan yang dikirimkan Candra padanya.  [Aku peringatkan padamu! Jangan usik Hayu! Jika tidak, kamu akan berurusan denganku! Sebaiknya kamu jaga kekasihmu itu agar…
error: Content is protected !!