Sudah mau lulus kuliah kapan menikah nak, Nenek sudah mau mati ini!” ucap wanita yang sudah berusia 60 an pada Qura, dia hanya menginginkan cucu perempuan satu satunya menikah masih bisa disaksikan olehnya.
“Sabar dulu nek Qura masih ingin mengejar mimpi Qura, kenapa hanya Qura yang dipaksa, kalau abang di diamkan, nenek juga harus adil. Biasanya yang lebih tua dipaksa lebih dulu.”
Qura merasa tidak adil, dia hanya seorang gadis yang ingin mengejar mimpi, setelah lulus kuliah, harapannya selalu menjulang tinggi, walaupun kerjaannya hanya berdiam diri di rumah tapi sejuta mimpi itu masih membayangkan fikirannya.
“Tidak usah paksa Qura Bu, nanti kalau juga ketemu jodohnya.” Imbuh Ibunya.
Pembelaan itu membuat Qura sedikit legah. Gadis berusia dua puluh tahun yang memiliki saudara laki laki yang sekarang Abangnya kerja di Malang sebagai pengurus Pondok sekaligus menjadi Guru di sana.
Qura memasuki Kamar, bayangannya menjulang ke angkasa, dia kefikiran dengan apa yang dikatakan oleh Neneknya barusan, dari dulu Qura selalu dijodoh jodohkan, namun dia ingin menghasilkan uang dari jerih payahnya, melihat Ayah dan Ibunya hanya seorang petani biasa, pandangannya selalu ingin membuat Ayah dan Ibunya bahagia.
“Ya Allah, beri aku jalan.”
Itulah harapannya saat ini, dia hanya ingin membuktikan pada dunia kalau dia bisa, walaupun keluarganya sendiri meragukan kemampuannya.
Hidupnya yang membosankan, hanya rebahan setelah kuliah membuat orang tuanya selalu membujuknya untuk segera membangun rumah tangga, namun bujuk rayu itu tidak pernah berhasil buat Qura.
Lagi lagi Neneknya menghampiri di kamar, Qura hanya terdiam menunggu Neneknya berbicara.
“Nak ada teman Nenek anaknya menyukai kamu, dia pekerja keras dan baik. Nenek harap kamu mempertimbangkan semuanya.”
“Kalau Nenek yang tidak sabar menunggu Qura, Nenek saja yang menikah!” Bentaknya.
Nenek hanya terdiam, dia berusaha bicara dari hati kehati namun gagal juga, tiga bulan lagi Qura akan melangsungkan wisudah kelulusannya.
Perkara ini menjadi tantangan baru buatnya, bagaimana tidak? Dia dituntut untuk menjadi pribadi yang dewasa untuk membahagiakan orang tua, zona nyaman akan segera berlalu.
Tanpa sepengetahuan Qura, Rendi anak teman Neneknya datang bersama orang tuanya sore itu, tentu saja Qura kesal, namun karena paksaan orang tua Qura bersedia menemuinya walaupun dengan sikap tidak suka padanya.
“Keluar Nak, ini ada tamu.” Ayah dan Ibunya memanggil Qura, mereka hanya bisa memasrahkan semuanya padanya, namun Qura hanya bisa menatap dengan muka geram.
“Iya Bu.” Tidak seperti wanita bertemu kekasih, pakayan yang Qura gunakan hanya sarung bali warna hijau motif bunga dengan jilbab jersey dan baju kaos yang biasa dia gunakan.
“Sebelumnya terima kasih atas kedatangannya, namun semua keputusan tetap kami serahkan pada anak kami,”
Perlahan Qura mulai duduk di Kursi dekat Ayah Ibunya.
“Sebelumnya saya mau mohon maaf, saya tidak mengenal rendi dan juga saya ingin mengejar mimpi saya, terus terang saya tidak suka di jodoh jodohkan, sebentar lagi saya wisudah dan mimpi saya masih seluas lautan, kalau sampeyan memaksa saya untuk menerima saya menolak, terima kasih.”
Selesai mengucapkan Qura meninggalkan ruang tamu, perkataannya tidak enak didengar. Semuanya membuat suasana terasa canggung, ini bukanlah pertama kalinya Qura menolak niat baik seseorang yang ingin menjalin hubungan serius dengannya, namun niatnya tetep kokoh.
