Hayu

Nyonya Ayu Adibrata

“Jadi, apa pekerjaan kamu?” 

“Saya sekretaris di Hardana Grup, Bu.” 

“Jangan panggil saya, Bu. Panggil saya, Nyonya Adibrata.” 

“Mi!” seru Bisma anak semata wayangnya. 

“Jangan ikut campur, Bisma!” 

Malam ini, Bisma memperkenalkan Hayu dengan keluarganya, keluarga Adibrata. Hayu, yang dulu tidak tahu bahwa Bisma termasuk keluarga ningrat, sekarang mulai mengerti. Kenapa selama mereka menjalin hubungan, Bisma tidak pernah membawa Hayu menemui keluarganya. Jarak antara mereka terlalu jauh. Status sosial mereka sungguh berbeda. 

Hayu mulai sadar ke mana arah pembicaraan orang tua Bisma. Dia berusaha menguatkan hatinya demi lelaki yang dicintainya itu. Dia harus memasang wajah semanis mungkin, meskipun dia tahu, hatinya akan semakin sakit mendengar kalimat demi kalimat yang akan dilontarkan Nyonya Adibrata. 

Bisma terdiam menerima teguran dari maminya. Nyonya Ayu Adibrata memandangi Hayu dari atas sampai ke bawah. 

“Orang tua kamu bekerja di mana?” 

“Saya hanya punya Ibu saja, Ayah saya sudah meninggal semenjak saya SMA.” 

“Lalu ibumu, dia bekerja sebagai apa?” cecar nyonya Adibrata, tentu saja dengan sikapnya yang angkuh dan dingin. Tatapan matanya bahkan mampu menggetarkan bumi seisinya. 

“Ibu saya hanya penjual kue-kue rumahan.” Hayu semakin tidak enak dengan pertanyaan kali ini. Apalagi sudah membawa-bawa orang tuanya, Hayu ingin pergi dari rumah Bisma secepat mungkin. Tapi dia masih menjunjung tinggi sopan santunnya, dia tidak mau mempermalukan orang tuanya, karena sikapnya itu. 

“Hanya itu? Kalian tinggal di mana?” tanya Nyonya Adibrata lagi, sembari mendorong punggungnya bersandar di sofa, tak lupa menyilangkan kakinya. Menampakkan kesan meremehkan terhadap Hayu. 

“Kami tinggal di Perumahan Melati.” 

Bisma yang kasihan dengan Hayu, berusaha mengalihkan topik pembicaraan mereka. Untungnya papa Bisma, Jaya Adibrata tidak ada di rumah. Seandainya ada, hati Hayu bisa saja ambyar, seperti nasi kucing yang hilang staplesnya. 

“Mi, bukankah kita akan makan malam, Bisma sudah lapar, Mi. Sampai kapan Mami mewawancarai Hayu? Ini bukan lamaran pekerjaan, Mi. Ini tentang makan malam keluarga. Mami mau, melihat Bisma kelaparan dan akhirnya pingsan di sini?” 

Nyonya Adibrata mendengus sebal, namun tak urung, dia bangkit dari duduknya dan berjalan terlebih dahulu menuju meja makan. Bisma membimbing Hayu mengekori maminya di belakang, mereka duduk dan mulai menikmati makan malam. 

Hayu sudah tidak merasakan rasa lapar sejak kedatangannya kemari, nafsu makannya menghilang. Nyonya Ayu Adibrata yang melihatnya seketika berdeham. 

“Ehem, apa makanan yang kami sajikan kurang enak? Tidak menggugah seleramu? Sehingga kamu enggan memakan makanan yang mahal ini? Atau jangan-jangan, orang tuamu tidak pernah memasak menu-menu ini di rumah?” 

“Mami! Cukup! Mami jangan keterlaluan dengan Hayu!” Bisma mulai berani menjawab maminya, dia merasa sakit hati mendengar perkataan maminya. Bisma tak bisa membayangkan, bagaimana perasaan Hayu saat ini, pasti lebih sakit dari yang Bisma rasakan. 

“Jadi karena kekasihmu ini, kamu berani membentak Mami?” 

Hayu yang merasa tidak enak, melihat mereka bertengkar karena dirinya, mulai membuka suara. 

“Saya memang tidak terbiasa makan makanan seperti ini, Nyonya. Karena ibu saya hanya menyediakan makanan yang sederhana, sehat dan murah, namun mengandung banyak gizi tinggi. Jadi saya mohon maaf, kalau saya terlihat tidak tertarik untuk memakan hidangan ini, saya merasa tidak terbiasa.” 

Sebagai seorang sekretaris, sejujurnya dia tahu segala makanan enak, apalagi ketika menemani bosnya makan siang dengan klien, atau sekedar membelikan bosnya makan siang. Namun mendengar perkataan nyonya Ayu, membuat Hayu berpura-pura tidak tahu menahu soal makanan yang tersaji di hadapannya. 