“maafkan apa yang dikatakan anak saya pak, namun prinsipnya sangat kokoh, walaupun dia sebentar lagi akan menjadi sarjana.” Tutur ayah,
“tidak masalah pak, rendi bisa faham.”
“anaknya pendiam, lebih banyak di rumah dari pada bersama teman teman, namun saya tidak ingin memaksa kehendak anak saya, karena sepenuhnya dia yang akan menjalaninya.” Lanjutnya.
“yasudah, kami mohon pamit.” ayah rendi menyalami kedua orang tua Qura dan meninggalkan tempat, Qura mulai memutar otak, selama ini Qura selalu dilarang ketika mau meninggalkan kampung halaman, berawal dari dia ingin kuliah di malang bersama abangnya dan mencari kerja untuk menambah pengalaman, semua yang dia inginkan selalu terhambat.
Karena rasa takut pada ayah dan ibunya dia tidak berani membantah, sekarang saatnya dia melawan rasa takut itu, menjadi pribadi yang dimilki dia seutuhnya,
“aku sudah sarjana, sudah dua puluh satu tahun, sudah saatnya aku mejadi diriku sendiri.”
Hatinya berteriak, air mata menggambarkan tekad yang sangat menggebu gebu dalam dirinya, untuk saat ini mimpinya hanya satu menunggu wisudah maka mimpinya harus menjadi kenyataan, mencari pengalaman dan mengenal diri sendiri.
Saat air mata mulai redah, Ibunya membuka pintu dan mulai memeluk Qura, “Buk, saat Qura lulus kuliah tolong beri Qura kebebesan, Qura ingin menjalankan apa yang menjadi niat Qura.”
“Ibu hanya menginginkan yang terbaik buat kamu nak,”
“yang terbaik buat ibu! Selama ini Qura selalu mengikuti kemauan ayah dan ibu, mulai dari kuliah Qura mau sama abang di luar kota ibu melarang Qura, sekaranga apakah masalah pasangan Qura juga harus menuruti keinginan Ibu dan ayah!”
Qura sudah tidak bisa menahan amarah lagi, saat ini yang dia rasakan adalah kemarahan dan hanya itu yang bisa meyakinkan ibunya kalau dia pasti bisa memberikan yang terbaik
kamu itu tidak seperti abang kamu, dia bisa meyakinkan ibu kalau dia bisa menjaga diri sendiri. Nak, perempuan kalau salah pergaulan bisa menjadi bencana buat keluarga.”
“itu karena ibu tidak memberikan kepercayaan pada Qura!”
Suaranya semakin tertahan karena tangisan air mata, namun ibunya malah memeluk erat Qura, dia faham kalau anaknya ingin memberikan rasa percaya, namun semuanya terasa samar baginya.
“izinkan Qura untuk bekerja, Qura ingin mencari uang sendiri tidah membebani ayah sama ibu lagi,”
“sudahlah kamu istirahat nak, jangan mikir yang macem macem.”
Tanpa jawaban Qura hanya bisa terdiam, nampaknya restu ibu dan ayah masih belum bisa dia dapatkan.
Ibunya meninggalkan Qura, terdiam melihat ibunya Qura hanya bisa melanjutkan tangis dan mulai merasakan kalau dunia tidak adil baginya.
“kenapa harus dibanding bandingkan dengan abang,Qura juga berhak mendapatkan hak sebagai orang dewasa Qura sudah dewasa.”
Hatinya semakin berontak, yang dia rasakan saat ini adalah bagaimana dia bisa membuktikan pada keluaga kalau dia mampu berdiri diatas kaki sendiri.
Tanpa sadar ternyata Qura terlelap dalam mimpi.
Rohnya telah menjelajahi dunia yang penuh dengan tipu tipu, Qura melihat sosok yang sama pesis dengannya, dia tesenyum dan mencoba meraih tangannya, namun selalu saja lepas, “Kamu siapa?”
“aku adalah dirimu, sekuat apapun tekad yang kamu punya kalau hanya niat tanpa tindakan hanya akan sia sia.”
Terdiam Qura hanya mencoba menyaring jernih apa yang berusan dia rasakan, mungkin ini adalah jawaban dari apa yang dia ragukan selama ini.
“Percaya pada diri sendiri adalah kunci kesuksesan.” Sekali dia berkata, terkejut seketika Qura bangun dari tidurnya.
“Percaya pada diri sendiri adalah kunci kesuksesan.” Dia mencoba mengulang apa yang dia dengar dari sosok yang sangat mirip itu.
Sore itu Qura berniat untuk menulis kata kata itu di dinding kamarnya, sebagai pengingat sebuah motivasi yang tidak terduga yang telah dia dengar.
“Hey,” Sapa Laila yang merupakan sahabatnya sejak kecil, saat Qura hendak menulis. Laila sudah berkeluarga, karena usianya juga jaug lebih tua dari Qura dia sudah dua puluh tiga tahun dan punya anak satu, namun perbedaan itu tidak menghalangi mereka untuk tetap akrab karena sejak kecil sudah sama sama.
“Rayyan mana?”
Rayyan adalah anak pertama Laila, biasanya Qura juga sering main sama si kecil itu.
“lagi sama neneknya, kamu mau nulis apaan?”
Melihat Qura sudah menaiki lemari disamping kasurnya sambil memegang spidol besar. “Tau tidak aku dapet hidayah,”
“apa?” seolah ingin meledek Qura jelas saja Laila bingung, dua orang ini memang selalu menemukan perbincangan yang nampaknya biasa aja tapi bikin lucu kadang juga serius, namanya sudah nyambung sejak kecil jadi kayak saudara saja.
“Ada kembaran aku yang bilang percaya pada diri sendiri adalah kunci kesuksesan, bagus kan kata kata itu?”
“bagus banget sih, mungkin itu hidayah. Nah, kebetulan aku ada pekerjaan buat kamu, ada teman aku yang menawarkan untuk kerja di toko sepatu, kamu kan pernah curhat mau cari kerjaan supaya bisa membuktikan kalau kamu mampu menjadi diri sendiri.”
Kali ini Laila terdengar mensupport Qura sepenuhnya, “boleh banget, namun tetap saja aku harus minta izin sama ayah dan ibu dulu,”
Walaupun tekadnya sudah bulat restu orang tua tetap akan menjadi arah langkahnya, “oke. Nanti aku akan kasih nomernya sama kamu, dia juga kenalan aku tapi jangan kelamaan ya.”
“sip,”
“aku pulang dulu deh takutnya bocil nanti nangis,”
“ribet yah kalau sudah berkeluarga.”
“biasa kehidupan, makanya harus yakin kalau sudah mengambil keputusan. Setidaknya kamu tidak menyesal dengan keputusan kamu sendiri, aku pulang.”
Laila segera meninggalkan Qura yang masih asik mengukir tuilsan dengan baik, dia juga pernah mendengar bahwa pena adalah tali untuk mengikat illmu.
Selesai menulis Qura memandangi dengan teliti apa yang dia tulis barusan, “bagus. Makasih ya Allah atas hidayah yang tidak disangka sangka ini.”
Tersenyum tipis membuat Qura ingin menuju ibunya, mencoba meminta restu untuk bekerja di toko sepatu itu, setelah dicari cari ternyata ibunya sedang di dapur.
“Bu, Qura mau ngomomg donk,”
“Mau ngomomg apa Nak, ada maunya ya?”
Sudah pasti Ibunya menebak, kalau sudah kayak gini sikap Qura pasti ada yang dia inginkan, “Qura mau kerja Bu, kata Laila temannya sedang membuka lowongan jadi karyawan buat jaga toko sepatu.”
Dengan perasaan was was Qura mencoba menjelaskan, “ngapain, ibu masih sanggup buat kasih kamu uang jajan.”
“Iya tapi Qura ingin melatih diri sendiri Bu, kenapa Ibu selalu melarang sih,”
“Kamu itu anak cewek Qura, kalau salah pergaulan bagaimana? Kamu beda dengan abang kamu yang selalu mengikuti kemauan orang tua, sekarang ibu tanya, kalau kamu kerja kamu puas gitu?”
Qura terdiam, dia mulai merasa takut dengan tatapan tajam ibunya yang mulai menaikkan volume nya lebih tinggi.
“justru Qura ingin belajar Bu, menjadi diri sendiri dan memberikan kebahagiaan Bu, Qura muak diatur sama Ibu dan ayah, tidak bisa ini itu. Selama ini Qura sudah menjadi anak yang berbakti dan mencoba menuruti apa mau Ibu.”
Air matanya tidak tertahan, Qura mulai lemah dengan bantahan yang berujung saling komentar dengan ibunya.