Susah payah Hayu menguatkan hatinya agar tidak sedih dan meneteskan air mata. Dia terima kalau dia di remehkan, tapi dia tak terima, jika sudah menyangkut orang tuanya. Orang tuanya yang tidak tahu menahu tentang kesalahannya. 

“Bagus, kalau begitu, sekarang makanlah, ini kesempatan yang tidak akan datang dua kali, nikmati semua makanan yang tersaji di sini, dan kamu Bisma, cepatlah makan. Bukankah kamu bilang, kamu lapar. Kamu juga tahu aturan kita ketika sedang makan, bukan? Tidak ada percakapan apa pun di meja makan!” 

Bisma terdiam, selama ini dia tidak pernah melanggar aturan yang sudah ditetapkan di rumah. Peraturan makan dengan mode silent, begitu Bisma menyebutnya. Seperti makan dengan robot, tidak ada interaksi dan suasana yang hangat seperti di keluarga Hayu. Di mana mereka makan dengan saling melempar candaan atau sekedar membahas hal yang tidak penting. 

Bisma dibesarkan dengan segala aturan-aturan yang kadang membuat Bisma muak, jika dia protes dengan maminya, maka, dia akan di ingatkan bahwa dia termasuk keluarga ningrat yang wajib menaati aturan-aturan yang sudah ditetapkan oleh mereka. Tidak boleh satu pun yang boleh dilanggarnya. 

Mereka makan dengan diam. Selesai makan, nyonya Ayu Adibrata melangkah menuju ruang keluarga, mengabaikan anak dan juga kekasihnya yang tak dianggap olehnya. 

“Aku mau pulang, biar aku pulang sendiri, tak perlu kamu mengantarku.” 

“Tidak, aku akan mengantarmu, aku yang menjemput dan mengajak kamu ke sini, aku harus bertanggung jawab. Lagi pula aku yang meminta ijin pada Ibu,” ucap Bisma menolak permintaan Hayu. 

Hayu melangkah mendekati Nyonya Ayu, “Maaf, Nyonya, sudah malam, saya harus pulang, terima kasih atas makan malamnya,” pamit Hayu mengulurkan tangannya pada nyonya Ayu, sayangnya dia malah bersikap, seolah-olah tak melihat tangan Hayu yang terjulur padanya. 

Hati Hayu sakit, seperti di tusuk ribuan jarum. Bisma ingin memeluknya, tapi dia takut, maminya akan semakin murka dengan kelakuannya. Bisma sungguh bingung dengan apa yang harus dilakukannya. 

Hayu menarik tangannya yang terulur dan mengepalkannya di sisi tubuhnya. 

“Saya permisi, Nyonya.” Nyonya Ayu menanggapi dengan anggukan, melihat putranya yang mengekori Hayu, segera dia menghardiknya. 

“Mau ke mana kamu!” 

“Mi, Bisma mau mengantarkan Hayu pulang, tadi Bisma yang menjemputnya, Mi. Bukankah Mami yang selalu bilang dan mengajarkan Bisma untuk bertanggung jawab?” 

“Antarkan dia sampai di gerbang, kamu bisa mencarikan taksi untuknya!” 

“Tapi, Mi.” 

“Sudahlah, aku bisa pulang sendiri, tidak usah mengantarku, aku akan mencari taksi sendiri.” Hayu mencegah Bisma mengantarkannya, dia tidak mau semakin ada pertengkaran antara ibu dan anak. 

“Tapi, Hayu. Aku tidak mungkin membiarkan kamu pulang sendiri, apa kata Ibu nanti.” 

“Aku akan menjelaskan pada Ibu, bahwa kamu sedang tidak bisa mengantarku, aku yakin Ibu akan mengerti, ku mohon. Biarkan aku pulang sendiri. Iam fine, Bisma.” 

Bisma mengalah, dia menatap punggung kekasihnya sampai menghilang di balik gerbang rumahnya. 

Hayu berjalan keluar dari rumah yang pantas di sebut neraka itu. Air mata yang dia tahan sejak tadi, akhirnya menetes juga. Semakin lama semakin deras, ingin rasanya dia berteriak untuk melegakan semua beban yang ada di hatinya, namun itu tidak mungkin di lakukannya. Dia sedang berada di jalan raya yang ramai, bisa-bisa nanti dia viral gara-gara teriakan-teriakannya, atau malah orang-orang menyangka dia sudah gila. Gila karena mami Bisma. 

“Apa salahku, apa salah, aku dilahirkan dari keluarga yang biasa saja? Apa aku salah, karena menjadi anak yatim? Apa salah, kalau ibuku hanya penjual kue?” gumamnya terisak. 

“Kenapa takdir begitu kejam padaku?” 

“Kenapa menyalahkan takdir? Bukankah takdir itu, tetangga kamu yang bekerja sebagai sopir saya?” 

“Bapak?” 