“Yasudah, kamu harus lulus kuliah dulu, setelah itu Ibu kan fikir fikir kembali,”
“Qura sudah dewasa Ibu.”
Pertain Qura mulai melemah, diiringi tangisan yang mulai membuat hati ibunya agak luluh, “bukan maksud ibu melarang nak, hanya saja ibu ingin melihat kamu di Rumah bersama ayah dan ibu, abang kamu sudah menentukan dirinya, bekerja jauh dari pandangan ayah dan ibu, hanya kamu anak gadis ibu satu satunya yang saat ini ibu inginkan selalu ada di samping ibu.”
Ibunya memeluk erat tubuh Qura, dia faham kalau anaknya sudah dewasa menginginkan kebebasan mengenal dirinya sendiri, namun dia merasa bukan saatnya.
“suatu saat nanti ibu pasti akan memberikan kebebasan itu kalau sudah yakin kamu bisa menjaga diri kamu sendiri nak.” Tuturnya sambil meninggalkan Qura yang hanya terpaku sendiri di kamar melihat langkah ibunya yang sudah mulai meninggalkan tempat.
Namun tekadnya mulai tidak bisa dia tahan, perlahan Qura meraih handponenya, dia mulai mencari lowongan pekerjaan yang bisa membuatnya yakin, sekitar sepuluh menit, Qura menemukan beberapa pekerjaan yang menurutnya cocok.
“Pialang berjangka?”
Sala satu industri yang berfokus pada investasi, dia mulai memperhatikan persyaratan yang harus dipenuhi, sala satunya harus minimal memahami dasar dasar komputer.
Kantornya lumayan jauh dari Rumahnya, namun dia memberanikan diri untuk pergi besok pagi menyiapkan CV dan surat lamaran, dia mulai tersenyum dengan perjuangan kecilnya, “ini adalah saatnya Qura, kamu harus bisa.”
Besitnya dalam hati, dengan penuh semangat dia mulai memahami kisi kisi samar yang ada dalam persyaratan untuk menjadi karyawan, tentunya harus sarjana.
Setelah selesai Qura mencoba melamar dengan foto copy ijazahnya karena aslinya hanya dikasih ketika sudah wisudah, karena bisa melalui online tidak membuat Qura kesulitan untuk langsung mengirimnya.
Pengumuman baru akan muncul satu minggu setelah pendaftaran, “semoga kali ini aku bisa percaya dan meyakini diriku sendiri kalau aku mampu,” tidak henti hentinya kata kata itu muncul dalam benaknya.
Tergesa gesa Qura lansung menghampiri Laila yang sedang asik bersama anaknya, dia mulai tersenyum gembira menampakkan keceriaannya, “kenapa kamu nih?”
“doakan aku yah semoga bisa di terima, aku sudah melamar pekerjaan, semoga nanti Allah mengabulkan apa yang aku inginkan.”
“tekad itu pasti ada Qura, kamu harus yakin.” Laila selalu mensupport apa yang menjadi keinginan sahabatnya, namun dia juga berharap Qura sukses.
Tiga hari kemudian, Qura kedatangan tamu yang tidak di harapkan, Rendi kembali datang untuk melamar Qura, sekarang Qura sudah di gosipin tetangga! Karena lagi lagi lamaran itu ditolak, namun kabar gembira datang pada Qura empat hari kemudian, dia di terima kerja.
Walaupun tanpa pengalaman, namun nilai matematika pada ijazahnya telah memenihi syarat. Qura diam diam sudah masuk kantor namun dia menyelinap tanpa sepengetahuan ayah dan ibunya.
Tiga bulan kemudian Qura sudah lulus dengan predikan coumloud, tentu saja ayah dan ibu bangga menjelang wisudah, Qura mulai perlahan menatap ayah dan ibunya dia memeluk erat dan berkata, “ayah ibu, Qura sudah memeliki pekerjaan, Qura bekerja di kantor pialang. Mulai sekarang izinkan Qura menentukan hidup Qura,”
Ayah dan ibunya saling menatap, “Mulai sekarang Ayah merestui apa yang kamu inginkan Nak, tapi kamu harus janji jangan kecewakan kami.”
“Bismillah Yah, Doakan Qura,”
“Lengkaplah sudah kebahagiaanku , semoga semuanya bisa jauh lebih baik,” Qura menatap Ayah dan Ibunya walaupun Abangnya berhalangan untuk datang.