 

 

 

 

Lates Chapters

Aku Mencintaimu

Mama Candra terkekeh geli melihat reaksi putranya. Dia menaik -turunkan kedua alisnya, menggoda putranya yang tersenyum-senyum tipis, mempertahankan gengsinya. “Mama nggak pulang? Bukankah ada sesuatu…

Calon Mantu

Hayu tertawa geli, dia hanya bercanda, tapi reaksi yang ditunjukkan Jelita padanya menurutnya terlalu berlebihan.  “Hei aku hanya bercanda, kenapa kamu seserius itu. Nikmati saja…

Menghancurkan Mimpi

Bisma mengetuk pintu kaca mobil Jelita. Mau tak mau Jelita menurunkan kaca pintu mobil miliknya. Dia tak mengerti dengan sikap Bisma. Bukankah kekasihnya itu sudah…

Dikhianati Keadaan

Jelita geming, menunggu jawaban dari calon suaminya, sementara Nyonya Adibrata dengan sengaja membuang muka menghindari tatapan calon menantunya. Seketika Jelita sudah bisa menebak apa yang…

Maafkan Aku

“Boleh aku masuk? Apa aku mengganggumu? Aku hanya butuh waktu sebentar denganmu. Ada sesuatu yang ingin aku bicarakan padamu. Apa kamu sudah sarapan?”  Candra menunjukkan…

Semalam Tidur Dimana?

Mau tak mau Hayu pun membuka matanya, Dia malu sekali karena ketahuan oleh Candra. Candra tersenyum melihat Hayu membuka mata.  “Apa kamu menginginkan sesuatu atau…

Awkward

Candra mengantarkan Hayu pulang ke rumahnya. Ibunya tampak sudah menunggunya di depan pintu, beliau kaget melihat putrinya yang datang dengan wajah yang pucat dan lemas.…

Serangan Jantung

Candra kaget melihat Bisma yang juga ada di sana.  “Siapa yang sakit, Ndra.”  “Hayu. Kamu sedang apa di sini?” tanya Candra kembali, bukannya tadi mereka…

Sekedar Bobo-boboan

Hayu yang kelelahan malah tertidur di sofa depan televisi. Candra yang melihatnya pun membetulkan posisi tidurnya dan mengatur suhu AC di ruang keluarga, sementara dia…

Mode Pasrah

Candra yang baru saja keluar dari kamar mandi dan melihat Bisma sedang menatap Hayu pun kesal, dia cemburu Bisma menatap Hayu selekat itu.  Dia berdeham,…

Bayangan Masa Lalu

Hayu merebahkan dirinya di atas ranjang. Seharian memutari mall cukup membuatnya lelah, mendadak dia memiliki penyakit encok.  Ibu Hayu yang tahu anaknya kelelahan segera masuk…

Isu Perselingkuhan

Bu Ayu yang masih  terngiang dengan perkataan Bu Nia, mendadak tidak mood lagi meneruskan keinginannya untuk memutari mall, dia memilih  untuk mengajak Jelita pulang.  Sejujurnya…

Pukulan Telak

Saat mereka hendak keluar dari counter sepatu, mereka bertiga berpapasan dengan orang yang paling tak diharapkan Candra.  Tampak Bu Ayu sedang bersama dengan Jelita. Sungguh…

Don’t flirting Hayu!

Setelah terombang-ambing dengan kegilaan sekretarisnya, akhirnya Hayu dan Candra sampai juga di kediaman keluarga Hardana. Bu Nia sudah menyambut mereka berdua di depan pintu masuk.…

Aku Rakyat Jelata

Minggu pagi, hari di mana semua orang menunggunya. Mereka yang biasa bekerja bisa melakukan family time ataupun me time, setelah enam hari bekerja keras.  Namun…

Makin Menggoda

Hayu dan Jelita masuk ke dalam ruangan. Jujur dia agak terkejut dengan kedatangan Jelita, namun dengan segera Candra menguasai dirinya, dia memasang wajah datar dan…

HGB, Belum Hak Milik!

Dina dan Hayu saling berpandangan, mereka kesusahan menelan salivanya, agak ngeri mendengar peringatan dari Candra tentang uang pesangon. Dina masih butuh pekerjaan, bagaimana dia bisa…

Tujuh Hari, Tujuh Malam

Candra otomatis menoleh, mengarahkan pandangannya ke arah yang dituju Hayu, dia hampir saja tertawa ketika melihat mami Bisma sedang berada di sana seorang diri. Mungkin…

Aku Cemburu

Candra diam membisu, dia tahu betapa kejamnya dunia bisnis, karena itulah dia tidak mau mengurus perusahaan keluarganya. Dia lebih suka menjadi pegawai ketimbang harus mengurus…

Cinta Ini Menelan Waktuku!

Hayu kembali ke kantornya, tampak Candra sedang duduk di kursinya dan melamun. Hayu memicingkan matanya, entah apa yang sedang dilakukan atasannya itu, di meja kerjanya,…
error: Content is protected !!